
Thnx u buat kalian yang udah mampir untuk baca novel ini😁👍👍👍
Jangan lupa Vote , Like dan Komen yah!👍😁
Biar aku semangat nulisnya😁💙
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Viona menyiapkan makan siang untuknya dan ibunya. Dan saat dia sudah selesai masak dan menghidangkan, dia baru melihat kalau ibunya sudah pingsan di lantai ruang tamu. Vio jelas panik.
Ibu Viona masuk ke ruang ICU. Dan Vio menanti dengan cemas di luar.
--
Varo melihat sebuah kotak di laci mejanya. Dan isi kotak itu adalah sapu tangan yang Vio gunakan untuk membalut lukanya. Varo tersenyum melihat sapu tangan itu, sepertinya, dia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama pada Vio.
Ayahnya masuk, dan Varo segera menyimpan kotak tersebut kembali. Ayah meminta Varo untuk mulai belajar di perusahaannya dan dia telah menyiapkan segalanya. Varo menolak dengan alasan malass.
“Malas? Tidak bisa. Perusahaan itu akan menjadi milikmu kelak. Apa kau akan menyerahkan perusahaan itu untuk di kelola orang lain dan hanya akan terus minta uang saja?” Ujar William ayah Varo.
“Ya. Bahkan walau aku tidak kerja, akau juga akan bisa makan. Untuk apa aku membuatku diriku menjadi lelah sepertimu? Kerja hingga tidak punya waktu untuk keluarga,” sindir Varo. “Oh. Atau Ayah melihat bahwa pekerjaan itu yang paling penting dan tidak peduli yang terjadi pada keluarga?”
“Aku bekerja keras untuk keluarga. Atau kau tidak akan bisa makan dan tidak punya uang.” Jawab William
“Apa ayah pernah tanya padaku, apa aku ingin uang atau aku lebih membutuhkanmu?!” marah Varo.
Belum sempat William menjawab, asistennya Robert sudah masuk ke dalam dan memberitahu kalau ada masalah mendesak. Dan William memutuskan mengakhiri pembicaraan dengan Varo dan akan membahasnya lagi lain hari.
Saat William keluar, Varo memanggil Robert dan bertanya masalah apa yang Robert maksud? Tetapi, Robert tidak bisa memberitahunya. Jika Varo ingin tahu maka tanya langsung pada Ayahnya William.
“Ini perintah (memberitahu masalah itu)” tegas Varo.
“Maaf. Tapi atasanku adalah Tuan William, bukan Anda,” tegas Robert dan keluar dari kamar Varo.
--
Dirumah sakit.
Vio menjaga ibunya dengan perasaan cemas. Dan untunglah, ibunya sadar. Ibu meminta maaf karena sudah membuat Vio cemas. Dan Vio meminta ibu untuk memberitahunya lain kali jika merasa tidak sehat atau apapun. Ibu tersenyum.
“Di hidupku, hanya ada ibu. Jika sesuatu terjadi pada ibu, aku harus bagaimana?” tangis Vio dan memeluk ibunya.
Pintu ruang rawat terbuka, dan William masuk bersama dengan asistennya Robert. Ibu terkejut melihat kedatangan William.
Varo tiba di rumah sakit itu juga. Dia ternyata mengikuti mobil Robert tadi dengan motornya. Dan jelas Varo heran, untuk apa ayahnya ke rumah sakit?
Vio menatap William dan memberi salam. Dia bertanya apa William datang untuk menemui ibunya?
“Vio… ini William Sanjaya. Dia… adalah teman ayahmu,” perkenalkan ibu. Dan anehnya, dia terlihat tidak nyaman dengan kehadiran William.
Viona tersenyum mengetahui kalau William adalah teman ayahnya. Dia memberitahu William kalau dia senang bisa bertemu dengannya. William membalas kalau dia juga senang bisa bertemu dengan Vio. William bertanya hasil pemeriksaan Ibu, dan Vio memberitahu kalau hasilnya belum keluar. Tapi, kondisi ibunya sudah membaik.
“Ibu memberitahuku kalau ayah meninggal ketika sedang hamil aku beberapa bulan,” cerita Vio.
“Vio,” tegur ibu.
“Ibu tidak mau memberitahuku mengenai ayah. Tapi, aku mengerti. Ketika ibu menceritakan mengenai ayah, ibu pasti merasa sangat sedih. Paman, apa kau punya foto ayahku? Ibu tidak punya foto ayah. Ibu bilang kalau ayah tidak bagus di foto. Jadi, aku tidak tahu bagaimana wajah ayahku. Tapi, aku rasa ayahku pasti tampan dan baik. Kalau tidak, tidak mungkin ibu sangat mencintai ayah hingga seperti ini. Ketika aku berbicara mengenai ayah sedikit saja, ibu pasti menangis dan berkaca-kaca. Paman, apa kau tahu, sampai sekarang, ibu masih tidak bisa menerima kalau ayah sudah meninggal,” cerita Vio pada William.
Viona tidak menyadari kalau Ibunya tidak suka Viona menceritakan semua hal itu pada William.
“Aku iri pada ayahmu. Dia punya putri manis sepertimu. Dan yang lebih penting, ibumu masih mencintai ayahmu sampai saat ini,” ujar William dan menatap ibu.
Ibu sepertinya berusaha membuat Vio keluar dari ruangan, dengan menyuruh Vio pergi membeli kopi untuk William. Vio sepertinya sadar kalau ibu ingin bicara dengan William, jadi dia membawa tasnya dan keluar untuk membeli kopi.
Setelah Vio keluar, William menatap ibu dan tersenyum. Ibu juga menatapnya sesaat tetapi kemudian memalingkan wajahnya.
\=\=\=\=\=\=