
ππππππππππππππππ
Alice di bawa ke ruang UGD. William dan Vio menanti dengan cemas di luar.
Dokter keluar dari ruang UGD dan memberitahu kondisi Alice .
Dan Varo ternyata datang ke rumah sakit dan diam-diam mengintip. Dia tampak shock menyadari kalau Vio selama ini benar. Dia menemui dokter yang merawat ibunya Vio , dan memperkenalkan diri sebagai keluarga Alice . Dia bertanya penyakit Alice . Dan dokter memberitahu kalau kanker tulang Alice sudah menyebar ke limpa dan organ lainnya.
Varo lunglai. Dia teringat kemarahan Vio sebelumnya. Dia menyesal. Benar-benar menyesal telah membuat Alice dalam keadaan seperti ini.
Alice masih belum sadarkan diri dan masuk ke dalam ruang steril. Vio dan William melihatnya dari luar. Viona menangis melihat keadaan ibunya. Viona bahkan tidak mau pulang walaupun William sudah membujuk karena jam jenguk sudah habis.
Varo memutuskan untuk pulang kerumah. Setibanya di rumah, memandangi sapu tangan Vio . ( Itu sapu tangan yang di buangnya ke tong sampah, sepertinya di pungut lagi sama dia ). Dia teringat saat Vio menangis melihat kondisi ibunya.
--
Esok hari,
Viona masih menunggu ibunya . William hanya bisa melihat dari luar. Dan sepertinya hasil pemeriksaan Alice tidak begitu baik, karena wajah dokter terlihat muram. Vio bertanya apa kata dokter. William memberitahu kalau dokter bilang kondisi Alice masih sama, mereka harus menunggu hingga Alice sadar dulu, baru bisa di periksa. William kemudian meminta Vio untuk pulang dan masalah Varo , dia yang akan mengurusnya. Vio masih tidak mau pulang, tetapi William membujuknya.
Varo ternyata datang ke rumah sakit. Saat Vio dan ayahhya Varo sudah pergi, Varo baru mendekat ke ruang rawat ibunya Vio . Dia melihat dari luar kaca. Dia teringat kemarahan ibunya Vio sebelumnya.
βHidupmuβ¦ aku tidak mau.β
Dan sejak hari itu, Vio selalu menghindari Varo . Varo juga rutin ke rumah sakit melihat ibunya Vio . Dia selalu berhati-hati, agar Vio tidak tahu kalau dia datang menjenguk ibunya .
βAkuβ¦ minta maaf,β ujar Varo pada ibunya Vio yang masih belum sadar juga.
_ _ _
Varo bermain basket dengan penuh emosi, dia terus menerus melempar bola basket ke arah ring. Davin , devan dan Alina yang melihat dari pinggir lapangan jelas merasa heran dengan Varo yang beberapa hari iniΒ moodΒ nya tidak bagus. Dan jelas membuat mereka khawatir. Davin mengira kalau Alina tahu apa yang terjadi, tapi Alina ternyata tidak tahu juga.
βKalau Alina saja tidak tahu, siapa yang bisa tahu,β gumam davin.
--
Vio pulang bersama dengan Selin. Selin menyarankan agar Vio beristirahat, karena dia merasa kalau Vio kurang tidur dan lelah. Vio tidak bisa, setiap kali dia pulang, dia pasti merindukan ibunya dan ketika pergi ke rumah sakit, dia hanya bisa menjenguk sebentar karena jam besuk yang terbatas.
βBagaimana kalau begini? Aku akan menjenguk ibumu sore ini,β ujar Selin .
Viona tersenyum dan berterimakasih pada perhatian Selin . Selin meminta Vio untuk tidak terlalu sungkan padanya. Dia meminta Vio untuk bersemangat agar dapat melawan Varo . Dan dia akan membantu untuk menghajar Varo .
Pas sekali mereka lewat di samping lapangan basket dimana Varo sedang bermain. Saat melihat Vio , Varo langsung melempar bola basketnya ke pagar pembatas lapangan. Vio dan selin jelas kaget, tapi mereka memilih untuk mengabaikanna. varo tidak menyerah, dia melempar berkali-kali agar Vio merespon tindakannya, tapi Vio sama sekali tidak peduli.
βAku tahu apa yang membuat Varo seperti ini,β komentar Devan . βIni menarik. Biasanya dia tidak pernah menaruh perhatian pada siapapun.β
Alina cemburu mendengar komentar Devan . Dia menghampiri Varo dan dengan emosi bertanya.
"apa masalahmu dengan wanita itu? Tanya Alina .
βTidak ada.β jawab Varo santai.
βTapi tindakanmu menujukkan ada.β teriak Alina .
βTinggalkan aku sendiri,β perintah Varo . Dia kemudian duduk sendirian di pinggir lapangan.
πππππππ*