
Melihat itu, membuat Varo teringat saat ibunya juga dalam kondisi kritis dan mencari ayahnya, tetapi ayahnya tidak juga tiba. Dan saat ibunya mengucapkan rasa sayangnya padanya, dan sebelum dia sempat membalasnya, ibunya sudah pergi untuk selamanya.
Alice dengan di kelilingi oleh orang-orang yang mencintainya, akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Vio sontak menangis menjerit di tinggal oleh ibunya. Devan dan Selin melihat dari depan pintu dengan prihatin. Vio berbalik dan melihat Varo (mata Varo juga berkaca-kaca, lho). Varo langsung berbalik pergi, dan Devan mengejarnya. Vio juga mengejarnya dan di ikuti oleh Selin .
“Alvaro! Berhenti!” teriak Viona . “Ibuku meninggal karena kau! Jika kau tidak ada, ibuku tidak akan meninggal seperti ini! Ibuku akan terus hidup dan melihatku wisuda. Ibuku akan melihatku lulus. Dan dia akan hidup lebih lama dari sekarang. Kau pembunuh! Pembunuh! Pembunuh! Alvaro, pembunuh! Kenapa kau seperti ini?!” tangis Viona dan terus memukuli tubuh Varo .
Varo hanya diam dan menerima semua pukulan tersebut. Tangannya terangkat, hendak memeluk Vio . Tapi, dia sadar, dia lah penyebab tangis Vio , dan karna itu, dia hanya berdiri diam dan membiarkan Vio terus memukulinya. Rasa bersalah merayapi hatinya.
Dan setelah pukulan Vio terhenti. Varo dengan menahan air matanya, pergi dari sana. Selin langsung menghampiri Vio dan memeluknya.
William menatap wajah Alice terakhir kalinya dan teringat semua kenangan manis mereka. Dia mencium kening Alice dengan penuh kasih.
--
Varo pergi ke pemakaman ibunya. Dia meluapkan perasaannya di sana.
“Aku tidak bermaksud. Ibu, kau mengerti aku kan?” ujar Varo sambil menangis.
Dia menyesali yang terjadi pada ibunya Vio .
-------
Devan menemui Davin dan Alina . Dia menjelaskan yang terjadi antara Varo dan Vio . Tapi, Alina malah beranggapan kalau Varo tidak salah, karena orang yang sudah sakit pada akhirnya tetap akan mati. Jadi, tidak bisa menyalahkan Varo .
“Tapi, apa yang Varo lakukan, membuat kondisinya semakin buruk. Bagaimanapun Varo salah!” tegas Devan .
“Van, kau harus memihak temanmu,” tuntut Alina .
“Aku melihat berdasarkan fakta. Jika salah, aku akan bilang salah. Jika benar, akan kubilang benar. Jika Varo tidak mengganggu Vio awalnya, hal ini tidak akan terjadi. Alina , kau harus memperingati Varo . Tapi, entah dia akan mendengarmu atau tidak.” Ujar Devan .
Alina tetap berkeras kalau Varo tidak salah. Devan malas berdebat dengan Alina , karena dia tahu, dimanat Alin , Varo selalu benar. Davin kesal melihat mereka yang saling adu argumen dan bukannya mencemaskan Varo . Davin merasa kalau sekarang Varo pasti sudah menggila.
--
Dirumah..
William menanti kepulangan putranya hingga tengah malam. Saat Varo pulang, dia langsung memarahi Varo karena pulang larut, padahal dia sudah menyuruh Robert untuk memberitahu Varo mengenai pemakaman ibunya Vio. Tapi Varo tidak datang.
“Kau masih tidak menyesal?” Ujar William membuat langkah Varo terhenti. “Kau yang membuat Alice meninggal.”
“Siapa yang tahu kalau akan jadi seperti ini. Aku juga tidak ingin terjadi hal ini.” jawab Varo .
“Kau tidak berpikir sebelum bertindak! Ketika hal ini terjadi, kau bisa bertanggung jawab? Ini hidup orang!.” bentak William.
“Apapun yang kau pikirkan, terserah! Walau kau memarahiku, menamparku hingga mati, selingkuhanmu itu tidak akan bangkit kembali.” jawab Varo.
“Kenapa kau sangat jahat seperti ini, Varo?!”
“Aku jahat sepertimu!” jawab cepat Varo .
Dan Plak!!! Ayahnya menampar Varo dengan keras. Dia memaki Varo sebagai putra durhaka.
“Ketika ibu meninggal, kau berada di ruang rapat. Tapi dengan selingkuhanmu, kau berada di dekat tempat tidurnya hingga nafas terakhirnya! Aku harus memanggilmu apa? Punya ayah sepertimu, lebih baik aku tidak punya!” teriak Varo emosi.
William yang juga dalam keadaan emosi, malah mengusir Varo dari rumah dan tidak boleh kembali hingga Varo dapat sadar akan kesalahannya. Dan juga, Varo bisa berhenti memanggilnya ‘ayah’, dia akan menganggap tidak pernah punya anak seperti Varo .
“Baik. Aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di rumah ini lagi. Terlebih jika anak perselingkuhanmu masih ada di sini!” tegas Varo . “Bahkan jika kau meninggal, aku juga tidak akan pergi ke pemakamanmu!” tegas Varo.
Vio melihat pertengkaran Varo dan ayahnya dari atas tangga. varo sendiri langsung pergi begitu saja dari rumah. William benar-benar emosi melihat kelakukan dan ucapan Varo padanya.
Di depan rumah, Varo melihat ke belakang sekali lagi. Tapi, ayahnya sama sekali tidak mengejarnya.
Flashback
Saat ibunya sudah meninggal, William baru tiba. Dia menepuk pundak Varo untuk menenangkannya. Tapi, Varo malah marah karena William baru tiba saat ibunya sudah pergi. Di tambah lagi, William malah beralasan kalau tadi dia ada rapat.
“Ibu selalu bilang padaku kalau ayah tidak mencintainya, tapi aku tidak pernah menyangka kalau ayah akan sekejam ini pada ibu.” Ujar Varo sambil menangis.
“Aku minta maaf, Peat!” jawab Ayahnya.
“Untuk apa minta maaf?! Semuanya sudah terlambat!” tegas Varo.
Flashback off