
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Varo ternyata pergi dan menemui teman-temannya. Mereka pergi ke café dan memesan banyak makanan untuk merayakan ulang tahun Varo . Sayangnya, Varo tidak merasa bahagia. Devan menyadari hal itu, dan bertanya alasan Varo merasa tidak senang. Alina juga menanyakannya. Varo menjawab tidak ada, tetapi Alina terus bertanya. Varo jadi kesal dan berteriak mengatakan kalau dia tidak apa-apa.
“Hey, Alina bertanya dengan lembut, kenapa kau harus berteriak?” marah Devan .
“Aku jawab dengan baik kok.” jawab Varo cuek.
“Jika mood mu jelek, jangan lampiaskan pada temanmu. Minta maaf ke Alina ,” perintah Devan .
Alina meminta Devan untuk melupakan hal itu, tetapi Devan tidak mau. Dia tetap ngotot menyuruh Varo minta maaf pada Alina . Emosi Varo tersulut juga. Davin mengambil alih, dia menyuruh mereka untuk tidak bertengkar di café-nya. Walau tidak jadi bertengkar, Devan dan Varo saling menatap tajam.
\=\=\=\=\=\=\=
Sisil membersihkan lantai yang ketumpahan kue tart tersebut. Vio melihatnya dan meminta tolong sesuatu pada Sisil . Dia meminta nomor Varo . Varo yang mendapat telepon dari nomor tidak di kenal, tidak mau mengangkatnya.
Kesal karena Varo tidak mau angkat telepon, Vio mengirim pesan padanya : Jika kau pria, angkat teleponku.
Viona.
Varo kesal membaca pesan tersebut. Dan saat Vio menelpon, Varo langsung mengangkat dan menjauh dari teman-temannya. Vio berkata kalau pembicaraan mereka tadi belum selesai. Tapi, bagi Varo sudah selesai. Vio terus bilang belum, jadi Varo menyuruh Vio untuk keluar dan bicara dengannya, tidak lewat telepon.
“Maka kau kembali ke rumah dan bicara di rumah,” jawab Vio .
“Pengecut. Atau kau tidak berani? Tidak masalah jika kita tidak bicara. Itu bukan urusanku.” sinis Varo.
Dan karena di tantang seperti itu,Vio setuju untuk keluar menemui Varo . Dia bertanya dimana Varo sekarang, Varo tersenyum.
Usai berteleponan dengan Vio , Varo langsung pamit pulang sama teman-temannya. Semua jelas heran, mau kemana dia. Alina bahkan hendak mengejar Varo , tetapi Devan menahannya. Mungkin Varo sedang ingin sendirian. Dan dengan kesal Alina kembali duduk di bangkunya.
--
Vio menemui Varo di tempat yang di tentukannya. varo sudah menunggunya sambil duduk di atas motornya dan memberikan helm pada Vio . Vio meminta agar mereka bicara saja di situ, tetapi Varo tidak mau dan menyuruh Vio untuk naik. Di sini terlalu ramai. Jika Vio tidak mau ikut, maka tidak usah bicara. Tetapi varo tetapi memaksa.
Dengan terpaksa, Vio naik ke atas motor Varo .
--
Ibunya pergi ke kamar Viona , tetapi kamar itu kosong. ibunya jelas heran, kemana Vio pergi tanpa memberitahunya.
--
Varo membawa Vio ke tempat terpencil. Vio jelas takut. Dan Varo menyuruh Vio untuk bicara sekarang. Vio meminta agar mereka bicara di tempat lain. Varo menolak, di sini tidak ribut jadi katakan apapun yang ingin Vio katakan padanya.
Viona akhirnya turun dari motor.
“Berhenti mengganggu ibuku,” pinta Vio .
“Aku juga tidak ingin mengganggu. Kau tidak perlu menyuruhku.” jawab Varo .
“Maksudku… aku dan ibuku, tidak akan bisa meninggalkan rumah. Tapi, aku janji tidak akan mengganggumu. Dan kalau ibuku sudah sembuh, aku dan ibuku akan segera pindah dari rumahmu.” Ujar Viona .
“Kau memerintahku? Kau kira aku akan menurut?” Tanya Varo .
“Lalu, bagaimana jika aku memohon? Apa bisa?” jawab Vio .
Varo menatapnya. Dan dia dengan sinis, siapa yang menyuruh Vio untuk meminta hal ini, datang dan memohon padanya. Apa ibu Kiew? Setelah merebut ayahnya, apa ibu Vio menyuruh Vio untuk merayunya juga.
Viona elas marah. Dan Varo malah menyebut kalau Vio cepat kali berubah, padahal tadi bicara dengan manis. Atau apa yang di katakannya benar. Vio masih berusaha sabar, tetapi Varo terus ngotot dengan pemikirannya.
“Aku tidak mau bicara lagi,” ujar Varo dan memakai helmnya. “Aku mau pulang. Dan kau, cari cara mu sendiri untuk pulang,” lanjut Varo dan meninggalkan Vio di sana sendirian.
Viona berteriak memanggil Varo agar tidak meninggalkannya seperti ini. Tetapi, Varo mengabaikannya.
Varo mengebut. Pikirannya kacau. Sepertinya, dia benar-benar mengira kalau Vio masih terus berbohong padanya.
Bersambung....