Between Love and Hatred

Between Love and Hatred
Chapter 22



Davin dan Devan kaget mendengar rencana Alina . Alina hendak pindah kampus dengan Varo menggunakan metode transfer. Davin mengira kalau Alina hanya bercanda, tapi Alina menegaskan kalau dia tidak pernah bercanda.


“ Varo tidak mau di rumah. Tidak mau kuliah di sini juga. Jadi, aku mengirim Varo keluar negeri.” Ujar Alina .


“Jadi kau akan mengikutinya? Kau mau bilang begitu kan?” tanya Devan .


“Ya. Aku tidak ingin Varo sendirian. varo butuh aku di sisinya.” jawab Alina .


“Apa Varo bilang begitu?” tanya Devan .


Alina kesal mendengar pertanyaan itu. “Bahkan jika dia tidak mengatakan apapun, aku juga tahu apa yang di pikirkan dan di rasakannya. Bisa nggak kau berhenti bertanya dan menyelidikiku?!” tegas Alina .


“Devan bertanya karena dia khawatir,” davin angkat bicara agar mereka tidak bertengkar. “Bukan begitu.”


“Ya, tapi Alina tidak peduli. Kalau kau sudah mau pergi, tolong beritahu. Kalau tidak sibuk, aku akan mengantarmu.”


Alina juga tidak tahu kapan akan pergi, semua tergantung Varo . Sekarang ini dia hanya mempersiapkan segalanya dan menunggu hingga Varo siap untuk pergi (cewek bodoh!!!). Davin langsung semangat lagi, kalau begitu ada kemungkinan Alina dan Varo masih ada di sini saat Devan membuka restorannya. Alina baru teringat dengan hal itu. Devan menatap Alina dan berujar kalau dia akan sangat senang jika Alina dan Varo masih ada saat pembukaan restorannya.


--


Devan, Davin dan Alina makan siang bersama di restoran Devan (yang belum buka). Tapi, Alina sama sekali tidak mau menyentuh makanannya. Jadi, Devan dengan perhatian, langsung ke dapur dan memasakan sesuatu untuk Alina . Itu makanan favorit Alina . Dan wajah Alina langsung sumringah begitu melihat makanan itu dan berterimakasih pada Devan .


Eh, belum sempat Alina makan, Varo datang. Dan Alina langsung menyodorkan makanan yang Devan buatkan untuknya pada Varo . Devan jelas kecewa. Di tambah lagi, Alina mengatakan kalau itu makanan favorit Varo dan menyuruh Varo untuk makan.


“Owwwh. Devan sengaja membuat itu untuk Alina . Alina akan memberikannya pada Varo ? Kalau seperti ini, Devan akan sangat marah,” komentar Davin .


“devan tidak akan berpikir seperti itu,” balas Alina . “Bukankah begitu?” tanya nya pada Devan .


Devan dengan terpaksa menggangguk (oohhh… Kriss, engkau terlalu baik untuk Alina ).


--


Malam hari,


Robert menghadap William dan melapor kalau tidak ada petunjuk sama sekali mengenai Alvaro. William hanya meminta Robert untuk terus mencari. Dan dia juga meminta Robert mencarikannya seorang pengacara.


“Apa ada sesuatu?’ tanya Robert dengan kaget.


“Tidak ada. Aku hanya ingin berkonsultasi terkait adopsi.” jawab William.


“Adopsi? Posisi Viona lebih dari itu.”


“Aku juga ingin lebih dari itu. Tapi, Vio baru saja kehilangan ibunya. Jika dia harus menerima fakta yang lebih dari itu, aku takut dia akan shock. Dan aku juga ingin menjaga rahasia ini dulu. Jangan sampai Varo tahu.” Ujar William.


Robert mengerti.


Esok hari,


Devan sedang belajar membuat permen kapas. Dia masih merasa kesal dengan hal kemarin, dimana masakan yang khusus dia buat untuk Alina , malah Alina berikan pada Varo begitu saja. Karena tidak fokus, permen kapas Kris gagal, dan hal itu membuat Devan menjadi lebih kesal.


Viona datang ke alamat restoran Devan berdasarkan kartu nama yang pernah Devan berikan padanya. Dia sempat ragu sesaat untuk masuk. Jadi, dia mondar mandir di depan pintu. Dan Devan mendengar hal itu, jadi dia mengundang Vio masuk. Vio menolak dan beralasan kalau dia hanya kebetulan lewat. Devan tidak percaya karena Vio sedang memegang kartu nama yang di berikannya waktu itu, jadi Vio pasti sengaja datang.


Vio dengan malu membenarkan kalau dia sengaja datang. Tapi, dia sudah berubah pikiran dan akan pergi.


“Tolong, jangan berubah pikiran, Vi. Karena kau sudah di sini, kau bisa masuk ke dalam dan melihat-lihat. Aku sedang mencoba membuat dessert baru. Kau tertarik? Jika tidak enak, aku akan biarkan kau pergi.” Ujar Devan .


Viona tertarik. Dia masuk ke dalam dan melihat Devan membuat permen kapan dan membentuknya seperti bunga. Vio tersenyum senang melihat permen itu dan bahkan memuji rasanya. Dia bahkan memberikan komentar dengan mendetail.


“Kau ingin coba membuatnya?” tawar Devan .


“Ya,” semangat Vio dan langsung meletakkan tasnya di kursi.


“Tapi… kau harus kerja di restoranku dulu.” Ujar Devan .


“Kenapa kau ingin aku bekerja untukmu? Padahal aku dan temanmu punya masalah.” Vio heran .


“Kau bermasalah dengan Varo , bukan denganku. Dan satu lagi, aku ingin menebus kesalahanku karena tidak membantumu saat kejadian di café .” Ujar Devan sambil tertunduk.


“Alasanmu terdengar masuk akal.” jawab Vio .


Pas mereka lagi senang-senang, eh, datang pengacau. Alina . Dia langsung menyindir Viona .


Davin dan Varo ternyata datang juga. Mereka datangnya nyusul, jadi lihat dari belakang saja, di dekat pintu gerbang.


“Tinggal di rumah orang lain, bagaimana rasanya? Jika itu aku, aku tidak akan bisa tinggal,” hina Alina (ih, mulutnya berbisa. Ikut campur urusan orang aja).


Devan berusaha menghentikannya, tetapi Alina tidak mau. Dia masih ingin terus bicara.


“Kenapa aku harus merasakan sesuatu? Pemilik rumah saja memberi izin untuk aku tinggal.” jawab Viona.


“Kau harusnya malu karena kau dan ibumu adalah alasan Varo dan ayahnya bertengkar!.” bentak Alina .


“Jangan membawa aku dan ibuku dalam hal ini karena pria itu memang sudah punya masalah dengan ayahnya dari awal.” jawab Vio .


“Tapi, dia masih bisa tinggal. Tapi, ketika ada kau, Varo harus di usir dari rumah. Semuanya rencanamu, kan? Kau ingin semua milik Varo menjadi milikmu!” teriak Alina .


“Aku yang harusnya marah. Pria itu alasan yang membuat ibuku meninggal! Kau sangat cocok menjadi teman pria itu. Kau hanya bisa berpikiran buruk.” jawab Vio emosi.