
Aku berkaca kesekian kalinya, sudah rapi dengan kemeja putih dan celana hitamku. Hari ini aku akan pergi ke pertemuan bisnis orang tuaku, tentu ketiga monster akan ikut mereka juga sudah tapi dengan seragam mereka.
"Papa, apa aku sudah tampan?" tanya Zio menunjukan gigi susunya.
"Iya, kau sangat tampan seperti Papa," jawabku mencubit pipi gembulnya.
"Tidak! Aku mau tampan sepelti paman Evano," ucap Zio membuatku seperti tercekik.5
Bukankah aku ayahnya? Tentu dia mirip denganku, kenapa dia menolak takdir?
Hei monster kurang tampan apa diriku huh?
Amarahku hanya bisa diluapkan di hati, karena aku tidak mengizinkan satu kata amarah pun keluar dari bibir sexyku. Meski kadang terasa gatal saking ingin mengumpat.
"Ah, baiklah kau tampan seperti paman Evano," ucapku bohong, iyain saja.
"Yeii! Kakak, Vio, aku sudah setampan paman Evano!" seru Zio begitu bangga pada kedua saudaranya.
"Aku sudah sepelti Manulios," ucap Vio merapikan rambutnya.
Ya tuhan, kenapa anakku begitu genit sekarang?
"Aku sepelti Papa," ucap Nio membuatku berbinar, hanya anak itu yang mencintaiku.
"Maaf Papa, aku hanya kasihan padamu, jika tidak … aku sudah milip dengan Zain Malik," ucap Nio membuatku ingin menangis sejadinya.
"Tega sekali kalian. Tidak bisakah bohong sedikit padaku, hem? Buat aku senang sedikit," ucapku tertunduk sedih.
"Papa, sesungguhnya manusia itu harus menelima takdil," ucap Nio layaknya ustadz.
"Sesungguhnya Papa begitu tampan, jika dilihat dengan mata teltutup," ucap Vio membuatku sesak napas.
"Sesungguhnya Papa itu tampan atau cantik?" tanya Vio pada kedua saudaranya.
Ya Tuhan, berilah aku kesabaran dengan fitnah dan zholim ini, dan maafkan ketiga monster ini, sesungguhnya mereka belum sadar sepenuhnya.
"Sudahlah, lebih baik kita berangkat sekarang. Bibi sudah menunggu kita, ayo!" ucapku mengakhiri zholim yang mereka lakukan padaku.
Mereka berjalan bertuntunan, memegang tangan satu sama lain agar tak terpisah—sedangkan aku berjalan sendiri tanpa ada yang menuntun, seharusnya ada wanita yang menuntunku.
Kini aku sudah sampai di sebuah ruangan, di mana aku mengurung ketiga monsterku. Dua jam pertemuan bisnis di lakukan, aku memang tidak mengurus perusahaan padahal aku pewaris tunggal, karena aku harus merawat monster ,akhirnya membuat Shelin yang mengurus perusahaan untukku.
Aku masuk ke ruangan di mana aku menitipkan ketiga monster itu pada karyawan wanita, kulihat ruangan kosong.
"Mereka kemana?" gumamku hendak melangkah pergi, tetapi seseorang memanggilku.
"Tuan!" seru seorang wanita yang menggendong Nio.
"Di mana yang lainnya?" tanyaku mengambil Nio dari gendonganya.
Wanita itu tertunduk, membuatku berpikir buruk saja. "Di mana Zio dan Vio?" tanyaku pelan, mencoba tenang meski sebenarnya sudah panik.
"Maafkan aku," ucapnya begitu bersalah, sudah kupastikan Zio dan Vio berpencar seperti biasanya.
"Tidak apa, terima kasih," ucapku lalu berlari mengelilingi gedung besar ini. Ini bukan salah wanita itu, karena aku sendiri terkadang begitu kerepotan jika ketiga monster berlari kesana sini—sedangkan aku tidak bisa menjaga mereka secara bersamaan.
"Papa, Vio kelual, beli es klim," ucap Nio yang aku gendong memberi petunjuk.
"Lalu di mana Zio?" tanyaku menurunkan Nio dan berjongkok.
"Tidak tahu," jawabnya polos.
Aku mendesah, jika Vio keluar—berarti dia ke jalan raya? Kau tau apa yang aku pikirkan?
"Kak Shelin, aku mohon jaga Nio sebentar. Aku harus mencari Vio, terima kasih," ucapku menarik tangan Shelin lalu aku berlari meninggalkan Nio dengannya.
"HEI KAU MAU KEMANA?" teriak Shelin tidak aku pedulikan.
Targetku adalah Vio, Zio? Aku harap dia di dalam kantor, tidak akan masalah. Tapi Vio? Ini sangat bahaya.
Aku berlari, mencari di mana penjual es krim, ketika mataku menangkap penjual es krim—aku langsung berlari ke arahnya.
"Apa kau melihat anak kecil berumur dua setengah tahun ke sini … memakai baju kotak-kotak?" tanyaku dengan napas sedikit memburu.
"Owh iya, tadi dia pergi ke sana," jawab penjual es krim. Aku langsung berlari ke sebuah kedai yang ditunjuk oleh penjual es krim tadi.
Kulihat kedai masih kosong, sepertinya belum buka, lalu Vio kemana? Aku kembali berlari sambil menoleh kanan kiri, siapa tahu Vio sedang berjalan ke suatu tempat.
"Vio Alisano, kau di mana?" teriakku sambil terus menyusuri deretan kedai yang sudah buka. Sesekali aku masuk ke kedai, jika tidak ada tuyul itu—aku langsung keluar begitu saja membuat para pengunjung menatapku bingung.
"Di mana anak itu?" gumamku yang mulai terengah-engah.
"Vio!" teriakku memanggil agar Vio mendengarku dan menghampiriku.
"Ish, ini akan membuatku gila!"
Aku merasa sesuatu bergetar, ternyata itu ponselku. Aku lihat Shelin meneleponku. Apa dia tidak tau kalau aku sibuk.
"Kenapa?" tanyaku yang emosi.
"Alden, Alden," tangis Shelin di sebrang sana. Aku akan membunuhnya jika ini dramanya.
"Zio … dia jatuh dari tangga," tangis Shelin di sebrang sana semakin keras.
"Apa?" kagetku, tanpa berpikir panjang, aku berlari kembali ke gedung. Tidak aku sangka berada dalam gedung pun bisa celaka, bagaimana dengan Vio? Aku tidak mungkin membiarkan Vio berada di luar sendirian, tapi Zio sedang celaka.
Aku berhenti di tengah jalan, memikirkan mana yang harus aku dahulukan? Zio atau Vio? Bagaimana ini? Ini membuatku semakin gila, tidak bisakah ada yang membantuku. Sial
Aku putuskan pergi ke gedung untuk melihat keadaan Zio, dengan harapan Vio akan baik-baik saja, si monster cerewet itu pasti baik-baik saja meski sendirian di luar.
Tunggu Papa, jangan kenapa-napa sebelum Papa menemukanmu Vio.
"Zio!" teriakku saat melihat banyak orang yang mengerumuninya, sedangkan Zio menangis kesakitan, dan Shelin menangis sambil menggendong Nio yang juga menangis karena takut.
"Apa yang kalian lakukan? Apa tidak bisa membantu sedikit selain membantu menonton? Aku tidak butuh penonton sekarang!" teriakku membuat semua orang langsung mundur.
Maafkan aku, aku sedang emosi—pikiranku kemana-mana saat ini. Aku bopong tubuh Zio yang lemas, meski dia menangis.
"Zio, bersabarlah, kita ke rumah sakit sekarang, emm?" ucapku membawa Zio ke mobil diikuti Shelin yang masih menangis ketakutan, persis seperti Nio saat ini. Benar-benar tidak dewasa orang itu.
"Hua, Papa kau tampan," ucap Zio saat aku berlari membopong tubuhnya.
Kenapa dia bahas itu sekarang?.
"Papa tau," jawabku tetap berlari.
Shelin masuk ke mobil bersama Nio, dan wanita itu menidurkan Zio di pahanya, sedangkan Nio duduk di sebelahku.
"Alden, bagaimana dengan Vio?" tanya Shelin membuatku semakin frustasi.
"Aaarrgg, kau membuatku gila! Aku juga tidak tahu apa yang harus aku lakukan! Vio entah di mana dan Zio bisa saja mengalami patah tulang! Dan kau sama sekali tak membantuku!"
"Huaa!" Nio menangis kencang, baru kali ini aku berteriak seperti itu, aku lupa bahwa ada Nio di sampingku, pasti dia takut melihatku marah.
"Kau sangat mengerikan Al," ucap Shelin tertunduk, kulihat dia meneteskan air mata.
Aku memukul setir mobilku, melajukannya kencang.
Sebenarnya aku tidak berniat membentak atau bahkan mengucapkan hal seperti tadi, hanya saja aku sedang kacau saat ini, dan tidak ada yang bisa membantuku. Aku hawatir Zio kenapa-napa, dan sekarang Vio tak bersamaku, itu semakin membuatku frustasi.
Jika Vio sampai kenapa-napa di luar, aku bisa mati karena Zio sudah celaka akibat kecerobohanku. Sekarang aku terkena imbasnya.
Seharusnya aku tahu kalau monster tidak akan bisa dilawan. Seharusnya aku sadar, kalau tiga anak akan membuat orang lain repot. Seharusnya aku juga sadar kalau menitipkan anak tidak boleh sembarangan, harusnya aku sadar akan hal itu.
Kulihat Nio sedikit menghindariku, tidak berani menatapku. Aku begitu menyesal berteriak di depannya, seharusnya aku bisa mengontrol emosiku saat ini.
"Nio."
"Papa menakutkan," ucapnya saat aku ingin menyentuhnya.
Rasanya seperti tersambar petir, Nio menjadi takut padaku, dia tidak paham bahwa aku begitu menghawatirkan keadaan kedua adiknya, ini semua salahku.
Aku langsung turun dan menggendong Zio masuk ke dalam rumah sakit, berteriak panik memanggil Dokter.
"Tolong putraku, Dok." Sang Perawat langsung membawa brankar dan membawa Zio ke ruang pemeriksaan.
Kulihat Shelin masih tertunduk memegangi Nio yang memeluknya takut. Aku dekati Shelin.
"Maaf. Aku tak bermaksud melukai hatimu, Kak. Hanya saja aku sangat hawatir. Kau tau, kan, aku tidak bisa melihat anak-anakku celaka?" ucapku menjelaskan dan berharap Shelin bisa mengerti hal itu.
"Pergilah Al, aku tahu ucapanmu tadi sangat menyakitkan, tapi aku mengerti posisimu. Pergilah … cari Vio," ucap Shelin tersenyum padaku.
Baru kali ini Shelin terlihat dewasa. "Baiklah aku pergi, jaga Nio dan Zio untukku."
"Pasti Al," jawab Shelin mantap.
"Nio, maafkan Papa," ucapku tetapi Nio tak ingin melihat wajahku, kenapa ini begitu menyakitkan.
"Aku pergi," ucapku lalu melangkah pergi.
"Papa, hati-hati," ujar Nio saat aku melangkah pergi, sepertinya dia mulai memahami posisiku. Aku tersenyum padanya, lalu benar-benar pergi dari penglihatan mereka.
Vio, aku datang.