Because I'M Father

Because I'M Father
Kembali muda



Kini, aku yang memakai kemeja putih tengah ditertawakan oleh tiga orang lelaki. Mereka terbahak melihat tampilanku yang begitu formal. Dengan rambut yang klimis dan kemeja yang hanya aku naikkan lengannya sampai siku.


"Apa salahnya memakai kemaja? Lagi pula wajahku masih lebih muda dari kalian," ucapku membela diri.


Apa pernikahan dan menjadi sosok Ayah membuat jiwa lelaki menjadi lebih tua dari umurnya? Yang benar saja.


"Al, kau terlihat sangat tua memakai kemeja itu. Kita ini sedang berada di tempat nongkrong, setidaknya pakailah baju santai," ucap si kulit kapur, Evano menertawakanku.


"Benar Al, kau seperti mau bertemu Presiden saja," kekeh Andra menambahi.


"Hei, tapi i like penampilannya, because dia adalah seorang Papa," ucap Zidan dengan bahasa aliennya, yang jelas dia mengatakan like, berarti dia suka, kemungkinan dia sedang membelaku.


Mungkin, Zidan paling memahamiku saat ini. Meski lelaki itu lebih konyol dari semua yang ada di sini.


"Benar, Alden yang paling muda di antara kita, tapi dia menikah begitu cepat," ucap Evano merangkul bahuku.


Aku harap sih dia sedang membelaku begitu.


"Hei, di mana ketiga monstermu?" tanya  Andra yang heran kenapa aku tak membawa buntut hari ini.


Aku memang sudah terbiasa dengan anak kembarku. Ada aku, ada para monster. Begitulah seharusnya, kami saling menempel setiap saat.


"Hari ini mereka menginap di rumah mama, makanya aku sempatkan berkumpul dengan kalian di sini," jawabku yang entah kenapa sedikit berat.


"Hei, bersenang-senanglah di sini. Semenjak kau menikah, kau jarang ke sini, jadi nikmati hari ini saja, Al," ungkap Zidan yang diangguki Andra.


"Benar, lagi pula kau jadi begitu kurus karena merawat monstermu, 'kan?" tanya Evano yang sedang memakan cemilan.


"Tidak bisakah tidak membahas hidupku? Rasanya aku ingin pulang saja," ucapku yang sudah lelah karena mereka terus meledekku, dan aku merasa sesak.


Hidupku memang lebih menarik dari orang lain. Pantas semua orang suka mengomentari hidupku yang paripurna.


"Baiklah, baiklah. Kita buat teman kita satu ini menikmati hari ini!" seru Zidan berdiri, menuju ke alat untuk menyalakan musik.


"Ayo, Al, bersemangatlah," ucap Andra memekul bahuku.


"Baiklah. NYALAKAN MUSIK!" teriakku dan Zidan langsung menyalakan musiknya begitu keras.


Kami semua berada di tempat Andra, tempat di mana kami berkumpul dan mengobrol. Seperti hari ini, aku juga seperti dejavu—mengulang masa di mana aku sering berada di tempat ini bersama mereka, bernyanyi dan menari bebas tanpa beban.


Zidan sudah menyalakan musik, sedangkan Evano sudah mulai menari abstrak. Aku hendak ikut menari, tetapi entah kenapa tiba-tiba aku merasa ini memalukan untukku.


"Kau tidak mau menari juga, Al?" teriak Evano di tengah musik yang keras.


"A-aku sepertinya, aku--"


"Sudahlah, pikir belakangan!" ucap Zidan langsung menarik tanganku berdiri.


Kami langsung menari, menirukan musik meski tarian kami begitu payah dan kacau. Tidak ada gaya yang bagus, hanya seperti membanting-banting kepala itu sudah terlihat keren di sini, padahal itu terlihat seperti ayam mengantuk.


"Wah, lama tidak begini! Ini menyenangkan!" teriak Zidan berjoget menggoyangkan tubuhnya, sedangkan aku, ah entahlah gerakan apa ini—seperti gerakan Avangers.


"Haha … ini membuatku tidak waras!" seru Evano tertawa melihat hasil tarian kami.


Ini sudah melebihi dari kata gila.


••••


Hari sudah malam, aku berjalan sendirian di jalan sepi ini. Rasanya bebanku sudah kembali setelah pulang dari tempat nongkrong.


Aku yang sengaja tidak membawa mobil ini jadi mirip gelandangan, tidak ada tujuan yang jelas, aku mau apa sekarang? Tentunya pulang, lebih baik aku pulang dan tidur, dari pada berada di tempat gelap ini.


"Alden Alisano." Telingaku menangkap suara halus di belakangku, karena ini sudah malam—aku menjadi berpikir itu adalah lelembut, dedemit, ataupun memedi yang berkeliaran, dan kini aku menjadi korban gangguan mereka.


Aku tidak berani menoleh, rasanya tubuhku menegang bersama otakku yang membeku. Mau jalan pun rasanya berat, seperti ada yang menahan, hingga sebuah tangan mendarat di pundakku.


"AKU MASIH INGIN HIDUP! Aakk!" teriakku berlari sekencang mungkin, hingga rasanya seperti terbang saking cepatnya.


"TOLONG!" Aku terus berlari mencari lampu yang terang.


Setelah aku merasa berada di tempat yang aman dan banyak orang melintas, baru aku berhenti dan menoleh, sepertinya hantu itu tidak mengejarku.


Dengan napas terengah—aku duduk di sebuah kursi pinggir jalan. Kuhirup udara segar yang tadi sempat hilang karena rasa takutku. Aku lihat dari kejauhan seseorang berlari dan menghampiriku, dia adalah Alisya.


"Alisya, ada apa? Kenapa kau berlari? Apa ada yang mengejarmu? Apa ada penjahat mengejarmu?" tanyaku bertubi-tubi.


"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau berlari tadi?" tanya gadis itu dengan napas yang belum teratur.


Tunggu! Dia tahu tadi aku berlari?


"Tadi aku berlari karena ada hantu. Dia menepuk bahuku," jawabku menjelaskan.


"Itu aku, Kak," ucapnya setengah kesal. Wajahnya tampak sebal.


"Jadi kau berlari karena takut? Kupikir ada apa," dengkus Polisi cantik ini.


"Ah, benarkah? Kupikir itu hantu, hehe," jawabku malu menggaruk tengkukku.


Bagaimana bisa aku lari terbirit-birit hanya karena ditepuk oleh Polisi. Bodohnya kau Al, seharusnya tadi aku menoleh dulu baru berlari. Ya, setidaknya aku tidak terlihat konyol seperti sekarang. Harga diriku anjlok di pasaran.


"Kau dari mana?" tanyaku memperhatikannya yang tidak memakai seragam.


"Aku baru pulang dari acara makan bersama teman. Kau?" tanyanya balik.


"Aku juga baru berkumpul dengan teman-temanku," jawabku dan dia seperti mencari sesuatu.


"Di mana ekormu?" tanya dia membuatku bingung.


"Ekor? Aku bukan rubah," tawaku renyah.


"Maksudku ... anakmu yang kau panggil monster kecil," ucapnya mengulangi.


Ah benar, mereka adalah ekorku.


"Ah, mereka sedang menginap di rumah neneknya," jawabku setelah sempat loading tadi.


Kami pun berbincang dengan langkah pelan. Padahal tidak ada yang bisa kami perbincangkan, selain hal memalukan dalam diriku.


"Hei, lain kali apa boleh aku main ke rumahmu? Aku ingin bermain bersama ketiga monstermu," tanya Alisya dengan senyum yang tidak pernah pudar pesonannya itu.


"Emm, boleh saja, tapi apa tidak masalah?" tanyaku ambigu.


Sebenarnya maksudku adalah, masalah untukku—kalau Mama tahu pasti akan menganggap Alisya pacarku, itu akan semakin rumit—karena aku sudah memutuskan untuk tidak menikah lagi sebelum ketiga monster itu tumbuh besar dan memahami keadaan. Lagi pula aku tidak ingin membagi kasih sayangku nanti.


"Tentu tidak, aku sangat menyukai anak kecil. Kirim alamat rumahmu, ya, sampai jumpa," ucapnya berpamitan.


Dia bahkan tidak mau mengerti keadaanku, ini akan rumit nantinya.


Sadarlah Alden, ini hanya seorang gadis yang main ke rumah, bukan keluarga mertua. Sudahlah lebih baik aku cepat sampai di apartemen, dari pada harus bertemu hantu lagi nantinya.


Kulangkahkan kakiku ke apartemen yang sudah sepi, sepertinya semua penghuni sudah tidur, aku langsung merebahkan diri di sofa setelah sampai.


Kulihat rumahku yang begitu sepi—sepi tanpa teriakan atau tangisan para monster kecil. Ternyata seperti ini rasanya sendirian. Ini alasan aku tidak bisa hidup tanpa mereka, karena nyatanya manusia tidak bisa mengalahkan rasa sepi.


Kulihat mainan yang tersusun rapi di kardus, sepatu mungil di rak, semua barang para monster membuatku merindukan mereka, padahal belum ada satu hari aku tanpa mereka. Rasanya sudah sangat kesepian karena aku sudah terbiasa dengan mereka.


Biasanya mereka akan menggangguku, bertengkar, berteriak, bernyanyi ataupun menangis. Suara mereka benar-benar ingin aku dengar.


Sadarlah Alden! Mereka tidak meninggalkanmu, mereka hanya sedang menginap di tempat neneknya.


Kenapa aku begitu menyedihkan tanpa mereka—rasanya begitu sepi, seperti tidak ada tujuan hidup. Apa jadinya jika mereka benar-benar pergi nantinya? Menikah ataupun bekerja saat besar nanti? Tentu saja aku akan menikah, mana mungkin aku jadi duda lapuk seumur hidup.


Kubereskan celana si monster yang berserakan. Rumahku seperti gudang tua tak berpenghuni saja, bagaimanapun aku harus membereskannya, takut jika Alisya datang dan rumahku seperti tempat pembuangan sampah.


Tiba-tiba ponselku berdering, kulihat Mama meneleponku.


"Halo."


"Papa!" Suara sebrang sana, dan ini suara Vio atau Zio atau Nio? Yang jelas ini suara yang sedang aku rindukan.


"Oh, kau masih hidup Vio?" ucapku terkekeh.


"Papa! Aku Zio!" teriaknya tak terima.


"Ah iya, iya Zio," ucapku mengulangi dan memukul kepalaku sendiri.


"Papa."


"Papa." Suara ketiga monster itu begitu berisik.


"Iya."


"Aku merindukanmu!" teriaknya keras hingga membuatku harus menjauhkan ponselku dari telinga.


"Iya, aku juga merindukan kalian," ucapku begitu lega.


"Kau tidak selingkuh, 'kan?" tanya salah satu dari mereka.


"Tentu saja tidak, aku kesepian tanpa kalian," ucapku setengah merajuk.


"Aku juga, jadi jangan selingkuh, atau aku akan membunuhmu Papa!" teriaknya tetap tidak bisa bicara pelan, sedangkan aku mendengar suara Shelin dan Mama yang frustasi.


"Aku tidak selingkuh, jadi cepatlah pulang."


"Iya, Papa," jawabnya.


"Papa kami akan main lumpul."


"Papa kami mau main pelang!"


"Tidak, bukankah kita akan main bola?"


"Tidak, nanti telkena kuman!"


Kudengar obrolan mereka yang berebut telepon, kini aku menyadari—kata terbiasa sangat berat untuk ditinggalkan, sehari tanpa mereka membuatku seperti orang gila.


"Hei, sana main, Nenek mau mengobrol dengan Papa kalian." Kudengar Mama merebut ponselnya.


"Alden, kau tidak lupa makan, 'kan? Jangan tidur malam-malam, tenang saja aku masih sanggup merawat anakmu. Jangan hawatir," oceh wanita paruh baya itu.


"Iya Ma, aku makan dengan baik, jangan hawatirkan aku, tapi kau akan mengembalikan anakku besok, 'kan?" tanyaku yang memang tidak sanggup mengisi hariku tanpa para monster kecil.


"Iya, besok akan ku antar mereka," ucap Mama setengah tak rela.


"Terima kasih, Ma."


"Cepat sana tidur! Aku matikan teleponnya."


Tut tut tut


Wanita itu mematikan teleponnya, meski sudah lega tetap saja kembali sepi. Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa mereka, mungkin akan sangat hampa lebih dari sekarang. Hidup dan waktu memang tidak pernah bisa di tebak. Jika bisa di tebak pasti aku sudah dapat hadiah kipas angin atau kulkas baru. Benar bukan?