
Kini, akhirnya kakiku menginjak tanah Universitas tempat dulu aku berkuliah. Menuntut ilmu, sedangkan aku sadar ilmu tidak salah apa pun padaku.
Hari ini aku begitu tampan, memakai kemeja hitam yang kulipat lengannya. Kupastikan hari ini Andra, Evano dan Zidan datang. Sebelumnya aku telah menitipkan ketiga monster pada neneknya.
Aku bernapas lega, bisa hidup sebagai manusia normal. Pergi bersama teman, reuni, bersenang-senang. Aku kehilangan waktu bahagia itu karena menghabiskannya bersama ketiga monster kecil. Bahkan hal sepele seperti makan saja mereka selalu menggangguku. Minta ini dan itu, tidak membiarkanku makan dengan tenang.
Aku langsung masuk ke aula, tempat reuni diadakan. Bahkan aula sudah disulap layaknya kafe mewah. Restoranku bahkan ikut andil dalam acara reuni kampus hari ini.
Kedatanganku disambut oleh teman-teman. Semua mendadak mendekat, entah memberi salam, menanyakan kabar atau yang paling heboh adalah—menanyakan ketiga anakku.
"Kau masih tampan meski sudah memiliki tiga anak," ungkap Riani tampak wajah malu-malu. Dulu dia menyukaiku, sayang aku berpacaran dengan Aruna dan menikah.
"Riani benar, kau seperti belum menikah. Kau lebih menawan dari pada kami yang masih lajang," tutur Viko membenarkan dan tentu mengundang tawa.
"Hei, lihat aku. Aku bahkan seperti sudah memiliki cucu," ujar Darko yang juga belum menikah.
"Alden beruntung memiliki wajah setampan itu, kalian itu memang terlahir mengenaskan," cela Pia, membuat suasana penuh dengan tawa.
Beginilah jika sudah berkumpul dengan teman. Banyak hal yang dibahas, bahkan bahan bercandaan kami menjadi habis. Kini aku menjadi pusat perhatian sebagai Ayah muda. Aku tidak sendiri, ada Malvin. Dia memiliki satu anak perempuan, seumuran dengan anakku.
Itu dia, si Malvin datang. Aku tidak pernah akur dengannya. Dia sempat ingin merebut Aruna dariku. Aku bersorak, seandainya saja Malvin yang menikah dengan Aruna, apa dia akan sekuat diriku?
Kini si albino itu menjadi pusat perhatian. Semua orang mendadak fokus padanya. Meski sudah setampan ini, aku tetap kalah menarik dari albino itu. Lelaki itu pandai berbicara. Apalagi ditambah ucapan Shanet, istrinya, wanita itu tidak jauh berbeda dari Malvin.
Akhirnya, aku hanya bisa berkumpul dengan makhluk lama, Andra, Evano dan Zidan. Sepertinya mereka senasib denganku. Tidak ada cerita menarik yang harus dipamerkan pada reuni kali ini, selain keseharian yang membosankan tentang anakku, apalagi?
Reuni memang selalu dijadikan ajang pamer. Bahkan MC dan seisinya sudah mulai memamerkan diri mereka.
"Hai, Al, apa kabar? Aku dengar kau memiliki tiga anak kembar. Wah, kau bisa sehebat itu," ujar Malvin. Benar-benar terdengar tidak enak di telinga.
"Tentu saja, itu alasan Aruna memilihku," sahutku, menskakmat Malvin.
Hatiku bersorak, tertawa begitu senang.
Rasakan itu Malvin.
Namun, lelaki saingan bisnisku itu malah tertawa. Sungguh, Dajjal satu itu memang pandai bersikap menyebalkan. Tidak tahu malu.
"Aku bersyukur tidak bersama Aruna, karena mungkin aku tidak sekuat dirimu," ucap Malvin. Persis seperti yang aku katakan.
Ucapannya membuatku muak.
"Dulu Aruna adalah primadona di kampus kita. Takhtanya seperti runtuh semenjak berpacaran dengan Alden," ungkap Shanet memancing gelak tawa orang yang satu meja denganku. Shanet, sebut saja Santet. Dia memang pandai membuat masalah.
"Dulu aku menyukai Aruna, tapi aku berakhir menikah dengan Shanet yang tidak kalah cantik." Setelah menjatuhkan istriku yang telah tiada, albino itu tampak bahagia. Malvin mencium kening Shanet.
Semua mendadak berteriak heboh. Menurutku itu sangat kampungan. Apa hebatnya dia?
"Anak Alden sangat tampan, kalian sudah lihat? Aku bahkan ingin memiliki anak kembar sepertinya," ujar Andra, sepertinya ingin membelaku yang mulai terpojok.
"Keturunannya tampan, tertolong oleh Aruna yang cantik. Bukan begitu?" sahut Shanet. Kuntilanak itu memang tidak memiliki akhlak sama sekali.
Kau pikir aku sejelek itu? Dasar jenggot Firaun.
"Kapan kau akan menikah lagi? Kau pasti kesepian selepas Aruna tiada."
Terkutuk. Suami istri ini memang jodoh. Jika saja masuk penjara itu menyenangkan, sudah aku jadikan kedua orang ini abon untuk teman makanku.
"Terima kasih sudah mengingatkanku pada Aruna. Aku beruntung memilikinya. Aku menjadi yang pertama dan terakhir untuknya," tuturku menahan getaran.
Aku menahan emosi, menyebut nama Aruna telah sempurna membuka lukaku yang sudah dijahit. Namun, mereka tidak berhenti juga membicarakan Aruna, orang yang tidak lagi hadir bersama kami.
Mereka tidak peduli wajahku yang telah berubah menjadi kepiting rebus. Seharusnya aku tidak hadir seperti tahun-tahun sebelumnya, karena memang tidak ada yang menarik dari diriku. Tidak ada cerita menarik, selain tentang mengganti popok anakku.
"Kau kerja di mana sekarang?" tanya Viko pada Malvin.
Si albino, Malvin kembali memembanggakan dirinya. Menceritakan bisnisnya yang sudah memiliki cabang. Si Santet ikut bangga, bahkan tidak segan mengundang teman-teman untuk datang. Sungguh pencitraan.
Aku bahkan sudah tidak selera. Apa yang mau aku makan, jika semua dari restoranku sendiri.
"Apa dulu kau ingat, Al, kau pernah menangis saat skripsi?" Shanet tertawa, terdengar mengejek setelah mengingatkan kami pada skripsi.
Dia memang hebat dalam menghinaku. Habis sudah kesabaran ini. Terkutuk memang wanita sepertinya.
"Benarkah? Bahkan aku lupa, tapi kau sepertinya selalu mengingat keburukan orang lain dan melupakan dosamu," sarkasku.
Zidan sudah memegangi tanganku, agar aku tidak terpancing.
"Kau sensitif sekali, Al. Dulu kau begitu suka lelucon, apa karena sekarang kau menjadi sosok Mama untuk anakmu?" ucap Malvin, terkekeh dengan gelengan heran.
Damn. Drakula ini memang harus diberi pelajaran.
"Kami semua peduli padamu, apalagi saat mendengar istrimu meninggal, kami sangat terkejut." Shanet menambahi, teman Aruna yang merebut posisi primadona itu yang paling bahagia saat tahu Aruna tiada. Semua langsung mengiyakan, setuju bahwa mereka peduli padaku.
Sungguh? Kenapa aku begitu tertindas.
"Atau kau marah karena kami tidak datang ke pemakaman? Maafkan kami," tanya Malvin. Kali ini tidak bisa aku tolerir lagi.
Mereka benar-benar membahas Aruna sepanjang reuni, itu membuatku muak. Kubanting gelas di hadapanku. Aku menatap Malvin dan Shanet dengan nyalang.
"Apa masalahmu denganku, huh? Apa menurut kalian semua ini lucu? Hidupku lucu untuk kalian tertawakan?" Kemarahanku telah memuncak, hingga MC menghentikan kegiatannya.
"Kami tidak melakukan apa pun padamu. Kenapa kau begitu sensitif?" elak Malvin. Mungkin agar tidak terlihat salah.
Sudahlah, aku tidak tahan lagi. Aku pun berkelahi dengan Malvin, saling mengatai satu sama lain.
"Doa orang teraniaya akan dikabulkan. Aku bersumpah pernikahanmu tidak akan lama!" ujarku, dan hanya ditonton oleh semua orang.
"Kau bisa apa? Kau Ibu atau Ayah?" ejeknya, menanyakan keaslianku dengan kekehan ejekan.
Sungguh, dia cari mati.
"Aku tokcer menghasilkan tiga anak. Kau apa? Senjatamu hanya sebesar jempolku!" Balasanku kali ini membongkar aib paling dalam. Masa bodoh.
"Beruntung Shanet tidak protes!" tambahku tertawa jahat.
"Apa kau bilang?!" teriak Malvin tidak terima.
Entah kenapa mulut kami sama-sama pedas, melampaui batas Ibu-Ibu. Wah, ucapanku kali ini membuatnya gusar. Beberapa teman telah terbahak mendengar penuturanku, entah membelaku atau si albino ini.
Tadi aku seperti tidak memiliki harga diri. Kini, Malvin yang kehilangan harga dirinya.
"Kau memang menyebalkan!" Malvin berlari pergi.
Dia benar-benar pergi. Sebenarnya siapa yang sensitif di sini? Begitulah dunia mengajariku, bagaimana membalas luka yang dibuka secara paksa.
Karena terlibat pertengkaran, aku diusir dari acara. Zidan, Evano dan Andra ikut keluar aula, tidak tertarik lagi untuk mengikuti acara reuni sampai selesai.
"Kau tidak akan diizinkan mengikuti reuni lagi, Al," ucap Zidan, setengah kecewa.
"Aku memang berniat tidak akan datang. Sampai tujuh ramadhan, tujuh lebaran, tujuh purnama, aku tidak akan datang ke reuni terkutuk ini." Jawabanku membuat kami tertawa geli.
"Kau membela diri dengan baik, Al," puji Andra, menepuk bahuku.
Mendadak, aku memikirkan apa yang sebenarnya aku cari selama ini. Apa tujuanku hidup. Apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Semua orang tampak memiliki mimpi, memiliki harapan dan tujuan. Aku? Aku bahkan tidak tau goal hidupmu sebenarnya apa.
Andra akan menjadi koki hebat. Zidan akan mendaftar sebagai Pilot, dan Evano akan menjadi penyanyi. Aku? Ayah tiga anak yang begitu payah. Tidak memiliki mimpi yang jelas untuk menjadi tujuan. Aku seperti kehilangan kompas hidupku semenjak memiliki anak.
Malangnya diriku.
Benar memang, aku menikahi primadona, dan ditinggal pas sayang-sayangnya. Semoga saja tidak menderita selamanya. Bahkan menduda sampai tua. Aku juga ingin bahagia. Haruskah mengejar janda muda?
Bunuh saja aku.