Because I'M Father

Because I'M Father
3 Baby Monster



Pertama-tama aku akan mengenalkan namaku. Namaku Alden Alisano, aku seorang Ayah muda, dan sudah duda. muda dan duda!


Aish miris sekali.


Umurku 27 tahun, aku menikah di usia 23. Tapi, aku kehilangan istriku. Aku tak mau menyebut namanya, karena itu akan membuatku terluka dengan peninggalan yang dia berikan padaku. Bukan hanya kenangan yang dia tinggalkan, tapi keturunan kami, buah cinta kami. Ya, anakku tentunya, si kembar tiga.


Nio Alisano, Zio Alisano, Vio Alisano.


Tumben aku ingat, biasanya aku lupa urutannya.


Mereka adalah anak kesayanganku, istriku meninggal setelah melahirkan ketiga anak kembarku. Tentu hanya anakku, karena kenyataannya mendiang istriku tidak ingin merawat mereka bersamaku.


Jadilah aku di sini, terjebak dalam apartement bersama ketiga anak kembarku. Apa aku kesal?


Tidak sama sekali! Tapi aku gila, karena aku seorang laki-laki yang harus merawat tiga anak sekaligus tanpa seorang pembantu. Kenapa? Karena aku tidak percaya pada orang lain, aku terlalu menyayangi ketiga monster kecil itu, dan aku berjanji pada diriku sendiri untuk menjaga mereka. Para io-ku. Io, panggilan untuk mereka, dengan menghilangkan huruf awal nama mereka.


"Papa! Papa!" teriak kencang Vio.


Tunggu! Dia Zio atau Vio?


Yang jelas dia salah satu putraku.


"Kenapa? Apa ada yang salah?" tanyaku menunduk karena ketiga anak kembarku terlalu pendek.


Mereka baru berusia dua setengah tahun, bayangkan saja jika kau mampu, aku harus merawat semua hal untuk mereka seorang diri.


"Kak Zio mengambil susuku!" teriaknya menunjuk pada Zio yang asik menyedot susunya.


Baiklah, ini bukan pertama kalinya terjadi, setiap hari ini terjadi, seharusnya aku tidak perlu marah.


"Zio, jangan lakukan itu pada adikmu, emm? Berikan susunya dan minum susumu," kataku sambil terus mengancing kemeja.


"PAPA!" teriaknya lagi yang kali ini bisa membuat gendang telingaku terasa bocor.


"Kenapa? Astaga!"


Aku terbelalak, dan Vio mulai menangis, sedangkan Zio hanya berdiri dengan tersenyum tanpa dosa. Sedangkan Nio — dia menatapku yang ingin marah, jadi aku mengurungkan niatku untuk marah, karena aku tidak mau mereka melihat amarahku.


"Baiklah … Zio, kenapa kau lakukan itu?"


"Huaaaaaaaaa!" tangis Vio membuatku makin frustasi dan memilih  menjambak rambutku sendiri.


"Baiklah, baiklah! Mari kita ganti bajumu Vio. Tidak perlu menangis, oke?" Aku membopong tubuh kecil putra bungsuku.


"Nio bisa kau bantu Papa membersihkan sofanya? Papa mohon! Vio harus berganti pakaian!" seruku terus berjalan ke kamar mandi.


"Iya!" jawabnya masih bisa aku dengar.


Nio adalah anak pertama yang terlahir ke dunia fana ini, dia cukup dewasa dari kedua saudaranya. Mungkin dia kasihan padaku, maka dari itu dia tidak penah jadi biang kerok seperti kedua adiknya, yang setiap hari nyaris membuatku terkena hipertensi.


"Oh, bagaimana ini memakainya? Apa kau tau mana yang depan dan belakang?" tanyaku pada Vio, karena aku tidak tau celana ini mana bagian depan dan belakang.


Ya tuhan bodohnya aku.


"Ini," jawab monster kecil itu membalik celana yang aku pegang.


Aku mengeceknya, berhubung saya tidak tau mana yang depan dan mana yang belakang, lebih baik aku menurut pada bocah kecil di hadapanku ini.


"Baiklah, mari kita pakai!" ucapku semangat memakaikan celana pada Vio.


"Papa."


"Emm," gumamku menjawab.


"Aku ingin pipis," bisiknya nyaris berdesis.


Aku yang sedang berjongkok langsung mendongak, melihat wajah Vio yang merem melek menahan pipisnya.


"TUNGGU DULU! Biarkan celana ini lepas dari kakimu!" ucapku panik, karena celananya sudah terpasang setengah.


BRAAKHH


Telingaku mendengar sesuatu yang jatuh, sedangkan Vio masih butuh pertolonganku untuk menyelesaikan panggilan alamnya.


Ah sial.


Aku hanya punya satu raga, tidak bisa melihat apa yang terjadi di luar.


"Baiklah … buang air kecilmu di toilet itu, jangan kemana-mana sebelum aku kembali. Mengerti?" titahku yang sudah berhasil melepas celana Vio.


Setelah mendapat anggukan dari Vio aku langsung pergi ke ruang tengah, mengecek apa yang terjadi di sana.


"Nio, Zio, apa yang terja- ya ampun!"


Mataku membulat saat melihat isi sofa sudah berantakan, jebol sudah sofa saya, dan bagaimana sofa itu bisa terbalik? Aku tidak tau bagaimana mereka melakukannya, yang jelas aku kehilangan satu sofaku sekarang.


"Maaf Papa," ucapnya membuatku terharu, meski sebenarnya aku ingin marah, tetapi itu tidak mungkin.


"Siapa yang melakukan itu?" tanyaku pada kedua anak yang berdiri di hadapanku dengan takut.


"Aku."


"Aku juga," jawab Zio dan Nio.


Aku tau mereka masih polos, tapi aku selalu mengajarkan kejujuran pada mereka, karena aku tau — di bohongi itu sangat sakit.


Baiklah, air mataku hampir jatuh, kini aku memeluk kedua putraku. "Jangan lakukan itu lagi, emm? Aku mohon!"


"Maaf Papa," ucap keduanya hampir bersamaan.


Kuharap ada lagu teletubies di putar, karena ini moment terbaik. Saat aku mendongak kembali, kulihat Almarhum sofa yang sudah tidak bernyawa lagi, akan aku semayamkan di gudang sempit nanti.


"PAPA!"


"Ya tuhan! Monster kecilku masih ada di toilet!" teriakku panik.


Aku berlari bagai super hero, melewati berbagai rintangan menuju toilet. Saat sampai tujuan, kulihat monster kecilku sedang berdiri dengan kaki kiri masuk ke dalam kloset.


Ya tuhan, jangan lagi.


"Ya tuhan, apa yang terjadi?" panikku.


"Bukankah Papa melihatnya?" jawab monster kecil itu membuatku malas membantunya yang terjebak itu.


Bapakmu masih bisa melihat nak!


"Baiklah, baiklah. Kita keluarkan kakimu dari mulut buaya ini."


Perlahan aku mengangkat tubuh Vio karena kakinya tersangkut. Aku takut jika kakinya patah, aku akan mematahkan kakiku juga nantinya. Aku tidak akan memaafkan diriku jika itu sampai terjadi.


Sampai akhirnya aku bisa mengeluarkan kaki mungil itu dengan mulus, kulihat kakinya bau pesing, ternyata dia belum membersihkannya.


Oh tuhan.


"Baiklah, mari kita cuci kakimu, setelah itu kita berangkat ke kantor bibi," ucapku mulai mencuci kaki Vio perlahan.


Setelah kupastikan bersih, aku langsung mengeringkan kakinya. Memakaikan celananya, tidak lupa pada kedua saudaranya aku pakaikan kaus kaki pada kaki mungil mereka setelah aku kembali dari toilet.


"Mari biar Papa pakaikan kaus kaki untukmu, Nio."


"Tidak, Papa. Aku akan memakainya sendiri," ucap Nio membuatku tersentak, karena selama ini aku selalu merawat mereka dari hal sekecil apa pun.


"Benarkah? Wah, anak Papa sudah besar ternyata?" ucapku memberikan sepasang kaus kaki untuk Nio, dan memberi sedikit pujian dengan tindakannya.


Kulihat dia kesulitan memakainya, tapi aku biarkan agar dia belajar mandiri. Senang bisa melihat setiap perkembangan anak sendiri, seharusnya ada seorang Ibu di tengah-tengah kami.


Aish, apa yang aku pikirkan! Dasar gila! Pikiran macam apa itu? Orang mati tak boleh di harapkan lagi, karena itu menyakitkan hati. Kaya lirik lagu.


Mungkin lagu baru yang kuciptakan.


Setelah semua telah rapi, aku giring ketiga putraku keluar apartemen. Namun, si manja Vio mulai rewel ingin di gendong.


"Baiklah akan aku gendong. Hanya lima menit saja," ucapku menenangkan si bungsu.


"Papa! Gendong!" Kini Zio yang langsung bergelantungan di kakiku.


"Aaahh, baiklah semua akan aku gendong. Sabar sebentar," ucapku menggendong Zio di sebelah kanan dan Vio di sebelah kiri.


Kini kutatap putraku si sulung, dia menatapku juga—sekarang aku bingung akan menggendongnya di mana?


"Tidak Papa, aku tidak perlu di gendong, aku akan memegangi kaki Papa," ucapnya membuatku ingin menangis sejadinya, dia sangat pengertian. Dia tau aku sangat repot, maka dari itu tidak minta di gendong.


Aku mulai berjalan, tetapi entah kenapa kakiku rasanya sangat berat, seperti menyeret sesuatu.


Tunggu! Nio bilang memegangi kakiku bukan? Memegang?.


Astaga!


Dia bergelayut di kakiku. Benar saja, kakiku terasa membawa beton. Kulihat Nio yang tersenyum di bawah sambil bergelantung di kakiku itu. Aku menghadap ke depan, dengan semua rasa berat di seluruh tubuh, dan mungkin wajahku sudah sangat jelek karena menahan beban. Seharusnya saat Nio mengatakan 'memegang' aku sadar—bahwa dia akan melakukan ini.


Aku mulai berjalan dengan kaki di seret, dan kedua beban di lenganku, dengan sedikit muka asamku yang keberatan, akhirnya aku sampai di basement .


"Baiklah, turun semua!" seruku menurunkan semua anak monster itu dari tubuhku.


"Ayok, kita masuk ke mobil, awas hati-hati." Setelah aku masukkan ketiga putraku ke mobil, aku langsung duduk di kursi pengemudi.


Kupastikan ketiga penumpangku aman dengan sabuknya, barulah aku jalankan mobil mewahku menuju kantor kakak tercintaku.