
Saat sedang asik mengobrol dengan Alisya tiba-tiba sudut pandang mataku menangkap sosok yang begitu familiar lewat tidak jauh dari depanku. Sosok itu begitu mirip dengan seseorang yang kukenal namun kini telah tiada.
Tanpa pikir panjang aku langsung mengikutinya tanpa menghiraukan panggilan dari Alisya yang bertanya aku mau pergi kemana.
"Alden kau mau kemana?" Tanya Alisya.
"Aku titip si kembar sebentar!" begitu jawabku sambil terus berjalan mengikuti sosok yang sudah jauh di depan ku.
Aku terus mengikuti sosok itu yang tiba-tiba saja menghilang. Aku celingak-celinguk mencarinya entah kemana dia pergi padahal tadi dia masih berada di pelupuk mataku. Bagai kilat dia menghilang dalam sekejap. Apa mungkin itu arwah mendiang istriku yang tidak rela aku dekat dengan seorang perempuan. Makanya dia gentayangan dan menghantuiku.
Tidak.
Itu tidak mungkin karena ini bukan cerita horor. Ah sudahlah sebaiknya aku kembali saja takut ketiga Monster kecil itu mencari ku.
Begitu aku kembali Alisya sudah menghujaniku dengan berbagai pertanyaan.
"Alden kenapa kau tiba-tiba pergi?"
"kau dari mana?"
"Kenapa lama sekali?"
"Aku habis dari toilet" Jawabku singkat. Tidak mungkin aku menjawab kalau aku habis mengikuti orang.
"Kau tidak berbohong?" Alisya menatapku
Selepas itu aku langsung membawa para monster ku pulang karena sudah sore dan Alisya juga sepertinya akan melanjutkan pekerjaannya untuk kembali berpatroli.
°°°
Sesampainya di apartemen aku langsung memandikan satu persatu Monster kecilku. Aku kehabisan akal untuk membujuk Zio dan Vio yang sedari tadi berlari-lari tanpa menggunakan baju sementara Nio sudah selesai aku mandikan. Anak itu memang yang paling penurut tidak seperti kedua adiknya.
"Zio, Vio mandi dulu lihat kakak kalian sudah mandi. Apa kalian tidak ingin seperti Kak Nio sudah Wangi dan tampan" bujukku pada mereka. Entah yang ke berapa kalinya aku membujuk mereka.
Mereka tidak menghiraukan perkataanku dan terus berlari-lari ke sana kemari saling kejar. Aku menatap Nio tiba-tiba sebuah bohlam lampu di kepalaku menyala. Aku memiliki ide brilian agar dua Monster itu mau mandi.
"Baiklah. Nio karena kau sudah mandi jadi ayo kita jalan-jalan kau boleh membeli apapun yang kau mau" Ucapku sambil memegang pundak Nio dan sedikit meninggikan suaraku agar Zio dan Vio mendengarnya.
"Papa ikut"
"Vio juga"
See. Kedua Monster itu langsung menyahut dan berhenti main.
"Kalau kalian mau ikut kalian harus mandi dulu"
Zio mengangguk menurut sementara Vio masih tidak mau.
"Vio gak mau mandi dingin"
"Kalau begitu Vio dirumah saja sendiri"
"Ayo papa kita mandi" Celetuk Vio langsung menarik tanganku menuju kamar mandi.
Akhirnya mereka mau mandi juga. Rasanya lelah sekali membujuk mereka supaya mau mandi, mungkin ini yang dirasakan ibu-ibu diluar sana . Hebat sekali mereka bisa mengurus anak-anaknya setiap hari.
°°°
Sambil bergoyang tanganku bergerak mengocok telur. Tidak ada yang spesial dari hidupku kecuali telur dadar spesial yang aku buat. Telur dadar yang hanya di tambah rasa yang pernah ada itu kini aku goreng jangan lupa tambahkan daun bawang jangan tambahkan perasaan. Kecilkan apinya, gulung telurnya sepanjang jalan kenangan. Tunggu sampai matang bila bosan bilang jangan menghilang.
Yang jelas, itu tutorial memasak telur ala Alden.
"Papa" jerir Nio. Bukan sepertinya itu Zio.
"Ada apa?" Tanyaku dengan masih menggoreng telur yang sebentar lagi matang.
"Ada laba-laba" pekiknya takut.
"Sebentar Zio" jawabku dari dapur.
Aku salah lagi!
"Ah. Iya, kau Vio. Biarkan laba-labanya pergi. Akan bagus jika aku di gigit, barang kali berubah jadi Spiderman" ucapku mulai menghayal.
Setelah ku matikan kompor. Aku berjalan cepat menghampiri Vio. Dia masih berjongkok melihat laba-laba kecil di sudut meja.
"Itu sangat kecil. Bagaimana bisa kau anggap itu laba-laba, bahkan upilmu bisa lebih besar dari ini" ujarku setelah melihat laba-labanya.
"Tapi aku takut. Dia akan memakan kita" Ujarnya menjerit dan akhirnya bersembunyi di balik punggungku. Mulai menaiki punggungku untuk di gendong.
Sepertinya ini trik baru minta di gendong.
"Apa aku harus membunuhnya?
Vio tampak bingung menanggapi pertanyaanku.
"Kau usil dia saja"
Baiklah anakku takut pada bayi laba-laba, padahal anaku lebih mengerikan dari pada mereka. Aku pindahkan hewan kecil itu dengan tangan lalu ku buang lewat jendela apartemen.
"Kenapa Papa buang dia sepelti buang upil? Dia tidak bisa telbang Papa!" Protes Vio menghawatirkan laba-laba kecil itu.
Lalu aku harus apa?
Menggendongnya dan membawanya ke penangkaran?
"Dia Spiderman, dia bisa loncat kemana pun mereka mau dengan jaringnya" jelasku tetapi Vio menggeleng.
"Balangkali dia seorang gadis jadi dia tidak bisa telbang" kata Vio membuatku menjambak rambutku sendiri. Jika rambut nenek yang aku jambak lain lagi ceritanya.
Belum selesai urusan dengan Vio, tiba-tiba apartemen mendapat tamu. Saat aku cek ternyata bukan tamu melainkan penjaga keamanan di apartemen kami.
Wajahnya merah, napasnya seperti akan segera putus. Aku tebak bapak itu tidak pakai lift saat kemari.
"Ada banyak wanita di depan gedung. Apa kau mengundang mereka?" Tanya pria berseragam itu dengan sedikit ngos-ngosan.
Aku cengo.
"Wanita apa? Banyak? Aku bahkan tidak mengerti" jawabku bingung. Kenapa pria itu bertanya hal yang sama sekali tidak ku mengerti di waktu sepagi ini.
"Wanita itu menyebut Alden Alisano yang memiliki nama itu disini hanya kau. Jika bukan kau yang di maksud mereka lalu siapa lagi?" Jelasnya ada benarnya juga tetapi aku tidak merasa mengundang siapaun untuk dapat ke sini.
"Cepat kau cek. Mereka amat sangat rusuh seperti suporter bola" Ujarnya lagi dan aku mengangguk mengerti.
Selepas pria penjaga keamanan itu pergi, aku langsung mengecek dari jendela kaca. Benar. Banyak sekali wanita di sana hingga aku tidak bisa menghitungnya. Padahal mereka hanya tiga ekor betina. Apa itu banyak? Kenapa pria penjaga itu berlebihan sekali. Hanya tiga wanita dia bilang banyak.
"Mereka sedang apa? Kenapa membawa spanduk?"
Belum aku ketahui alasan para wanita itu datang, akhirnya telepon mengalihkan perhatianku. Mama menelpon tentu aku angkat.
"Berapa banyak wanita yang datang? Apa kau sudah melihat usahaku?"
Ternyata itu semua ulah Mama. Demi Tuhan, apa yang Mama lakukan lagi kali ini. Apa dia tidak bosan untuk mengganggu ketenanganku. Aish menyebalkan.
"Iya aku melihatnya dengan mata kepala dan mata kakiku, hingga mataku semua bergetar. Apa yang kau lakukan. Ma?"
"Jawab saja, ada berapa yang datang dan apa mereka cantik? "
Karena memaksa akhirnya aku melihat lagi keadaan di luar dengan berdiri di dekat jendela.
"Ada tiga orang, yang satu bawa sepanduk. Tubuhnya besar, tangannya memakai kaos tangan sepertinya dia bekerja di pasar ikan. Yang dua lagi ibu-ibu"
"Sungguh hanya tiga? Apa kau tidak selaku itu, Al? Aku sudah bersusah payah menyebarkan brosur mencari jodoh, kenapa hasilnya mengenaskan" gerutu Mama dari sebrang sana membuatku pusing saja dan barusan dia bilang brosur.
Brosur? Aku sudah di samakan dengan dagangan oleh Mama. Penasaran aku meminta Mama mengirim brosur itu lewat surel setelah mematikan sambungan telepon.