
"Ah tampannya keponakanku. Kau merawat mereka dengan sangat baik, Al," ujar Shelin selaku kakakku. Aku tidak berharap dia Kakak perempuanku, hanya saja takdir menjadikannya kakakku.
Wanita yang empat tahun lebih tua dariku itu belum menikah, dengan alasan takut dengan monster kecil seperti anakku. Dia juga takut menikah karena takut mati saat melahirkan anaknya, dia juga takut dengan pria yang hanya akan menyakitinya nantinya.
Aish wanita itu benar-benar tidak tau apa-apa soal cinta.
Dengan gemas Shelin mencubit pipi Nio, untung saja Nio yang di cubit, jika Zio atau Vio — sudah pasti tangannya akan digigit.
"Jadi bagaimana? Apa kau sudah memikirkan semua perkataan mama?" tanya Shelin membuatku kembali melamun.
Seperti di hantam batu besar, kepala dan hatiku tidak sinkron. Jika mengingat ucapan Mama kemarin, rasanya ingin bunuh diri saja. Aku lihat ketiga putraku yang tengah bermain, membuat ulu hatiku terasa perih, seperti terkena maag.
Atau memang ini maag? Entahlah.
Tidak munafik, jika anakku membutuhkan sosok Ibu, tapi kenapa trauma masih mengganggu hidupku. Benar memang jika aku harus menikah lagi, apa pun alasanya. Namun, saat ini aku lebih fokus memperjuangkan ketiga putraku. Tapi ucapan Mama benar, aku harus menikah.
"Apa mereka butuh sosok Ibu?" tanyaku pada Shelin yang ikut menatap ketiga putraku itu.
"Tentu!" jawab Shelin tegas.
Jujur saja aku tidak berniat menikah lagi, bagaimana kalau nanti aku menikah lalu istriku melahirkan anak kembar lagi? Lalu meninggalkanku lagi? Akan ada enam anak kembar di rumahku. Lalu Mama akan menyuruhku menikah lagi, lalu melahirkan anak kembar lagi, lalu meninggal lagi karena melahirkan, akan ada sembilan anak kembar yang harus aku rawat dan seterusnya seperti dejavu. Tiga saja membuatku frustasi bagaimana jika sampai sembilan dan seterusnya, mungkin aku bisa membuat negara sendiri dengan penduduk anak kembarku.
Ini gila.
Stop Alden jangan berpikir liar!
"TIDAAAAKK!" teriakku kelepasan.
"Hei! Kau ini kenapa? Sudah tidak waras, ya! Apanya yang tidak?" tanya Shelin mengguncang tubuhku.
Aku menghirup napas lega, tadi itu hanya pikiran liarku yang sedang berhayal, tapi bagaimana kalau terjadi? Aku akan jadi Duda yang memiliki segudang anak kembar yang kurawat sendiri. Ok STOP, ini keterlaluan.
"Aku akan mencoba bertemu dengan gadis yang mama ceritakan, tapi aku akan mengajak semua anak- Aw!" Belum selesai bicara, kepalaku sudah dapat jitakan keras dari wanita di hadapanku.
"Ini sakit tau!" ucapku kesal sambil memegangi kepala.
Shelin berkacak pinggang sambil bergeleng. Bisa aku pastikan dia akan menyemburku dengan ceramah panjangnya.
"Dasar bodoh! Kau mau bertemu seorang gadis, bagaimana mungkin kau mau mengajak putramu, huh? Bukannya kencan, kau malah hanya akan mengganti popok putramu dalam satu jam, BODOH!" ucap Shelin mendorong jidatku dengan satu jarinya.
"Mau bagaimana lagi? Masa aku tinggalkan mereka di rumah? Sedangkan aku berkencan dengan seorang gadis," ucapku tak mau kalah.
"Tentu saja aku akan menjaganya, Alden. Kau anggap aku ini apa? Tidak berguna?" Shelin menjambak rambutnya sendiri saking frustasinya menghadapiku. I Know!
"Memangnya kapan kau becus menjaga putraku? Yang ada kau melarikan diri seperti kemarin," gumamku sepertinya di dengar olehnya.
"Hei, aku mendengar itu! Aku tidak akan melarikan diri jika monster kecilmu itu tidak mengerikan. Anak kecil lebih mengerikan dari monster," jelasnya bergidik, mungkin dia ingat saat kemarin ketiga putraku bergelantungan di sekujur tubuhnya, hingga membuatnya merasa seperti pohon.
"Anggap saja mereka Tarzan kecil, mereka memang hobi bergelantungan," ucapku membela putraku.
Shelin memang takut anak kecil, jika bukan karena keponakannya — mungkin kakakku ini sudah mengusir mereka.
"Kak, lalu kapan kau akan menikah? Apa tidak ada satu pun pria melamarmu?" tanyaku langsung dapat tendanganya di tulang kering.
"Ah INI SAKIT! Kau pikir sepatu runcingmu itu terbuat dari kapas? Aw!" aduhku mengusap tulang keringku.
Salah sendiri mulutmu benar-benar seperti cumi busuk! Dengar, ya, banyak pria yang melamarku, tapi aku masih ingin mengurus perusahaan ini. Kau 'kan tidak bisa, mau tidak mau aku yang mengurus ini," jelas Shelin beralibi.
Sebenarnya bukan hanya itu alasan Shelin tak segera menikah, tapi gadis itu tidak pernah siap.
Ya tuhan.
"Cepat sana! Temui mama lalu berkencanlah. Semoga kau beruntung!" ucapnya menyemangatiku.
Jujur saja, aku tidak menginginkan ini, apalagi menikah lagi? Aku takut seorang gadis tidak akan mau menerima ketiga putraku.
"Baiklah aku akan pergi, jaga putraku dengan baik," ucapku lalu mendekati ketiga putraku.
"Baiklah, monster kecilku, Papa ada urusan, jadi kalian main dengan Bibi dulu hari ini."
"Yeeeeee!" seru mereka langsung menyerbu Shelin seperti biasanya, bergelantungan bagai tarzan membuat wanita itu kewalahan.
"Pergilah! Aku baik-baik saja, sungguh!" ucapnya menahan beban di tubuhnya, sedangkan aku mengangguk ragu.
Aku yakin kakakku bisa, BISA MATI BERDiI menghadapi ketiga monter itu.
Kulihat Shelin sekali lagi saat hendak keluar ruangan, Shelin mengacungkan jempol tanda bahwa dia baik-baik saja, sedangkan yang aku lihat dia sangat kewalahan.
Semoga saat aku kembali, dia masih hidup sebagai manusia bukan sebagai zombie. Amin.
°°°
Hei, aku jadi berpikir gadis itu seperti lampu di rumahku, putih, panjang dan ramping.
Baiklah, aku sudah menunggunya. Kulihat sekitar, barang kali gadis itu sudah datang, dan benar saja mataku menangkap seorang gadis seperti yang Mama ucapkan. Aku berdiri saat dia menghampiriku dengan senyumnya, mendiang istriku lebih cantik darinya. Sungguh.
"Alden Alisano?" tanyanya sopan.
Apa dia mengenalku? Atau sok kenal? Hei namanya saja aku tidak tau.
"Iya, aku Alden Alisano." Aku bingung mau jawab apa lagi.
"Wah, kau memang tampan," ucapnya malu-malu.
Tidak bisakah, saat bertemu seseorang jangan memujiku tampan, puji aku bahwa aku sexy, tidak! Tapi berotot. Mau lihat? Lihat ini! tidak bisa lihat ya.
"Terima kasih, silakan duduk."
Apa yang aku lakukan? Kenapa begitu kaku, aku bertemu teman kencan bukan seorang klien. Sudah berapa lama aku tidak berinteraksi dengan seorang lawan jenis? Sampai membuatku terlihat konyol begini.
"Jangan terlalu kaku, aku sangat mengenalmu," ucapnya yang namanya belum aku ketahui.
Apa ada yang mau menanyakan namanya untukku? Sungguh aku tidak berminat untuk menanyakannya!
"Ah, iya tentu, siapa namamu?" tanyaku, pada akhirnya bibirku yang sexy ini mengucapkan hal yang lebih masuk akal.
Dia terlihat tersenyum heran sambil menyelipkan anak rambutnya ke telinga.
"Namaku Naomi," jawabnya tersenyum ringan.
Jujur saja dia sangat cantik, tapi entahlah — aku tidak tertarik, apalagi saat dia terus sibuk dengan dandanannya, ini kencan — bukan acara salon menyalon.
"Apa kau suka es krim? Apa kau suka ke spa?" tanyanya membuka obrolan, sepertinya dia gadis yang cerewet.
"Bagaimana kalau langsung saja, apa kau tertarik padaku?" tanyaku tak ingin basa-basi.
Dia tampak terkejut, meski wajah cantiknya langsung bisa netral kembali.
"Sebenarnya aku menyukaimu, hanya saja kau sangat kaku, tidak asik. Maafkan aku, aku orang yang sangat jujur," jawabnya tersenyum kaku padaku.
Bisa aku tebak, dia menyukai fisikku, tapi tidak sikapku. Apa yang salah dengan sikapku? Apa aku salah jika ingin to the point?
Sekarang ini yang ada di pikiranku adalah Kakak, apa dia masih hidup?.
"Baiklah, kalau begitu kita berteman saja bagaimana?" tanyanya tidak enak, bagiku enak saja, lagi pula tadinya aku yang hendak menolaknya, sekarang kenapa jadi seperti aku yang di tolak. Bodoh.
"Aku tidak berteman dengan seorang gadis. Maafkan aku, aku harus pergi." Aku lantas berdiri hendak meninggalkannya.
"Tunggu! Em sebenarnya aku menyukaimu, bagaimana kalau kita--"
"Aku harus pergi. Kau tau ketika memberi jawaban, jangan pernah plin-plan, kau mempermainkan orang namanya. Terima kasih, sampai jumpa" pamitku, lalu pergi meninggalkan gadis bernama Naomi itu.
Dia terlihat terkejut dengan mata berkaca-kaca, tapi aku tidak peduli, jawaban plin-plan dia mempermainkan orang, sedangkan aku bukan mainan. Lagi pula cewek itu sepertinya tidak akan menjadi ibu yang baik untuk para monsterku larena dia sibuk dengan make-upnya.
Sambil berjalan keluar restoran, aku menelepon Shelin, memastikan bahwa dia masih hidup saat ini.
"HALOO!"
Mendengar suara toaknya, bisa aku pastikan dia masih sehat walafiat.
"Kau masih hidup ternyata?" kekehku.
"Aku masih hidup, tapi tidak sampai besok jika BEGINI TERUS! ALDEN ALISANO KEMBALILAH, LUPAKAN KENCAN MU ITU, AAAAAAA!"
Tut tut tut
Aku tertawa dalam mobil. Aku tau Shelin wanita kuat, tidak mungkin mati hanya karena di serang tiga monster kecilku bukan? Lagi pula ketiga anak itu menyayangi Shelin, hanya Shelin yang bisa aku andalkan.
Ini kencan terakhir, aku tidak akan mau berkencan lagi, lebih baik berfokus pada perkembangan ketiga putra kembarku.
Kuambil ponselku yang berdering, tertera nama Mama, melihat namanya saja membuatku bergidik ngeri, wanita itu pasti akan ceramah kali ini.
"Hallo!"
"HEI!" Ku jauhkan ponselku dari telinga, sudah aku bilang, Shelin dan Mama tak beda jauh, eh aku belum bilang, ya? Plak!
"Kenapa kau menghancurkan acara kencanmu, huh? Apa kau sudah tidak waras! Mana ada seorang wanita mau menerima pria yang baru di kenal, kenali dia dulu bodoh! Jangan langsung bertanya dia mau atau tidak! Dasar gila! Kau membuatku gila!"
Ceramahnya panjang, bukan durhaka — aku hanya malas mendengar celotehnya yang kurang berfaedah itu, Nenek macam apa dia, merepotkanku saja. Dia Nenek anak-anakku bukan? Iyakan? Sudahlah. Lagi pula aku sudah matikan teleponya. Hehe.