Because I'M Father

Because I'M Father
Vio dan Polisi Cantik



Aku duduk di pinggir jalan dengan lesu. Tatapanku kosong menatap jalan hitam di hadapan. Seolah tidak memiliki nyawa. Aku tahu cara bernapas, tetapi tidak tahu caranya hidup. Aku menyalahkan diriku sepanjang hari, setiap langkah aku mengoceh tidak karuan, hingga aku berakhir di jalan ini. Hari sudah malam, tetapi aku tidak juga menemukan Vio.


Aku berdiri-berjalan gontai. Awalnya aku mau ke kantor Polisi, tetapi aku takut Polisi menolak laporanku lagi seperti saat itu, menunggu 24 jam lagi, kini aku merasa sudah tak waras lagi.


"Aku harus ke kantor Polisi! Aku tidak bisa begini! Jika Polisi tidak mau membantuku, aku akan ... menangis saja, sudahlah aku harus ke sana."


Aku langsung mengemudikan mobilku, memarkirkannya di depan kantor Polisi. Kutarik napasku panjang, bersiap perang dengan para Polisi di dalam.


"Apa yang bisa aku bantu?" tanya salah seorang Polisi.


"Anak aku hilang semenjak pagi, aku sudah mencarinya, dan aku mohon jangan menyuruhku menunggu 24 jam. Aku sudah frustasi," ucapku memohon bagai wanita yang baru dijambret.


"Bagaimana ciri-ciri anakmu, Tuan?" tanyanya.


"Dia tampan sepertiku, umurnya dua setengah tahun, berkulit putih seperti kapur, memakai baju kotak-kotak hitam. Apa kau mau membantuku?" tanyaku setengah memohon.


"Kami akan berusaha, tapi sepertinya kami harus menunggu hingga-"


"HEI! TIDAK BISAKAH JANGAN SEBUT 24 JAM?" teriakku jengkel.


"Kalau begitu tunggu hingga hari ini berakhir," ucapnya mengulangi. Namun, tetap sama.


"Menunggu itu sangat menyebalkan!"


Aku menarik napasku, lalu aku berlutut. Jika bukan karena Vio, aku tidak akan melakukan ini.


"Aku mohon! Tolong aku, anakku masuk rumah sakit, kakinya harus diperban ... dan aku kehilangan jejak anakku, aku sangat frustasi ... aku mohon, kau sangat tampan, Pak, apa kau tega membiarkan orang setampan aku jadi orang gila?" ucapku memohon dan berlutut.


"Anakmu ada berapa? Sampai ada yang hilang dan di rumah sakit?" tanya pria itu heran.


"Anakku satu lusin!" ketusku kesal.


"Hei bagaimana kalau kita minum dulu?" tawar sang Polisi berbisik.


"Kau pikir aku bisa bersantai? Apa gunanya kau di sini?" seruku membuat kegaduhan kembali. Aku sudah tidak memiliki kesabaran sekarang, kucengkram kerah bajunya hingga mengundang banyak Polisi yang menghampiri kami.


"Bukanya bekerja kau malah mengajakku minum. Kau benar-benar-"


"PAPA!" teriak seorang anak kecil dengan suara melengking. Aku menoleh pada pemilik suara itu. Kulihat dari ujung kaki hingga ujung kepala, sepertinya terbalik, kulihat dia dari ujung kepala hingga ujung kaki, dia masih imut seperti saat pagi.


"VIO!" seruku langsung memeluknya.


"Kau ke mana saja? Tidak bisakah sehari saja jangan menghilang?" ucapku masih memeluknya.


"Papa kau sangat bau matahali," ucapnya membuatku mendengkus.


"Ini semua karenamu. Aku mencarimu seharian tahu?" ucapku memanyunkan bibir.


"Sok imut!" ejek Vio membuatku terbahak.


"Papa, aku dibawa kesini oleh Polisi cantik," cerita Vio, aku menoleh pada orang yang Vio maksud. Mataku membulat, dia sangat cantik-bahkan seragam Polisi makin membuatnya begitu cantik.


"Kak Alden? Jadi dia anakmu?" tanya Alisya. Ya, dia Alisya, gadis di pantai yang membantuku mencari kedua monsterku saat itu.


"Iya, jadi kau bekerja di sini?" tanyaku berdiri.


"Iya," jawabnya tersenyum lembut.


"Terima kasih, kau menyelamatkan anakku," ucapku tulus.


"Ini sudah tugasku. Lagi pula Vio sangat lucu sepertimu," ucapnya menggelitiki dagu Vio.


Hei aku mau juga.


Plak.


"Emm ... maafkan aku, aku sudah membuat kegaduhan di sini," ucapku membungkuk pada semua Polisi.


"Membuat ribut saja," ucap seorang saat melewatiku.


Keterlaluan.


"Ayo kita pulang, kau sudah membuat masalah hari ini. Kak Zio masuk rumah sakit," ucapku pada Vio.


"Sungguh?" kata Vio menangkup wajahnya syok.


"Iyaaa," jawabku malas. "Ayo!" Aku langsung menggandeng tangan putraku.


"Boleh aku ikut?" tanya Alisya membuatku terkejut.


"Baiklah," jawabku, Vio langsung menggandeng tangan gadis itu.


"Tanganmu sangat hangat, aku tidak akan kedinginan," ucap Vio kedengaran seperti menggombal.


Kenapa semua anakku jadi sok dewasa? Apa ini dunia terbalik?


"Sungguh?" tanya Alisya terkekeh.


"Tidak aku sangka kau lebih cantik jika memakai seragam seperti ini," pujiku sambil terus berjalan.


"Terima kasih," jawabnya malu. Dia gadis yang sangat lembut, sepertinya dia juga gadis pemberani dan tangguh.


Kami pun langsung menuju rumah sakit. Aku belum tahu bagaimana keadaan Zio, meski Shelin bilang Zio hanya terkilir. Tapi, tetap saja membuatku sangat hawatir. Apalagi saat Shelin bilang diperban, itu semakin membuatku cemas.


Kami langsung menuju kamar rawat Zio, dengan menggendong Vio yang tertidur di mobil. Rasanya begitu canggung jika Vio tidak membantuku membuka obrolan, sepertinya anak itu lebih lihai mengobrol dengan gadis dari pada aku, aku jadi merasa begitu konyol.


Kini aku masuk ke kamar Zio dengan Alisya. Aku lihat Shelin sudah tertidur pulas dengan Nio yang tidur di atas perutnya.


"Mereka semua anakku," ucapku pelan, takut akan membangunkan mereka yang sudah tidur. Kutidurkan Vio di sofa, dan aku menghampiri Zio yang di ranjang.


Kakinya yang di perban, makin membuatku merasa bersalah. Pasti itu sangat sakit, apalagi saat mendengar tangisnya yang kesakitan saat di gedung, dan semua orang hanya menontonnya, itu membuatku sangat tersakiti. Bagaimanapun hatiku adalah hati Ibu.


"Apa dia istrimu? Seprtinya dia lebih tua darimu," tanya Alisya ragu.


"Bukan, dia kakakku. Dia memang sudah tua," kekehku pelan.


"Ah, aku pikir dia istrimu, lalu di mana istrimu?" tanya Alisya, dia kepo tentang hidupku, ya?


"Istriku sudah meninggal," jawabku tersenyum getir.


Ku ihat dia merasa begitu tidak enak.


"Maaf, aku tidak--"


"Tak apa, aku sudah terbiasa," ucapku memotong.


"Kau sangat hebat. Merawat anak kembarmu sendirian. Pantas kau semarah itu di kantor Polisi," ucapnya memuji, tetapi kalimat terakhir membuatku merasa malu.


Apa yang aku lakukan di kantor Polisi sangatlah memalukan, aku bersikap seperti tarzan yang tidak tahu cara bersikap.


"Senang bisa mengenal orang sepertimu," lanjutnya terlalu memujiku, kini bulu kudukku jadi berdiri semua karenanya.


"Hoamhh." Aku lihat Shelin yang menggeliat.


ASTAGA dia bangun! Bagaimana ini? Dia akan tau kalau aku membawa seorang gadis! Tidak! Alisya kan Polisi.


"HEI! ALDEN! KAU KEMANA SAJA?" ucapnya menghampiriku bagai banteng, Shelin langsung menjambakku.


"Kau kemana saja bodoh! Aku hampir mati di sini!" ucapnya yang keras itu.


"Lepaskan! Kau tidak lihat ada siapa?" ucapku dan Shelin langsung tersenyum kaku saat melihat ada orang asing di sini.


"Halo Kak," sapa Alisya membungkuk.


"Iya, halo juga." Shelin ikut membungkuk.


"Bagaimana dia bisa ada di sini, Al?" tanya Shelin berbisik.


"Dia yang menemukan Vio," jawabku dan Shelin tersenyum pada Alisya.


"Terima kasih. Maaf sudah merepotkan anda," ucap Shelin membungkuk.


"Tidak Kak, ini adalah tugasku. Aku senang bisa membantu anak-anak," jawab Alisya lembut, terlihat sekali perbedaanya dengan Shelin yang seperti preman.


Alisya begitu terlihat berkelas hanya dengan senyumannya, saat melihat Alisya seperti melihat malaikat membuatku tersenyum. Saat melihat Shelin, rasanya begitu asam, seperti memakan mangga muda.


"Kalau begitu aku permisi pulang, ini sudah malam," ucap Alisya berpamitan.


"Hei, antar dia," titah Shelin menendang bokongku.


"Iya, iya," ucapku lalu kuantar Alisya.


"Tidak perlu diantar pulang, aku masih ada urusan ... jadi sampai sini saja. Jaga anakmu dengan baik. Sampai jumpa," ucapnya berlalu pergi.


"Iya," jawabku melamun melihatnya pergi.


Hari ini benar-benar melelahkan, meski begitu-aku lega Vio baik-baik saja. Sedangkan Zio harus dirawat karena keteledoranku. Aku harap ini terakhir kalinya terjadi, dan Polisi cantik-entah kenapa aku sedikit menyukainya, bukan karena aku melupakan istriku, tetapi tidak munafik-sikap pedulinya membuatku yang sulit jatuh cinta ini menjadi luluh.