
Sudah menjadi kewajiban setiap orang untuk diberi vaksinasi. Kini, sebagai orang tua tunggal, aku harus membawa ketiga anakku untuk vaksinasi.
Pagi tadi Dokter telah menghubungiku untuk membawa para monster vaksin. Orang lain membawa satu anak, itu saja sudah menangis, tiga anak? Lihat saja apa yang terjadi saat ini.
Ruangan menjadi rusuh seperti bonek. Tanganku digigit oleh Zio, sedangkan Vio berlari kesana kemari dengan jeritan Tarzannya. Nio menggelengkan kepala bagai kipas angin rusak. Ini sudah bisa disamakan dengan kerusuhan antar suporter.
Jangan ditiru. Hanya dilakukan oleh profesional.
Seharusnya aku membawa Shelin untuk membantuku menangani ini. Sialnya aku tidak membawa dot atau susu. Habis sudah ideku untuk menenangkan para monster ini untuk diam.
"Apa yang akan kau lakukan untuk menenangkan mereka?" tanya Dokter, menghawatirkanku.
"Aakk, dia menggigitku lagi!" teriakku saat Zio menggigit lagi.
Vio berlari padaku, menarik celanaku hingga hampir melorot.
"Hentikan itu! Asetku!"
Rumah sakit ini akhirnya seperti hutan. Aku menjadi seorang Ayah seperti tidak ada harga dirinya.
Aku memegangi Nio yang berada di pangkuanku. Melihat jarum suntik tengah dicentil, aku menggeram layaknya kucing melihat pacarnya berguling di kebon dengan yang lain.
"Aku belum menyuntik," kata Dokter memberitahuku.
Sebenarnya aku juga takut jarum suntik.
Demi kesejahteraan bersama, aku pergi ke tempat menyusui. Membawa Nio yang telah divaksinasi.
Aku berikan botol mineral, tetapi Nio menolak, hanya ini yang bisa aku lakukan. Ideku sudah berakhir bersama tenagaku yang melayang entah kemana. Nyawaku tinggal 5 Watt lagi.
"Ayolah, hanya ini yang bisa aku lakukan," ucapku saat Nio masih menjerit kesakitan.
Suster tiba-tiba masuk. Mengantar satu korban lagi yang menangis kencang, padahal satu monster kecil saja belum dapat kutangani.
"Kau sedang apa?" tanya dia panik.
Bukankah dia lihat aku sedang di ruang menyusui?
Tentu saja menenangkan para monster, meski aku tidak memiliki penenang yang jitu.
Setelah memberikan Zio yang telah divaksinasi padaku, Suster itu bergidik melihatku. Memangnya apa yang aku lakukan? Aku adalah Orochimaru, bisa menjadi Ayah dan Ibu sekaligus.
Mendengar tangisan dua monster. Akhirnya aku terduduk di lantai.
"Selamatkan telingaku Tuhan," gumamku lemas.
Vio akhirnya datang setelah divaksinasi. Berkumpulah kami para lelaki malang, menangis bersama-sama di ruang petak tempat menyusui ini. Seharusnya tempat ini terisi oleh Ibu-Ibu. Lihatlah, bagaimana dunia ini terbalik, dan malah terisi empat laki-laki ini.
"Kenapa Papa sedih?" tanya Nio, yang sudah lebih tenang.
"Aku tidak bisa merasakan apa yang kalian rasakan. Aku tidak bisa menggantikan posisi kalian. Aku juga tidak mendapatkan jatah jeli seperti kalian, padahal kita sama-sama menderita." Wajahku dibuat dramatis.
"Aku akan minta satu jeli untuk Papa," ujar Nio hendak meminta jatah jeli hadiah setelah vaksin pada petugas.
"Tidak, jangan lakukan itu. Harga diriku akan semakin jatuh nanti," tuturku menolak.
Akhirnya berselang beberapa menit, mereka berangsur mereda. Memakan jeli yang diberikan para petugas, dan melupakan jarum suntik itu.
Lalu, kapan aku lupa dengan insiden ini?
Karena semua masih merasa sakit, aku gendong mereka semua. Nio di belakang dengan babycarier tentunya. Vio dan Zio ada di depan, salah satunya mengandalkan tenaga tanganku. Lihatlah tanganku yang sudah membentuk gunung merapi, tampak seksi.
Aku berhenti di taman bermain dekat rumah sakit, membelikan mereka camilan agar lebih tenang. Sedangkan aku, mengisi ulang nyawaku lagi. Duduk bersantai dengan tetap mengawasi para monster.
"Kau di sini?" Aku mendongak, memuncratkan minuman soda yang belum sempat aku telan.
"Alisya? Kau juga di sini?"
Kenapa dia ada di mana-mana?
"Aku baru mengantar mereka vaksin," jawabku, letih, mengingat betapa liarnya anak-anak. Seperti besar di hutan saja.
"Wah, pasti kau sangat repot. Seharusnya kau meminta bantuanku, aku sedang bertugas di dekat sini," ujar Alisya, tampak paham apa yang telah aku alami.
"Aku bisa menanganinya, tidak perlu hawatir." Sebenarnya dalam hati lain jawabannya.
"Ngomong-ngomong, aku selalu memperhatikanmu. Rambutmu, kulitmu, baunya persis seperti si kembar," ungkap Alisya terkekeh.
Selama ini dia menghirup aromaku? Aku memang wangi seperti bayi.
"Tentu, aku memakai produk yang sama dengan mereka. Ada tiga anak bayi, satu dewasa. Sabun dan shampo kami pakai bersama karena tidak mungkin mereka pakai produk dewasa," jawabku, membuat Alisya terbahak.
Baru kali ini, tawanya tidak semanis Good Day. Tawanya lebih lepas tanpa beban, tanpa menjaga image lagi. Aku lebih suka.
"Apa salahnya? Dari para repot, jadi kami berbagi sabun," selaku di saat dia masih tertawa.
"Kau benar, dunia ini sudah membuatmu repot dengan banyak hal," ujarnya membenarkan.
Jadi, alasan kenapa aromaku seperti bayi, karena aku memakai produk bayi yang anakku pakai. Itu alasan kenapa kulit putihku selembut Downy.
Kini, Alisya tampak melihat baju putihku yang basah.
"Bajumu basah?"
Aku mengangguk. Ini semua akibat mencuci wajah si kembar tadi sebelum keluar rumah sakit. Kasihan jika para monster keluar dengan ingus yang keluar masuk seperti mie tengah diseruput.
"Tahu-tahumu seperti mengeras. Cepat tutup sebelum orang lain melihatnya," kata Alisya, memintaku menutup perutku.
Menutup dengan apa? Daun pisang? Aku tidak melihat apa pun di sini.
"Kau tidak bawa jaket dan lainnya?" Pertanyaan Alisya makin membuatku tampak payah.
"Pakai kausku saja, yang penting kering," ujarnya membuka paper bag lalu mengambil kaus hitam dan diberikan padaku.
Aku menoleh kanan kiri. Dengan cepat membuka baju dan membuat Alisya berteriak menutup wajahnya. Aku segera memakai baju, dan menatap Alisya bingung.
Apa dia? Ah, jangan sampai.
"Kenapa kau ganti di sini? Ada toilet di sana," ujar Alisya bergeleng heran, dan aku hanya terkekeh.
Hidupku itu memiliki mutu. Jika bisa cepat, kenapa harus diperlambat.
"Apa kau melihat sesuatu tadi?" Aku bertanya hawatir jika dia melihat sesuatu yang hijau lumut.
"Lihat apa?" Alisya tampak bingung.
"Yang warna hijau lumut. Agar kasar juga," jawabku, ambigu.
Alisya bergeleng dengan menyipitkan mata. Tampak belum paham juga.
"Aku belum mencukur bulu ketek, mereka sedang tumbuh dan jadi berwana hijau, apa kau melihatnya?" tanyaku begitu jujur.
Alisya terbahak seraya memukulku. Dia bahkan menarik baju dan memukulku seraya tertawa.
Apa yang salah?
"Kenapa kau begitu jujur?" tanya Alisya.
"Apa itu menjijikkan?" Pertanyaanku kembali membuatnya tertawa.
Sungguh, aku tidak tahu apa yang lucu dari semua ini. Aku hanya berusaha jujur, dari pada ketahuan. Aku memang belum ada waktu mencukur bulu ketekku. Beruntung bulunya tidak lebat.
"Kau tahu, bulu ketek juga memiliki manfaat. 'Jadilah seperti bulu ketek. Meski terhimpit, mereka tetap tumbuh dengan subur'," kataku, berlagak puitis.
Tunggu. Seperti ada yang salah. Aku bilang subur? Memangnya pohon dipupuk dan tumbuh subur. Ya ampun, aku melakukan kesalahan, haruskah diralat. Aku hanya bisa memasang emoji aneh di wajah, begitu juga Alisya.
Entah kenapa kami malah membahas bulu ketek. Padahal masih banyak hal yang bisa dibahas. Tahu-tahuku contohnya.