Because I'M Father

Because I'M Father
My Love



Keringat menetes dari dahiku. Namun, tubuhku menggigil. Aku masih di dalam selimut membungkus tubuhku yang demam. Tidak disangka—aku bisa sakit juga. Semalaman aku tidak bisa tidur, bahkan tenagaku hilang seketika.


Sekarang aku tidak tahu bagaimana harus memandikan monster kecil.


Di mana semangatku yang menggebu itu?


Kutengok ketiga monster yang sudah bangun, mereka asik bermain robot di lantai. Mereka belum mandi, belum sarapan, belum minum susu. Kalau aku sakit begini, siapa yang merawat mereka?


Alden kuatkan dirimu!


Aku mencoba bangun, meski kepalaku terasa sangat pusing, terlebih keringat yang becucuran membuatku semakin lemah saja.


"Papa, jangan bangun!" seru Vio mendorong tubuhku ke ranjang hingga aku yang lemah dan rapuh ini kembali berbaring.


Kini ketiga monster itu naik ke ranjang, mendekatiku dengan wajah polos mereka.


"Papa sakit?" tanya Nio mengecek keningku dengan tangan mungilnya.


"Astaga! Sangat panas! Seperti bokong panci!" ucap Nio merasakan keningku yang begitu panas. Jujur saja ucapannya membuatku ingin tertawa—tetapi tenagaku sedang lemah saat ini.


"Apa yang halus kita lakukan, Kak?" tanya Zio panik.


"Biar aku peliksa Papa," ucap Zio memeriksa dadaku dengan menempelkan telinganya di dadaku.


"Papa masih hidup, tapi dia lemah. Kita halus menyelamatkannya!" serunya begitu panik.


Hei bocah tuyul aku masih sanggup hidup! Tega sekali anak ini padaku.


"SUNGGUH?" tanya Vio dengan wajah syok, sambil menangkup wajahnya dengan kedua tangan.


"Sepeltinya Papa butuh es," ucap Nio.


"Sungguh?" seru Vio lagi. Sepertinya dia sangat menyukai kata 'sungguh'.


Aku hanya menahan tawa, entah mereka sedang bermain atau memang sangat menghawatirkanku, mereka terlihat sangat lucu. Aku lihat mereka turun dari ranjang—berlari ke luar kamar. Entah apa yang akan mereka lakukan, aku harap ini tidak akan membuat hari ini kacau, karena aku tidak mampu untuk beraktifitas.


Selang beberapa menit ketiga monster itu kembali ke kamar. Aku lihat mereka menggotong es batu yang cukup besar.


Sebenarnya mereka mau apa?


"Hei, kenapa kalian membawa es batu sebesar itu?" tanyaku hendak duduk tetapi Zio menidurkanku.


"Papa tidul saja, kami akan menyelamatkan hidup Papa, seperlti Papa menyelamatkanku," ucap Zio mengelus kepalaku dengan lembut.


Aku pasrah, menunggu apa yang hendak mereka lakukan. "Pasien sudah siap!" ucap Vio memberi kode pada Nio selaku pembawa es batu.


"Baiklah!"


"Hei! Apa yang kalian lakukan?" seruku saat es batu itu didaratkan pada dahiku.


"Kami akan selamatkan Papa! Belsaballah!" ungkap Zio menepuk-nepuk dadaku.


Es batu itu akhirnya mendarat di dahiku, sambil dipegang oleh Nio.


"Hei! Tanganku mati lasa!" teriak Nio yang merasa tangannya sudah kedinginan.


"Bial aku bantu," ujar Zio bergantian memegangi es batu.


Aku merasa otakku membeku, memang benar ini menurunkan panas, tetapi menaikkan pembekuan.


"Papa sudah baikan," ucapku menyingkirkan es batu itu dan menaruhnya di sebuah bak mobil mainan.


"Aku sudah membaik," ucapku merasa kepalaku berat, bagaimana tidak—rasanya kepalaku terasa bengkak karena beku.


"Papa halus makan, aku akan kembali sesaat lagi," ucap Vio berlari disusul oleh Nio, sedangkan Zio menjagaku. Mereka berbagi tugas dengan baik.


"Belsaballah! Malaikat pencabut nyawa tidak akan menjemputmu hali ini, kalena Kakak dan Vio akan menyelamatkanmu dan cacing di perut Papa," ucap Zio mengelus perutku.


Hei kenapa anak ini membahas kematian terus?.


Aku terduduk sekarang, meski kepalaku sudah lebih baik. Sepertinya es batu itu menghilangkan rasa pusingnya, tidak disangka—ketiga monsterku hebat juga, meski yang mereka lakukan tidak lazim.


Aku lihat Nio dan Vio kembali dengan sayuran di tangan mereka, ada selada dan cabai mereka bawa.


Hei aku bukan kambing!


"Kalian mau apa?" tanyaku mengerutkan dahi.


"Papa halus makan, makan ini," ucap Vio memasukan selada ke mulutku, terpaksa aku memakannya, lagi pula ini bukan racun—jadi aku tidak akan mati.


"HAAAAH INI SANGAT PEDAS!" teriakku saat aku merasakan panas dan pedas di mulutku, rasanya mulutku sudah terbakar.


"MULUTKU KEBAKARAN!" teriakku kepedasan.


Dengan cepat Zio mengambil air untukku, dengan cepat juga aku minum air itu sampai habis.


"Air apa ini? Rasanya begitu segar," ucapku sedikit lega.


"Ail es yang ada di sana, kutuangkan untuk Papa telcinteh," jawab Zio sambil menunjuk air yang dia maksud.


"Apa?" Aku terbelalak, aku bilang air itu segar bukan? Memang segar, karena itu air es batu yang mencair di bak mobil mainan mereka.


"Papa akan sembuh secepatnya, sekalang tidullah. Jangan pikilkan apa pun," ucap Nio menidurkanku dan menyelimutiku.


Semoga aku tidak mati karena ulah mereka.


"Aku datang!" seru seorang wanita.


Apa itu malaikat maut? Atau malaikat penyelamat? Selamatkan aku dari monster ini.


Kenapa aku berpikir itu malaikat maut? Mungkin aku sudah hampir mati tadi, hingga tidak mengenali suara Shelin. Entah kenapa mereka melupakanku saat ada Shelin, bahkan mereka menyukai bibinya yang takut pada mereka.


"Apa kabar bosku?" sapa seorang pria.


"Andra?" Aku terbangun saat melihat dia masuk ke kamarku.


Dia adalah Andra, sahabatku sekaligus saudara bagiku.


"Sejak kapan kuda sakit?" ledeknya mendekatiku.


"Aku bekerja bagai kuda. Bagaimana tidak sakit?" ucapku manyun.


"AAAAAA TOLONG AKU!" teriak Shelin seperti biasanya.


"Ada apa itu?" tanya Andra hendak keluar.


"Jangan pedulikan mereka. Kak Shelin akan baik-baik saja," ucapku mencegahnya dan Andra hanya mengangguk.


"Bagaimana kau bisa datang dengan kak Shelin?" tanyaku heran.


"Aku bertemu dengannya di super market, dan dia bilang kau sakit setelah liburan… jadi aku ke sini," jelas Andra terlihat prihatin.


"Apa kabar?" seru seorang laki-laki.


"Hei… sepertinya itu suara Zidan? " ucap Andra lalu melihat keluar, aku menyusul dengan berjalan pelan.


Hari ini temanku datang, dan rumahku masih berantakan. Bahkan si kembar belum mandi ataupun makan, astaga apa yang aku lakukan.


"Ah, itu kau Zidan?" sapaku, dia langsung memelukku erat.


"Hei, kau sakit? Tubuhmu begitu panas," ucapnya begitu perhatian.


"Seperti yang kau lihat, keadaanku sama seperti rumahku, kacau," jawabku duduk di sofa.


"Tidak apa, aku ke sini bukan untuk melihat rumahmu," ucapnya tersenyum, dia sangat baik hati.


"Hei apa yang mereka lakukan?" tanya Andra saat melihat Shelin sudah ditindihi oleh ketiga monster itu naik ke punggung Shelin seolah naik kuda.


"ALDEN AKU BERSUMPAH TIDAK AKAN KE SINI LAGI HUAAAAAA!" ucap Shelin menangis.


"Aku bisa gila," gumamku.


"Bersabarlah, aku pinjam dapurmu Al, aku yakin kalian semua belum sarapan," ucap Andra bangkit dari duduknya.


"Ah, kau memang penyelamat kami!" seru Zidan begitu senang.


"Terima kasih, Ndra," ucapku dijawab dengan jempol oleh Andra.


Pria tampan itu langsung menuju dapurku, dia sangat pandai memasak. Bagaimana kalau aku menikah dengannya saja?


PLAK Alden sudah Gila.


"Hei, Nio, Zio, Vio, ayok main dengan Paman, kita main kuda di kamar mandi," seru Zidan ceria.


"Hei bukankah mereka belum mandi? Aku akan membantumu hari ini memandikan mereka," ujar Zidan begitu ceria.


"Sungguh? Kau tidak akan mampu," ucapku tak yakin.


"Percayalah padaku. Ayok anak-anak, kita main kuda!" teriak Zidan menggiring monster-monster itu.


Semoga kau tidak tewas setelahnya Zidan.


"Ah, aku tidak akan datang ke sini lagi. Monster kecilmu itu membuatku nyaris mati Al," ucap Shelin memegangi pinggangnya.


"Lagi pula kenapa kau bisa sakit? Memalukan. Untung ada pria-pria tampan itu yang membantumu," ucap Shelin, aku tahu dia menghawatirkanku sebenarnya.


Jika Andra dan Zidan tidak datang, aku mungkin sudah tewas sekarang bersama ketiga monster itu karena kelaparan. Apalagi ketiga monster itu meracuniku dengan cabai dan air kotor.


"AAKK AKU TIDAK TAHAN!" teriak Zidan keluar dari kamar mandi dengan basah kuyup.


"Ada apa? Apa monster itu menggigitmu? Menyiksamu? Atau apa?" tanya Shelin begitu ketakutan.


"Bukan. Mereka menenggelamkanku ke bak mandi, aku tidak bisa bernapas," ucap Zidan dramatis.


Tidak mungkin monsterku melakukan itu—pasti Zidan hanya diminta ikut berendam di bak besar. Namun, lelaki itu tak bisa berenang, dan itu membuatnya takut mati.


"Sungguh? ALDEN LAKUKAN SESUATU!" teriak Shelin heboh.


"Biar aku saja yang memandikannya," ucapku berdiri.


"Tidak! Aku harus bertanggung jawab Al. Kau istirahat saja, aku sanggup," ucap Zidan dan aku hanya pasrah, jika dia mati aku tidak tanggung jawab.


Zidan kembali ke kamar mandi dengan hati-hati, sedangkan Shelin masih memeluk bantal ketakutan.


"Mereka tidak semengerikan itu, mereka hanya butuh teman bermain. Wajar jika mereka begitu menyukai orang lain, mungkin mereka bosan denganku," ujarku mengelap ingus yang entah kenapa meler.


"Maafkan aku, Al. Aku tetap takut," tutur Shelin memelukku.


"Kumohon jangan sakit, karena hanya kau yang mampu menghadapi monster kecilmu itu," ujarnya sambil memelukku.


"Hei, ngomong-ngomong bau apa ini?" tanya Shelin mengendus bau tak enak.


"Itu bau kentutku, aku sudah tidak tahan lagi," jawabku nyengir kuda tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"HEI! BAU SEKALI! Kau makan apa? Bangkai gajah?" teriaknya menjauh dariku.


Mana ada kentut wangi! Kentut putri raja saja pasti bau.