
Lama tidak quality time bersama si kembar. Sebangun tidur, sebelum mereka mandi aku telah menyiapkan kursi kecil untuk duduk, dan aku akan memotong rambut mereka seperti biasanya.
Kenapa tidak ke salon? Akan terjadi bencana jika aku mengajak mereka ke salon.
Nio, si sulung akan dipotong rambutnya lebih dulu. Kini dia telah telanjang dada, berlari ke arahku dengan wajah berseri.
"Duduklah, Papa akan memotong rambutmu pelan, um?" titahku, dia begitu penurut.
"Wah, kalian seperti anak Tarzan. Kenapa rambut kalian sepanjang ini?" ujarku sembari memotong sedikit demi sedikit rambut Nio.
"Papa tidak mengulus kami," jawab Nio.
Jawabannya menghantam wajahku. Jika bukan aku yang mengurus mereka, lalu setan apa yang selama ini bersama mereka? Wah, tidak tahu terima kasih. Jiwa menyebalkan mereka memang diturunkan dariku.
"Iya, kau benar. Papa melupakan rambut ini." Aku masih sibuk memotong rambut Nio seraya membuatnya nyaman.
"Seluluh kota melupakan tempat belmain yangasyik. Oh senangnya, aku senang sekali. Seluluhkota, melupakan tempat belmain yang asyik." Nio terus bernyanyi lagu kesukaan kami, meski dia hanya mengulang lirik awal saja.
Asalkan dia diam, ini tidak akan lama. Rambut para monster bertekstur lembut, jadi mudah untuk dipotong.
Suasana tenang kami mendadak kacau, saat si bungsu Vio bangun dari tidur. Menjerit menangis saat melihat kakaknya tengah potong rambut.
"Aku tidak mau potong lambut! Jangan potong lambutku!" Vio menangis dengan menutup wajahnya. Bersembunyi dibalik sofa, mungkin agar aku tidak melihatnya.
Tapi, kan aku mendengar tangisannya.
"Ini tidak menakutkan, hanya gunting kecil. Kau tidak perlu takut, jadilah pria tangguh, um?" ujarku membujuk, sembari menyelesaikan rambut Nio.
"Tidak mau, Papa aku sungguh takut!" tolak Vio. Dia satu-satunya yang takut saat potong rambut, selalu terjadi drama karenanya.
"Kau bilang kau sudah besar, kau pemberani." Aku mencoba membujuk meski masih sibuk membersihkan rambut Nio yang telah selesai dipotong.
Nio langsung berlari menghampiri Vio yang mengumpat di balik sofa.
"Aku masih kecil, dan aku penakut. Kakak, katakan itu pada Papa." Vio mengadu pada kakaknya, Nio.
"Hali ini kau tidak akan selamat," jawab Nio semakin membuat tangisan Vio meledak.
Kakak yang tidak punya akhlak.
Kini, Zio langsung duduk, bersiap untuk potong rambut. Sedangkan Vio masih menangis dengan penolakan yang terdengar lucu di telinga. Nio selalu saja menambahi ketakutan Vio.
"Kau akan jadi kuntilanak jika tidak potong rambut. Apa kau mau menyapu apartemen dengan rambut panjangmu?" Aku bertanya tanpa menoleh padanya.
Jika aku menoleh, dia akan berlari dan histeris. Aku harus membuatnya mengerti lebih dulu.
"Itu jauh lebih baik. Aku akan mengepel dengan lambutku, bialkan lambutku panjang, Papa," tolak Vio, memilih mengepel apartemen.
Aku benar-benar tidak mengerti apa yang ada di pikirannya. "Kau akan menjadi tampan seperti Kak Nio, rambutmu harus dipotong," tuturku, masih berusaha membujuk sebelum benar-benar eksekusi.
"Tidak apa-apa aku jelek sendili, bialkan aku jelek," sahutnya saat tangisnya mereda.
Wah, keras kepalanya melebihi batok kelapa. Akhir cerita ini adalah membawanya ke salon. Hanya dia yang harus ditangani oleh orang profesional.
"Selesai!" Aku berseru saat bagian Zio sudah selesai.
Sontak Vio menangis sambil berlari, berlutut padaku. Berpegangan kakiku dengan derai air mata. Aku seperti Ibu tiri jika dia begitu.
"Jangan potong lambutku, ya?" pinta Vio memohon dan memelas.
Aku berjongkok, menangkup pipi bulatnya. "Ini tidak sakit, sungguh. Kau akan menjadi sangat tampan," ucapku kembali membujuknya. Namun, Vio bergeleng dengan tangisan dramatis.
Ini memang melelahkan. Sabar Alden.
"Kau ingin rambutmu panjang? Setelah itu akan ada petugas kebun binatang menjemputmu, mereka akan mengira aku memelihara kera di rumahku. Baiklah." Aku sedikit menakutinya.
"Jangan bialkan itu teljadi, Papa." Vio merengek takut.
Dia pun duduk di kursi mini yang telah aku siapkan dengan sendirinya. Setengah isakannya masih tersisa, tampak terpaksa menahan takut.
"Pelan-pelan," ujarnya mengingatkanku.
Aku hanya terkekeh sembari memasangkan kain di lehernya, dan mulai mengguting perlahan rambut khas bayi milik Vio.
Dia tampak terisak saat rambutnya mulai terpotong, hingga jatuh di lantai. Bukan kasihan aku malah gemas melihatnya.
"Selesai!" seruku saat akhirnya pemotongan rambut selesai tanpa hambatan.
Aku bernapas lega, tidak ada drama berlebihan kali ini.
"Papa, poniku lebih panjang," adu Zio mendekatiku.
"Wah, kau benar. Sini, Papa kurangi sedikit lagi."
Setelah selesai aku kembali membereskan sisa rambut di lantai. Namun, suara protes kembali aku dengar dari salah satu anakku.
"Papa, ini masih panjang," ujar Zio membandingkan poninya dengan Nio.
Ah, ini sulit untuk bisa persis, Nak.
"Kau ingin sama dengan Kak Nio?" tanyaku seraya memotong pendek poni Zio.
Haruskah aku fotokopi mereka?
Saat aku bandingkan mereka dengan berjejer. Oh tidak! Ini kesalahan. Poni Vio lebih pendek dari Nio, sedangkan Zio juga sudah melebihi pendeknya dari Nio.
"Sudah sama," ucapku bohong.
"Poni Vio sangat pendek," ungkap Nio, membuat Vio menyentuh poninya.
"Papa, panjangkan poniku, bisa?" pintanya, mendekat ingin memanjangkan poninya.
Bagaimana ini? Mana ada memanjangkan poni secepat itu. "Kau, kan adik, tidak masalah jika ponimu lebih pendek. Hanya sedikit," bujukku agar dia tidak histeris.
"Aku ingin sama dengan Kakak," pinta Vio.
Ini yang menjadi masalah, hanya perkara poni saja menjadi rumit jika anak kembar yang potong rambut. Padahal hanya beda sedikit sekali, tidak ada satu senti.
Mungkinkah ini alasan salon selalu tutup saat anak kembar hendak potong rambut?
"Lalu aku harus menyambungnya dengan apa? Ini sudah mirip dengan Kakak." Aku mulai frustasi.
"Tidak, kami lebih pendek dali Kak Nio," ungkap Zio.
Akhirnya aku memutuskan Nio yang dipotong lagi. Agar sama rata dengan adik-adiknya. Setelah selesai, masih ada komplain dari para monster. Sebelah kiri tidak rata, bagian belakang tidak sama, poni sedikit miring. Aku mengulangnya terus, sampai rambut mereka lebih pendek.
Akhirnya aku menyerah, setelah aku rasa sudah cukup sama. Bagaimana bisa persis, ukuran kepala mereka berbeda.
Jika begini, mereka bisa sampai botak untuk menyamakan poni saja. Mungkin akan menjadi Upin, Ipin, dan Apin.
"Wah, kita sudah sama." Vio menggandeng para kakaknya untuk bercermin.
Mereka lantas tertawa bahagia. Mengelus rambut milik kembarannya untuk memastikan mereka benar-benar sama.
"Papa!" Ketiganya menghampiriku seperti anak monyet. Menggaruk seluruh tubuh mereka.
"Aku melasa gatal," adu Nio menggaruk punggungnya.
Seketika aku terbelalak. Sedari tadi aku tidak memakai kain penutup. Pantas rambutnya menempel di tubuh mereka semua.
"Astaga! Tunggu, Papa akan kembali setelah pesan-pesan berikut!" Aku berlari ke kamar mandi.
Tunggu! Ada yang salah. Seharusnya aku bawa para monster ke kamar mandi, kenapa malah lari sendiri tanpa mereka.
Akhirnya aku kembali pada mereka, menggiring ketiganya untuk menghilangkan sisa potongan rambut yang membuat mereka gatal.
"Kau senang dengan rambut barumu, Vio?" tanyaku pada anak yang tengah aku beri sabun.
"Aku Zio, Papa."
Aku kembali keliru. Wajar bukan, karena mereka mirip sekarang dengan potongan rambut baru.
"Maafkan Papa, Papa pikir kau Vio."
Aku pun menggosok tubuh mereka satu persatu. Seorang Papa pun bisa keliru dalam memanggil anak kembar mereka. Itu hal yang wajar, tidak perlu menganggapku sudah pikun.
Setelah selesai, dan mereka sudah memakai baju lengkap tidak seperti tuyul yang hanya memakai popok, akhirnya kami kembali ke ruang tengah.
Sembari menjaga mereka yang tengah bermain, aku memakan burger karena kelaparan.
Kini, Zio melihat botol saus cabai. Merasa penasaran, meraihnya dan menggigit tutup botol dengan gemas.
"Jangan dimakan, ini pedas." Aku meraihnya dan menyingkirkannya.
Seketika tangisan Zio membuatku terlihat seperti menyiksanya, tidak terima aku melarangnya makan sambal. Terpaksa, aku berikan botol saus itu agar tidak membuat keributan.
"Baiklah, makan ini. Jika bibirmu menjadi setebal cokelat beng beng, aku tidak bertanggung jawab." Aku menyerah, dan membiarkan anak satu itu untuk mencicipi rasa sambal.
Setelah menjilatnya di ujung botol, seketika tangisan Zio terdengar. Sudah merasakan pedasnya cabai rupanya. Baiklah, begini caranya mendidik anak, jika dia tidak menurut, biarkan dia merasakan.
Aku langsung menyodorkan air putih, dan Zio kembali tenang meski masih tampak wajah merah karena merasakan pedas.
"Mau lagi?" Zio langsung bergeleng dengan menyentuh lidahnya.
Kedua saudaranya tampak tidak tertarik setelah melihat Zio menangis, dan hanya menonton saudaranya saja. Tentu paham, jika saus cabai memang pedas, hanya wajah para monster yang manis.