Because I'M Father

Because I'M Father
Model



Bagai model terkenal yang sedang melewati red carpet, aku berjalan dengan jaket kulit hitam dan kaca mata hitam. Bersama ketiga monster yang juga memakai baju yang sama denganku. Kami berjalan beriringan dengan gaya bak super model. Ketiga monster yang tingginya masih selututku itu juga mengikuti gayaku berjalan.


Kami terus berjalan di hamparan orang yang melihat kami dengan mulut terbuka, hingga seseorang menghentikan langkah kami.


"Papa!" serunya. Kulihat ke belakang, dia tengah mengulurkan tangan kanannya.


"Tolong," ucapnya dramatis. Dia benar-benar merusak gaya kami yang sudah keren.


Vio terpeleset hingga jatuh di lantai dingin gedung ini, padahal tadi kami sudah seperti model internasional, dan dia merusak semuanya.


Kuhampiri dia, membantunya bangun lalu menepuk pelan baju dan celananya yang terkena debu.


"Kau merusak gaya kami," ucapku manyun dan dia hanya nyengir kuda menunjukan gigi kelincinya.


"Ayo kita lanjutkan perjalanan kita," ajakku karena dia sudah merusak gaya kami semua, tidak keren jika dilanjutkan.


Hari ini aku pergi ke sekolah mereka, aku berniat menyekolahkan mereka setiap hari senin, rabu dan sabtu, itu jadwal yang cukup bagus. Tidak setiap hari mereka harus sekolah, tetapi cukup membuat mereka memiliki banyak teman nantinya, bukankah itu bagus?


"Halo, apa kau Tuan Alden Alisano?" tanya seseorang pada kami.


"Iya, aku Alden," jawabku yang datang dengan ketiga monster.


"Langsung ke kelas saja, kelas segera dimulai," ucap gadis yang tidak aku ketahui namanya itu.


"Aku tidak mau!" seru Zio memegangi kakiku.


"Aku juga tidak mau!" seru Nio yang juga berusaha naik ke tubuhku.


"Hei, kita bermain di dalam, banyak temanmu di sana. Ayo," ucapku membujuk.


"Tidak mau! Huaaa!" seru Zio mulai menangis.


Ya Tuhan ini tidak akan mudah.


Kulihat Vio yang hanya berdiri saja dengan wajah polosnya, sepertinya dia belum mengerti ini tempat apa, hehe bisa aku manfaatkan.


"Vio, bukankah di dalam kita akan bermain, emm? Kau senangkan? Ajak Kakakmu masuk ke dalam," ucapku dengan wajah berharap.


"Tidak tahu, aku tidak tahu apa yang ada di dalam," jawabnya masih tidak mengerti.


"Kita bisa bermain bersama teman-teman, ayo kita masuk," bujuk gadis muda yang sepertinya adalah Guru.


"Benalkah?" tanya Vio polos.


"Iya, banyak mainan di dalam," jawab gadis itu membujuk dengan lembut.


"Papa aku mau belmain," seru Vio begitu semangat.


"Masuklah, Kakakmu akan menyusul nanti," ucapku dan Vio langsung masuk bersama Guru itu.


"AKU TIDAK MAU!" teriak Nio histeris.


"Vio saja sudah masuk, kita lihat apa yang dia lakukan di dalam, ayo," bujukku pada kedua monster yang menempel di tubuhku bagai cicak ini.


"TIDAK MAU! Huaa!" teriak Nio begitu takut.


"Zio, apa kau mau masuk?" tanyaku pada Zio yang diam saja sedari tadi.


"Aku, takut," ucapnya yang sudah berhenti menangis.


"Hei tidak apa-apa, di dalam banyak mainan, lihatlah," ucapku menunjukan ruangan kelas itu dari pintu masuk.


Nio dan Zio terdiam, mengamati di dalam kelas, dan melihat Vio yang sudah asik bermain. Anak itu lebih pemberani ketimbang kedua kakaknya ini.


"Kalian mau masuk?" tanyaku, dan Zio mengangguk membuatku lega. Aku turunkan Zio dan dia langsung menghampiri adiknya di dalam.


"Nio ...,"


"Tidak, aku tidak mau! Huaa!" tangis Nio masih takut. Aku mengerti alasan anak ini seperti gorila begini. Ini karena aku jarang mengajak mereka berinteraksi dengan orang lain, hanya Shelin dan orang tuaku yang berinteraksi dengan mereka.


"Aku tidak mau! Aku mau dengan Papa saja, Vio dan Zio, huaa!" tangisnya di gendonganku, sepertinya Nio menghawatirkan kedua saudaranya yang ada di kelas.


Kuelap air matanya, dan aku buang ingusnya, jangan lupa pelipirkan di tembok, berdoa ada yang menyentuhnya nanti.


"Hei tidak apa-apa. Bagaimana kalau kita masuk bersama?" bujukku lagi, tidak mau menyerah.


"Aku tidak mau! Aku takut ada yang menyakiti hati Papa nanti, atau menyakiti Vio dan Zio, aku halus menjaga kalian," jelas Nio masih sesenggukan.


Ternyata itu alasanmu, Nak.


"Kau hawatir? Ada Papa yang masih hidup. Selama aku bernapas, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti kalian," ucapku meyakinkannya.


Aku lihat dia sedikit berpikir, lalu menoleh pada kedua saudaranya tampak tidak yakin. Aish sangat tidak mudah membujuk anak kecil.


"Huaa, PAPA!" tangis Vio.


"Hei, ada apa?" tanyaku saat mereka menangis.


"Meleka jahat. Meleka mengambil mainanku," ucap Vio mengelap ingusnya di celanaku.


Ya Tuhan, ingusnya! Karma.


"Lalu kau kenapa Zio?" tanyaku pada Zio.


"Aku hanya ikutan menangis saja," jawabnya enteng.


Tidak bisakah Zio sedikit normal, huh?


"Papa kau bilang kau akan menjaga kami, 'kan? Apa kau tidak akan memalahi meleka?" tanya Vio, dia masih ingat saja ucapanku tadi.


Aku akan terlihat seperti pengecut jika memarahi anak orang, tetapi aku akan lebih terlihat bodoh jika tidak membuktikan ucapanku pada ketiga monster yang kini menatapku.


"Baiklah," ucapku merapikan jaket kulit yang kupakai.


Beruntung, aku menjadi 7 laki-laki tersabar versiOn The Spot.


Kini ketiga monster yang berdiri di depanku sedang menatapku. Baru saja aku mau melangkah masuk, seorang anak kecil berambut keriting keluar dari kelas.


"Kalian tidak punya Mama, ya? Kenapa kau datang dengan Papa kalian?" tanya bocah rambut keriting itu seperti mengejek.


Hei anak siapa dia? Dajjal?


"Hei! Bukan ulusanmu!" seru Nio melototinya.


Hei kenapa dia lebih berani dari kedua adiknya? Ah, dia kan tadi bilang akan menjaga kedua adiknya dan aku, ya Tuhan aku terharu.


"Hei! Tidak perlu melotot! Kau tidak punya Mama, tidak perlu banyak gaya!" ucap bocah itu.


"Hei! Kenapa kau bicara begitu?" tanyaku lalu seorang wanita datang.


"Ah maafkan putraku, dia tidak bermaksud begitu," ucap wanita itu yang bisa aku pastikan adalah Ibu dari bocah nakal berambut keribo itu.


"Dia mengatai putraku, kami datang ke sini bukan untuk dihina," ucapku kesal.


Kau tahu? Ucapan anak keriting itu melukai perasaanku, ini lebih sakit dari pada dimarahi Mama, dan aku yakin ketiga monsterku juga terluka karena ucapan bocah itu.


"Maafkan aku. Cepat minta maaf pada mereka," ucap wanita itu membungkuk lalu menyuruh anaknya meminta maaf.


"Tidak mau! Aku tidak mau berteman dengan mereka," ucap si rambut keribo bak sarang emprit itu makin membuat ulu hatiku perih.


Memangnya apa salah anakku? Mereka tidak tau apa-apa, mereka bahkan tidak tahu sekarang ini hatiku hancur hanya karena ucapan anak kecil. Aku membayangkan bagaimana perasaan ketiga monster itu, membuatku sesak dan kesal.


"Hei jelek! Memangnya siapa yang mau berteman dengan orang sepertimu, huh?" ucapku membuat wanita di hadapanku itu menatapku tidak enak. Tidak peduli siapa yang aku hadapi sekarang, anak kecil, anak boncel, kurcaci atau apa pun—tidak peduli jika ini menyangkut perasaan monsterku.


"Sekali lagi maaf, 'kan aku," ucap wanita itu merasa begitu bersalah dan takut.


"Ayok kita pergi. Tidak perlu satu kelas dengan orang hutan di sini."


Kugandeng Vio dan Zio, sedangkan Nio menggandeng tangan Zio. Kami kembali berjalan layaknya model—seperti saat kami datang, dan aku harap ini tidak berakhir dengan Vio terjatuh kembali.


Kami pun memasuki mobil, aku lihat wajah mereka. "Hei kau hebat sekali tadi?" pujiku pada Nio.


"Iya, Kakak kau sangat pembelani," ucap Zio mengacungkan jempol.


"Memangnya tadi Kakak melakukan apa?" tanya Vio yang sepertinya sudah tidak ingat.


"Aku tidak suka anak itu, dia jahat pada kita," ucap Nio tertunduk, membuatku kembali mengingat kata-kata pedas bocah itu. Sepertinya bocah itu baru makan bon cabe.


"Tapi kenapa kami tidak memiliki mama sepelti meleka?" tanya Zio yang membuat kedua saudaranya menatapku juga.


Kau tahu, aku tidak pernah siap dengan pertanyaan itu, meski aku tidak bisa menghindar untuk selamanya. Aku berpikir sejenak, jawaban apa yang pantas mereka dengar. "Aku Mama kalian," jawabku tersenyum kecut.


"Tapi kau Papa, mama meleka belambut panjang dan cantik," jawab Vio menirukan rambut panjang.


Kuhela napasku lagi yang terasa makin sesak. "Aku juga bisa berambut panjang dan cantik, hanya saja aku lebih suka rambut pendekku, rambut panjang membuatku gerah," jawabku beralasan.


"Ah, Papa benal, lambut panjang membuat gelah," ucap Zio tersenyum.


"Benalkah? Kalau begitu kami akan panggil Mama," ucap Nio tersenyum ceria.


"MAMA!" seru mereka senang.


Ya, meski itu membuatku geli, tetapi tidak masalah—asal mereka tidak tanya lagi soal Mama mereka, karena aku sudah cukup lelah dengan itu.


Apalagi saat pertama kali aku bawa mereka jalan-jalan saat umur satu tahun, banyak orang yang menanyakan di mana istriku, sedangkan aku tidak pernah menganggapnya mati. Aku sering bingung menjawabnya, jadi, aku sering emosi saat ditanya mengenai itu. Aku sangat sensitif kala itu—hingga membuatku sering marah pada setiap orang yang menatapku aneh.


Sudah aku bilang, hidupku begitu keras bukan? Tak masalah jika aku terlihat konyol di hadapan orang lain, asal ketiga monster yang kini sedang tertawa itu tak tahu luka dalamku.


Meski aku menangis batin.