
Sore ini aku ajak ketiga monster kecilku keluar jalan-jalan di sore hari, tetapi kali ini aku tak membawa baby carrier, karena sedang mengajarkan mereka untuk mandiri. Meski bisa di ltebak nantinya mereka akan meminta digendong.
Kami jalan-jalan di taman dekat apartemen. Sebenarnya aku hanya menemani ketiga monster itu bermain. Lihat sekarang, aku berlari kesana-sini, karena Nio berlari ke arah bola yang Zio lempar, sedangkan Vio malah berlari mengejar sepeda ontel, sedangkan Zio asik bermain genangan air. Lalu siapa yang harus aku kejar dulu?
Jawabannya adalah Vio, aku kejar monster kecil itu, entah karena ingin naik sepeda atau apa, dia mengejar sepeda ontel yang di kendarai seorang anak kecil.
"Vio! Berhenti!" teriakku membuat orang yang sedang menikmati sorenya memperhatikanku.
Ya Tuhan, seandainya saja aku bisa terbang.
Kutangkap tubuh mungil Vio yang sedari tadi berlari tanpa menoleh.
"Hei kenapa kau tidak berhenti saat aku bilang berhenti, huh?" tanyaku masih ngos-ngosan.
"Aku mau naik sepeda!" serunya mencoba melepaskan diri dari pelukanku.
"Kita temui kakakmu lebih dulu. Lalu kita ambil sepeda di rumah," ucapku menenangkan.
"TIDAK MAU!" serunya memberontak.
Ya tuhan.
Aku tetap memaksanya meski dia memberontak, baru kali ini Vio begitu berontak. "Aku mau naik sepeda dengan mama!"
Deg
Mama? Kenapa rasanya hatiku terasa begitu sakit? Memang tadi anak itu di dorong oleh mamanya, tapi kenapa Vio menginginkannya juga, bukankah selama ini mereka terbiasa denganku, bukankah mereka tau bahwa aku Mama mereka juga?
Dengan perasaan campur aduk, aku menghampiri Zio yang sudah kotor dengan lumpur, dan Nio yang entah kemana. Meski Vio terlihat cemberut karena aku paksa menghampiri kakaknya.
Tidak bisakah aku hidup tenang? Inginku menangis sekarang.
"Vio ... Papa mohon, tetap di sini bersama Kak Zio, em?" ucapku lembut, meski hatiku terasa sesak karena ucapannya tadi. Vio mengangguk pasrah, tetapi langsung bergabung dengan Zio yang masih bermain lumpur.
Kenapa tidak aku larang? Karena aku akan merusak suasana hati mereka yang baik. Aku langkahkan kakiku mencari Nio.
"Kak Nio kau di mana?" teriakku karena taman sedikit ramai, ada kemungkinan Nio yang mungil itu tersesat.
"Nio monster kecilku!" teriakku lagi.
Kakiku berhenti saat melihat tubuh mungil dengan baju kemeja itu berdiri di depan penjual es krim. Aku lihat Nio membawa bolanya sambil menatap beberapa anak yang sedang bersama Ibu mereka, kudekati Nio dengan berjongkok.
"Hei, apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku mengelus puncak rambutnya.
"Tidak Papa, aku hanya melihat mereka," tunjuk Nio pada keluarga kecil yang sedang main ayunan. Sudah bisa di tebak, bahwa Nio pasti merasa heran, kenapa dia tak memiliki Mama seperti mereka.
Rasanya ulu hatiku makin sakit saja, apa si kembar butuh sosok Ibu? Bukankah selama ini mereka biasa saja meski hanya ada aku? Kumohon, perjalananku sudah sangat sulit, bukan hanya tubuhku yang remuk, tapi hatiku remuk saat istriku meninggal, dan melihat kenyataan aku harus membesarkan ketiga anakku sendirian. Bahkan aku rela tak mendapat warisan perusahaan demi merawat ketiga monsterku, aku rela tidak menikah lagi untuk mereka, bahkan aku hanya mengandalkan restoranku untuk biaya hidup.
"Ayo Papa," ajak Nio menggenggam tanganku dengan hangat, meski tangan mungilnya tenggelam dalam genggaman tangan besarku.
Aku tersenyum saat dia tersenyum ringan. Meski aku tau senyumnya membuatku merasa semakin bersalah. Jika dia orang dewasa, mungkin dia sedang menutupi kesedihannya.
Siapa yang mengajari Nio berakting seperti itu? Mungkin aku.
"Aku mencintaimu Papa," ucapnya begitu manis.
"Emm, aku juga mencintaimu," jawabku lalu membopong tubuhnya, dia tersenyum lalu mencium pipiku sekilas.
"YA TUHAN!" teriakku terkejut, kutatap Nio yang juga menatapku bingung.
"Siapa mereka?" tanya Nio polos.
"Kau tidak kenal mereka berdua?" tanyaku pada Nio, dan dia bergeleng polos.
Aku alihkan pandanganku kembali pada dua tuyul di depanku, pantas jika Nio tidak mengenali kedua saudaranya, bagaimana tidak-wajah mereka sudah tidak bisa dilihat, mirip dengan tuyul kecebur got, tidak ada wajah manusia lagi-kuturunkan Nio. Aku tampilkan wajah marahku agar mereka takut padaku, dan benar saja Zio dan Vio tertunduk takut.
"Kita pulang!" ucapku datar tetapi terdengar dingin, kedua monster yang berlumur lumpur itu mengangguk, lalu saling menuntun-berjalan beriringan, sedangkan aku menuntun Nio yang bersih, masih tampan sepertiku.
Namun, aku tidak tega melihat kedua monster lumpur itu, apalagi saat mengingat ucapan Nio dan Vio hari ini-membuatku memiliki rencana cemerlang untuk malam ini.
°°°
Kini aku sudah siap, kulihat tampilanku lagi di kaca besar di kamar, kulihat semuanya sudah sempurna, aku hanya berharap ketiga monster yang sedang bermain di ruang tengah akan senang.
Kuhela napas panjang, rasanya lebih deg-degan dari pada sesi wawancara di perusahaan, meski aku belum pernah merasakannya sih.
"Baiklah Alden Alisano, ini demi ketiga monster kecilmu!"
"Halo semua," ucapku begitu lembut, menirukan suara wanita.
Mereka semua langsung melihatku dengan tatapan tak percaya, bahkan mulut mereka terbuka lebar saking terkejutnya, tetapi beberapa detik kemudian aku melihat wajah gembira mereka.
"Mama!" teriak mereka langsung menghampiriku-memelukku berseru gembira. Tadinya aku sudah nyaris mati karena melihat wajah mereka yang aneh, ternyata rencanaku berhasil.
"Mama!" ucap Nio begitu senang, bisa aku lihat betapa bahagiannya ketiga monster ini, mereka terus memelukku-membuatku terharu, karena mereka memang merindukan sosok Ibu.
"Kau Mama kami?" tanya Vio polos.
"Iya, aku Mama kalian," ucapku meniru suara wanita, karena sekarang ini aku sedang menjadi wanita. Memakai daster bawah lutut, dengan rambut palsu dan lipstik yang mewarnai bibir sexyku, dengan blus on warna merah muda, di tambah anting terpasang di telingaku. Aku sudah sangat cantik sekarang, tidak kalah cantik dan sexy dari Selena Gomes.
"Bagiamana kalau kita bermain sekarang? Tapi sebelumnya, kalian harus makan malam."
"Yeei!" seru ketiga monster itu begitu ceria, biasanya saat aku suruh mereka makan, tidak akan mudah seperti ini.
Namun, kali ini aku tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk membujuk mereka makan, tetapi hanya perlu melakukan hal memalukan ini. Seandainya Mama dan Shelin tau, mungkin aku sudah dicekik oleh mereka.
"Baiklah mari Papa, emm maksudku Mama suapi kalian, emm," ucapku sempat salah bicara, maklum tidak biasa.
Mereka langsung duduk berbaris di sofa dengan rapi, sedangkan aku mulai menyuapkan nasi pada goa kecil mereka yang sudah terbuka lebar.
"Pengangkut sampah segera tiba! Buka goamu lebar-lebar! Aaaa," ucapku dan mereka serempak membuka mulut.
"AAAAAAA!" Aku masukan satu sendok ke mulut mereka bergantian.
Rasanya begitu senang melihat mereka bahagia, tawa mereka adalah tawaku, tangis mereka adalah tangisku, bukankah hatiku sudah seperti seorang Ibu sekarang? Bahkan aku lebih sensitif dari seorang Ibu.
"Hali ini aku sangat senang, Papa mengajak kita belmain, dan sekalang kita disuapi Mama," ucap Vio dengan mata berbinar.
"Aku juga! Aku ingin belsama Mama telus," ucap Zio menanggapi.
"Aku juga ingin tidul dengan Mama," ucap Nio ikut menyela.
Aku hanya tersenyum, nyaris menangis mendengar obrolan tiga monster di depanku ini, kenapa aku jadi sesensitif ini? Apa karena lipstik, dan rambut palsu yang membuatku gatal ini? Rasanya sudah mulai gatal, aku ingin menggaruknya tetapi takut terlepas, TOLONG singkirkan kutu di rambut palsu ini.
Aish sangat mengganggu momen penting.
"Mama kita akan tidul belsama, 'kan?" tanya Vio si cerewet, membuatku yang sedang garuk-garuk langsung mengangguk cepat.
"Iya, malam ini kita tidur bersama, apa kalian senang?"
"Sangat senang! Yeeeii!" sorak mereka.
Mereka tidak tau betapa tersiksanya aku saat ini. Aku merasa ribuan kutu sedang bermain di kepalaku, bukan hanya itu, daster yang aku pakai juga membuatku sedikit kedinginan.
"Baiklah kalian mau tidur sekarang? Mari kita tidur!" seruku langsung menggiring monster itu ke kamar.
"Waa, aku ingin di samping Mama!" seru Zio si biang kerok.
"Aku juga!" ucap Vio semakin heboh.
"Aku juga!" seru Nio tak ingin kalah.
Tunggu! Bagaimana aku akan menghadapi ini, semuanya ingin tidur di sampingku. Ya tuhan.
"Baiklah semuanya akan tidur bersama Mama, sebelumnya pakai piyama kalian!" seruku mulai melepas pakaian mereka dan menggantinya dengan pakaian kodok hangat mereka.
Setelah aku pastikan semua monster itu memakai baju hangat, barulah aku berbaring dengan Nio di samping kanan, Zio di samping kiri, lalu Vio di mana?
"Aku halus di mana? Di sini saja," ucapnya langsung menindihi tubuhku, sepertinya dia lebih pintar dari kedua abangnya.
"Baiklah tidur yang nyenyak, ya. Mimpi indah," ucapku menepuk-nepuk bokong Vio bergantian dengan mengelus punggung Nio dan Zio.
"Mama, ayok mendongeng, jika dengan Papa dia tidak pandai mendongeng," ucap Zio.
Ternyata itu yang dilakukan monster kecil ketika aku tidak ada, menjelekanku ya.
Hei aku ini Papamu tau.
"Baiklah, kalian tau aku sangat mencintai kalian, menyayangi kalian, lebih dari diriku sendiri, kalian adalah keturunanku dan dia ... dia yang meninggalkanku sendiri, sendiri dalam sepi, sepi yang selalu membuatku sakit, sakit akan kerinduan, rindu yang tidak akan pernah terobati, rindu yang hanya akan mengiris setiap ulu hati, hati yang terlanjur terluka, luka karena kesendirian, sendiri dalam angan, angan yang membuatku kembali jatuh, jatuh sedalam mungkin, hingga aku kembali menemukan tawa, tawa yang tercipta oleh malaikat kecil, yaitu kalian..."
"...Meski aku sering merasa sepi, menangis sendirian, menangis karena merindukan dia, merasa menjadi begitu menyedihkan, tapi aku tetap bertahan dalam keadaan mengerikan ini, bukankah wajar jika aku sedih? Menangis? Karena banyak luka dalam hatiku, seandainya saja kalian sudah remaja, pasti aku tidak akan kesepian, kita ke club bersama, minum bersama, meski aku Papa kalian, aku senang jika bisa jadi sahabat kalian, sayangnya kalian masih sangat kecil untuk mengerti perasaanku," ucapku meneteskan air mata, tidak disangka aku curhat pada tiga monster itu, meski sekarang mereka sudah mendengkur, tapi rasanya sangat lega bisa meluapkan isi hati.
Selamat tidur monster.