
Masih di rumah orang tuaku. Duduk sambil mengaduk kopi yang mulai dingin. Apa yang terjadi di jembatan waktu itu benar-benar membuatku berpuasa dan diet secara alami.
Aku bahkan tidak nafsu makan. Merasa kenyang dengan menelan kenyataan mentah-mentah. Alisya menciumku, dan efeknya belum hilang sampai saat ini. Merasa keprawanan bibirku ternoda, padahal memang sudah tidak perawan. Sepertinya, fase kedua tengah menerjangku.
"Kau sudah bosan hidup? Tidak makan nasi, tapi minum kopi. Kenapa tidak gantung diri di sutet sekalian?!" pekik wanita lapuk ini tepat di wajahku.
"Air liurmu itu beracun, lebih beracun dari air liur komodo. Jadi, bisakah bicara pelan padaku?" balasku mengelap wajahku.
"Baiklah, aku akan bicara pelan. Apa kau tidak lapar seharian ini tidak makan?" Shelin berbisik, setengah mendesah membuatku ingin meninjunya.
"Aku memang lapar. Sangat lapar. Seharian aku tidak makan nasi, hanya makan pizza satu loyang."
"Astaga dragon. Kau mengaku tidak makan tapi memakan pizza satu loyang? Bunuh aku, Al. Aku tidak tahan lagi untuk hidup." Shelin tampak sangat frustasi, padahal aku tidak salah.
Jika belum makan nasi, artinya belum makan bukan? Apa salahnya makan pizza dan dua box ayam crispy tanpa nasi. Itu tidak bisa diperhitungkan sebagai makan, itu hanya kudapan.
"Kak, apa kau pernah dicium? Tidak, mana mungkin orang sepertimu pernah merasakan itu," ujarku langsung meralat pertanyaan yang sudah pasti jawabannya 'belum pernah'. Mengingat kakakku ini manusia anti kencan dalam hidupnya.
"Kau pikir hanya kau yang pernah merasakannya? Tentu saja pernah!" ketusnya, terdengar tidak yakin.
Tetapi aku mencoba percaya, barangkali dia memang pernah kencan tanpa aku tahu. "Dengan siapa?"
Shelin tampak berpikir, hingga membuatku sangat penasaran, lalu tawanya pecah dengan tangannya yang memukulku. Dia tampak heboh sendiri, bahkan aku merasa ceritanya akan lucu.
"Bicara dulu baru tertawa. Ini tidak akan lucu jika kau tertawa lebih dulu. Ajak aku tertawa, Kak!" protesku.
Tawanya benar-benar menular padaku, padahal belum dengar apa pun. Shelin terus memukulku, matanya tenggelam akibat tertawa.
"Apa yang terjadi, Kak, ceritakan padaku? Sepertinya sangat lucu. Apa kau sering dicium, maka dari itu kau tertawa? Berhenti tertawa, kau membuatku ikut tertawa," protesku karena tawanya benar-benar tidak bisa dihentikan.
"Kau tanya padaku, apa aku pernah dicium?" Shelin kembali tertawa setelah bertanya.
"Sudahlah, ending semua ini tidak akan lucu. Kau tahu itu. Orang yang tertawa sebelum menyelesaikan ceritanya, akan menemukan ending tidak enak," ujarku, setelah merasa tidak tertarik untuk ikut tertawa dengannya.
"Aku pernah sepertimu, dicium," ungkapnya setelah tawanya benar-benar reda. Mendadak aku antusias kembali.
"Dengan tembok," jawabnya, seraya terbahak kembali.
Menanggapi jawaban Shelin, aku hanya terdiam. Jawaban itu terdengar menyakitkan. Sudah kuduga ini tidak akan baik.
Apa kau sudah tidak waras, Kak?
"D.O Exo pernah melakukannya juga, jadi, aku menirunya," terangnya setelah tawanya mereda.
Sungguh, perawan satu ini memang luar biasa.
"Papa!" Zio menghampiriku, dengan wajah yang terlihat ingin muntah.
"Kenapa wajahmu seperti itu?" tanyaku saat wajahnya seperti melihat mantan lewat.
"Lihat apa yang dilakukan Vio," tunjuknya pada Adik yang tampak bersalah itu.
"Apa kau buang gas?" tanya Shelin. Cara bertanyanya membuat anakku takut.
Aku lihat wajah anak itu kembali. Jika wajah si cerewet ini mendadak aneh, artinya dia telah buang air besar di celana. Wajahnya tampak bersalah, bahkan dia berpegangan kaki meja untuk menyembunyikan kesalahannya.
"Apa kau BAB, pup, dan eek?"
Plak. Kepalaku terkena pukulan keras dari Shelin, dan aku langsung melotot jengkel. "Apa salahku?" pekikku tak terima dengan kekerasan dalam rumah keluarga ini.
"BAB, pup dan eek, apa perbedaannya?" tanya Shelin geram, siap memukul kembali.
Ya, meski artinya sama," elakku. Seperti biasa aku lari seraya membopong Vio untuk ke toilet, sebelum amukan kedua menyerang.
Setelah membereskan satu anakku, kami kembali ke ruang tengah. Berniat pulang ke apartement hari ini, tetapi Shelin tidak bisa mengantar, ada rapat bisnis yang harus dia hadiri dengan orang tua kami.
Setelah masuk ke dalam mobil, siap untuk pulang ke rumah, pesan dari Mama meluncur seperti pup Vio tadi.
"25 juta akan kau dapatkan, carikan jodoh untuk kakakmu, Shelin."
Pesan itu membuatku terngiang.
25 juta
25 juta
25 juta
25 juta
Aku menginginkanmu.
Aku bisa membeli popok dan lainnya dengan 25 juta. Siapa yang harus aku bawa ke rumah untuk Shelin?
"Anak-anak, apa kalian ingin makan snack?"
"Tentu saja, apa itu halus ditanyakan, Papa?" jawab Nio, si cerdas yang membuatku tampak bodoh.
"Aku akan belikan kalian snack sepuasnya. Tapi, kalian harus membantuku. Apa kalian siap?"
"Siap!" seru ketiganya begitu bersemangat.
Aku akan menculik seseorang untuk kujadikan tawanan. Sebelum itu, aku beri para monster kompensasi lebih dulu. Kulajukan mobil ke mini market, membawa mereka ke dalam.
"Jangan membeli yang tidak penting, oke?"
"Oke."
Satu persatu aku turunkan dari mobil, seraya memberi nasihat agar tidak kalap saat di dalam nanti. Troli menjadi peganganku, dan ketiga monster kecil itu berlari kesana kemari memilih cemilan kesukaan mereka.
Baiklah, sepertinya ini mulai salah. Nasihatku sangat tidak berguna, mereka berjanji dan langsung diingkari. Mereka memasukan hampir semua snack di rak yang mereka lewati.
"Hentikan itu, jangan ambil semua!" pekikku, meski tidak ada yang peduli.
Baiklah, sudah terlambat untuk memberi nasihat. Semua snack sudah masuk ke troli hingga penuh. Bagaimana aku akan membayar ini?
"Aku mencintaimu, Papa. Sangat-sangat mencintai snack-- tidak, maksudku mencintai Papa," ralat Vio saat bibir mungil itu sulit untuk berbohong.
"Kau mencintaiku? Terima kasih," balasku menahan penderitaan ini.
Aku mencintai dua puluh lima jutaku juga.
"Kartumu tidak mencukupi pembayaran, apa kau bisa membayar dengan tunai?" Penuturan sang kasir seketika membuatku tak berdaya.
Aku membutuhkan bantuan Doraemon.
Doraemon, aku butuh kantung ajaibmu.
Doraemon.
"Em, apa kau bisa memberiku diskon?" Aku memberinya puppy eyes untuk memebujuk.
"Maaf, pertama wajahmu tidak lagi selucu anakmu. Kedua, kau bisa kembalikan barangnya, dan ambil yang bisa kau bayar," ujarnya menolak.
"Bagaimana kalau begini saja, berikan semua sisa barang yang tidak bisa aku bayar. Imbalannya kau bisa berfoto dengan kami. Bagaimana?" tawarku penuh semangat.
Namun, wajah wanita kasir itu mendadak tidak bersahabat. Seperti kota mendung yang akan segera hujan.
"Dengar, pertama kau bukan Chanyeol, kedua kau tidak terkenal, ketiga, apa yang aku dapatkan dari foto kalian?" tanyanya seraya menarik napas begitu panjang.
"Kau benar, aku bukan Chanyeol apalagi Fabio Quartararo. Tapi, kau bisa memajang foto kami di rumahmu. Kapan lagi bisa berfoto dengan kami, terutama para monster kecilku? Kami sangat terkenal di apartemen," jelasku, sedikit sombong. Tetapi, sepertinya wanita berambut Dora dan badan balon itu tidak akan tertarik.
"Baiklah, bagaimana kalau--"
"Tinggalkan barang yang tidak bisa kau bayar. Tamat," potongnya tanpa mau mendengarkan penawaran terakhirku.
Dengan kesal, aku lempar satu persatu barang yang tidak sanggup kubayar ke troli. Memalukan sekali, Alden Alisano tidak bisa membayar belanjanya seharga 1,2 juta. Ditambah kartuku yang entah kenapa isinya hanya sampai 900 ribu saja. Sungguh mengesankan, kartuku yang lain tertinggal di rumah.
"Terima kasih, Dora. Kau sangat baik hati, cantik dan tidak sombong!" pujiku dengan bibir khas orang nyinyir.
"Terima kasih atas pujiannya," balasnya, menambah kadar darahku naik, dan sesuatu terasa menonjol di tenggorokan. Jakun sudah menonjol, ini akan semakin menonjol jika aku tidak segera pergi.
"Lihat saja besok, aku akan mendapat 25 juta, aku tidak akan belanja di sini lagi!" makiku kesal.
"Hidup itu memang kelas," ucap Zio seraya menuntunku keluar mini market.
"Kelas belapa? Satu, dua atau tiga, pilih aku atau dia?" sahut Vio menggoyangkan pinggulnya.
"Maksudnya keras, bukan kelas. Itu berbeda, jangan disamakan," ujarku membenarkan.