Because I'M Father

Because I'M Father
Siapa kau?



Aku lihat brosur terkutuk itu dengan seksama. Warnanya kuning dan backgroundnya saja tidak menarik. Kenapa warnanya harus kuning busuk seperti ini, orang akan mengira ini sesuatu yang lonjong mengambang di empang.


Fotoku bersama para monster menjadi hiasan paling keren tetapi menjadi jelek saat wajahku dan Nio sedikit terpotong.


Demi Tuhan. Di mana Mama mencetak brosur sejelek ini. Setidaknya buatlah brosur yang menarik. Mana ada anak muda yang mau melihat ini karena semua akan jijik pada waktunya.


Aku tatap ketiga Monster yang tengah main bersama itu. "Lihatlah apa yang nenek kalian lakukan" ucapku benar-benar tidak mengerti lagi dengan apa yang Mama ku perbuat.


Aku tersentak kaget. Tiba-tiba pintu apartemen dibuka hingga berbunyi keras membuat ketiga Monster berlari menghampiri ku karena terkejut.


Shelin, ternyata wanita itu yang datang dengan tidak sopan. "Apa kau gorila? Buka pintu dengan benar! Kau mau merusak pintuku?" Protesku dan melihat Shelin terengah-engah persis seperti petugas keamanan tadi.


"Di depan, kenapa mereka meneriakkan namamu? Di luar sangat rusuh. Al, lakukan sesuatu. Apa kau menjabat sebagai raja setan?" Paniknya, aku hanya terkekeh geli.


"Matamu rabun seperti penjaga tagi. Hanya tiga orang kau bilang rusuh!" Aku tertawa sumbang.


"Tiga? Aku bersumpah ada banyak ibu-ibu. Kau seperti barang diskonan yang sedang di kejar mereka!" Jelas Shelin membuatku terkejut.


"Sungguh? Aku lihat hanya tiga" ucapku memberi penjelasan atas penglihatanku.


"Kau memang, ish" Shelin mencubit pinggangku hingga membuatku berteriak.


"Bibi, jangan mencubitnya. Tubuh papa sangat sensitif sepelti hatinya" bela Nio tidak terima aku di siksa.


"Ah, aku tidak mencubitnya. Kau salah lihat" elak Shelin, berbohong agar tidak di serang para monster mengerikan itu.


Kami pun melihat ibu-ibu itu dari jendela dan menatap mereka penuh kemirisan.


"Kenapa tidak ada yang muda satupun. Malang sekali adiku ini jika menikah dengan salah satu dari mereka" ucap Shelin membuatku tersinggung.


"Bisa kau usir mereka? Katakan kau istriku. Katakan apa saja asal mereka pergi dari sini" pintaku agar Shelin mengusir lalat hijau di depan sana.


"Al, menyerah lah, lebih baik kau menikah secepatnya atau Mama akan semakin menggila" bujuknya, kali ini dia tampak serius.


Kami pun duduk di kursi dekat jendela, wajah kami berubah drastis seperti baru saja di tagih hutang.


"Kenapa bukan kau yang menyerah? Kenapa aku? Jika kau menikah Mama akan senang dan tidak mengganggu ku lagi" setelah sekian lama diam aku baru menjawab.


Shelin membuang nafas panjang, pundaknya melemah. Aku tebak dia juga mengalami banyak kesulitan.


"Kau tahu sendiri kenyataan ini pahit. Cepat lupakan Aruna, tidak baik terus mencintai atau menyalahkan dirimu. Kau menyakiti diri dengan hidup begini, Al." Wanita ini pandai menasihati padahal hidupnya tidak jauh berbeda dariku.


"Lalu aku harus menikah dan berbahagia? Aku merasa sebagai pembunuh selama ini. Aku membunuh Aruna lewat anak-anakku. Jadi, biarkan aku menebusnya dengan cara menghabiskan hidupku untuk mereka." Ucapku mulai lemah dan menohok hati. "Mungkin itu akan membuat Aruna tidak membenciku" kataku membuat Shelin meneteskan air matanya.


Ini pertama kalinya aku mengatakan apa yang aku simpan dan rasakan selama ini. Apa yang menjadikan Alden seperti sekarang ini.


"Apa kau akan menghukum dirimu? Bahkan Tuhan tidak meridhoi itu." Shelin mengguncang tubuhku "Jangan bersikap idiot, Al!"


"Lalu aku harus melupakannya? Melupakan dan melepaskan tidak secepat saat mencintai" kataku masih bersikeras.


"Lepaskan perlahan. Aku tidak memaksanya untuk lupa karena itu sulit." Ucap Shelin menepuk pundakku. "Kau pasti bisa melakukannya"


"Sampai mulutmu berbisa pun nasihatmu tidak akan berguna" ujarku, seketika sifat asli Shelin kembali.


Dia memukul punggungku, tidak terlalu keras.


"Berbusa maksudku" ralatku membenarkan.


"Apa aku harus hilang ingatan? Dengan begitu aku lupa sudah menikah, lupa sudah memiliki anak, lupa telah membunuh Aruna, dan lupa kalau aku adalah Alden si payah dan idiot." Gumamku mulai ngelantur.


Shelin mengelus kepalaku, aku harap dia tidak habis mengupil sebelumnya.


"Kenapa aku harus punya adik seidiot ini" gumam Sheila masih mengelus kepalaku.


"Kenapa juga aku harus punya kakak selaknat ini" balasku tak mau kalah. Seketika itu juga tangannya yang tadi mengelusku kini beralih mendorong kepalaku.


"Bosan hidup, ya?" Bentaknya.


°°°


Niat hati ingin memberi penjelaskan pada ibu-ibu itu tapi mereka tidak mau mendengarkan. Alhasil aku jadi di kejar-kejar mereka. Bersembunyi di toilet cewek mungkin menjadi cara terakhir ku. Mereka tidak mungkin mengira bahwa aku masuk toilet cewek.


Berjalan mundur dan mengendap-endap aku mulai membuka pintu wc. Masuk kedalam yang ternyata tidak ada siapa-siapa. Aman. Seenggaknya aku bisa menghirup nafas lega untuk sesaat karena belum sepenuhnya aman.


"Hei kau sedang apa di toilet perempuan?" Seorang perempuan masuk dan mengagetkanku.


Aku berbalik untuk melihatnya. Aku mematung melihat wajahnya yang begitu akrab di penglihatanku. Ku kucek mataku perlahan, barang kali mataku sudah rabun. Tapi sosok itu masih ada dan tetap sama.


Ku pastikan kakinya tidak melayang bisa jadi dia arwah yang sedang bergentayangan tetapi kakinya menyentuh lantai. Itu berarti dia bukan hantu.


Sekarang aku sudah gila berhalusinasi di siang bolong membayangkan Aruna. Ku tepuk-tepuk pipiku agar aku sadar bahwa istriku sudah pergi. Tapi ini terlalu nyata untuk di sebut khayalan sampai-sampai aku bisa merasakan kakiku ditendang.


"Kenapa kau menendangku?" Tanyaku sambil meringis kesakitan.


"Kau yang kenapa, menatapku seperti itu dan sedang apa di toilet perempuan. Apa kau ingin mengintip?" Ujarnya galak.


"Jangan salah paham. Aku sedang bersembunyi"


"Alasan. Nanti matamu bintitan!" Ucapnya lalu melangkah kaki sebelum ia meraih kenop pintu terlebih dahulu tangannya aku gamit.


"Tunggu kau mau kemana?" Tanyaku.


"Ish apaan sih Om, lepasin tangan saya" ucapnya mencoba melepaskan tangannya yang ku genggam.


"Apa kau bilang Om? Aku bukan Om mu lagi pula aku masih muda" ucapku tak terima di panggil Om. Memangnya aku ini om-om.


"Muda dari mana. Kau itu sudah tua jelek lagi" barusan dia bilang aku tua dan jelek. Apa matanya sudah minus?


"Ah sudahlah terserah kau saja" kataku mengabaikan cibirannya. "Sekarang jawab saja pertanyaanku. Siapa kau? Kenapa kau mirip mendiang istriku?"


"Mana ku tahu" jawabnya acuh seraya menggidikan bahu.


"Jawab yang benar. Siapa kau?"


"Aku tidak tahu Paman. Memangnya kenapa kalau aku mirip mendiang istrimu? Apa kau naksir padaku?" Ucapnya pede sekali. Mana mungkin aku naksir padanya.


"Aku naksir padamu jelas tidak"


"Kalau begitu lepaskan tanganku paman" katanya. Aku melihat tangannya yang masih ku genggam dengan refleks aku melepaskannya. Pantas saja dia ke pedean. Aish dasar tangan kau nakal sekali.


"Sorry" kataku minta maaf. Selepasnya dia langsung keluar begitu pun dengan ku. Kalau aku terus di sini bisa-bisa aku di tuduh lagi.


Begitu aku keluar ternyata ibu-ibu itu masih ada di sana. Apa mereka tidak capek? Aku saja yang dari tadi sembunyi capek.


Melihat gadis yang berjalan di depan ku itu aku jadi memiliki ide supaya ibu-ibunya pergi. Tanpa pikir panjang lagi aku menyejajarkan langkahku dan menggenggam tangannya.


"Paman apa-apaan kau" protesnya.


"Jangan panggil aku Paman. Panggil aku mas dan berpura-puralah menjadi istriku?" Ucapku setengah berbisik.


"Aku tidak mau kecuali kau membayarku" katanya.


"Baiklah berapa aku harus membayarmu?"


"Satu juta" ucapannya yang membuat ku melotot jika aku sedang makan mungkin aku sudah tersedak.


"Setengahnya saja" pintaku itu juga sudah terlalu mahal hanya untuk membayarnya agar dia mau bersandiwara.


Dia tidak langsung menjawab, sepertinya dia sedang menimbang-nimbang tawaranku.


"Deal"