Because I'M Father

Because I'M Father
Mengenalmu



Kugendong Vio di belakang, dan Zio di depan. Seperti biasa-si sulung aku tuntun dengan tangan kiri. Kami berjalan menuju jalan sempit, alias gang yang akan mengantarkan kami ke tujuan.


Entah kenapa Alisya memberi alamat di tempat perumahan sederhana ini, sepertinya dia tinggal di sekitar sini.


Aku mulai berpikir tentang gadis itu, gadis baik itu sepertinya bukan dari keluarga kaya. Tidak ada jalur mobil untuk masuk perumahan ini, karena banyak tangga lebar yang disediakan.


"Kak Alden!"


Aku langsung menoleh pada sumber suara, dan Alisya sudah di atas kami. Artinya kami harus menaiki anak tangga untuk mencapai sana.


Kutengok Nio yang menahan tangis, dengan bibir ke nanan kiri, bawah atas seperti menari karena menahan tangis, bisa aku pastikan dia kelelahan sedari tadi terus berjalan.


Bersabarlah, Nak, karena bapakmu juga ingin menangis.16


Kami akan masuk berita Patroli jika meninggal di sini.


"Biar aku gendong Nio," ucap Alisya yang entah sejak kapan berada di depanku.


"Terima kasih," gumamku melihat Alisya menggendong Nio lebih dulu.


Kususul Polisi itu menaiki tangga yang hampir lima puluh langkah ini.


"Papa kau terlihat tampan saat berkeringat. Semangat!" ucap Zio menyemangatiku.


Anak ini ingin aku kunyah.


"SEMANGAT!" seru yang ada di belakang.


Kalau urusan menyiksaku-para monster kecil ini adalah ahlinya.


Sudah khatam tentang kekacauan dan siksa menyiksa.


Kulihat Alisya sudah menungguku di depan rumahnya. Dengan napas yang terengah, dan keringat yang menetes, aku tunjukan senyum penderitaan padanya. Berharap dia mengerti bahwa aku butuh istirahat dan minum es satu kulkas meski ini sore hari.


"Ayo, masuk. Biar aku buatkan minuman, pasti kau sangat kelelahan menuju ke sini," ucap Alisya mengajakku masuk dengan menarik tangan kiriku yang kosong.


Akhirnya kami masuk ke rumahnya, dan wah, sangat bersih. Semua bangunan memang terbuat dari kayu, tapi sangat rapi dan bersih.


"Tunggu sebentar, aku buatkan minum untuk kalian. Monster kecil ... kalian pasti haus, 'kan?" tanya Alisya begitu perhatian.


"Iya!" jawab serentak si kembar.


Bukankah aku yang paling haus? Cepatlah sebelum aku mati!


"Papa, boleh aku tidul?" tanya Nio yang aku rasa dia begitu lelah.


"Iya, tidurlah di pangkuan Papa," ucapku menepuk pahaku dan Nio langsung tidur di panguanku. Sedangkan kedua adiknya masih semangat bercanda, karena mereka tidak merasakan betapa lelahnya jalan kesini.


"Minumlah, pasti kalian sangat kelelahan," ucap Alisya memberi kami minum.


"Setiap hari kau berjalan jika bekerja?" tanyaku dan diangguki gadis itu dengan senyuman ringan.


"Aku sudah terbiasa, jadi tidak pernah merasa kelelahan," jawabnya tersenyum tipis.


Aku tidak bisa membayangkan bagaimana dia melewati ini. Dia harus bekerja bahkan hingga malam, dan dia harus melewati gang yang lumayan untuk sampai di rumahnya, dan dia bilang tidak lelah? Biar aku ulangi, tidak lelah?


Hei, kalau sudah tidak waras, setidaknya jangan secantik Alisya.


"Kau sangat hebat," pujiku dan dia hanya tersenyum.


"Em, sepertinya dia kelelahan, biar aku pindah dia ke kamarku," ujar Alisya hendak mengambil Nio yang tidur.


"Tidak perlu, aku tidak mau merepotkanmu. Lagi pula Nio bisa menangis nanti jika tidurnya diganggu," ucapku tidak enak.


"Ah, benarkah? Aku hanya kasihan, ya sudah biar aku ambilkan bantal saja," ucapnya lalu kembali dengan bantal dan selimut.


Kulihat dia memindahkan Nio dengan perlahan. Apa 'dia' yang di surga akan seperti Alisya jika hidup? Pasti jauh lebih baik.


"Siapa yang datang, Sya?" tanya seseorang yang keluar dengan kursi roda.


Wanita baya itu, dia menatapku. Aku langsung berdiri memberi salam.


"Halo, apa kabar?" ucapku diikuti Zio dan Vio.


"Kabarku baik, kau teman Alisya, ya?" tanyanya mendekati kami, kulihat Alisya menurunkan wanita itu dari kursi hingga dia duduk di lantai bersama kami.


"Iya, aku Alden Alisano, teman Alisya. Senang bertemu denganmu, Bibi," ucapku setengah membungkuk.


"Ah, mereka semua anakmu, ya? Mereka sangat lucu dan tampan sepertimu," ucap wanita itu mencubit pipi Vio.


Dan aku bersyukur karena Vio tidak protes, sepertinya mereka ingat pesanku.


Tidak aku sangka, Alisya begitu tangguh. Dia mengajakku ke rumahnya untuk mengenalnya, melihat keadaannya, entah dengan tujuan apa-tetapi aku rasa dia tidak ingin menutupi apa pun karena aku temannya.


"Ini pertama kalinya, Alisya membawa teman ke rumah, sepertinya kau teman yang baik, ya? Karena selama ini Alisya tidak pernah berteman dengan siapa pun," ucap Ibu Alisya.


Ucapannya sedikit membuatku tertegun, aku orang pertama? Apa Alisya menganggapku teman yang baik? Dan dia tidak pernah berteman? Maksudnya apa?


"Alisya tidak punya waktu untuk berteman. Dia sibuk bekerja dan merawatku, hingga tidak ada orang yang mau berteman dengannya karena dia sangat sibuk," lanjutnya dan Alisya hanya diam.


"Benarkah? Alisya gadis baik, aku senang bisa mengenalnya. Aku juga takjub dengannya ... bukan hanya jalan untuk ke sini saja yang harus dia lewati, tapi bekerja dan merawatmu pasti tidak mudah," ucapku yang entah kenapa tumben sedikit dewasa, tidak seperti biasanya, mungkin aku sedang hilaf atau sedang waras.


"Aku menyuruhnya menikah secepatnya, tapi dia menolak karena menghawatirkanku," jelas wanita tua itu dengan kekehannya.


"Ibu," kata Alisya protes.


"Hidupmu juga tidak mudah, ya? Aku sudah dengar dari Alisya," ucapnya lagi dengan menepuk bahuku.


Entah kenapa aku merasa nyaman dengan keluarga ini.


"Iya Bibi, kau melihatnya sekarang ... aku harus merawat mereka sendirian tanpa istriku. Tapi aku merasa sudah bahagia sekarang, karena aku sudah melewatkan masa sulitku," ucapku penuh percaya diri.


"Kau sangat hebat dan tangguh, padahal kau masih muda. Kau sangat tampan, begitu juga anak-anakmu ini, aku jadi ingin memiliki mereka," kekeh Bibi mencium Zio, tetapi anak itu langsung mendekatiku setelah dicium.


"Papa, aku tidak mau dicium olehnya," bisik Zio membuatku melotot.


"Hei, jangan begitu, sudah sana main," bisikku padanya lalu kembali bermain.


Entah kenapa aku semakin mengagumi Alisya, apalagi setelah mendengar kisahnya. Hidupnya tidak mudah, pantas dia begitu menghargai orang lain. Namun, aku masih bingung kenapa dia tidak memiliki teman?


"Aku harap kau berteman baik dengan Alisya, siapa tahu kalian jodoh?" kekeh wanita baya itu.


Alisya tersenyum kaku menanggapinya. "Ah rasanya gadis secantik dan sepintar Alisya tidak pantas denganku. Dia pantas mendapat pria yang baik dan bertanggung jawab," ucapku tersenyum lebar.


"Aku rasa kau sangat bertanggung jawab, dilihat dari merawat ketiga putramu, itu bukti yang nyata," ucap Bibi itu.


Kenapa aku merasa sedang melamar, atau dilamar?


"Ah, maksudku pria lajang yang mapan," timpalku dan aku harap Bibi mengerti.


"Jika kau jodohnya, tidak ada masalah. Aku senang memiliki cucu seperti mereka … manis dan lucu. Aku tak menilai dari status," ucap Bibi membuatku skakmat.


"Ibu kau bicara apa? Dia itu temanku. Maaf, Kak, Ibu hanya senang aku punya teman," ujar Alisya tidak enak.


"Aku mengerti," jawabku tersenyum, setidaknya agar terlihat biasa saja, padahal aku sudah merasa tidak nyaman—bukan karena Alisya, tapi karena aku ingin pipis.


"Em, anak-anak, ayok kita pulang, ini sudah mau malam," ucapku mengajak kedua monster yang sedang bermain, dan mereka langsung menghampiriku.


"Kenapa terburu-buru? Aku bahkan belum bermain dengan putramu?" ucap Bibi sedikit kecewa.


"Lain kali aku ke sini lagi, sekarang hampir malam, aku takut kemalaman. Jadi, aku permisi pulang Bibi, semoga kau sehat dan panjang umur," ucapku menggendong Nio yang masih tidur.


"Terima kasih anak muda," ucapnya tulus, lalu aku keluar diantar oleh Alisya.


"Maaf tidak bisa lama, aku takut anak-anak akan tidur semua, aku bingung membawanya pulang nanti," ucapku pada gadis itu saat aku telah keluar dari rumahya.


"Aku mengerti, aku sudah senang kau mau ke rumahku, dan maaf soal tadi … ibu terlalu senang aku punya teman hingga menganggap ini terlalu serius," jelas Alisya yang masih merasa tidak enak.


"Tidak masalah, aku sangat mengerti," ucapku yang sudah menggandeng kedua monster kecil di kedua tanganku dan Nio di belakang, kugendong dengan baby carrier.


"Apa tidak sulit?" tanya Alisya menghawatirkan keadaan kami.


"Aku sudah terbiasa, tenang saja. Lain kali aku akan main lagi," ucapku hendak melangkah pergi tetapi Zio mengatakan sesuatu yang membuatku tercekik.


"Kakak, jangan pernah berubah, tetaplah cantik hingga aku dewasa nanti," ucap Zio membuat Alisya tertawa.


"Baiklah, aku akan menunggumu dewasa," jawabnya mengacak rambut Zio gemas.


"Aku pergi," ucapku diangguki olehnya, lalu aku melangkah pergi dengan berbagai perasaan, kagum, nyaman, ah entahlah.


Suka? Entahlah, sulit jika aku menyukai wanita selain 'dia', karena bagiku 'dia' yang di surga begitu sempurna, dia yang terbaik. Meski tidak munafik, sikap dan latar belakang, ataupun hidup Alisya membuatku kagum.


Aku tidak mau salah pilih, dan aku tidak mau mengecewakan ketiga monsterku. Apalagi sampai membagi cinta di saat mereka belum siap, aku tidak mau berhianat.


Apalagi jika mereka tahu aku selingkuh, pasti ketiga monster ini akan membunuhku, karena mereka hanya butuh aku, dan ingin terus bersamaku.


Masalah gadis, aku tak ingin Alisya berharap padaku, aku merasa tidak pantas, dan aku tidak ada niatan untuk membuat harapan pada gadis itu. Semoga dia bisa mengerti dan tidak salah paham.


Hei kenapa aku jadi kepedean begini, belum tentu dia menyukaiku, memangnya dia menembakku tadi? TIDAK.


Aku sudah mulai mengantuk hingga membuat ucapanku melantur.