
"Hoek, hoek!" Aku dengar suara orang hendak muntah, dan di rumah ini hanya aku dan istriku.
"Sayang kau baik-baik saja?" seruku dari luar kamar mandi apartemen ini.
"Iya, aku baik-baik saja!" jawabnya setengah berteriak.
"Cepatlah keluar! Aku menghawatirkanmu!" seruku masih di depan pintu kamar mandi.
Pintu pun dibuka, menampilkan wanita cantik dengan rambut panjangnya. Namun, aku melihat dia tidak baik-baik saja, wajahnya pucat.
"Aruna, kau sakit? Sejak kemarin kau terus ingin muntah, apa kau belum ke Dokter juga?" omelku pada Aruna Aarushi. Aku begitu hawatir melihat keadaanya.
"Tidak, aku sudah ke Dokter kemarin," jawab wanita tercantik di dunia ini.
"Lalu, kau kenapa? Masuk angin? Anemia? Atau apa?" tanyaku bertubi membuatnya tersenyum.
Dia memelukku tiba-tiba, mengeratkan pelukanya dan menyandarkan dagunya di bahuku, bahkan aku bisa mencium shampo yang dia pakai.
"Kau kenapa, um? Jangan membuatku takut, atau aku akan ngompol sekarang?" ancamku membuatnya terkekeh dan mencubit perutku meski tetap memelukku.
"Jangan kaget mendengar ini, ya? Aku mohon," ucapnya begitu pelan dan lembut tepat di telingaku.
"Sebenarnya ada apa? Kau sakit apa? Kanker? Stroke? Diabetes? Atau penyakit mematikan lainnya, huh? Aku sudah pipis di celana karena takut!" seruku begitu panik dan Aruna masih bisa tertawa?
Aku akan segera mengompol beberapa saat lagi.
"Berjanjilah?" ucapnya begitu menuntut, sedangkan aku sudah tidak karuan.
"Baik, aku janji," jawabku pasti, meski tidak yakin jika dia akan mengatakan bahwa dia akan segera mati beberapa bulan lagi, karena kanker, diabetes atau penyakit mematikan lainnya.
Sungguh aku tidak siap.
"Aku hamil."
"APA?"
"Ish, sudah aku bilang jangan terkejut, kau bisa megejutkan bayi di perutku!" omelnya mencubit perutku lahi.
Kulepaskan pelukannya, kutatap dia lekat dengan memegangi kedua bahunya.
"Sungguh? Kau hamil?" tanyaku memastikan pendengaranku dan dia mengangguk dengan senyuman di wajah cantiknya.
"Hamil anak kita? Astaga, kenapa kau baru bilang?! Kyaaa, aku jadi Papa!" teriakku berjingkrak dan Aruna hanya menertawakanku.
Kutatap dia kembali. "Terima kasih Aruna, kau yang terbaik," ucapku mengecup bibirnya sekilas.
"Aku mohon … jaga bayi di perutmu, dan mulai hari ini, aku tidak akan pulang malam lagi demi kau," ujarku dan Aruna hanya mengangguk pasrah.
"Kau senang?" tanya Aruna tak masuk akal.
"Apa aku perlu berteriak lagi dengan berguling untuk menunjukan kebahagiaanku?" tanyaku menggoda Aruna, dan dia menggeleng dengan memukul kepalaku pelan.
"Ada sesuatu yang belum aku beritahukan padamu," ucapnya membuatku kembali terdiam dan takut. Aku mulai gelisah melihat raut wajahnya.
"Aku sudah hamil lima minggu," ucapnya dan aku begitu lega.
"Itu bagus Aruna, aku senang kau hamil. Aku tidak bisa membayangkan jadi Papa, rasanya aku ingin menangis," ucapku mengelap air mata yang tidak jatuh.
"Kau senang, ya? Tapi aku belum selesai memberi tahumu. Mungkin ini akan membuat hidupmu agak sulit, dan harus lebih hemat," ucap Aruna sedikit gelisah.
"Tentu saja kita harus hemat mulai sekarang, untuk masa depan anak kita," ucapku mengelus perutnya yang masih datar.
"Alden ...," Aku lihat Aruna, dia meremas dress putihnya, menggigit bibir bawahnya, tampak bingung dan gelisah.
"Anak kita ...," Aruna kembali menggantungkan katanya.
"Katakan saja, apa pun itu … aku tahu itu tidak akan buruk," ucapku meyakinkan istriku.
Aruna masih begitu ragu. "Anak kita kembar tiga," ucapnya dan membuatku membeku.
Otakku tidak berjalan, di mana pikiranku? Kenapa rasanya tidak bisa berpikir.
Tunggu! Kembar? Tiga? Alden kau tidak salah dengar.
"Sungguh? Kita akan memiliki tiga anak sekaligus? Wah, ini anugerah sayang, aku sangat senang." Kupeluk dia dengan erat.
"Kau tidak marah atau keberatan?" tanya Aruna tidak masuk akal.
"Kita mungkin akan repot dengan tiga anak, tapi aku tidak pernah merasa sebahagia ini, sungguh!"
"Terima kasih, Alden. Kau yang terbaik," ucapnya mengeratkan pelukan.
"Aku akan bekerja lebih keras untuk masa depan kalian semua, aku tidak sabar lagi," ucapku begitu bahagia.
"Dokter bilang aku sehat, dan-Kyaa!" teriak Aruna saat aku membopongnya lalu membiarkan dia duduk di pangkuanku.
"Kau membuatku terkejut, Al!" protes Aruna mencubit hidungku.
"Apa yang ada di perut terkejut juga?" tanyaku dan gadis yang tengah mengandung anakku ini mengangguk manja.
"Sungguh? Apa perlu aku elus, um?" ucapku mengelus perut datar Aruna lembut, dan gadis itu hanya tertawa geli.
"Jangan hawatirkan aku, karena aku akan baik meski sudah tidak di sampingmu," ucap Aruna.
Kutengok pangkuanku, bukankah Aruna di pangkuanku tadi? Kenapa sekarang dia berdiri dengan baju panjang putih di depanku?
"Aruna kenapa kau di situ? Bukankah tadi ...," tanyaku bingung karena dia tadi di pangkuanku.
"Rawatlah anak kita, aku mengandalkanmu. Maaf aku tidak bisa merawat mereka denganmu, dan hiduplah dengan baik sayang." Aruna tersenyum padaku, dia begitu bercahaya.
"Kau mau kemana Aruna? Kenapa kau mau pergi?" tanyaku yang entah kenapa tubuhku kaku tidak bisa bergerak.
"Aku mencintaimu, aku hidup di sampingmu. Aku hidup bersamamu, aku adalah darah Nio, Zio dan Vio. Aku adalah mereka, aku hidup di jiwa mereka. Hiduplah dengan baik sayang, aku mencintaimu."
"Jangan pergi aku mohon! Aruna!"
"ALDEN BANGUN!"
Mataku terbuka lebar, keringat begitu banyak hingga aku merasa basah di tubuhku. Dengan napas tersengal aku tatap wanita di hadapanku, dia menatapku dengan amarah.
"Aku di mana? Di mana Aruna?" tanyaku pada Shelin.
"Apa, Aruna? Kau sudah gila? Sadarlah, kau ada di mana. Kau dan dia sudah berbeda alam!" seru Shelin yang memang tidak pernah bicara lembut layaknya wanita.
Kutatap tubuhku, jadi tadi hanya mimpi? Atau memoriku yang berputar saat tidur? Kenapa sangat nyata, kenapa 'dia' yang tidak pernah aku sebut seperti ada di sekitarku? Aruna Aarushi, dia adalah istriku—wanita yang rela mati untuk ketiga anakku. Wanita yang rela mengandung ketiga anakku meski berat, wanita yang mengizinkan anakku tumbuh di perutnya.
Namanya Aruna Aarashi, Aruna adalah matahari, Aarashi adalah sinar pertama. Dia adalah sinar pertama dari matahari.
Kenapa tadi begitu nyata? Dan kenapa Aruna pergi?
"Aku mencintaimu, aku hidup di sampingmu. Aku hidup bersamamu, aku adalah darah Nio, Zio dan Vio. Aku adalah mereka, aku hidup di jiwa mereka, hiduplah dengan baik, aku mencintaimu." Begitu ucap Aruna.
Kenapa Aruna bicara begitu? Aku memang selalu merasa dia hidup di sekitarku, dan mungkin memang benar, dia hidup dalam jiwa para monster kecilku.
"Hei! Belum sadar juga? Apa yang terjadi padamu? Kenapa tadi kau seperti orang kesurupan?" tanya Shelin keheranan.
"Kenapa aku bisa ada di sini?" tanyaku tanpa menjawab pertanyaanya.
"Kau lupa? Semalam kau datang dalam keadaan basah kuyup dan demam tinggi, bahkan aku tidak tidur semalaman hanya untuk mengganti kompresmu," jawab Shelin dengan kesal.
"Hoam, sekarang aku begitu mengantuk. Merepotkanku saja bisanya," gumam Shelin yang masih bisa aku dengar dengan baik.
Aku kembali memutar apa yang sudah terjadi, yang aku ingat adalah— Alisya menciumku kemarin, setelah itu aku pergi meninggalkannya, dan kehujanan. Lalu ke rumah Shelin untuk menjemput ketiga monsterku, tetapi aku tidak ingat lagi.
"Di mana anakku?" tanyaku yang mulai sadar.
"Mereka sedang bermain dengan Mama. Semalam mereka rewel dan kau malah sakit, kupikir kau akan mati semalam. Demammu begitu tinggi, aku bahkan tidak tahu–"
Kucium pipi Shelin sekilas. "Terima kasih, Kak," ucapku, lalu berlari meninggalkan Shelin yang berteriak protes. Aku hanya tidak mau mendengar ceramah panjangnya, yang jelas aku sangat berterima kasih padanya. Dia sangat baik, dan selalu menghawatirkan hidupku, padahal aku tahu apa yang dia lewati juga tidak mudah, apalagi dia sudah waktunya menikah.
"Nio, Zio, Vio!" seruku memanggil.
"Papa!" teriak mereka dan memelukku.
"Kau sudah sembuh? Tidak sakit?" tanya Nio dan aku mengangguk pasti.
"Yei, kita bisa belmain belsama Papa!" seru Vio begitu senang.
Aku bisa merasakan kalau Aruna ada di sekitarku. Aku tahu dia selalu di dekatku, karena monster kecil adalah Aruna. Aku tahu itu yang Aruna maksud, jika dia memintaku untuk hidup bahagia—ketahuilah aku sudah bahagia, dan aku sudah hidup dengan baik, begitu juga ketiga Io, mereka tumbuh dengan sangat baik meski tanpa sentuhan Aruna.
Tetapi jika maksudnya hidup dengan baik pertanda mengizinkanku hidup dengan gadis baru, atau bahkan gadis yang kemarin mirip dengannya—entah dari sifat atau apa pun, aku masih belum siap. Aku masih ingin bersama para monster, dan melihat mereka tumbuh besar.
Aruna, lihatlah—aku sudah hidup dengan baik, dan tetaplah bersama kami, aku merindukanmu.
"Papa! Papa! Papa!" rengek Zio bergelantungan di kakiku. Aku tahu dia akan meminta sesuatu jika begini.
Begitu melihat saudara mereka merengek, Kakak dan adiknya menyusul. Meraih tanganku untuk merangkak ke tubuhku seperti Tarzan.
"Aku tahu kalian ingin susu. Berhentilah merambat seperti benalu!"
Begitulah mereka, yang memiliki pipi merah muda, bibir merah seperti stroberi, kulit putih seperti kapur, rambut lurus yang halus khas bayi, begitulah manisnya para monster. Meski mereka adalah pembuat kekacauan, ketahuilah, mereka tetap bayiku yang harum. Hanya ompol mereka yang bau dan menyengat hidung.
Sisanya nilai A+ bagiku.