Because I'M Father

Because I'M Father
Spa



Aku hirup udara yang segar ini, seperti berada di surga. Aku merasa berada di Hawai, dengan udara yang kuhirup tanpa gangguan para monster kecil itu.


Kutengok para monster, mereka sedang menikmati pijatannya, sedangkan aku tiduran di lantai tempat sauna ini.


Hari ini Mama mengajakku ke spa. Wanita tua itu benar-benar pengertian, mungkin dia tau kalau aku butuh istirahat.


"Hei, bangunlah," titah Mama menggangguku.


"Makan telur ini, sisakan untuk para monstermu," ucapnya memberiku senampan telur rebus.


"Hei, aku dengar waktu Zio masuk rumah sakit, kau membawa gadis ... apa dia pacarmu?" tanya Mama.


Namun, bukan menjawab-aku memasukan banyak telur rebus ke mulutku untuk menghindari pertanyaan Mama, hingga aku merasa sesak, apakah ini kualat?


"Hei kau bisa mati!" seru Mama memukulku dengan telur.


Aku tak menjawab, lebih tepatnya tidak bisa menjawab karena telur yang aku makan membuatku serat, ini sangat ketat-seperti mencekikku.


Kumohon selamatkan aku!


"Hei, kenapa wajahmu begitu, huh? Apa kau meledekku?" marah wanita tua itu memukul kepalaku. Dia tidak tahu mataku melotot dengan otot leher yang nyaris keluar-rasanya aku mau mati, mungkin ini karma.


Kukunyah dan mulai menelan sedikit, dan menyambar air minum di tangan Mama.


"Anak ini benar-benar!" kesal Mama lagi.


"Huuuh aku hampir mati. Kenapa kau tidak menyelamatkanku, Ma?" tanyaku yang selamat dari maut.


"Siapa suruh memakan telur sebanyak itu?" ucap Mama membentak.


"Lalu bagaimana soal gadis itu?" tanya wanita itu lagi, yang kali ini tidak bisa aku hindari.


"Dia Polisi, dia yang menemukan Vio kemarin," jelasku sambil memakan telur kembali.


"Aish, kapan kau membuatku bahagia? Setelah kau memberikan aku cucu, apa kau tidak mau memberiku menantu?" tanya Mama benar-benar membuatku tidak mood.


"Kau minta saja pada kak Shelin, jangan aku terus. Hidupku itu keras, jangan membuat ini lebih keras," jawabku langsung dapat bogeman di kepalaku.


"Hei! Bocah tengik. Shelin tidak bisa diandalkan. Aku hanya mengandalkanmu," ucapnya mengelus rambutku.


"Mama ... biarkan aku hidup begini. Biarkan aku merawat mereka bertiga. Lagi pula aku baik-baik saja sampai sekarang, kau lihat, 'kan? Aku tidak membutuhkan seorang istri, mereka bertiga juga bahagia meski hanya denganku," ucapku mulai serius.


Kulihat wanita tua itu menghela napasnya. "Aku hanya menghawatirkan perkembangan anakmu, Al. Aku hanya ingin melihatmu bahagia," ucap Mama meneteskan air mata, dia terlihat begitu jelek saat menangis.


"Memangnya aku menderita? Aku bahagia, kau lihat, 'kan?"


"Tapi kau kurus," ucapnya mengelap umbel dengan kausnya.


"Meski kurus aku sehat, yang pentingkan aku tidak mati," ucapku nyengir kuda.


"Dasar anak nakal! Seharusnya kau kuliah saja waktu itu, tidak perlu menikah semuda ini, jadi kau tidak perlu begini," ucapnya tertunduk.


Aku tahu dia sangat menghawatirkanku, itu alasan kenapa dia begitu semangat ingin mencarikanku istri. Hanya saja, dia tidak tahu bahwa aku begitu bahagia memiliki tiga monster di rumah, aku tidak merasa bahwa aku menderita saat bersama mereka.


"Ma, terima kasih. Aku sudah bahagia sekarang, tugasmu sudah selesai untuk membuatku tersenyum " ucapku memeluk Mama.


"Terserah kau saja, aku mencintai anak-anakmu Alden. Meski mendiang istrimu itu meninggalkanmu ... aku tahu kalau kau begitu kuat dan tangguh. Meski kau seperti kampret bagiku," ucapnya menepuk bokongku.


Meski wanita tua ini bilang aku kampret, aku tahu dalam hatinya dia begitu menyayangiku dan ketiga putraku. Begitu juga aku-aku sangat berterima kasih atas jasanya selama ini. Apalagi saat istriku pertama kali meninggal-Mama lah yang merawat tiga monster itu hingga dua bulan, setelah itu baru aku bawa mereka denganku.


Entah kesulitan apa saja yang sudah aku lewati, tidak semuanya aku ingat. Namun, aku ingat saat aku menangis di malam hari-dan mabuk karena stres. Saat itu Mama menghajarku hingga masuk rumah sakit. Itu hari terakhir di mana aku menolak takdir, setelah itu aku merasa hidup bahagia dengan iklas bersama ketiga monster itu. Aku tak lagi menganggap mereka anakku, tapi teman hidup yang entah kenapa aku tidak bisa hidup tanpa mereka sekarang.


Dulu mungkin aku menolak karena tidak tahu harus bagaimana, tetapi seiring berjalannya waktu-aku mulai terbiasa dengan setiap perkembangan tiga monster, ternyata seperti itulah perasaan jadi seorang Ibu.




"Papa, tidak apa-apa?" tanya Vio yang berada di sebelahku.



"Iya, Vio," jawabku tersenyum.



"Papa aku mencintaimu, jangan tinggalkan aku. Aku sangat menyayangimu, aku tidak butuh apa pun," tutur Vio memelukku.



Hei apa yang terjadi pada Vio?



"Aku juga menyayangimu Vio-ku," ucapku mengecup puncak rambutnya.



"Tapi kenapa kau bicara begitu?" tanyaku heran.



"Aku hanya ingin belsamamu dan kakak," jawabnya yang kali ini entah kenapa membuatku menangis.



Tidakkah dia yang sudah di surga ingin melihat ini? Bahkan Tuhan tidak memberikan kesempatan dia untuk menyusui ketiga monster ini.



"Kita akan telus bersama Papa?" tanya Nio ikut memelukku.




Aku takan meninggalkan kalian, sebelum kalian yang meninggalkanku.



Entah kenapa, apartement ini menjadi saksi bisu tentang kerasnya hidupku. Tentang bagaimana aku menangis setiap malam, atau mabuk setiap malam, atau menjadi Ibu rumah tangga dengan susah payah. Semuanya tergambar jelas di kepalaku, bagaimana aku harus jadi wanita di saat tertentu.



"Hei di mana Zio?"



"Papa!" teriak Zio.



"Apa yang kau lakukan?" tanyaku saat melihatnya memakai kemejaku, dia terlihat seperti hantu sawah, karena kemejaku menenggelamkan tubuh kecilnya.



"Aku ingin sepelti Papa," jawabnya mendekatiku, lalu duduk di kakiku yang selonjor.



"Ah benar, kau sangat tampan. Kalian membuatku tidak berdaya," ujarku lalu menggelitiki si kembar bergantian, mereka tertawa terbahak sambil berguling di lantai.



"Rasakan ini! Hahah!"



"Aakk ini geli!" seru Nio kegelian.



"Hei jangan lari ... aku akan menangkap kalian!" seruku saat mereka berlarian mengumpat di korden maupun barang yang lebih besar dari mereka.



"Aku dataang!" ucapku menakuti mereka.



"BOO, aku menemukanmu!"



"Aakk Kakak tolong aku!" teriak Vio saat tertangkap.



"Aku akan menolongmu Vio! Tapi aku takut," ucap Nio ingin mendekatiku tetapi takut.



"Bagaimana kalau kita keloyok Papa, selbuuu!" ucap si biang kerok Zio.



"Kena kalian semua!" Aku menangkap ketiganya dalam pelukanku.



"Aaaa aku teltangkap!" teriak Zio.



"Kita lawan Papa!" seru Nio lalu kedua saudaranya ikut memukulku berpura-pura. Ternyata mereka tahu cara bermain sehat.



"Aw, aku mengaku kalah," ucapku pura-pura kalah dengan tertidur seperti tersungkur.



"Kita menang!"



"Yeeeee!" sorak mereka berpelukan.



Aku tertawa renyah, dan mereka mulai duduk di tubuhku dengan mengobrol. Jujur saja aku tidak mengerti mereka mengobrol apa, mereka punya dunia mereka sendiri.



Senang bisa melihat tawa mereka, tawa renyah mereka membuat hatiku terasa lega. Beban yang aku emban seolah hilang sekejap.



Malaikat kecil yang dulu hanya bisa menangis, sekarang bisa mengobrol bagai anak burung yang begitu cerewet. Aku hanya berharap bisa terus melihat mereka tumbuht-tumbuh menjadi pria dewasa yang akan menikahi gadis impian mereka. Melihat mereka memiliki anak, hingga aku mati menyusul Ibu mereka.



Aku hanya berharap, hari tidak akan pernah membosankan, hari akan terus menciptakan tawa yang ceria. Melihat gigi susu mereka dengan bibir melengkung ke atas, melihat mata mereka tertutup dengan damai di alam mimpi, hingga aku kembali sadar, bahwa ompol tetaplah pesing.