
Seperti janjiku, sebagai laki-laki aku menepatinya. Aku dan ketiga monster telah sampai di halte, menunggu bus datang. Beruntung, Nio sudah kembali ceria, hingga kami bisa menikmati cuaca indah hari ini.
"Siapa nama Papa?" Sembari menunggu, aku menyelipkan pelajaran, agar mereka setidaknya mengingat namaku saat terjadi hal-hal buruk.
"Alis!" Seketika aku tertawa mendengar jawaban si bungsu.
"Hei, kenapa bukan dahi sekalian? Ucapkan yang benar. Jika kalian hilang, kalian harus lapor Polisi dan menyebut namaku. Siapa nama Papa?"
Aku mencoba bertanya kembali.
"Alden!" Aku memekik saat Zio menyebut namaku, meski tidak lengkap tetap harus diapresiasi.
"Alden Alisano! Ingat itu, oke?" Ketiganya mengangguk.
"Busnya datang!" seru Nio saat melihat bus berwarna biru itu.
Mereka berteriak senang. Tetap bergandengan saat menaiki bus. Kami duduk bersama, Nio duduk di pinggir kaca jendela dengan Zio, si bungsu aku pangku untuk menghemat uang tentunya.
"Aku tidak mau dipangku," ujar Vio ingin duduk sendiri seperti kedua kakaknya.
"Lalu aku harus duduk di mana?" tanyaku memelas.
"Aku akan memangku Papa," jawabnya dengan menepuk pahanya.
"Jangan begitu, kau akan berakhir jadi keripik combro nanti. Papa akan memangkumu hingga kita sampai," tuturku menolak, dan dia menurut karena tidak ada pilihan.
Namun, hanya sebentar, Vio naik ke kursi para kakaknya. Berdiri agar tidak menghabiskan tempat. Dia ingin melihat pemandangan dari jendela rupanya.
"Seluruh kota merupakan tempat bermain yang asyik.
Oh senangnya aku senang sekali."
Aku bernyanyi lagu Crayon Sinchan dengan merdu. Bahkan ketiga anakku ikut bernyanyi, meski pengucapannya begitu berantakan.
Lagu masa kecilku masih dinikmati keturunanku, aku merasa seperti sebaya dengan mereka. Haruskah aku memakai popok juga?
"Wah, itu gedung. Itu Poli, itu Amber."
"Selamat pagi mobil melah."
"Halo jalanan."
"Halo sepeda."
Begitulah para monster menyapa semua yang mereka lewati. Aku bahkan merasa seperti duduk dengan orang hutan, atau bisa saja gorila. Tampak sangat kampungan bukan? Aku sampai tersenyum kikuk untuk meminta maaf pada penumpang lain atas ketidak nyamanannya.
"Apa mereka anakmu?" tanya wanita paruh baya padaku.
"Iya, mereka anakku," jawabku tersenyum ramah. Barang kali setelah ini dia akan memberi kami angpao.
"Kalian sangat mirip dan tampan. Mereka sangat lucu seperti anak ayam," ujarnya terlihat gemas.
"Anak ayam? Sepertinya kau salah, mereka seperti anak gorila," tuturku membuat wanita itu terkekeh.
Jika monster anak gorila, aku ayah gorila?Ish.
Wanita itu lalu menepuk bahuku. Membuatku memekik, pukulannya cukup kuat.
"Maaf, apa sakit?" tanya wanita tua itu setelah menyadari aku kesakitan.
Aku menjawabnya dengan gelengan. Dalam hati, aku menjerit.
"Aku binaraga, maafkan aku," ujarnya tidak enak.
Sedangkan aku berpura-pura tidak masalah. Aku jadi berpikir, haruskah Shelin menjadi binaraga agar kuat sampai tua. Aku akan menemuinya di rumahku nanti.
Wanita itu kembali duduk. Kupikir dia akan memberiku angpao. Banyak anak, banyak rejeki. Anakku banyak, dapat angpao lebih dari satu biji.
Harusnya begitu.
••••
"Apa kalian bahagia?"
"Sangat bahagia!" seru ketiga monster, hampir bersamaan.
Kami baru sampai di apartement. Beruntung Shelin datang lebih awal dan merapikan rumahku. Betapa senangnya, jika aku pulang disambut oleh seorang istri, pasti rasa lelahku akan minder. Nyatanya, yang menyambutku kini wanita bermulut toak.
"Bagaimana perjalanan kalian? Menyenangkan?" tanya Shelin pada para monster kecil. Dijawab dengan sama kerasnya, mengutarakan kebahagiaan mereka.
Tiga monster itu sudah sibuk bermain. Tenaga mereka seperti baru saja diisi ulang. Tidak ada habisnya, sedangkan aku sudah hampir jadi mayat. Apa ini pertanda aku sudah sangat matang? Bahkan hampir membusuk seperti apel.
"Kau kelelahan?" tanya Shelin, memberikanku botol mineral padaku.
"Sedikit." Aku meneguk air dengan rakus.
Kutatap dia, lalu aku berdiri. "Kau meragukanku? Apa tiga monster itu tidak bisa menjadi bukti kalau aku laki-laki sejati?!" protesku tidak terima.
"Biar kutunjukan padamu senjataku sampai Nio, Zio dan Vio bisa lahir. Lihat ini, lihat!" Aku membuka celanaku sedikit, dan Shelin memalingkan wajahnya seraya berteriak.
"Alden, hentikan! Aku bersumpah akan mengutukmu!" pekiknya dengan memalingkan wajah.
"Lihat! Agar kau percaya, senjata ini yang hadir untuk bukti!" teriakku kesal. Padahal aku tidak benar-benar membuka celana. Asetku terlalu berharga untuk dilihat orang.
"Kau memang menyebalkan! Iya aku percaya, tutup celanamu atau aku akan benar-benar melihatnya dan kupanggang!" ancam Shelin, putus asa.
Aku pun duduk kembali dengan tenang. Membiarkan Shelin menarik napas panjang yang terdengar sesak.
"Kau sudah tidak waras?" tanya Shelin memukul kepalaku.
"Yang harus aku ragukan itu kau. Kau belum teruji klinis sebagai wanita sungguhan," ujarku balas dendam.
Kau memang hebat Alden. Senjata makan tuan.
"Alden, kau cari mati?!" Seketika Shelin menjambakku, menggigit telingaku.
Aku berteriak, meronta. Benar-benar seperti diserang beruang.
"Sakit!" teriakku, menjauhkan Shelin dariku.
Setelah lelah, kami baru berhenti. Bernapas memburu. Kami sudah seperti kucing dan anjing jika bertengkar. Ditambah kelakuan ini begitu kekanakan, padahal kami sama-sama tua. Tidak! Aku menolak untuk tua.
"Kau membuat dadaku sesak!" ujar Shelin mengelus dadanya.
"Longgarkan saja behamu. Apa susahnya? Kalau aku, apa yang mau dilonggarkan? Nyawa?" tanyaku, masih kesal.
"Alden! Kau! Kau benar-benar!" Shelin tampak murka, wajahnya merah. Mungkin jika ada efek, akan muncul tanduk di kepalanya.
"Kak, aku ingin bicara serius." Aku menyela saat Shelin benar-benar ingin melenyapkanku.
"Sekarang kau ingin bicara serius? Lalu sedari tadi itu apa?!" sungutnya masih kesal ternyata.
"Ini masalah menikah. Dengarkan aku, dan duduklah sebagai wanita," jelasku menuntunnya untuk duduk.
Dia menatapku curiga, matanya yang besar itu membuatku ingin menggorengnya seperti telur mata Shelin.
"Jika aku menikah lagi, apa kau akan segera menyusul?"
Shelin tampak gusar, berdehem sejenak. Mungkin kakakku ini telah menyadari, jika waktu tidak akan bisa dihentikan. Kapan pun itu, pasti akan tiba saat kami harus memutuskan melanjutkan hidup ini dengan siapa. Aku tidak mungkin bergantung padanya, karena aku bukan monyet—jadi tidak akan bergantungan.
"Kenapa kau bertanya begini? Aku tidak suka," jawabnya setelah sekian lama diam.
"Menikahkah dulu, Kak. Aku serius," tuturku membujuknya.
"Aku akan lega jika kau sudah menikah. Dengan begitu aku akan segera menikah juga, umm?" Aku mulai bergelayut di lengannya.
"Kau sangat menyebalkan," ujar Shelin, dia tampak menangis.
Shelin memahami arti ucapanku yang sesungguhnya. Dia sadar jika semua orang menginginkan pernikahannya. Apa boleh buat, Shelin belum laku. Apa aku harus menjajakkannya di pasar induk?
"Jika aku menikah, apa yang akan terjadi padamu, um? Perusahaan aku yang mengurus, jika aku pergi bersama suamiku, kau akan meninggalkan ketiga putramu dan mengurus perusahaan?"
Ah, jadi itu yang selama ini Shelin pikirkan. Pantas dia mengalah selama ini. Dua tahun lalu, saat para monster telah lahir, sempat ada yang melamar Shelin, tetapi wanita itu menolak dan mengasingkan diri. Aku merasa bersalah atas nasibnya kini.
"Jangan pikirkan aku. Kau akan membuatku merasa bersalah atas nasib malangmu jika begini."
Kami akhirnya menangis bersama. Situasi sulit ini memang aneh. Kami saling bertengkar, tetapi saling mendukung. Bahkan, Shelin ternyata begitu memikirkan ponakannya.
"Apa yang harus kita lakukan, Al? Kita harus bagaimana?" isaknya keras.
"Tidak tahu, Kak. Kita harus bagaimana?" Aku ikut menangis bersamanya.
"Kau sangat malang, hidupmu sudah sangat sulit selama ini. Menunda menikah untuk kau dan anakmu bukanlah hal berat bagiku. Karena hidupmu lebih malang dariku," ujar Shelin, tangisnya benar-benar meledak.
"Benar, aku sangat malang. Ditinggal istri, mengurus tiga anak sendiri. Dan entah kapan aku bisa menikah lagi."
Kami mengeluarkan semua emosi dan sesak yang selama ini kami pendam.
"Adik malangku," ucap Shelin, seraya menepuk-nepuk pantatku layaknya menidurkan anak.
"Kakak malangku," balasku, tetapi tidak menepuk pantatnya, karena itu akan jadi bencana.
Siapa pun yang akan menikah lebih dulu, sebenarnya aku telah mempersiapkan mental untuk semua itu. Tentu aku memikirkan pernikahanku, tetapi egois rasanya jika aku menikah dua kali dan kakakku belum satu kali pun. Biarkan semua berjalan apa adanya. Biarkan Tuhan merancang hidup kami.
Aku percaya takdir. Tak seharusnya ada cemas perihal takdir.
Sebab selembar daun pun Allah sudah atur jatuh kapan dan di mana.
Terima kasih kakakku Shelin. Kau akan mendapat penghargaan dari Tuhan atas ketulusanmu.