Because I'M Father

Because I'M Father
Pacar Papa



Kurasakan seperti ada yang basah di pipiku, juga seperti ada yang menggelitiki kakiku. Bahkan aku merasakan ada yang menindihi tubuhku. Ini efek aku terlalu mengantuk atau kelelahan, aku biarkan semuanya berjalan hingga aku merasa pipiku banjir, barulah membuka mata sempit ini.


"Papa!" serunya mengecupi pipiku, ternyata yang basah adalah bibir Vio yang sedari tadi mengecupiku.


Kuelap pipiku yang basah dengan iler anak bungsu itu yang menempel.


"Kalian sudah pulang? Kenapa pagi sekali, aku masih ingin tidur," ucapku masih sangat mengantuk. Bahkan, kepalaku sudah kembali bersandar pada bantal.


"BANGUN!" teriak ketiga monster itu menindihiku yang tengkurap.


Mereka merusak hariku kembali. Saat tidur, mereka bagai malaikat. Lihat, saat mata mereka terbuka, membuat kekacauan adalah jalan ninja para monsterku.


"Iya, aku sudah bangun," ucapku yang jelas masih sangat ngantuk.


Namun, bukan monster namanya jika tidak menggigit. Kurasakan salah satu dari mereka menggigit pipiku, meski tidak keras—tetapi cukup mengganggu karena ilernya menempel semua.


"Hei, hentikan itu. Durhaka sekali kalian padaku," ucapku yang menahan kantuk.


"Papa bangunlah! Ada Polisi cantik di depan."


"APA?" seruku terkejut dan langsung membuka mata dengan lebar.


Kutatap ketiga monster itu yang juga menatapku. "Kau bilang apa? Polisi cantik?"


"Iya, aku datang," jawab seseorang di ambang pintu.


"ASTAGA!" teriakku dan Alisya bersamaan saat sadar bahwa aku setengah telanjang. Terekspos sudah maha karya Tuhan. Aku tarik selimut untuk menutupi roti sobek.


Ya tuhan asetku paling sexy!


"Maaf, Kak," ucapnya menutup wajahnya lalu pergi.


Bukan hanya dia yang malu—aku lebih malu darinya, karena ketahuan tidur dengan telanjang dada, dan bagaimana dia dan monster ini bisa masuk?


"Hei, kenapa kalian bisa masuk?" tanyaku yang yang masih ditindihi ketiga monster.


"Kau lupa tidak mengunci pintu saat kami datang," ungkap Nio apa adanya.


"Lalu?" tanyaku lagi, ingin cerita yang komplit.


"Nenek dan kami masuk … setelah nenek pelgi, Polisi cantik itu datang," jelas Zio.


"Lalu?" tanyaku lagi.


"Lalu KAU MANDI SAJA SANA PAPA!" teriak Vio yang kesal.


"Iya, aku mandi sekarang."




Kini aku sudah mandi dan memakai baju, tetapi entah kenapa aku sangat malu untuk menemui gadis yang tengah berkunjung ke rumahku ini. Padahal aku memiliki wajah dan memakai baju, seharusnya aku tidak perlu malu.



Kuputuskan untuk bersikap biasa saja, dan kakiku sudah melangkah menuju gadis yang sedang bermain dengan ketiga monster kecil.



"Ehem," dehemku dan Alisya menoleh padaku.



"Kau datang hari ini, kupikir kau akan ... " ucapku menggantung, tidak tahu cara melanjutkannya lagi, seterusnya apa? Apa? Aku harus bicara apa sekarang? Dia menatapku, hei! Bantu aku menangani situasi aneh ini.



"Em, maaf tidak memberitahumu dulu sebelumnya, aku pikir kau tahu aku akan datang," ucapnya dengan seulas senyum.



Kuharap dia tidak menyinggung soal tadi di kamar.



"Oh iya maaf soal tadi, aku tidak tahu kalau kau--"



"Bagaimana kalau aku buatkan kopi?" ucapku memotong ucapannya. Sangat tidak siap membahas tahu-tahu kotakku.



"Oh, boleh, sepertinya itu baik," ucapnya tak karuan, sama halnya denganku—aku pun tidak tahu harus bersikap bagaimana.



Aku langsung pergi ke dapur, memukul kepalaku sendiri. "Dasar aneh! Apa yang kau lakukan Alden," makiku pada diri sendiri.



Karena tidak mau membuatnya menunggu lama—aku buatkan kopi untuknya, lalu aku keluar dengan beberapa cemilan juga.



"Minumlah kopimu," ucapku menyodorkan kopinya.



"Terima kasih," ucapnya lalu duduk di sebelahku dan meminum kopi itu.



"Rumahmu lumayan," ucapnya membuka obrolan.



"Ah, ini sangat berantakan, tidak ada lumayannya," ucapku merendah.



Meski sebenarnya aku ingin membanggakan diri.



"Tidak sungguh, ini cukup rapi untuk seorang pria yang harus merawat tiga anaknya," ucapnya kembali memuji.



"Ah, kau berlebihan," ucapku mendorong tubuhnya hingga kesamping.



"Ya, Tuhan, maafkan aku," ucapku yang mendorongnya terlalu keras, aku lupa kalau dia langsing, ingat! LANGSING.  bukan kurus. Jadi, doronganku membuatnya oleng.



Alisya hanya tertawa, mungkin itu caranya untuk mencairkan suasana.



"Kakak, maukah kau jadi pacal Papa?" tanya Vio membuatku melotot.



Kulihat Zio ikut-ikutan dengan menyodorkan boneka yang sudah tidak memiliki tangan pada Alisya.



"Kakak, jadilah pacal Papa, dia akan membuatmu bahagia," ucapnya membujuk.



Hei apa mereka sedang melamarkan gadis untukku? Dan mereka bilang apa? Kakak?



"Hei, apa yang kalian lakukan?" tanyaku sambil tersenyum gemas dan menabok bokong kedua monster itu, lalu kedua monster itu tertawa sambil berlari menjauh.



"Haha maafkan mereka. Mereka suka bercanda," ucapku kembali canggung.



"Tidak apa-apa, wajar mereka begitu ... aku sudah terbiasa dengan anak kecil. Namun, sepertinya mereka berbeda, mereka sangat menggemaskan dan pintar," ucap Alisya menatap ketiga monster yang sedang bermain.




"Em, selama ini memang aku yang merawat mereka, kalau bukan aku siapa lagi? Istriku meninggal, sepertinya dia tidak mau merawat mereka bersamaku," ceritaku dramatis.


Kenapa aku jadi curhat.



"Maaf aku jadi curhat padamu," ucapku tak enak.



"Tidak apa-apa, aku senang kau bisa percaya padaku. Mengenalmu saja sudah membuatku senang, apalagi kau mau berbagi cerita denganku," ucapnya kembali memamerkan senyum khasnya.



Dia seperti malaikat yang diciptakan untukku. Plak. Bukan, sepertinya untuk para monster kecil itu.



"Boleh aku bicara denganmu?" tanya Alisya terlihat serius.



"Iya," jawabku, lalu dia menarik tanganku keluar dari apartemen.



Hei dia mau apa? Dia tidak berencana menembakku 'kan? Atau melakukan sesuatu yang lebih parah, setelahnya baru menembakku? TIDAK.



"Sebenarnya, aku ...," ucapnya setelah berhenti di tempat sepi.



Aku masih memperhatikan wajahnya yang bingung. "Aku apa?" tanyaku ingin membantu, tetapi malah membuatnya makin tergesa.



"Aku menyukai ...,"



Menyukai apa? Aku? Hei ini terlalu cepat, aku belum siap, tahan dulu aku mohon! Biarkan aku pakai parfum dan lainnya. Setidaknya biarkan aku pakai baju yang lebih bagus.



"Aku menyukai ketiga anakmu, jika boleh ... apa aku boleh menjadi teman mereka?" tanya Alisya membuatku lemas, tadi itu aku sudah menahan napas, menahan kentut, dan menahan detak jantung.



"Tentu saja, asal kau tidak berniat menculik mereka," ucapku terkekeh.



"Mana mungkin," ucapnya memukul lenganku pelan.



"Apa aku boleh mengajak mereka bermain ke rumahku? Kau bisa ikut kalau takut aku menculik mereka," ucapnya merasa tak enak.



"Em ... bagaimana, ya, sebenarnya mereka tidak pernah--"



"Aku tahu, ini aku ... Polisi, percayalah … aku mohon ikutlah jika kau hawatir," ucapnya begitu memohon.



Dia itu suka anakku, 'kan? Sepertinya dia begitu menyukai anak kecil. "Baiklah."



"Terima kasih, kau sangat baik. Besok aku tunggu di rumah, di rumahku hanya ada mama dan aku. Aku sangat senang kau mau main ke rumahku," ucapnya begitu bahagia hingga berkaca-kaca.



Aku mendadak terharu.



Kenapa dia sangat ingin mengajakku ke rumahnya? Entahlah, melihatnya tersenyum seperti itu membuatku seperti baru saja menolong orang dari maut.



"Kalau begitu aku pergi, maaf tidak bisa lama karena aku tugas hingga malam," jelasnya, aku angguki saja bagai ayam mengantuk. Dia memang pekerja keras.



"Ah, baiklah nanti aku sampaikan pada tiga monsterku. Hati-hati di jalan."



"Emm." Alisya pun langsung melenggang pergi. Entah kenapa aku rasa dia orang yang sangat baik, apalagi pekerjaanya juga membantu orang. Tetapi tidak seperti Polisi waktu itu yang selalu menyuruhku menunggu 24 jam setiap anakku hilang. Aish.



Aku kembali masuk ke rumah, dan melihat monster kecil masih asik bermain. Karena bosan aku mengotak-atik ponsel dan mengambil gambar ketiga monster yang sedang bermain.



Aku tersenyum ketika satu bidikan kamera berhasil menangkap wajah imut para monster.



"Papa, di mana Polisi cantik?" tanya Nio menghampiriku.



"Dia pergi karena ada tugas," jawabku.



"Dia hebat, dia sepelttiiiii supel helo!" seru Vio menirukan super hero.



"Super hero bukan supel helo," ucapku membenarkan, tetapi malah dapat pelototan.



Apa salahku?



"Besok kita akan main ke rumahnya, tapi aku mohon jangan membuat keributan di sana," ucapku pada ketiga monster itu.



"Wah, kita akan ke lumahnya? Asik!" seru Zio kegirangan.



"Ingat pesan, Papa?!" ucapku mengingatkan.



"Tidak boleh nakal saat beltamu," ucap mereka bersamaan.



"Wah, kalian memang anak pintar," ucapku begitu gemas.



Mereka memang besar tanpa Ibu. Tetapi, lihatlah, di usia mereka saat ini, anak lain belum lancar berbicara. Namun, mereka menunjukan, bahwa kehadiranku pun sudah mencukupi pendidikan


verbal. Atau mungkin aku memang terlalu cerewet, hingga menurun pada ketiga monster itu.



Bagaimana tidak cerewet, jika tiga anak sekaligus yang aku rawat.