Because I'M Father

Because I'M Father
Pantai



Tubuhku sudah terasa remuk. Tidak di sangka mengajak monster kecil ke pantai sama saja bunuh diri. Ini tidak ada bedanya dengan bunuh diri, lagi pula Kakak perempuanku itu tidak membantuku sama sekali, malah asik berfoto.


Dasar wanita.


"Hei, tidak bisakah kau bantu aku menjaga monster?" tanyaku yang tak jauh darinya setengah berteriak.


"Itukan anakmu. Kau yang membuatnya, urus saja sendiri," ucapnya kembali sibuk dengan ponselnya.


Ya tuhan, Kakak durhaka. Kalau dia menikah dan punya anak, aku tidak akan mau menjaganya sedetik pun.


Kenapa aku jadi balas dendam begini.


Sudahlah, Shelin benar—aku yang membuat monster kecil itu terlahir ke dunia, aku juga yang harus menjaga mereka dengan tubuh remukku ini. Jika dilihat, aku semakin kurus saja, jangan-jangan aku gizi buruk? TIDAK, kalau aku mati—siapa yang merawat ketiga monster? Aku harus kuat.


"Hei jangan pergi ke pinggir! Main pasir di sini saja!" teriakku saat Zio hendak pergi ke pinggir pantai.


"HEI!" teriakku saat Zio malah semakin berlari ke pinggir pantai, sedangkan ombak bisa saja membuat tubuh kecilnya terjatuh.


"ZIO BERHENTI!" teriakku karena anak itu benar-benar tersapu ombak. Mataku membulat. Segera aku berlari dengan langkah selebar mungkin, aku lihat dia tenggelam tersapu ombak hingga tergiling.


"ZIO!" teriakku panik. Kuambil tubuhnya yang terlentang. Zio mengambil napas begitu banyak dan terbatuk, sepertinya sudah meminum air laut.


"Kau tidak apa-apa, Zio??" panikku saat membopong tubuh mungilnya.


Zio tidak menjawab, semakin membuatku frustasi dan hawatir. Aku berlari menuju kedua putraku yang lain.


"Tetap di sini jangan kemana-mana! Papa akan segera kembali," ucapku pada kedua monster yang terlihat tidak tau apa-apa itu.


Tidak peduli apa pun lagi—aku berlari ke hotel. Aku takut jika Zio terlalu banyak minum air laut, apa jadinya aku nanti. Jika salah satu dari mereka kenapa-napa, rasanya jiwaku seperti diambil.


"Papa," panggilnya lirih.


"Papa akan menyelamatkanmu, jangan banyak bicara," ucapku yang setengah telanjang ini membawa Zio ke kamar, lalu mendudukannya di toilet. Namun, tubuhnya tetap aku pegang.


"Muntahkan semua air yang kau minum tadi. Cepatlah!" ucapku hawatir, apa seperti itu caranya menolong orang tenggelam? Aku begitu bodoh, aku bahkan tidak tau caranya membuat orang muntah, apa aku harus kentut agar Zio muntah? Atau aku tepuk punggungnya? Siapa pun beri tahu aku!


"Tadi itu lasanya asin," ucapnya menjilat bibirnya.


Apa dia sedang menikmati asinya air laut?


"Cepat muntahkan Zio. Jangan membuatku frustasi," ucapku menepuk pelan punggungnya.


Kulihat wajahnya, bukanya muntah —dia malah mengantuk dalam keadaan baju yang basah dan duduk di toilet. Aish anak ini benar-benar, apa air laut membuat orang mabuk?


Kugendong tubuhnya yang sudah lemas, entah mengantuk atau memang mabuk laut, dia langsung terkulai lemas. Setelah aku ganti baju basahnya, aku tidurkan dia di ranjang. Kuselimuti tubuhnya. Aku harap dia tidur bukan pingsan, karena jujur saja aku tidak bisa membedakan mana orang pingsan mana orang tidur.


ASTAGA!


Aku melupakan dua monster kecilku, jangan sampai mereka melakukan hal sama. Jika iya, aku akan menenggelamkan diriku sendiri. Aku berlari hingga membuat para petugas di hotel melihatku heran, saking cepatnya aku sampai menabrak seorang gadis.


Bug


"Aw!" pekiknya.


"Maaf aku tidak sengaja, maafkan aku, aku sungguh minta maaf," ucapku tidak enak.


Kulihat wajahnya, emmmmmmm sangat cantik, hust ini kecelakaan, jangan memikirkan yang tidak-tidak, fokus!


"Ah, tidak apa-apa," ucapnya tersenyum, sayangnya aku tidak bisa melihat matanya karena dia memakai kacamata.


"Sekali lagi maaf, aku terburu-buru. Permisi," ucapku langsung pamit, tidak penting siapa dia, sekarang aku sedang gawat darurat, bahasa Inggris emergency, kalau tidak salah.


Aku lari meski banyak pasang mata yang melihatku heran. Mereka tidak tau kalau ini sangat genting. Setelah sampai di pantai, aku lihat monsterku sudah tidak ada, jangan bilang mereka tenggelam, atau di makan buaya, atau lebih parah lagi hiu.


Hei sebenernya pergi kemana monsterku?


"Permisi. Lihat dua anak kecil yang bermain di sini tadi?" tanyaku pada salah satu pengunjung. Mereka menggeleng, sudah pasti mereka hanya liburan sendiri saja, apa tidak bisa mata mereka melihat ke sekeliling, dan bantu aku menjaga kedua monsterku.


Sambil berteriak, aku menyusuri bibir pantai, tidak peduli tatapan orang yang risih melihatku. Mereka tidak tau betapa paniknya aku sekarang, jika kedua monsterku hilang, aku akan mati.


"Nio! Vio!" teriakku sambil berjalan ke setiap sudut pantai.


"NIO! VIO, MONSTER KECILKU!"


Ini mengerikan, seperti ditelan bumi, mereka hilang dalam waktu sekejab.


Di mana kalian Nio, Vio, bukankah aku sudah bilang jangan kemana-mana!.


"Maaf, kau cari siapa?" tanya seorang gadis. Tunggu! Dia yang aku tabrak tadi, apa dia mengikutiku? Atau sengaja menguntit.


"Mau aku bantu? Tidak mudah mencari anak kecil sendirian di pantai seluas ini," ucapnya begitu prihatin, apa aku terlihat sangat menyedihkan? Kenapa dia mau membantuku?


"Terima kasih. Untuk sebelumnya aku minta maaf," ucapku tulus.


"Tidak masalah, sepertinya kau memang sedang gawat darurat, wajar jika kau menabrak seribu orang sekalipun," kekehnya.


Boleh aku jujur? Dia terlihat manis.


"Siapa namamu?" tanyanya mengulurkan tangan.


Sudahku bilang dia sengaja menguntit.


"Alden Alisano."


"Aku Alisya," ucapnya kembali tersenyum.


"Namamu sangat cantik," ucapku membuatnya tersenyum malu. Hei sejak kapan aku memuji wanita lain, ada apa denganku? Apa orang ini punya pelet? Telolet.


Namanya cantik, orang tuanya tidak salah memberi nama sebagus itu.


Kenapa aku membahas nama sekarang? Aku harus mencari kedua anakku.


Aku kembali panik. "Bagaimana kalau kita berpencar saja? Boleh aku minta nomer ponselmu? Jika ketemu nanti akan segera aku kabari," ucapnya, entah dia pintar atau modus, tapi ada benarnya juga.


Setelah aku beri dia nomor, dia langsung pergi, menyerukan nama Nio dan Vio, hei apa dia tau umur anakku? Ah sudahlah, bodo amat—aku harus mencari kedua monster kecilku sebelum Shelin tau kalau mereka hilang.


"NIO, VIO!" Sepanjang pantai aku terus berteriak seperti itu hingga tenggorokanku sangat kekeringan dan tandus.


Bagaimana sekarang? Atau aku lapor Polisi saja, ini sudah emergency—benar, aku harus lapor Polisi, katakan pada mereka kalau anakku hilang selama dua jam ini, dan kemungkinan terbawa ombak.


Aku langsung berlari ke hotel, mengganti pakaianku yang lebih baik. Aku lihat Zio masih tertidur pulas, syukurlah aku masih bisa menyelamatkanya. Aku langsung melenggang pergi setelah memberi satu kecupan di pipi gembul Zio.


"Hei kau mau kemana?" tanya Shelin.


Aku langsung melarikan diri, jika dia tau kedua keponakannya hilang, leherku akan di gorok olehnya. Tidak peduli, aku langsung masuk ke kantor Polisi terdekat.


"Polisi! Polisi! Polisi tolong aku! Anakku hilang di pantai, aku sudah mencarinya selama dua jam tapi tidak ketemu, aku mohon tolong aku! Aku mohon!" ucapku memohon.


"Sejak kapan anakmu menghilang?" tanya sang Polisi.


"Dua jam yang lalu, aku sedang mengganti baju monster kecilku, lalu saat aku kembali mereka sudah tidak ada, padahal aku sudah bilang, jangan kemana-mana, tapi mereka tidak menurut. Aku mohon tolong aku, jangan biarkan aku kehilangan anakku!" Aku kembali memohon pada Polisi berkumis itu.


"Tunggu sampai 24 jam, ya, anakmu hilang baru dua jam, ada kemungki--"


"Apa kau mau membiarkan anakku di temukan telah tewas? Kenapa menunggu 24 jam? Kau menunggu anakku jadi jenazah, huh?!" bentakku kesal.


Aku baru sadar, kalau nyaliku sangat besar ternyata. Seharusnya sudah dari dulu aku gunakan.


"Itu sudah peraturan tuan."


"Apa gunanya Polisi kalau bukan untuk melindungi warga negaranya? KAU BENAR-BENAR JAHAT!" teriakku.


"Kami akan membantumu tuan, tapi kami harus menunggu sampai 24 jam, jika anakmu tidak di temukan dan terlihat, kami akan bantu mencarinya," jelas sang Polisi yang makin membuatku dongkol.


"Tidak bisa! Kalian harus cari sekarang!" seruku dengan sedikit melotot.


"Tuan, kami akan mencarinya, mohon bersabar kami akan proses," ucap teman si kumis.


"Lalu jika mereka ditelan hiu kau mau membiarkan tulang anak-anakku remuk dulu baru kau membunuh hiu itu?" kesalku sampai naik meja, tetapi aku di tarik keluar oleh kedua teman si kumis itu. Tidak adil, mereka main keroyokan.


"Hei lepaskan aku!" ucapku saat kedua Polisi itu malah mengusirku.


"Maaf tuan, anda membuat kegaduhan di dalam, sebaiknya anda cari dulu dengan benar, kami akan membantu mencari dan mengerahkan semua tim kami," jelas salah satu dari mereka.


"Aku mau sekarang, CEPAT! Atau aku bakar kantormu!" ucapku jengkel.


"Sepertinya dia sudah gila."


"Hei, aku mendengar itu!" Karena kesal aku jambak rambutnya. Namun, temannya langsung membantunya.


"Apa anda tidak waras? Lepaskan!" seru temannya itu, tetapi tidak aku pedulikan.


Memangnya ada orang tua yang masih waras ketika kehilangan dua anaknya sekaligus? Katakan saja aku gila sekarang.


"Astaga! Alden hentikan!" ucap seseorang menarik telingaku.