Because I'M Father

Because I'M Father
Pesing Monster



Kubuka mata yang masih sempit ini, sesungguhnya aku yang bernama Alden Alisano ini belum mau bangun jika aku tidak merasakan basah di tubuhku. Aku merasa sesuatu yang becek tepat di perutku, hidungku juga tak jauh dari penciuman bau yang amat menyengat seperti bau pesing.


What pesing!


Aku melek sempurna, kulihat ketiga putraku tidur dengan berantakan, seperti barang yang berceceran. Nio yang tidur di samping kiriku, Vio yang berada di atas kepalaku, dan Zio yang tidur di perutku. Baik sudah bisa di pastikan ini ompol siapa?


Selamat anda benar, ini ompol Zio si tampan biang kerok itu.


"Ya Tuhan, boleh aku tidur sebentar lagi?" gumamku terkantuk.


Dengan berat mata, aku singkirkan tubuh Zio. Kulihat kaus putihku sudah basah kuyup. Aku lupa semalam tidak memakaikan popok pada ketiga putraku, sehingga aku jadi korban ompol seperti sekarang.


Kucium kausku, sudah pasti bau pesing, entah minuman apa yang Zio minum hingga ompolnya lebih bau dari ompol kambing. Astagfirullah. Karena gemas, aku peras kausku seperti memeras cucian, hingga kaus putihku sampai lecek, tetapi kering.


ASTAGA, aku lupa perasan ompolnya jadi mendarat di kasur, bodohnya aku.


"Papa!" Nio memanggilku.


Kutepuk-tepuk punggungnya pelan agar dia kembali tertidur. Apa aku sudah seperti Ayah yang baik? Ayah idaman bukan?.


Hari ini, aku harus memandikan si kembar, mencuci seprai, selimut, menyapu, mengepel seperti biasanya. Namun, hari ini aku berniat mengajak si kembar ke super market, membeli susu, popok, sayur, buah, kentang, kue, seafood, apa sekarang sudah ada di super market? Kenapa aku sebut semuanya. aish.


°°°


Kini aku sudah berada di super market dengan menggendong Vio di belakang dengan Baby carrier dan Zio di depan dengan tangan kananku. Sedangkan Nio, si sulung selalu dalam genggaman hangatku. Nio memang tidak pernah iri jika kedua adiknya aku gendong, dia mengerti bahwa aku tidak bisa menggedongnya juga—sehingga dia hanya memintaku agar menggenggam tangannya agar tak hilang.


Kenapa aku mendadak terharu. hiks


Aku melangkah ke super market dengan tatapan para wanita yang sedang berbelanja juga. Memang rata-rata di sini adalah wanita, tentu mereka heran melihat pria dengan tiga anaknya berbelanja. Mungkin mereka melihatku keren, taukah anda bahwa aku begitu berat menahan beban yang belum di tambah dengan belanjaanku ini?


"Waahh Ketiga putramu sangatlah tampan," ucap seorang gadis memuji ketiga monsterku tapi kenapa hanya mereka. Aku tidak.


Astaga Alden, apa kau iri pada ketiga Monster kecil itu.


"Kau jelek!" ejek Vio pada gadis itu, hingga membuatku terbelalak. Vio menyembulkan kepalanya ke depan.


Hei siapa yang mengajari monster Vio begitu? Sungguh bukan aku yang mengajarinya. Suer!


Gadis itu tersenyum kecut, seperti menahan amarah. "Ah, kau sangat lucu," ucapnya memuji Zio yang aku gendong di depan.


"Jangan dekati Papa! Dia miliku!" seru Vio melongok ke depan lagi.


"Hei kembali ke asalmu! Nanti kau jatuh," ucapku lalu Vio kembali pada posisinya, menyender di punggung lebarku.


"Terima kasih. Maaf ya jangan di masukin kehati." uvapku tidak enak hati "permisi saya harus belanja,"


"Sampai jumpa," ucap Nio membungkuk sopan.


"Sampai jumpa, muah!l" ucap Zio genit dengan kiss bye andalannya.


Aish, siapa yang mengajari Zio? Aku tidak segenit itu, anak nakal ini benar-benar!


Kulanjutkan langkah, tidak berbeda—masih dengan tatapan dan pujian para wanita membuatku semakin tidak betah saja di sini karena yang di bilang tampan hanya putraku saja.


Bedebah! Apa mereka tidak melihat siapa yang menurunkan ketampanan itu pada mereka.


Setelah aku selesaikan belanjaa, aku langsung melangkah pergi dengan banyak belanjaan.


Sialnya aku tak sengaja menjatuhkan salah satu plastik belanjaan. "Ah kenapa harus jatuh!" ucapku kesal, karena aku tak ingin melepas tangan Nio.


"Biar aku bantu," ucap seseorang dengan lembut. Aku lihat dia, dia tak asing bagiku, dia seperti, sepertiiiiiiii gadis yang kemarin.


"Alden? Kau sedang ...," Gadis itu menatapku intens, melihat ketiga anakku bergantian, lalu tanganku yang penuh dengan belanjaan, padahal aku juga memegang belanjaan dengan menggendong Zio di tangan, dan menggenggam Nio, meski Nio membantu membawakan plastik roti tawarnya.


"Sepertinya kau sangat repot, ya? Biar aku bantu memasukan belanjaanmu ke mobil," ucapnya mengambil belanjaanku.


"Terima kasih, maaf untuk kemarin," ucapku tulus pada gadis bernama Naomi itu.


"Tidak, aku mengerti. Sampai jumpa," pamitnya terburu-buru, sepertinya dia bergidik ngeri melihat ketiga putraku.


Ini alasan kenapa aku tidak mau berhubungan dengan gadis manapun, pasti sangat sulit menerima tiga anak kembarku bukan? Sudahlah, tidak perlu memikirkan itu, lebih baik aku pulang dan menyiapkan makanan, karena temanku akan datang.


"Papa tidak apa-apa?" tanya Nio menghawatirkanku.


"Emm, aku baik," jawabku pamer seulas senyumku.


Aku hanya tidak mau hati anak-anak terluka hanya karena keegoisanku, lebih baik menyimpan luka dalam-dalam, meski aku sangat merindukan mendiang istriku. Melihat Nio, aku seperti melihat istriku, sangat lembut seperti hatinya, cenderung Nio lebih mirip mendiang istriku, sedangkan Vio mirip denganku, pemberontak, dan nakal, Zio? Sepertinya dia berada di tengah, dia berbeda. Ah sepertinya dia mirip kakeknya yang genit itu.


Akhirnya aku sampai di apartemen. Kugiring ketiga monster kecilku, sambil terus bercanda. Zio yang terus menjahili adiknya dan Vio yang mengoceh tidak jelas, sedangkan Nio menggandeng tangan kedua adiknya, menuntun mereka menaiki lift.


"Wah, aku lindu lumahku!" seru Vio langsung membaringkan tubuhnya di sofa, sedangkan Zio hanya ikut-ikutan.


Aku hanya tertawa ringan melihat tingkah ketiga putraku, meski terkadang sangat berisik saat mereka bertengkar. Namun, sangat menyenangkan saat melihat mereka begitu kompak. Setelah menaruh semua belanjaan di dapur, aku mulai menyalakan kompor untuk memanaskan minyak, karena temanku akan datang, aku berniat membuat kentang goreng untuk teman ngobrol.


Jangan salah paham, bukan kentang goreng yang di ajak bicara, tapi hanya sebagai teman saja, bukan teman juga, maksudnya pendamping, aish pokoknya itu, pasti kalian sudah mengertikan? Membuatku pusing saja, ya.


"Alden Alisano!" Kudengar seseorang memanggilku, sepertinya itu Evano , teman yang aku maksud akan datang.


Segera aku berlari membukakan pintu.


"Hai, kau sudah datang?!" seruku langsung memeluk Evano.


"Tentu saja. Aku sangat merindukanmu, Al," ucapnya memelukku.


"Bagaimana kabar monster kecilmu?" tanyanya sambil berjalan masuk ke rumahku.


"Seperti yang kau lihat," jawabku menunjukan ketiga monster yang sedang bermain.


"Wah, kau merawat mereka dengan baik," ucap Evano kagum sambil menepuk pundakku.


"Semuanya! Beri salam pada Paman Evano," seruku membuat ketiga monster itu membungkuk dengan sangat manis, rasanya aku gemas sekali.


"Hallo Paman," ucap monster itu bersamaan.


"Ya Tuhan, mereka sangat menggemaskan!" ucap Evano gemas lalu menghampiri monster kecilku.


Tak sengaja hidungku mengendus bau tak sedap, seperti ... seperti apa, ya?


SEPERTI BAU GOSONG!


"Astaga kentangku!" teriakku panik lalu berlari ke dapur. Aku matikan kompornya segera.


Kulihat kentang yang kuning sudah sedikit menghitam, ingin aku teriak, inginku menangis, tapi air mataku sudah tiada lagi.


Kutatap kentang gorengku yang sedikit gosong itu, aku tiriskan dengan hati-hati, takut jika mereka akan semakin rusak nantinya, karena mereka sudah rapuh sekarang. Menatap wajan kesayanganku sudah menghitam, minyak pun sudah tidak segar lagi.


Aku hanya berharap Evano tidak keberatan memakan kentang gosong ini, lagi pula kentang gosong takan membuatnya mati 'kan? Sudahlah lebih baik aku ke depan. Aku tarik napasku dalam-dalam, semoga saja temanku itu tidak memaki kentang gosong ini.


"Evan, apa kau suka kentang goreng coklat?" tanyaku yang membawa nampan.


"Sepertinya kentang cokelat enak," jawabnya membuatku lega.


"Ini ... makanlah, semoga kau suka," ucapku manaruh nampan di meja.


Kulihat matanya berbinar tadi, hanya satu detik—setelah melihat kentang cokelat dia langsung murung.


Ada apa gerangan?.


"Bukankah tadi kau bilang kentang cokelat?" tanya Evano memastikan. Aku mengangguk polos, memang itu yang aku katakan.


"Kentang cokelat itu rasanya manis, bukan pahit!" ucapnya geram.


Aku sedikit loading, bukankah aku bilang kentang coklat? Coklat itu 'kan warna? Apa dia tidak tau warna? Baiklah biar aku jelaskan padanya.


"Bukankah warna kentang itu coklat? Aku 'kan bilang kentang coklat, itu coklat, 'kan? Sudahlah, soal rasa jangan di ragukan lagi, itu memang berwarna berbeda dari kentang biasanya, bukankah sangat unik? Kau habiskan saja, aku sangat senang kau datang," ucapku mejelaskan.


"Al, apa kau buta warna? Semenjak kau di tinggal istrimu kau semakin tidak waras, ya? Itu hitam bukan coklat Al!" ucapnya ingin menangis.


Kutepuk bahunya, aku mengerti bagaimana perasaanya, karena tadi pun aku sempat sedih melihat kentang yang gosong, tapi sampai saat ini aku tidak mengerti yang dia ucapkan, sungguh.


"Apa kau tidak berencana menikah lagi, Al?" tanyanya sambil memakan kentang coklat yang aku buat, meski wajahnya sedikit asam ketika memakan kentang coklatku.


"Entahlah, aku tidak memikirkannya. Kemarin aku sempat berkencan, hanya saja kencannya berantakan," ucapku lemas.


"Hei pergilah ke club agar kau terhibur, siapa tau kau dapat istri baru," ucapnya memberi saran.


"Mencari Ibu untuk anakku di club? Apa tidak salah?" tanyaku yang heran.


"Hahaha aku hanya bercanda. Kau 'kan orang kaya, carilah istri baru lewat mamamu Al," ucapnya yang tak pernah aku harapkan sama sekali.


"Aku tidak berniat menikah lagi, Van," ucapku tersenyum lebar, memamerkan gigi kelinciku.


"Baiklah, aku tidak memaksa," ucapnya kembali menyambar kentang gosong.


Ternyata dia menyukainya juga.


"Apa kau tidak bekerja?" tanyaku.


"Hari ini aku libur, bagaimana denganmu?" tanya Evano balik.


Seperti sesi wawancara saja.


"Restoranku tetap buka, aku 'kan ke sana satu minggu sekali karena aku harus merawat para monster itu," terangku menunjuk ketiga monster kecil.


"Kau benar, kau hebat Al … aku salut padamu," pujinya lagi.


Kulihat Vio sudah tertidur pulas di lantai, sedangkan Nio dan Zio masih menahan kantuknya, bisa aku tebak mereka akan segera tidur.


Aku sangat menyayangi mereka, lebih dari diriku sendiri. Huaaaaa kenapa ini terdengar menyedihkan. Dasar Alden konyol.