Because I'M Father

Because I'M Father
Menyatakan Cinta



Aku berbalik. Kulanglahkan kembali kakiku tanpa egois. Meski terluka, bukankah aku sudah melewati luka dalam itu? Kulewati tubuh Alisya, dan aku sempat melihatnya yang tersenyum. Aku buka gerbang itu tanpa ragu, hatiku tidaklah penting, karena jiwa dan ragaku bersama ketiga monster kecil itu.


Alisya mengikutiku di belakang, sedangkan aku berjalan ke rumah yang menyiksa batin ini. Aku kambali terhenti, menoleh pada gadis di belakang. Sungguh aku ingin menangis saja, aku tidak tahan menahan luka ini. Rumah ini adalah tawa sekaligus luka penderitaan bagiku. Ingin aku katakan kalau aku tidak mampu masuk ke rumah itu pada Alisya. Ini adalah kepahitan yang pedih untuk aku rasakan kembali.


Boleh aku lambailan tangan ke kamera? Aku tidak sanggup.


"Aku tidak sanggup," ucapku ingin menangis dan Alisya mendekatiku.


"Kau hebat, kau bukan orang lemah yang rela terus disakiti. Aku di sini untuk mengusir lukamu," ucapnya yang kali ini membuatku menghangat, sedikit hilang lukaku, apa dia adalah penghilang luka?


Sadarlah Alden.


Kuhela napas panjang, baru maju satu langkah dan teriakan monster membuatku kembali menghentikan langkahku.


"PAPA!" teriak Nio, langsung berlari ke arahku.


"Nio? Aku merindukanmu," ucapku menciumnya dan memeluknya.


"Aku juga Papa. Aku tidak betah, aku rindu masakan, Papa," ucap Nio masih memelukku. Akhirnya kedua adiknya menyusul, memelukku juga.


"Kenapa kau balu menjemput kami, huh? Telnyata kau selingkuh!"  ucap Zio cemberut merajuk.


Alisya tersenyum. "Aku tidak akan sampai sini tanpanya, aku tidak mungkin selingkuh. Aku 'kan hanya milik kalian, dan kalian hanya milikku," ucapku memeluk ketiganya.


"Kau lama sekali, kami sudah tidak tahan di sini, rasanya aku ingin melarikan diri kemalin," ungkap Vio dramatis.


"Sekarang kita akan pulang," ucapku berdiri, dan aku lihat Ibu mertua berjalan mendekat.


"Mereka tidak betah, aku mengambil mereka … dan aku mohon jangan pernah ambil mereka kembali," ucapku tegas.


"Kau dan mereka sama saja, tidak ada bedanya. Jika bukan karena mereka yang minta kembali padamu, aku sudah membawa mereka ke luar negeri," ujar Ibu mertua setengah kesal.


"Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya, kecuali daun, yang bisa terbang lebih dulu lalu jatuh jauh dari asalnya."


Hei aku pintar kan? Peribahasanya benar tidak? Kenapa aku tidak yakin.


"Nenek, aku tidak mau ke sini lagi. Kau bohong, tidak ada Mama di sini," ucap Vio kesal dan kecewa.


"Ya, terserah kau saja," ucap wanita tua itu.


Mungkin sudah merasakan bagaimana merawat ketiga monster ini, tidak tahankan? Memang hanya aku yang mampu.


"Kita pergi?" seruku.


"Gendong!"


Ah, sudah dimulai lagi.


"Baiklah, aku gendong kalian." Aku gendong Zio dan Vio di depan.


"Biar Nio aku yang gendong," ucap Alisya, lalu menggendong Nio di punggungnya.


"Nio sangat berat, turunkan saja," ucapku yang kasihan pada Alisya.


"Tidak, aku senang melakukan ini," jawabnya berjalan mendahuluiku.


"Papa, sepeltinya jantungmu tidak normal," celetuk Zio yang sempat menempelkan telingannya di dadaku.


Siapa yang menyuruhnya mengecek keadaan jantungku?


"Papa, kendalikan jantung anda," ucap Vio, inginku menepuk jidat. Sayangnya tanganku isi semua, jika aku lepaskan—salah satu dari mereka akan jatuh.


Kami pun langsung masuk mobil. Ketiga monster itu duduk di kursi belakang, dan Alisya duduk di sampingku. Seperti keluarga bahagia. Ya, Tuhan, otakku mulai traveling.


"Alisya, kau mau ke mana? Biar aku antar, dan terima kasih untuk hari ini," ucapku sambil mengemudi.


"Aku ...," Kulihat Alisya terlihat bingung.


"Mau ke kantor Polisi tempatmu bekerja?" tanyaku memastikan, dan berusaha membantunya berpikir.


"Aku tugas malam kemarin, dan sebenarnya aku ingin ...," Alisya kembali menggantungkan katanya.


Dia suka menggantung, ya? Asal tidak gantung diri.


"Hei, kenapa dari tadi kau menggantung ucapanmu?" kekehku mencoba mencairkan suasana.


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ujarnya setengah tertunduk.


"Tidak, biar aku yang bicara denganmu. Nio, Zio, Vio,  kalian dengan bibi dulu, ya? Papa ada urusan," ucapku dan aku langsung menurunkan penumpangku itu di rumah Shelin.


Setelah kuantar si monster kecil ke Shelin, aku langsung kembali masuk ke mobil. Aku berniat pergi dengan Alisya, berterima kasih karena dia terus membantuku selama ini. Tanpa dia, hari ini aku tidak akan bisa mengambil para monster kecil dari Nenek sihir itu.


"Kita mau ke mana?"


"Aku ingin berterima kasih padamu, jadi aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang aku suka," jawabku masih fokus menyetir.


"Kenapa kau terus membantuku?" tanyaku padanya. Aku lihat sekilas wajahnya yang masih saja kebingungan.


"Tidak perlu dijawab, aku tahu kau orang baik. Jadi, kau akan memabantu semua orang," ucapku menampilkan seulas senyum.


"Sudah sampai, tapi kenapa seperti mau hujan?" tanyaku pada rumput yang bergoyang.


"Ayo, turun." Aku langsung turun dari mobil disusul gadis itu.


Ini adalah tempat kesukaanku, entah kenapa aku mengajaknya ke sini. Bukan hanya karena Alisya baik, tetapi karena aku ingin berterima kasih banyak padanya.


"Ini tempat kesukaanmu?"


Aku tertawa renyah dengan Alisya.


"Tempat ini sangat bagus, pemandangannya sangat indah," ujarnya, juga menyukai jembatan ini.


Di jembatan ini bukan hanya bisa melihat gedung besar, tetapi juga sungai buatan indah di bawahnya. Air mancur di taman menjadikan tempat ini semakin indah. Jika malam akan banyak lampu menghiasi, sayangnya ini siang hari.


"Hei, ayo ke sana." Aku menarik tangan Alisya, kutinggalkan mobilku dan pergi ke pinggir danau ramping ini, bahkan danau ini lebih ramping dari tiang listrik dekat rumahku.


"Bagaimana kalau hujan, mobilmu cukup jauh?" tanya Alisya cemas.


"Bukankah tidak masalah? Aku suka hujan, bagaimana denganmu?" Alisya sedikit mengerutkan dahinya mendengar pernyataanku.


"Aku suka, em … tapi sepertinya aku lebih suka pada yang menyukai hujan," jawabnya ambigu.


"Yang menyukai hujan? Siapa?" tanyaku.


"Kau," jawabnya dan aku tertawa.


Tunggu! Apa? Aku? Kau? Dia? Siapa?


"Aku?" tanyaku memastikan.


"Iya, kau. Aku menyukaimu. Kau begitu bertanggung jawab, kau begitu tangguh, aku suka kau sebagai pria," ucapnya membuatku loading.


"Kau bicara apa? Aku ti-tidak mengerti," ucapku masih belum paham.


Apa dia sedang menembakku? Kenapa aku tidak mati?


"Aku menyukaimu saat kau mau ke rumahku. Aku suka saat kau begitu peduli pada anakmu. Aku suka caramu bertanggung jawab pada keluargamu, aku- ah mungkin ini memalukan. Aku hanya ingin kau tahu … kalau aku menyukaimu. Ini pertama kalinya aku menyukai seorang pria, dan aku harus mengumpulkan keberanian untuk mengatakan ini, aku bahkan tidak memperdulikan harga diriku," ucap Alisya yang sudah berkaca-kaca.


"Maaf aku menyukaimu. Aku tidak mau menyesal jika tidak mengatakan ini, aku akan menyesal seumur hidupku jika tidak mengatakan ini," ujarnya tersenyum tulus.


Aku masih diam dengan otakku yang entah kenapa seolah mati. Hujan mulai mengguyur dan kami masih berdiri di sini. Ini pertama kalinya ada seorang gadis menyukaiku, bahkan aku tidak pernah membayangkan ini akan terjadi.


Alisya, seorang Polisi cantik dan pintar, menyukai Alden si bodoh ini? Laki-laki konyol yang sudah memiliki anak? Tidakkah matanya sudah buta? Sadarkan dia Tuhan.


"Alisya aku–"


"Jangan bicara jika itu adalah penolakan. Lebih baik aku tidak mendengarnya," selanya memotong ucapanku dengan tersenyum kecut.


Tetapi aku harus mengatakanya, aku tidak mau membuatnya terus berharap dengan ketidakpastian. Dia harus tahu kalau aku tidak bisa menyukai seorang gadis untuk saat ini. Aku tidak mau dia mengharapkanku, meski mungkin aku akan melukai hatinya.


"Alisya dengarkan aku," ucapku menarik napas.


Aku harus bersikap dewasa, ini sudah menyangkut hati orang lain. Meski tidak tega, tetapi aku harus mengatakan ini.


"Pertama, aku sangat berterima kasih atas bantuanmu selama ini. Terima kasih karena kau begitu baik dan menyayangi anakku.


Ini sangat sulit, aku tidak tega.


Kulihat dia menyimak. "Kau gadis yang sangat cantik, baik, dan tangguh. Aku suka karena kau gadis yang sangat bertanggung jawab, apalagi tugasmu sebagai Polisi."


Kuhela napasku, "Tapi aku minta maaf–"


"Aku mohon jangan lanjutkan!" pekiknya menolak.


"Kau harus tahu Alisya. Aku–"


"TIDAK! Aku mohon, jika itu adalah kata yang akan membuatku terluka, jangan katakan. Aku tidak membutuhkan jawabanmu, sungguh! Aku tidak membutuhkannya. Tidak peduli kau menyukaiku atau tidak, yang jelas aku menyukaimu," ucapnya menutup telinga, menolak ucapanku.


Kami sudah basah kuyup, hujan semakin deras mengguyur, membuatku harus sedikit berteriak.


"Aku juga menyukaimu! Sebagai teman!" teriakku dan dia sudah menangis sambil menutup telinganya.


Kini gadis itu menatapku meski air matanya jatuh bersama hujan, aku masih bisa melihat matanya yang merah sarat akan luka.


"Maaf. Aku belum bisa membuka hatiku saat ini, aku masih memiliki cinta di hatiku untuk monster kecilku!" teriakku meraih kedua bahunya.


"Kau adalah gadis yang baik, aku bisa saja menyukaimu jika hatiku tidak terluka! Bahkan aku sudah menyukaimu, meski sebagai teman … jadilah teman terbaikku!" ucapku setengah berteriak.


"Aku sudah menjadi temanmu! Aku ...," Dia menggantungkan ucapannya.


Aku sungguh tidak ingin ini terjadi, pertemanan bisa hancur jika karena cinta. Sudah aku bilang aku tidak mau dia berharap padaku, jika aku membuatnya menunggu dan akhirnya aku menyukai orang lain? Alisya akan terluka nantinya. Aku hanya ingin berteman dengannya.


"Biarkan ini berjalan semestinya, aku tidak mau kau terlalu berharap padaku. Kau begitu sempurna, tapi aku tidak bisa untuk saat ini. Jadi, aku mohon, tetaplah seperti kemarin, jadi temanku. Aku harap kau mengerti," ucapku melepas bahunya dan aku berbalik.


Aku tidak berniat menyakitinya, aku juga tidak menolak jika dia jadi jodohku, tetapi aku juga belum bisa menerima gadis untuk saat ini. Aku ingin fokus pada monster kecilku. Aku tidak bisa membagi cinta saat ini, karena para monster masih membutuhkanku.


Tetapi melihat Alisya membuat hatiku sakit, aku harap dia mengerti kalau aku masih trauma, aku masih ingin sendiri.


"ALISYA MAAFKAN AKU!" teriakku dan gadis itu memelukku dari belakang, aku bisa mendengar tangisnya.


"Tidak peduli nanti kau akan menikahi siapa. Aku akan menunggumu. Selama itu, aku akan menjadi temanmu!" teriaknya masih memelukku, dan menyenderkan kepalanya di punggungku.


"Maaf, maafkan aku. Aku sungguh minta maaf, aku menyakitimu," ucapku begitu merasa terluka.


"Tidak masalah! Sudah kubilang tidak masalah!" sanggahnya.


Alisya terlalu sempurna untukku, aku sangat tidak pantas untuk gadis sepertinya. Bahkan di saat aku sudah melukainya, dia masih mau berteman denganku.


Di bawah hujan deras ini, seorang gadis memelukku dengan tangisnya, luka yang sama-sama mencelos dalam benak kami. Aku egois, aku masih memikirkan dia yang di surga, dan di sini seorang gadis memikirkanku.


Jatuh cinta memang bukan kejahatan,tetapi cinta bisa membuatku menjadi orang jahat. Alden