Because I'M Father

Because I'M Father
25jt miliku. I'm coming



Pertama, aku memandikan semua monster kecilku. Hari ini mereka akan membantuku menjemput salah seorang teman yang akan menjadi tawanan kali ini demi 25 juta. Rasanya tidak sabar untuk menemui 25 juta-ku.


"Aku tidak mau memakai baju itu! Aku mau yang walna putih!"


Baru saja aku membayangkan 25 juta, Vio sudah merusaknya dengan membuat masalah hanya karena baju yang tidak ingin sama.


"Kalian harus seragam. Bukankah kalian terbiasa dengan baju kembar kalian? Ini akan membuat orang lain gemas," bujukku, masih mampu menahan emosi karena aku sudah sarapan. Jika belum sarapan, kemungkinan besar mereka menjadi sarapanku pagi ini.


"Tidak mau!" tolak Vio.


Aku menarik napas panjang. "Kita pakai yang putih sesuai mau Adik kalian, oke?" tanyaku pada Nio dan Zio, agar mereka mau mengalah.


"Aku tidak mau, aku tidak suka. Bajunya balu kemalin kita pakai," tolak Nio dengan lembut, meski guratan penolakan cukup kental. Susu kental manis saja kalah.


"Lalu aku harus bagaimana? Apa aku harus menangis? Berteriak? Apa aku harus pergi ke kantor Polisi untuk melaporkan ini?" Aku begitu geram.


Sebentar lagi aku akan diare jika seperti ini terus. Beruntung Zio tidak ikut menolak seperti Kakak dan adiknya.


"Papa, sepeltinya baju kodok lebih baik."


Baru saja aku puji, Zio sudah ikut protes. Harga diriku menghilang sampai akhirat. Seharusnya aku tidak memujinya tadi.


"Aku akan meledak sebentar lagi," gumamku bersender pada sofa. Sedangkan ketiga monster itu sibuk memilih baju kesukaan mereka.


Beginilah jika memiliki anak kembar. Mereka terbiasa memakai baju yang sama dengan pilihanku, lalu mereka mulai memberontak saat telah mampu memilih seleranya.


"Talik napas, tahan, jangan dibuang sayang. Sebental lagi, Papa. Beltahanlah," ujar Nio memberiku interuksi.


Aku bukan ibu yang mau melahirkan. Dasar onde-onde.


"Bagaimana jika aku lompat dari gedung, apa itu ide bagus?"


"Sepeltinya akan selu. Cobalah, Papa, kau akan melasa jadi Iron Man," sahut Vio.


Sepertinya dia senang jika aku tiada.


"Siapa yang mau es krim?"


"Aku!" Ketiganya lantas berdiri dengan telunjuk menunjuk langit.


"Kalau begitu, pakai seragam kalian. Atau aku benar-benar akan mati di apartemen ini sebagai Duda. Huh?"


••••


Kini, aku telah sampai di rumah mamaku. Lengkap bersama tawanan hari ini. Siapa lagi kalau bukan Andra, sahabat bagai saudara. Aku tidak mengatakan apa pun pada Andra, hanya ketiga monster yang membujuknya untuk ikut makan siang hari ini.


Ketiga monster itu sudah berlari masuk ke dalam lebih dulu. Sedangkan aku, berdua dengan Andra.


"Perasaanku tidak enak. Apa ini pertemuan bisnis?" tanyanya curiga.


Maafkan aku Andra. Kau harus menolongku mendapat 25 juta hari ini.


"Aku mengajakmu karena kau seperti saudara bagiku." Aku menunjukan wajah santai.


Lelaki tampan itu pun berjalan. Tidak sengaja dia terpeleset, seketika mataku terbelalak dan memekik.


"TIDAK!" teriakku, tiba-tiba terasa slow motion.


Aku memegangmu 25 juta. Kau aman. Tuturku dalam hati saat berhasil menangkapnya.


"Hampir saja, harta karunku."


"Harta karun?" tanya Andra heran mendengar penuturanku. Bibirku lenjeh sekali.


"Kau seperti harta karun bagiku," jawabku tertawa sumbang.


"Ayo masuk." Kuajak dia masuk, dan orang tuaku langsung menyambut dengan baik.


"Dia teman SMA-ku. Kalian ingat? Ayo, ingat-ingat!" pancingku, membuat permainan.


"Benda?" tanya Papa antusias.


"Bukan! Sedikit lagi!"


"Lembek?"


"Tidak! Tidak!"


"Enak?" seru Mama bergabung.


"Bisa jadi, bisa jadi!" sahutku begitu heboh. Seraya tangan kami kesana kemari karena gemas.


"Memiliki air liur?"


"Iya, iya, iya, iya!" seruku semakin heboh, ketika mereka hampir menebak dengan benar.


"Apa kalian tidak waras?!" bentak Shelin, menghentikan game seru kami bertiga.


"Dia Andra, aku mengenalnya. Apa dia yang akan menjadi klien kita? Dia, kan–" Aku langsung membekap mulut Shelin.


Ini tidak bisa dibiarkan. Shelin akan menghilangkan 25 juta-ku sebelum ada di tangan karena mulutnya..


"Bagaimana kalau kita langsung ke meja makan?" usulku yang mendapat anggukan dari semua.


"Mama, kapan kau mengirim uangnya?" tanyaku dengan tersenyum menggoda.


"Setelah kita selesai makan," jawabnya membuat dadaku sesak.


Astaga, ini di luar rencanaku.


Kami telah memulai jamuan makan. Para monster sudah asik bermain. Setiap kali Mama melihatku, aku memberinya kode agar segera mengirim 25 juta. Namun, gelengan selalu mematahkan harapanku.


"Ngomong-ngomong, apa pekerjaanmu?" tanya Mama, seketika aku terkena asma mendengarnya.


Pasalnya, Andra masih belajar menjadi Koki. "Dia adalah suami idaman. Bisa masak dengan enak. Jika aku wanita, aku akan menikahinya," sahutku dengan tawa sumbang.


Namun, tatapan orang yang ada di meja makan mendadak mengerikan. Aku kembali menunduk, merasa situasinya semakin genting.


"Mama, aku ingin makan yogurt. Di mana kulkasnya?" tanyaku, mengulur waktu.


"Apa kau tamu di sini? Berapa abad kau tidak ke rumahku, huh?" makinya karena aku tampak kekanakan. Bahkan Andra terkekeh melihat tingkahku.


"Kau sudah memiliki tiga anak, tapi masih saja manja," ujar Andra terkekeh.


"Aku benar-benar lupa, sungguh! Sumpah!"


Sumpah, aku sedang bohong hehe.


"Baiklah, ikut aku." Akhirnya Mama mengalah.


Aku mengikutinya ke dapur. Dengan gelisah, aku hanya berdiri melihatnya mengambil yogurt di kulkas.


Aku harus melakukan sesuatu.


"Ma, bisa kau transfer uangnya sekarang? Aku takut kau lupa," bujukku, sangat norak.


"Apa aku setua itu? Ck, ck, baiklah cerewet, aku kirim sekarang," ujarnya membuatku bernapas lega.


Akhirnya aku bisa bernapas layaknya manusia, sedari tadi aku bernapas seperti ikan yang tidak bisa hidup di daratan.


Kukecup pipi Mama saat notifikasi telah masuk ke ponselku. Aku bahkan memekik dan menyanyikan lagu kemenangan.


Kami pun kembali ke meja makan. Aku tidak peduli lagi tentang Andra, tanyakan apa pun sudah tidak perlu hawatir.


"Alden memang memiliki teman baik. Tidak salah dia memilihmu untuk dijodohkan dengan Shelin."


"APA?" pekik Andra dan Shelin menanggapi ucapan papaku.


Tentu, aku bisa bernapas lega, uangnya sudah ada di tangan. Kini Andra menatapku dengan bertanya.


"Tenang saja, ini hanya sementara," bisikku pada Andra, layaknya setan yang menggoda iman.


"Iya, ini acara perjodohan kalian. Kupikir kalian tahu," ujar Papa terheran.


Aku hanya bisa tertawa jahat dalam hati.


"TIDAAAKKK!" teriak Shelin. Wanita itu langsung melarikan diri.


Bagus, Kak. Kau memang harus melakukannya untuk menyelamatkan Andra. Aku sendiri tidak rela jika Andra untukmu. Terlalu sempurna. Akan aku carikan kakak yang lebih sepadan, gerobak siomay contohnya.


"Kembalikan uangnya!" bisik Mama, tanpa suara. Namun, gerakan bibirnya begitu jelas.


"Perjodohan apa ini, Al? Kau tidak mengatakan ini sebelumnya," tanya Andra. Wajahnya tampak pucat, padahal dia baru saja makan.


"Tenangkan dirimu, aku akan bicara nanti. Kau pulanglah lebih dulu," tuturku menepuk bahu Andra.


Selepas lelaki itu pergi, aku semakin tenang. Tetapi, ada dua manusia yang harus dijinakan.


"Jangan menatapku seperti *******. Kak Shelin tidak mau, Andra juga tidak. Sudahlah, kenapa kalian selalu menjadi biro jodoh untuk anak-anakmu."


Aku berdecak, ahli dalam bersilat lidah seperti ini.


"Diam kau, Al! Kembalikan saja uangku!" pekik Mama mulai mengamuk. Dia akan berubah menjadi gorila sebentar lagi.


"Mama, tenangkan dirimu. Dua detik lagi asam uratmu akan kambuh," ujarku memperingatkan, dan Mama menurutinya.


"Kau tahu, cinta tidak bisa dipaksakan. Mencintai seseorang harus dengan hati, bukan untuk ajang pamer foto kemesraan, atau pamer pada tetangga."


Ucapanku terdengar bijak dan sangat dewasa bukan?


"Lalu, kau ingin kami diam saat anak kami menjadi lapuk tanpa pasangan?" tanya Papa, langsung menancap tepat di hatiku. Sungguh, ucapannya amat tajam. Pria itu jarang bicara, sekali bicara kata-katanya lebih menyakitkan.


"Tidak juga. Sebenarnya dari tadi aku bicara apa, sih? Aku siapa? Aku di mana?" tuturku, membingungkan.


"Kembalikan saja setengah uangku! Kau sama sekali tidak bekerja dengan baik," tagih Mama lagi. Kapan wanita ini lupa tentang uangnya.


"Uang apa? Kapan kau memberikannya?"


Jika Mama tidak lupa, biarkan aku yang lupa. Haha.


"Kau pura-pura amnesia sekarang? Alden, tamat riwaymu!" teriaknya bak Ibu-Ibu pasar menjajakkan jualannya.


Aku tidak akan mati hari ini. Mamaku terlalu menyayangiku dan ketiga monster kecilku.