Because I'M Father

Because I'M Father
Tidak Percaya



Percobaan kedua, aku melibatkan orang tuaku untuk mengurus sekolah Nio, Zio dan Vio. Aku tidak ingin kejadian lalu terulang, jadi, aku relakan mereka pergi sekolah dengan Papa dan mamaku.


Aku melamun di halte setelah mengantar mereka ke sekolah. Apa aku sungguh tidak ada artinya di dunia ini? Bahkan setan saja tidak sudi merasukiku.


"Alden?" Aku mendongak ketika seseorang memanggilku.


Setelah melihat wajahnya, aku berdiri tegak, garuk-garuk kepala, menunduk, dan ingin sekali melarikan diri.


"Apa kabar?" Pertanyaan itu seperti bom untukku.


Aku belum siap bertemu dengannya. Sungguh, tidak siap.


"Sedang apa kau di sini sendirian?" tanyanya lagi karena tidak kunjung mendapat jawaban.


"A–aku sedang duduk-duduk saja," jawabku ngawur. Tubuh ini bahkan tidak bisa diam, seperti cacing kepanasan.


"Apa kabar? Lama tidak bertemu." Aku bertanya, akhirnya bisa mengendalikan ular dalam diriku.


"Aku baik. Bagaimana dengan tiga monstermu? Aku merindukan mereka," ungkapnya dengan senyum.


"Mereka sekolah hari ini, bersama nenek, kakeknya," sahutku. Tanganku tidak bisa diam, jadi kumasukan ke saku celana, takut akan liar kemana-mana.


Kami pun duduk di halte yang tengah sepi. Hari ini Alisya memakai seragamnya, pasti dia tengah bertugas.


"Semenjak hari itu, kita jarang bertemu. Apa kau begitu sibuk?" tanyanya menatap sekilas.


Ah, dia membuatku merasa bersalah. Kupikir dia akan membenciku setelah hari itu.


Apa dia pikir aku menjauh?


"Aku hanya jarang keluar rumah." Alisya hanya mengangguk mengerti.


Beberapa menit kami saling diam. Seolah kami memang tidak ingin membahas masalah hari itu. Kami menganggap itu tidak terjadi.


"Kau ingat … saat malam itu kau berlari sekencang tuyul, padahal aku yang memanggilmu. Apa kau takut hantu?" tanya Alisya, mengingatkanku malam setelah bertemu teman-teman.


Aku mendadak tertawa, membuatnya ikut terkekeh geli. "Sebenarnya aku tidak takut, hanya saja terkejut."


Alibiku sungguh norak.


"Apa kau akan berlari lagi kalau bertemu hantu?" Pertanyaan Alisya membuatku harus berpikir untuk mendapat jawaban keren. Setidaknya tidak boleh terlihat payah.


"Tentu saja tidak," jawabku sedikit sombong.


"Benarkah?" Alisya tampak tidak percaya.


Aku saja tidak percaya pada diri sendiri.


"Aku sungguh tidak akan lari. Paling hanya pingsan." Mendengar jawabanku dia terbahak, menenggelamkan matanya.


Senang bisa membuatnya tertawa. Meski harga diriku jatuh. Orang gila mana lagi yang mampu berbuat sepertiku? Aku memang lelaki yang tak dirindukan.


"Lalu, kenapa kau lari waktu itu?" Alisya tampak heran, menyayangkan diriku yang memilih berlari.


"Kadang, apa yang kita rencanakan belum tentu terlaksanakan. Dan kenyataan lebih berkuasa dari pada angan," jawabku. Mendadak membuat geli. Bulu jaketku sampai ikut berdiri saking syoknya.


"Senang bisa mengenalmu, Kak. Terima kasih telah mengizinkan aku dekat dengan anakmu," ujarnya tiba-tiba.


Aku mendadak trauma, aku takut dia menciumku lagi. Masalahnya aku belum sikat gigi. Alisya menatapku, tetapi tatapannya tidak pernah lama. Jika aku mencintainya, apa itu sebuah dosa? Apa akan ada yang terluka?


"Alden?" Aku mendongak.


Zidan? Tamat riwayatku.


Mengapa pria ini harus datang saat seperti ini. Bagaimana kalau dia mengadu pada Mama tentang Alisya?


Aku mengangkat tanganku, memberinya 'hai' tanpa suara. Namun, perhatian Zidan telah beralih pada Alisya. Lelaki itu menatapku dan Alisya bergantian, wajahnya seperti kuda dengan bibirnya yang jatuh ke bawah.


Sungguh, wajahnya cocok menjadi stiker chating.


"Sepertinya aku tidak tepat waktu. Anggap saja aku tidak lewat sini, oke?" tuturnya, ingin aku berpura-pura tidak melihatnya, dan aku mengangguk setuju.


"Aku akan anggap tidak melihat kalian. Lanjutkan saja, aku tidak lihat apa-apa," ujarnya seraya berlalu. Benar-benar bersandiwara tidak melihat kami.


Terima kasih Zidan, kau terbaik.


••••


Sepulang bertemu Alisya, aku kembali ke apartement. Sudah ada kedua orang tuaku dan ketiga monster. Aku sangat merindukan para monster kecil itu.


"Papa, tadi aku membuat pesawat dengan Kakek," adu Vio si cerewet begitu heboh.


"Wah, kalian yang terbaik," pujiku begitu senang.


Aku merasa begitu lega mendengarnya. Artinya, mereka menikmati sekolahnya hari ini. Seharusnya ini menjadi awal yang baik untukku memulai hal baru.


"Nio, kau buat apa di sekolah?" tanyaku padanya. Hanya si sulung yang tidak heboh, biasanya selalu membuay kehebohan bersama.


Nio menoleh padaku, tersenyum tipis. "Aku membuat bus," ujar Nio, menunjukan hasilnya padaku.


Seketika aku memekik, memuji apa yang mereka buat hari ini. Sekedar memberi apresiasi apa yang telah mereka usahakan.


Karena si kembar tengah bermain, aku ikut duduk santai bersama kedua orang tuaku. Tidak lupa, aku buatkan minum untuk keduanya. Sebelum mereka mengeluh, kalau aku menyiksa mereka di rumah anak sendiri.


"Al, kami punya kabar gembira soal Shelin"  Mama berujar, mendadak aku memperhatikannya.


"Akhirnya, sebentar lagi Shelin akan menikah," lanjutnya membuatku terdiam sejenak, lalu terbahak-bahak.


"Kalian sedang memanasiku, ya? Aku bukan makanan kemarin, tidak perlu dipanasi," ujarku masih terbahak sambil memeluk bantal sofa.


Namun, setelah aku tertawa puas, wajah kedua orang tuaku masih sama, datar. Tidak ada tanda-tanda komedi.


"Aish, kalian tidak boleh mengajari berbohong. Kau sendiri yang bilang kalau jodoh itu bukan mainan," ujarku, berdecak.


"Kami serius, Al. Kakakmu Shelin akan segera menikah," tutur Papa, membuatku terdiam sejenak.


Lagi, terkikik geli mendengarnya. Antara percaya, juga ragu tingkat Dewa neptunus. Manusia seperti Shelin tidak mungkin melakukan itu, baru kemarin dia yang mengatakannya sendiri kalau dia melajang sampai ajal.


Mama terlihat mengeluarkan ponsel, memberikannya padaku. Aku langsung melihat, Shelin tengah makan bersama sebuah keluarga. Kakakku itu tersenyum lebar dengan pria di sampingnya.


Apa ini kakakku yang itu? Yang takut anak kecil itu?


Aku masih tidak percaya, jadi aku menatap kedua orang di hadapanku. Kembali terkekeh geli, meski sedikit ragu. Kepalaku mendadak seperti terbelah di langit Amerika.


"Kalian bercanda. Apa ini sungguhan? Shelin menikah?" Aku kembali terkikik karena saking tidak percayanya.


Ini seperti salah satu tujuh keajaiban dunia.


"Kalian serius soal ini? Sungguh?" tanyaku memastikan, dan tidak ada guratan bercanda.


Seketika aku pingsan setelah mendapat anggukan. Benar-benar pingsan. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya, yang jelas—aku terbangun di kamar bersama ketiga monster.


Aku menatap langit-langit kamar setelah siuman. Tidak menyangka, manusia itu bisa menikah juga. Aku sangat terharu, bahkan sampai tidak tahu harus bagaimana.


"Apa kalian percaya, bibi Shelin akan menikah? Kalian percaya? Tidak, kan? Aku juga tidak," tanyaku pada ketiga monster yang sibuk bermain mobil mini mereka.


"Jika Shelin menikah, siapa yang akan mengurus perusahaan? Siapa yang akan menjaga kalian jika aku butuh? Seharusnya dia tidak menikah secepat ini."


Aku senang jika Shelin menikah, tetapi aku juga akan merasa kehilangan. Dua sisi yang amat sulit bagiku.


"Menurut kalian aku harus menikah?" tanyaku, dan kali ini ketiga monster itu menatapku tajam.


Memangnya mereka tahu apa itu menikah?


Ketiganya mendekatiku. Duduk di samping, dan hanya Zio yang duduk di atas perutku. Tatapannya masih sama, seperti Vampire tengah kehausan darah.


"Darahku sudah membusuk, cari yang lain saja," tuturku, tidak ada respon.


"Papa hanya milik kami, tidak ada yang boleh memiliki Papa," ujar Zio, si biang kerok ini meremas bajuku.


"Kakak benal, Papa milik kami!" ucap Vio, mengikuti kakaknya, Zio.


"Kami sedang belmain delama, apa akting kami sudah bagus?" tanya Nio, bersikap bagai aktor. Setelahnya, mereka tertawa geli.


Aku pikir mereka benar-benar tahu soal pernikahan, ternyata tidak, aku terlalu berekspetasi tinggi. Jika saja mereka tahu apa itu pernikahan. Mungkinkah mereka akan mencekikku? Karena pernikahan akan membuatku melepas mereka, jauh dari mereka, dan kenyataan pahit lainnya.


Kapan mereka dewasa?


"Apa kalian percaya, bibi Shelin akan benar-benar menikah?"


"Tidak." Vio bergeleng, anak itu juga tidak percaya.


"Tidak, kan? Aku juga berpikir begitu," sahutku heboh, karena Vio satu pemikiran denganku.


"Kalian juga tidak percaya, kan?" tanyaku pada Nio dan Zio.


Keduanya serempak menjawab tidak. "Benar, itu memang tidak mungkin!" seruku, layaknya menemukan jawaban teka-teki.


"Aku juga tidak percaya itu. Ternyata kalian memang anakku." Aku tertawa senang, karena kali ini kami berempat memiliki satu jawaban yang sama. Dan berakhir memeluk ketiganya.