Because I'M Father

Because I'M Father
Insiden bom meledak



Selesai sarapan, dan dapur sudah mulus seperti semula, kini waktunya monster kecil mandi.


"Waktunya mandi anak-anak. Jangan membuat Papa kesal hari ini saja!" pintaku tidak ada yang menggubris.


Aish, mereka ini. Kulihat mereka sibuk sendiri tanpa berniat pergi mandi.


"Nio sedang tidul, Nio tidak dengal," ucap Nio, menarik selimut dan berpura-pura tidur.


Apa-apaan anak itu.


"Vio--"


"Mega Man, Mega Man." Vio malah asik bernyanyi menirukan serial kartun dengan memainkan motor mininya.


Harapanku tinggal Zio, sebelum aku benar-benar meninggal.


"Zio, anak yang paling baik. Ayo ke kamar mandi, sebelum airnya berubah dingin," pintaku masih berusaha tersenyum malaikat.


Anak itu malah tidak mendengarkanku. Terus menyedot jusnya dan mengacak-acak baju di keranjang yang sudah aku rapikan. Sebentar lagi aku akan pingsan. Demi apa pun, aku sudah tidak tahan!


Meminta mereka mandi tidak semudah saat meminta mereka makan. Waktu makin siang, tetapi aku harus membuang sampah di perut agar selamat lebih dulu. Sepertinya aku mengalami diare.


Akhirnya pantatku duduk di kloset. Seketika bunyi aneh itu berulang kali terdengar. Kuingat kembali, makan apa aku kemarin. Aku tidak merasa menelan kadal, mengapa bisa diare.


Setelah selesai, aku kembali ke ruang tengah. Para monster masih tenang dengan mainan mereka. Terkutuk sambal yang tadi malam aku makan telah merusak perutku.


Tiba-tiba, telepon masuk dari Mama. Waktu yang tepat untuk memberitahu aku tengah sekarat.


"Cepatlah datang, bawa semua anakmu. Shelinberulang tahun, kita buat kejutan."


"Ma--" Belum sempat aku menyahut, wanita yang melahirkanku itu menutup teleponnya.


Tamat riwayatku.


••••


Di rumah Mama, kami sibuk menyiapkan kejutan, memasang balon dan atribut lainnya. Bahkan, para monster tidak luput dari atribut menggemaskan. Mereka memakai sayap di punggung, tampak seperti malaikat sungguhan. Pipi bakpao ditambah kulit putih bersih merah di pipi, mereka memang anakku.


"Ya Tuhan, kalian adalah hadiah terindah dari yang kuasa. Beruntung aku menyaksikan ini, karena kedua anakku sangat tidak bisa diandalkan," ujar Mama, begitu gemas pada ketiga monster, tetapi enddingnya menjatuhkanku juga.


"Shelin sudah dekat, cepat nyalakan lilinnya. Kita ke depan pintu sekarang," titah Papa, dan kami langsung berdiri di belakang pintu utama.


Sembari menunggu kami menaburkan bunga di jalan menuju kue di meja. Tampak sangat hebat acara ulang tahun kali ini. Meski tidak ada yang diundang, hanya keluarga inti.


"Di mana Zio?" tanyaku, saat satu monster tidak berada dalam pengawasan.


Si kembar hanya bergeleng, memegangi sayap mereka. Akhirnya aku menoleh ke meja di mana kue besar ada di sana. Demi apa pun, dia tengah menikmati kuenya. Tamat sudah riwayatku.


"Astaga, apa yang dia lakukan?" Mama berlari dan membuat si tersangka Zio menjauh dari kuenya.


Biang kerok satu itu memang hebat dalam membuat kekacauan. Aku hanya bisa melihatnya, sembari menahan perutku yang mulas, membiarkan Mama membereskan masalah Zio.


"Alden, kenapa kau diam? Bawa anakmu bersamamu, aku akan membereskan ini," tutur Mama, tengah membereskan kue yang telah dirusak oleh Zio.


"Aku rasa dia bukan anakku," jawabku frustasi.


"Seharusnya kau awasi dia," ujar Papa, membuatku, aish kesal sekali rasanya.


"Seharusnya aku memasukan mereka ke kantungku," gumamku, pasrah.


Akhirnya, Zio mendekat karena merasa bersalah telah mencicipi kue sebelum waktunya.


"Aku hanya mencicipinya," ungkap Zio tanpa aku tanya.


Karena tidak mungkin memesan kue baru, terpaksa membiarkannya. Kami kembali bersiap, menunggu Shelin datang.


Lima menit berlalu, kami sangat antusias. Tetapi manusia satu itu tidak kunjung datang.


"Kalian sedang apa?" Suara Shelin dari belakang kami.


Sontak kami berbalik, ternyata Shelin lewat pintu belakang. Semua menjadi berantakan.


"Kenapa kau lewat belakang, kami sudah membuat jalan bunga ini. Cepat ulangi dari depan!" titah Mama, sudah emosi.


Shelin pun menurut, kembali ke halaman depan, seolah baru saja datang. Wanita itu akhirnya membuka pintu utama.


"Kejutan! Selamat ulang tahun!"


"Wah, aku sangat terkejut," seru Shelin. Tentu saja jadi tidak seru, karena dibuat-buat.


Para monster pun mengerjakan tugasnya. Menuntun Shelin ke meja di mana ada kue putih besar. Selepasnya, mereka kembali berlarian dengan sayap mainan itu mengitari rumah.


"Tiup lilin dulu!" protes Shelin tidak terima.


Padahal aku berharap acara ini cepat selesai. Aku sudah tidak tahan dengan diareku yang semakin parah. Takut kebocoran aku memilih duduk, karena  takut akan seperti Rucika, mengalir sampai jauh.


Selesai lilin ditiup dan kue dipotong. Aku segera pergi untuk BAB. Tidak perlu diceritakan, tiga hari tiga malam tidak akan doyan makan.


Saat aku kembali, kue sudah dibagikan. Para monster sudah memakannya, bahkan wajah mereka ikut menikmati kuenya. Tidak peduli, aku tengah mulas.


"Umurmu sudah tiga puluh satu, kapan kau akan--"


"Mama! Tidak bisakah jangan merusak hari ulang tahunku?" protes Shelin, tampak sangat gundah gulana.


"Baiklah. Alden … si kembar sudah besar, kau bisa melanjutkan pendidikan dan mengejar mimpimu seperti orang normal. Percayakan pada kami," ujar Mama, setelah gagal menceramahi Shelin akulah korban selanjutnya.


Sungguh, aku sudah bosan menangani situasi yang sulit dijelaskan ini. Aku tidak bisa menjelaskan kalau si kembar tidak akan bisa bersama orang lain.


"Mereka seperti ekor. Apa kau akan memotong ekorku?" Aku bertanya dengan memberi perumpamaan.


"Lalu kau akan tua dengan menduda? Sekarang kau masih muda, kejar mimpi yang belum sempat kau gapai," bujuk Mama, masih saja menghawatirkan keadaanku.


"Tidak ada keadaan yang jauh lebih bahagia dari ini. Berhentillah menghawatirkanku, Ma," sahutku seraya meremas perut yang mulai melilit.


"Ya Tuhan, kenapa kau berikan dua anak yang tidak berguna ini? Tidak satu pun yang membuatku bangga," tutur Mama begitu frustasi dengan kepala menengadah.


"Papa, bicaralah dengan mereka, aku mohon," pinta Mama pada suaminya itu.


"Lihat wajah Alden, dia bahkan meledekku," adu Mama, kesal saat melihat wajahku.


Ada apa dengan wajahku?


"Alden! Kau sangat tidak sopan!" ujar Papa begitu marah.


"Memangnya apa yang aku lakukan?" Tubuhku sudah miring kesana kemari karena mulas.


"Alden, berhentilah bercanda atau kita akan mati. Papa dan Mama sedang marah," ujar Shelin memperingatkanku.


"Aku sedang diare. Sumpah, aku tidak bohong!" jawabku, tangan kiri sudah menutup pantatku. Wajahku, aku tidak tahu bagaimana ekspresinya, pasti sudah seperti simpanse.


"Kau masih bisa bercanda? Kau akan merusak ulang tahunku, Al," ucap Shelin, membuatku semakin kesal.


"Apa ulang tahunmu masih penting? Aku benar-benar sedang diare," jawabku jujur.


Mereka semua terlanjur menganggapku kekanakan. Beginilah masa gawat darurat, aku terlalu banyak bercanda hingga serius pun tidak bisa ditebak.


"Alden, berhenti bercanda atau aku akan benar-benar menghukummu!" ancam Papa.


Terpaksa aku duduk dengan benar, sedangkan perutku seperti berbunyi kloset tengah disiram.


"Shelin, Alden-"


"Tidak!" pekikku membuat Papa berhenti bicara.


"Alden! Kau benar-benar keterlaluan, sedari tadi kau terus saja bercanda. Papa sedang bicara!" ujar Mama, kali ini benar-benar marah.


Mereka tidak bisa mengerti penderitaanku. Apa aku harus berteriak layaknya orang melahirkan, sedangkan aku hanya ingin mengeluarkan sebiji jagung.


Demi jenggot Firaun, aku sudah buka tujuh.


"Akk, sudah buka tujuh!" tuturku, mengempet alias menghimpit kekacauan dalam perutku.


"Jawab pertanyaanku untuk terakhir kalinya. Apa aku masih anak bayi kalian?" tanyaku, di sela-sela emergency bagian belakang.


"Tentu saja, kau masih bayi kecil kami," jawab Mama, meyakinkanku.


"Baiklah, berarti tidak masalah jika bayi besar ini buang air besar di celana bukan?" tanyaku, setelah kentutku keluar, beruntung teman-temannya tidak ikut keluar, masih bisa aku lockdown.


"Iew, Alden terkutuk!" Shelin menjerit menutup hidungnya.


"Kenapa kau tidak ke kamar mandi?!" pekik Mama ikut menutup hidungnya.


"Sudah aku bilang dari awal, aku sedang diare, tapi kalian memaksaku untuk menahannya. Ini semua bukan salahku!" ujarku, tidak mau disalahkan.


Tentu saja jika mereka mengizinkanku pergi, ini tidak akan terjadi. Beruntung aku bisa menahan ampasnya, jika tidak, entah apa yang akan terjadi. Huh, lega.


"Lihat anakmu. Tidak ada yang benar satupun. Aku memiliki lima bayi sekarang!" ujar Mama pada Papa.


Maaf, bomnya melepaskan diri.