Because I'M Father

Because I'M Father
Alden menikah



Tidak aku sangka, tidak terpikirkan olehku sebelumnya. Hari ini, hari pernikahanku. Semua terasa mendadak, tidak direncanakan.


Aku lihat pantulan cermin, pria tampan ini tampak begitu menawan. Ini seperti pernikahan pertama untukku. Rasa berdebarnya sama seperti dulu.


Akhirnya aku melangkah pada pelaminan. Wanita cantik telah menungguku di sana. Gaun putih menjuntai dia pakai, bahkan senyumnya menyambut kedatanganku.


Betapa bahagianya aku hari ini. Karpet merah di gelar hanya untuk aku melangkah. Karangan bunga menghiasi pernikahanku hari ini. Terasa begitu sakral.


Aku memakai kemeja dan jas warna senada. Putih kami pilih untuk pernikahan dadakan ini. Jika tahu menikah sebahagia ini, aku sudah melakukannya sedari awal.


Para monster kecil membawa bunga di tangannya. Mereka kompak memakai jas hitam dengan dasi kupu-kupu, menghampiriku di pelaminan.


"Selamat menikah, Papa," ucap mereka bergantian, sembari memberi buket bunga.


Shelin menuntun mereka agar tidak melakukan kesalahan. Tidak aku sangka aku telah menikah hari ini. Para monster akhirnya memiliki Mama, dan aku memiliki teman tidur. Begitulah seharusnya.


Orang tuaku tampak bahagia. Mama menangis untuk hari impiannya ini. Aku berharap, ini adalah pernikahan terakhirku, hingga kematian memisahkan kami.


Selesai akad, semua tahu bukan aku akan kemana dan apa? Tentu kembali ke apartemen, ke rumah bersama istri dan ketiga anakku.


"Aku mencintaimu, terima kasih telah menerima pernikahan ini," ucapku begitu tulus.


Istriku tersenyum, mengecup pipiku sekilas lalu memelukku. Mendadak para monster ikut mencium pipiku. Membuat tawaku pecah karena ulah mereka.


Tiba-tiba, aku menjadi ingat ini hari pertama penikahanku. Tentu ini malam pengantin bukan? Baik, aku bukan lagi perjaka, tetapi tetap saja itu berlaku bukan?


Kutatap para monster, kemana mereka akan aku buang malam ini? Ah, tentu mereka harus tidur lebih dulu.


"Siapa yang ingin susu cokelat?" seruku, tentu ketiga anak kembar itu langsung berdiri dan mengangkat tangan dengan tinggi.


"Aku mau, setengah gelas saja," pinta Nio, anak itu memang selalu minum setengah gelas.


Setengah gelas dewasa maksudnya.


Sambil aku mengeloni mereka, aku suruh istri cantikku itu pergi ke kamar kami lebih dulu, dan aku akan menidurkan para monster pengganggu ini.


"Papa, aku senang punya mama," ungkap Vio, kembali meminum susunya dengan dot.


Kedua saudaranya sudah terlelap, tetapi yang satu ini memang sangat cerewet dan sulit tidur.


Sangat tidak pengertian. Cepatlah tidur, ini malampertamaku Vio.


Bukannya tidur, Vio malah mengajak menonton Pororo. Terpaksa aku menurutinya.


"Hei Tayo, hei Tayo." Vio bernyanyi dengan asal, suara manisnya menggelitik.


Tunggu dulu. Dia nonton Pororo, kenapa bernyanyi Tayo? Sudahlah, itu tidak penting.


"Kapan kau akan tidur, um?" tanyaku, mulai frustasi.


"Aku tidak mengantuk," jawabnya, masih setia duduk dan kepalanya mengikuti irama.


Sembari menunggunya bosan, aku meminum kopi, dan mataku berkali-kali menatap pintu kamar, yang di dalamnya ada seorang wanita yang sah menjadi istriku. Aku bahkan belum juga sadar, kalau ini sungguhan.


Saat aku tengok Vio, anak itu sudah tertidur dengan mengisap jempol. Syukurlah, akhirnya masa menungguku berakhir.


Aku masuk ke kamar, mendadak jantungku berdebar. Mendadak tidak fokus saat melihatnya sudah dalam selimut.


Bagaimana aku akan memulainya?


Kutarik napas panjang, kemudian berdehem untuk memberitahunya aku sudah datang.


"Kau lelah?" tanyaku.


Benar, aku melakukannya dengan baik. Dia menjawab dengan menggeleng, dan aku mengangguk.


Saat aku tengah frustasi memikirkannya, dia malah memelukku. Jelas itu membuatku terkejut. Tubuhku memanas, seperti terstrum listrik.


"Papa, Papa!"


Tangisan itu terdengar jauh, lalu terdengar begitu dekat hingga aku membuka mataku dengan sempurna. Aku melihat Nio menangis sembari memegangi popoknya yang terisi penuh. Sedangkan Vio dan Zio menangis dengan ketakutan.


"Apa yang terjadi? Di mana istriku?" Aku bertanya, tetapi hanya tangisan yang semakin keras menyambut.


Aku sadarkan diriku, dan ternyata hanya bermimpi. Aku masih Alden si duda keren beranak tiga, dan aku masih di kasur dengan ketiga anak kembar yang rusuh ini.


Jadi, semua tadi hanya mimpi? Kenapa begitu nyata. Kenapa mimpiku bisa sepanjang jalan kenangan.


Sebelum aku menyadarkan diri, aku atasi ketiga monster yang sepertinya lapar. Sembari memasak, aku melamun. Bahkan sampai ketiga monster selesai makan, aku masih memikirian mimpi yang seperti nyata itu.


"Pantas wajah pengantinnya buram dan rata, seperti foto yang terlalu banyak editan," gumamku, merasa tidak waras.


"Bagaimana bisa aku mimpi seperti itu? Apa ini pertanda aku akan segera mati? Tidak!" Aku berteriak membuat Nio, Zio dan Vio langsung mendekatiku dengan takut.


Mereka pikir ada sesuatu yang mengerikan. Aku tatap mereka dengan derai ketakutan. "Papamu akan segera mati, bagaimana ini? Aku bermimpi menikah, orang bilang akan mati setelah mimpi begitu. Bagaimana Nio, Zio, Vio? Selamatkan aku!"


Aku memeluk mereka, benar-benar takut sekarang. Jika benar aku segera tiada, siapa yang akan merawat anakku? Tidak! Apa yang telah terjadi?


"Aku juga mimpi malam pertama."


Aku kembali bergeleng. Bahkan malam pertama tidak sampai endding, yang memelukku hanya wanita wajah rata.


"Siapa yang akan merawat kalian? Sepertinya kematian segera menghampiriku, bagaimana ini?" Aku kembali merengek, dan anak-anak duduk di dekatku dengan bingung.


"Apa kita halus menyiapkan pemakaman?" tanya Nio polos, seraya mengelus wajahku.


"Plia malang," ucap Vio mengelus kepalaku.


Aku semakin menjerit, sepertinya para monster kecil telah siap kehilanganku. Kenyataan paling pahit adalah, aku mati sebagai duda. Pasti akan ada gosip, kalau aku meninggal karena frustasi, atau lebih parah karena bunuh diri. Itu sama sekali tidak benar.


Ketiga monster menatapku iba. Sepertinya aku memang pria malang, bukan Bandung atau Jakarta. Ini beda.


"Tidak apa-apa, kau olang baik," ucap Zio, menenangkanku.


"Olang baik akan masuk sulga," lanjutnya.


Aku ingin menangis. Kebahagiaan mana yang aku dustakan? Sedangkan aku tidak pernah mengeluh. Pernah si, hanya untuk selingan saja, tetapi jangan hukum aku karena itu. Jangan hukum aku dengan kematian yang cepat Tuhan, aku tidak bisa meninggalkan dunia sedini ini.


"Ini disebut kematian dini, bukan Pernikahan Dini," gumamku, masih meratapi nasib.


"Papa, fighthing!" seru Vio, kini duduk di kakiku yang selonjor.


Dia bahkan menyemangatiku untuk segera tiada. Anak-anak ini memang tidak berakhlak seperti papanya. Ini pertanda jika mereka memang keturunanku.


Aku harus menemui kedua orang tua. Meminta maaf dan menitipkan para monster pada mereka. Takut, kalau besok atau lusa aku benar-benar terbujur kaku sebagai mayat paling tampan yang pernah ada.


"Anakku, berdoalah. Saat hari kematianku tiba, aku bisa hidup kembali karena ada orang yang bernyanyi 'Harusnya aku yang di sana' dan orang itu akan menggantikanku, um?"


Ketiganya mengangguk. Entah paham atau tidak, mereka hanya mengangguk seperti burung beo.


Papa, Mama, i'm coming.