Because I'M Father

Because I'M Father
Apa lagi?



Tidak ada angin, apa lagi hujan. Kali ini bukan Mama yang kembali membuat ulah, tetapi Papa. Saking tidak percayanya, aku hanya bisa terduduk di lantai apartemen ini dengan menatap gadis yang tengah bermain dengan ketiga putraku.


Dia benar-benar mendatangkan gadis ke rumahku. Apa lelaki yang menjabat sebagai Papaku itu tidak memikirkan resiko?


Kini gadis yang bernama Melia itu mendekatiku. Gadis berusia dua puluh tahunan itu Papa jodoh denganku. Lihat saja apa yang akan aku lakukan untuk menggagalkannya.


"Aku merasa bahagia bermain bersama mereka" Ujar Melia duduk di sampingku. "Mereka bertiga cukup ramah"


Dia belum tahu saja, bagaimana mood Monster jika tengah jelek. Habislah sudah riwayatnya.


Aku tersenyum untuk kali ini saja, aku akan bersikap baik padanya. Karena Melia adalah putri teman Papa. Aku harus tetap elegan dalam merancang rencana agar Papa ku tidak malu, memiliki anak sepertiku.


"Kau setuju jika menikah denganku?" Aku mulai melempar pancingan.


Aku lihat dia menunduk lalu mengangguk tanpa menatapku. Dia menyembunyikan rona di pipinya.


"Kapan kau ingin menikah?" Kali ini dia langsung menghadapku.


"Jika kau ingin secepatnya, akan aku lakukan" jawab Melia.


Nenek Lampir ini, apa dia tidak sadar. Apa yang akan terjadi jika dia menikahi ku?


"Benar. Mari kita menikah secepatnya?" Ujarku dengan tersenyum kemenangan, lihat saja apa yang akan kulakukan.


"Sungguh? Kau akan menikahi ku?" Ucapnya antusias.


Apa aku setampan itu? Kenapa bocah ini menyukai duda sepertiku? Ya ampun, seleranya rendah sekali. Padahal dia cantik, kulit mulus, mata indah, rambut panjang, dia bisa saja mencari pria tampan di luar sana. Kenapa harus aku? Haruskah aku senang?


Aku mengangguk dan dia langsung memelukku. Sesungguhnya aku takut berdosa harapan pada gadis muda ini.


"Aku akan memberimu tiga anak juga" ucapku seraya mengelus punggungnya. "Aku akan membuatmu mengandung tiga anak"


"Hah"


Dia terkejut dengan pertanyaanku dan langsung melepaskan pelukannya.


"Kau tahu aku tokcer" aku tertawa dalam hati yang sudah menggema.


"Tapi... Aku-"


"Kau ingin lima sekaligus? Baiklah" tawarku seolah tertarik menikah dengannya.


"Malam pertama, kita akan tidur bersama mereka semua. Kau tahu itu kan?"


"Hah" Melia semakin syok mendengar pertanyaanku satu persatu.


Ayo lari atau menangislah. Menikah denganku bukan hal yang mudah. Lagi pula, aku akan memilih wanita yang menerima para monster kecil tanpa pamrih. Dan yang benar-benar menyayangi mereka seperti anaknya sendiri.


"Jika kita menikah, kau lah yang akan mengurus mereka semua dan aku akan bekerja sebagai seorang suami. Kita akan sangat bahagia." Penuturanku sangat apik. Aku mencoba merangkulnya.


Namun, dia mendorongku agar tidak merangkulnya. Itu pertanda rasa takut sudah menjalari jiwanya.


Bagus Alden kau melakukannya dengan sempurna. Kau memang hebat Alden.


"Bukan begitu. Apa tidak bisa kau tetap di rumah bersamaku untuk merawat mereka bersama?" Melia tampak gugup mengatakannya.


"Lalu, aku harus memberimu makan apa? Cinta? Kau akan mati kelaparan" Tuturku masih menyunggingkan senyum.


Jujur saja, pilihan Papa ini memang tidak salah sehingga mudah sekali untuk menggagalkannya. Gadis muda ini ambisinya masih tinggi, lebih memikirkan gaya hidup. Tidak sulit untuk menakutinya dengan bayangan kelam masa depan.


"Ngomong-ngomong, kau mau membantuku untuk mencabut bulu ketiak? Bulu ketiak ku sudah subur, calon istri yang baik ha--"


"Bisakah kita bicarakan ini? Maksudku.. masa depanku" potongnya masih gugup.


Tentu, sudah aku duga dia akan memikirkan dirinya sendiri. Aku menunggu keputusannya.


"Aku masih memiliki mimpi, aku harap kau biarkan aku mengejar mimiku. Sampai saatnya tiba kita menikah" kata Melia tertunduk.


Tidakkah dia mengantar nyawanya kesini?


"Aku akan bicara dengan Papa, aku harap kau mengerti tentang mimpiku" tambahnya.


Aku tersenyum seraya mengelus rambutnya. Aku tidak marah sama sekali karena aku berharap dia kembali pada orang tuanya. Membantuku menggagalkan rencana bodoh ini. Seandainya aku siap menikah pun, pasti aku memilih wanita yang sepadan. Bukan gadis muda sepertinya.


Melia mengangguk setelah mendapat penjelasan dariku.


"Aku tidak akan menjadi istrimu. Sampai jumpa, senang bertemu denganmu!" Pamitnya berdiri lalu memberi salam ala Korea. Dia pergi dengan sedikit berlari. Dia tampak sedih, entah kecewa karena kita tidak bisa bersatu atau karena takut.


Setelah gadis itu pergi aku berdiri dan. "Yeah! Alden memang hebat!" Teriakku berjoget heboh.


"Ada apa?" Tanya Zio tampak bingung. Mendongak karena tubuh pendeknya.


"Papa sedang bahagia? Kenapa tidak mengajak kami?" Tanya Nio mengerucutkan bibirnya.


Pada akhirnya aku mengajak mereka bergoyang bersama. Berteriak tidak jelas hingga apartemen penuh dengan teriakan kami berempat.


°°°


Satu jam setelah kepergian gadis itu, Papa dan Mama datang langsung menghampiriku dan para monster yang sedang melihat kendaraan dari jendela.


"Alden" teriak Mama, aku menutup kupingku lalu menghampiri keduanya.


Papa terlihat marah tapi hanya diam. Tidak bergeming. Mama? Tentu saja tangannya sudah berkacak pinggang bak model yang akan melakukan catwalk.


"Kenapa kau menakutinya? Apa yang telah kau katakan pada hingga dia menolaknya?" Mama bertanya kesal.


Apa secepat itu beritanya menyebar?


"Aku bilang, aku akan menikahinya dan memberinya tiga anak kembar juga" beritahuku membuat Mama langsung mengambil sapu. Aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Dasar anak tengik! Kenapa kau lakukan itu Alden. Kau memang sangat nakal" ucap Mama memukul bokong ku dengan sapu.


Aku berlari untuk menghindar meski tetap saja sapu itu mendarat tepat di bokong, di tambah omelan Mama yang terus menghiasi hukuman ini. Mama terus memukulku dan mengomel seperti ibu tiri.


"Maafkan aku, Ma! Aku minta maaf terus membuatmu kesal! Tapi aku menyayangimu."


"Aku tidak percaya! Kau membuat semua orang membicarakan keluarga kita! Kau dan Shelin sama saja! Tidak berguna!" Mama masih saja kesal, dan memukulku seraya mengejarku yang terus berlari menghindari ayunan sapunya.


"Aw sakit, Ma! Aku minta maaf!"


Akhirnya Mama berhenti. Wanita itu duduk dilantai sambil mengatur nafasnya. Sedangkan aku masih berdiri, memegangi bokongku yang terasa perih akibat terkena pukulan sapu sialan itu.


Sesaat aku mengingat tingkah ke kanak-kanakanku yang membuat kedua orang tuaku lelah menghadapiku. Terkadang aku sering merasa bersalah. Aku ingin membuat kedua orang tuaku bangga tetapi takdir seperti tidak menyetujuinya.


"Hidup itu Tuhan yang menentukan, kita yang menjalani, orang lain yang mengomentari. Setelah aku atau Shelin yang menikah, mereka tidak akan berhenti membicarakan kita, mereka akan mencari bahan lain" ujarku membuat Mama menatapku lesu. Terlihat mendengus tetapi setuju juga.


"Kau selalu pandai membuatku memaafkanmu"


Aku memeluknya erat, wanita yang sebenarnya hatinya lembut ini adalah Mama terbaik. Tidak ada wanita sepertinya, yang memukulku tetapi menangis setelahnya. Yang memarahiku untuk kebaikan sebenarnya. Dia yang paling peduli dengan caranya.


Aku menatapnya, mengelap keringatnya yang menetes. "Aku menyayangimu, Ma" ucapku tersenyum manis.


"Kau kerasukan apa?" Kata Mama terkekeh.


°°°


Kini aku berada di kamar setelah orang tuaku pulang. Bersama ketiga Monster yang tengah melihat keadaan bokongku, sedangkan aku tengkurap dengan celana sedikit melorot. Aku yakin bokongku sudah berwarna biru, merah, ungu, atau yang lain. Padahal sebelumnya putih mulus, persis seperti lantai kamar mandi ku.


"Astaga aku tidak pelcaya" ungkap Vio terkejut ketika melihat keadaan bokongku.


"Apa separah itu, sampai si bungsu terkejut? Kini giliran Nio dan juga Zio yang terkejut. Membuatku penasaran dengan keadaan bokongku saat ini.


"Sabal Papa, bokongmu sudah sepelti zebla" Ujar Zio membuatku meringis miris.


"Menulutku ini sepelti gelhana bulan" sela Nio memiliki pendapat pribadi.


Dari semua reaksi mereka, sudah pasti bokongku ini berubah menjadi pantat panci gosong. Tidak terpikirkan akan sampai menjadi begini. Aku bahkan tidak bisa duduk. Kulitkku memang sensitif seperti bayi.


"Walnanya sudah berubah menjadi abu-abu" ungkap Zio sambil menyentuh bokongku pelan.


"Sudah tutup kembali, ini bukan tontonan pasar malam" titahku dan mereka menurut.


Mereka kembali menggangguku dengan naik ke punggung. Ketiganya mulai rusuh dengan permainan kuda-kudaan yang tidak pernah aku suka. Malang sekali bokong mulusku harus burik sementara. Akan aku oleskan minyak jelantah agar tidak kering.


Perhatian. Jangan ditiru di rumah, hanya di lakukan oleh profesional.