Because I'M Father

Because I'M Father
Get well soon buah hatiku



Tangisannya semakin membuatku merasa bersalah. Sejak semalam, si sulung-Nio demam tinggi. Pantas kemarin dia tampak tidak bersemangat.


Aku sudah membawanya ke Dokter, dan sudah memberinya obat, meski terjadi drama lebih dulu, tetapi berhasil meminumkan obatnya. Selama ini aku mengalami banyak kesulitan jika para monster ada yang sakit.


"Kakak kenapa telus menangis?" tanya Vio, tampak sedih melihat kakaknya.


"Kak Nio sakit. Berjanjilah padaku, kalian berdua tidak akan sakit sepertinya, um?" Vio dan Zio mengangguk serempak.


"Aku tidak akan sakit," ujar Zio, begitu bersemangat.


Dulu, pernah ketiganya sakit bersamaan, anak kembar memang seperti itu, jika salah satunya sakit, yang lainnya akan menyusul. Aku bersumpah itu sangat membuatku menderita. Semoga kali ini tidak akan terjadi.


Dokter bilang Nio terkena radang tenggorokan, itu alasan anak sulungku ini sulit makan, dan selalu menangis dengan keras karena tenggorokannya sakit untuk menelan. Ditambah ingus yang naik turun seperti roller coaster di hidungnya.


"Maafkan, Papa. Papa memang payah dalam menjagamu." Sesekali mencium Nio yang berada dalam pelukanku.


"Semoga Tuhan berbaik hati, memindahkan rasa sakitmu padaku." Tanganku menguncup, seolah mengambil penyakit Nio lalu memindahkannya dalam tubuhku. Jika para monster sakit, hatiku lebih sakit.


"Kau akan sembuh, sakitnya sudah aku ambil, um?" Aku tidak ada hentinya berdoa dan menenangkannya.


Hari ini, aku tidak mengatakan pada siapa pun Nio sakit. Kami terbiasa menangani ini sendiri. Meski pada akhirnya, tidak akan ada yang mandi satu pun.


Jika aku atau salah satu monster yang sakit, tetap saja tidak mandi. Yang sakit satu orang, yang bau empat orang.


Kami seperti kambing dalam kandang. Beginilah kenyataannya, dan aku tidak pernah menangis. Tidak menangis, hanya mewek saja.


Makan? Biasanya aku memesannya, atau meminta karyawan restoranku mengantarnya, dan akan menggedong salah satu putraku yang sakit sepanjang hari.


Kini Nio menangis, terus saja merengek. Aku tidak tahu apa yang dia rasakan, dan tidak tahu harus apa. Demamnya belum turun, jadi bajunya aku buka. Namun, kini aku buka juga bajuku untuk menghangatkannya. Memeluknya dengan telanjang dada.


"Apa sangat sakit?" tanyaku, tetapi mendapat bogeman lemah darinya.


"Kenapa kau memukulku?" Nio memukul sambil terus menangis.


Mungkin dia marah karena aku bertanya 'Apa sangat sakit'. Jika dalam keadaan normal, mungkin dia akan menjawab 'Apa itu perlu ditanyakan?!' sambil berteriak.


Melihat ingusnya keluar, aku meraih tisu. Namun, anak itu meraihnya dan mengelapnya sendiri. Aku tersenyum menanggapinya, dan menerima tisu bekasnya.


Oh, tisu yang tadinya kering menjadi begitu basah.


"Kenapa kau berikan padaku?" Aku terlanjur menggenggam tisu penuh ingus anakku itu.


Baiklah, ini hanya ingus. Hanya ingus! Oke.


"Aku akan buka baju juga," ujar Zio membuka bajunya.


"Aku juga!" seru Vio mengikuti kami.


Mungkin mereka berpikir ini menyenangkan, menganggap ini permainan. Mereka tampak menikmatinya, terkikik tanpa alasan pasti.


"Yei, kita semua buka baju," ujar Zio begitu senang.


Selama tidak melakukan dosa, aku tidak akan melarang mereka dan memperburuk mood mereka, atau, dunia akan menjadi kacau, karena mereka adalah monster pembuat kekacauan.


"Kita halus memeluk Papa dan Kak Nio," usul Vio. Keduanya mendekat dan memelukku yang tengah memangku Nio dalam pelukan.


"Kalian memang hebat dalam membuatku menangis," tuturku, menghadirkan kekehan dari para monster.


"Bus. Bus." Nio berujar lemah dengan rengekan suara serak, seperti tengah bergumam.


"Sembuhlah, kita akan naik bus bersama, um?" sahutku, berjanji dalam hati akan mengajaknya naik bus setelah dia sembuh. Nio mengangguk menanggapi jawabanku.


Sepertinya dia menyukai bus, saat sekolah kemarin dia juga membuat bus. Semoga saja, janjiku akan memberinya semangat untuk sembuh.


"Papa menangis?" Vio bertanya seraya mengelap air mataku yang jatuh.


"Aku tidak menangis. Hanya mewek," jawabku, agak ngawur.


"Apa itu mewek?" tanya Vio dengan wajah polos, bertanya pada kakaknya, Zio.


Tiba-tiba Zio mengambil buku di rak. Membawanya ke atas kasur, membukanya dengan wajah serius.


"Binatang melata?" tanyaku tak percaya, karena dia menyamakan tangisanku seperti hewan melata.


"Iya, hewan melata yang milip dengan bengkalung," ungkapnya, tangannya seolah membentuk hewan tersebut.


"Itu biawak! Beda dengan mewek," protesku, seketika menepuk dahiku kencang.


"Oh, iya? Sepeltinya sudah ganti nama," ujar Zio terkekeh malu.


"Sudah membuat bubul putih juga," sela Vio, semakin membuatku tidak paham.


Aku mulai mengantuk mendengarkan pembicaraan mereka. Karena anak kecil selalu memiliki dunia yang tidak bisa dipahami orang dewasa.


Tidak sadar, sampai sore kami tidur dengan telanjang dada. Bahkan aku baru terbangun saat mendengar suara Shelin yang berteriak keras.


"Apa kalian sedang membuat adegan model, huh? Kenapa kalian semua telanjang dada? Kalian sudah seperti ikan asin yang tengah dijemur!" ujarnya keras.


Wanita itu memang tidak bisa bicara pelan. Tentu saja membangunkan para monster kecil.


"Apa mulutmu ingin aku sumpal dengan popok bekas anakku, huh?" tanyaku, seraya memijit kepala yang terasa pening.


Ditambah tangisan para monster sudah seperti segerombolan lebah yang menyerangku. Bahkan, mereka sudah mulai merayapi tubuhku. Semua mendadak ingin dipangku, sedangkan yang sedang sakit harus lebih aku utamakan. Kacau sudah situasinya.


"Apa kau hanya akan diam melihat ini? Kau akan menunggu kami berakhir jadi ikan asin?" Setelah mengatakan itu, barulah wanita itu mengambil Nio dengan terkekeh.


Aku pun beranjak, memakai baju dan juga memakaikan baju pada ketiga monster. Aku pakaikan juga kaus kaki agar tidak dingin saat menginjak lantai.


Kutemui Shelin di ruang depan. Ia tengah memangku Nio dengan tenang, tidak seperti biasa yang selalu berteriak takut.


"Tumben kau menanganinya dengan tenang?" ujarku, setengah memuji.


Seketika, ucapanku membuatnya bersikap angkuh. Menyibakkan rambut begitu percaya diri. "Tentu saja, karena anakmu sedang tidak berdaya. Apa mereka harus sakit agar aku bisa tenang seperti ini?" tanya Shelin menyulut emosiku.


"Apa kau ingin mati sebelum menikah? Kau benar-benar membuatku berubah jadi gerandong!" pekikku kesal.


"Aku hanya bercanda, sumpah!" pekik Shelin takut.


"Kak, kau benar-benar akan menikah?" tanyaku, kini berubah bergelayut di lengannya.


"Siapa yang bilang?"


"Mama, papa mengatakan itu padaku kemarin. Aku melihat fotomu dengan calon mertuamu. Kau benar-benar akan menikah? Kau tega meninggalkan kami? Umm? Kau tidak kasihan padaku?" ujarku, memanyunkan bibirku, dramatis.


"Foto apa? Aku bahkan tidak mengerti apa maksudmu. Jika aku memiliki calon mertua, aku akan foto di pantai waktu itu, bagaimana menurutmu?" Aku mendadak menganga mendengar jawabannya.


Apa aku telah ditipu oleh orang tuaku sendiri? Tapi kenapa? Ya, setidaknya Shelin akan melajang sampai aku menikah lagi. Itu paling penting.


"Jadi, kau tidak akan menikah dalam waktu dekat ini?" Shelin menggeleng.


"Kau memang Kakakku. Kakak yang rela melajang untuk menemaniku--"


"HEI! Suatu saat aku akan menikah!" protesnya. Meski begitu, aku tetap memeluknya. Berterima kasih untuk segalanya.


"Kak."


"Emm?" jawabnya bergumam.


"Aku buang gas, apa tidak bau?"


"Alden! Kau sungguh ..." Tiba-tiba dia berhenti, kupikir dia akan segera memukulku.


"Sebentar, kenapa tidak bau?" Shelin bahkan mengendus mencari bau kentutku.


Aku berdiri, dan dia menepuk bokongku. Dia sampai keheranan karena tidak mencium baunya. Saat dia mengendus, bunyi merdu itu keluar bersama angin kecil.


Aku berbalik melihat Shelin, dia mendelik menatapku. "Tadi aku belum kentut, baru keluar sekarang. Hanya angin sedikit, semoga tidak dengan ampasnya. Maaf, Kak," jelasku.


Seketika Shelin mual. Dia hampir muntah, menaruh Nio di sofa lalu berlari seraya bersumpah serapah.


Lega sekali rasanya.