Because I'M Father

Because I'M Father
Pamit



Kini, aku tengah menangis keras seraya mencium kaki Mama, lalu mencium kaki Papa. Aku memeluk keduanya sembari menangis.


"Maafkan kesalahanku, Ma, Pa. Aku banyak berdosa." Aku kembali bersimpuh di lantai.


"Kenapa kau meminta maaf? Kenapa tidak tunggu sampai lebaran?" tanya Papa heran.


"Apa sudah menyadari betapa berdosanya dirimu? Ck, ck, ck, begitulah seharusnya," ujar Mama.


Mereka sama sekali tidak peduli tentang maaf yang tulus ini.


"Kau minta maaf karena belum menikah, ditambah diaremu itu, belum lagi saat kau menjadi waria, lalu dosa lama-"


"Mama, aku akan segera meninggal!" potongku saat Mama malah mengabsen perilaku dosaku.


Kedua orang tua itu malah terbahak bersama, membuatku cengo. Kesal sendiri karena tidak dipercaya.


"Lihat anakmu, dia semakin tidak waras," tutur Mama pada Papa yang masih tersisa tawanya.


"Aku serius!" aduku begitu frustasi.


Shelin datang, segera aku memeluknya. Meminta maaf atas dosaku padanya, meminta maaf karena lancang melangkahinya dulu.


"Aku akan segera mati, Kak. Ucapkan sesuatu untukku." Aku begitu sedih.


Shelin malah terkekeh mendengarnya. "Drama apa ini? Kematian duda keren apartemen? Kau sangat kekanakan, Al," celanya, tidak mempercayaiku dan malah berjalan untuk duduk.


"Aku akan benar-benar tiada, tapi tidak satu pun dari kalian merasa sedih?" protesku putus asa.


Nio dan Zio tengah dipangku oleh Kakek dan neneknya. Sedangkan Vio kini dipangku Shelin.


"Semalam aku mimpi menikah, itu tandanya aku akan segera mati bukan?" aduku, kembali menangis keras.


Bukan menenangkanku, mereka semua malah tertawa terbahak-bahak. Bahkan anakku ikut tertawa, meski tawa mereka tampak hanya meniru.


"Kau percaya hal seperti itu? Itu hanya mimpi yang datang dari setan," jelas Shelin, berdecak dan bergeleng heran.


"Tapi itu nyata, kan? Aku akan benar-benar mati?" tanyaku, masih takut.


"Semua orang akan mati, begitu juga kami. Kapan pun itu, mimpi menikah atau tidak, semua akan mati," jelas Mama meyakinkanku.


"Jadi, mimpi itu datang karena setan? Apa setan sudah merasukiku?" tanyaku, masih tidak paham.


"Kabar buruk adalah pemberian setan. Bukan berarti setan merasukimu," jelas Shelin, geram hingga memukul kepalaku pelan.


Aku termenung, kenapa setan tidak pernah merasukiku. Apa jangan-jangan aku setannya? Satu sisi aku amat bahagia, tetapi sisi lain aku masih merasa takut.


Tunggu, bagaimana dengan mimpi malam pertama? Jika aku cerita, aku malu pada Papa. Itu sama saja membuka aib sendiri.


"Siapa wanita yang kau nikahi dalam mimpimu? Barangkali bisa kau nikahi sungguhan," ujar Mama, langsung antusias jika mengenai pernikahan.


"Mana aku tahu, wajahnya rata seperti foto yang terlalu banyak editan."


Shelin langsung terbahak mendengar jawabanku. Begitu juga Papa, kecuali Mama yang menatapku kecewa.


Aku memang pria malang.


••••


Selepas pulang dari rumah orang tuaku. Aku mampir ke tempat Andra bekerja. Kafe langganan kami, dan di sini telah berkumpul Evano dan Zidan.


"Akhirnya kau membawa si kembar bertemu kami," celetuk Zidan, dia memang gemar bermain dengan para monster. Bahkan, kini dia sibuk bermain dengan mereka.


"Aku dengar, Malvin bertengkar dengan Shanet setelah reuni. Ucapanmu sepertinya terkabul," ungkap Andra membuatku tercengang.


"Tidak aku sangka, kutukan orang sepertimu yang dikabulkan Tuhan," sahut Evano. Kami pun terbahak sembari mengingat reuni waktu itu.


"Doa orang teraniaya memang selalu dikabulkan. Jadilah orang teraniaya agar doamu terkabul," ujarku membuat gelak tawa kami pecah.


Tidak lama, teman reuni kami datang. Darko, si lelaki jangkung itu datang. Wajahnya selalu mengundang tawa. Dia bahkan mengakui dirinya seperti sudah bercucu, lelaki ini memang ajaib.


"Kalian di sini? Boleh bergabung?" tanya Darko, seraya menarik kursi setelah mendapat anggukan kami.


"Wah, Al, kau selalu saja membuatku iri. Kalian semua selalu membuatku iri," ujarnya tak hentinya bergeleng takjub.


Hari ini aku memakai kaos pendek warna biru muda, dengan celana pendek putih dan topi putih. Tampak serasi dengan kulit putihku yang bersih.


Kenapa jadi memuji diri sendiri begini.


"Ngomong-ngomong, aku ingin menunjukan sesuatu," ujar Darko, merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel.


"Sepulang reuni aku bertemu dengannya dan bertukar nomor. Lihatlah." Darko menunjukan foto seorang gadis dengan baju warna kuning pada kami semua.


"Siapa dia?" tanya Evano setelah melihatnya sejenak.


"Hehe, tidak cantik sih, yang penting punya," ucap Darko, membuat kami semua yang lajang mendadak tersindir.


Tidak mau kalah, aku keluarkan ponsel juga. "Aku juga punya, lihatlah," ujarku menunjukan foto gadis cantik dengan senyum yang manis.


Evano dan Andra menatapku curiga, sedangkan Darko sudah menganga takjub. "Wah, cantik sekali. Dia siapa?" tanya Darko penasaran.


"Bukan siapa-siapa, sih. Yang penting cantik," jawabku cengar-cengir melihat ekspresi orang yang satu meja denganku mendadak horor.


Tiba-tiba, dari kejauhan, mataku melihat lelaki yang sempat kami bahas sebelumnya. Malvin. Dia mendekat dan menghampiri kami.


Wah, urat malunya putus.


"Malvin?" Darko tampak mengkerutkan dahi, merasa aneh mungkin.


Tanpa meminta persetujuan, dia duduk bersama kami. "Al, ini pertama kalinya aku melihat ketiga anakmu secara langsung. Jujur, mereka sangat manis," pujinya membuatku berlagak sombong.


Tentu saja manis. Bahan adonannya sajasetampan diriku.


"Aku sudah melupakan yang terjadi saat reuni, santai saja," ujar Malvin, menepuk bahuku.


Bukan hanya aku, semua yang ada di meja sudah merasa risih dengan kedatangan Malvin. Lelaki menyebalkan ini tengah menjadi bahan gosip, apa dia tidak sadar?


"Sudah dengar gosip? Ah, kutukanmu dikabulkan, tapi aku tidak akan sampai bercerai, jangan senang dulu," ungkap Malvin, tanpa ada tanggapan dari kami semua.


"Aku yang menangani satu anak saja sangat repot, kau hebat telah merawat mereka dengan sehat," puji Malvin, terdengar tulus.


Apa dia sudah di rukiah, hingga sikapnya begitu aneh, beberapa kali dia menoleh pada anakku yang tengah bermain dengan Zidan.


Jika dia berniat menjodohkan anakku dengan anaknya, haha sumpah aku tidak mau memiliki besan pengikut Dajjal.


"Selama ini kau merawat mereka dengan keras, aku harap aku bisa meringankan bebanmu nanti," cerocos Malvin.


Damn it. Dia sungguh ingin menjodohkan anakku dengannya? Begitu maksudnya?


Kali ini aku merasa tersinggung. Dia pikir aku terbebani? Makhluk astral ini memang tidak bisa menjaga mulutnya.


"Tidak, kau tau aku bahagia. Lagi pula, kau bisa meringankan bebanku dengan apa? Menggotongnya dengan traktor?" tanyaku terkekeh geli.


Aku harus tampak tangguh, agar si jago menghina ini tidak merendahkanku lagi.


"Nikmati waktumu, semoga bisa bertemu lagi besok," pamit Malvin, pergi setelah menepuk bahuku.


Amit-amit, aku tidak mau bertemu dengannya lagi.


Aku hanya mampu membatin, karena jika mulutku sudah berbicara, akan banyak orang masuk rumah sakit. Indikasi mayoritas hipertensi.


Tetapi, apa yang sebenarnya dia rencanakan? Apa yang dia mau dariku. Kenapa dia mendadak baik dan memujiku. Mungkin dia akan memintaku menarik sumpah waktu itu.


Tidak semudah itu Ferguso.


"Sepertinya Malvin menyesali perbuatannya," tutur Darko masih melihat Malvin yang sudah menjauh.


"Mungkin dia menemukan tempat rukiah yang bagus," sahut Evano, mendapat anggukan kami semua.


Semoga saja memang begitu.


"Papa!" Tangisan salah satu monster membuatku terkejut.


Tubuhnya yang mungil berdiri di samping kursi, dengan rengekan yang semua orang bisa mendengarnya.


"Aku tidak mau difoto!" Vio meraih kakiku dan naik ke pangkuan. Seolah meminta perlindungan.


"Aku baru tahu anakmu takut dengan diri mereka sendiri." Zidan menghampiriku dengan mengadu.


Aku menghela napas. "Mereka bukan takut pada diri mereka sendiri. Mereka hanya tidak mengerti kenapa wajahnya yang menempel di kepala bisa ada di gambar."


Seketika semua teman-temanku tertawa mendengarnya.


Akhirnya para monster mengusik kedamaianku. Mereka sudah merambat di tubuh, naik ke kursi, menyender, bergelantungan di lenganku seperti biasanya.


"Beginilah jika kalian memiliki anak," ujarku langsung ditanggapi kekehan oleh teman-temanku.


Meski begini, aku tetap menikmati masa ini, karena jika mereka telah besar dan sibuk dengan sekolah dan pergaulan, aku akan kesepian dan berharap mereka kembali ke masa kecil. Begitulah menjadi orang tua sesungguhnya. Merindukan masa kecil anak-anaknya.


Aku mencintai monster kecilku.