ARFA

ARFA
Part 35 (Donor darah dari Azil)



Flashback on


Saat Putri sedang berada disalah satu taman kota, ia melihat Azil sedang berbicara dengan seseorang berjas hitam. Putri tak sengaja mendengarkan pembicaraan kedua orang itu.


"Anda harus turuti kemauan bos, kalau enggak habis keluarga anda, ingat keluarga anda itu masih punya hutang dengan keluarga bos" ucap seseorang berjas hitam itu.


"Heem, apa yang harus gw lakuin?" tanya Azil to the point, karena ia tak suka basa basi.


"Kata bos dia mau kalau anda membantu bos untuk membantu mendekati Putri" ucap seseorang berjas itu lalu pergi.


"Ya" ucap Azil lalu meninggalkan taman itu dengan sepeda motornya. Sebenarnya Azil itu anak orang berada, karena terkendala saat itu orang tuanya terpaksa berhutang kepada keluarga Nizar.


Sesampainya dikamar, ia langsung merebahkan tubuhnya, tak lama ponselnya berbunyi, disana terlihat ada nama seseorang yang baru saja meminta bantuannya.


📞 "Halo."


📞 "........................"


📞"Iyaaa."


Tut panggilan berakhir.


Flashback On


"Kurang lebihnya itu seperti itu, jadi aku yakin kok kalau Azil itu hanya dimanfaatkan oleh Nizar supaya rencananya berhasil" ucap Putri.


"Aku baru ingat waktu dikantin itu kan Putri dan aku mencari tempat duduk, karena terpaksa kami menghampiri Azil juga Nizar, disana Azil sempat mengkode kalau jangan duduk disana, tapi kaminya aja yang gak paham" ucap Syafa panjang lebar.


"Nah bener, aku juga baru sadar" ucap Putri.


"Yaudah, selagi dia gak macam macam dia aman" ucap Putra lalu memejamkan matanya sambil bersandar dipundak Putri.


Tak lama Azil keluar dari ruangan pendor, Azil menghampiri mereka yang sedang menunggu didepan ruang operasi.


"Udah selesai gibahin gw?" tanya Azil.


"Zil, gw boleh tanya sesuatu?" tanya Syafa balik.


"Hem" ucap Azil.


"Duduk dulu lo, gak enak cerita sambil berdiri" ucap Syafa.


"Lanjut" ucap Azil.


"Gw tau lo sebenarnya gak seperti Nizar, lo ngelakuin itu semua karena terpaksa kan? gw mau lo jujur sama kita, gw yakin lo itu sebenarnya orang baik" ucap Syafa.


"Makasih Sya lo udah percaya sama gw, gw sebenernya itu terpaksa buat melakukan ini, bokap gw ada hutang dengan Nizar, ya mau gak mau gw harus lakuin apapun permintaan Nizar. Sebagai permintaan maaf gw sama kalian cuman dengan ini gw bantuin donorin darah gw untuk Ella" ucap Azil.


"Gw tau" ucap Putra menyahut tiba tiba.


"Lalu? Kenapa lo sama gw kayak gak suka gitu, seakan akan gw sama kayak Nizar" tanya Azil.


"Gw cuman ngetes lo doang, gw tau juga kalo lo itu suka sama sepupu gw" ucap Putra yang membuat Azil salting.


"Salting segala sih Lo" ejek Putri.


"Enggak, siapa yang salting?" tanya Azil balik.


"Gak usah ditutupin kalik bro, mau join masuk pertemanan kita enggak?" tawar Arya.


"Sorry gak mau" ucap Azil.


"Gak mau nolak maksudnya, yaelah lo Sya main potong aja kayak potong bebek angsa masak dikuali" ucap Azil yang membuat mereka tertawa terbahak-bahak.


"Gw udah ngira kalo lo emang sedikit gak jelas" ucap Putra. "Gw harap lo bisa jagain sepupu gw, gw percaya kalo lo bisa" Putra memeluk Azil.


"Ya gw bakal usahain itu semua" ucap Azil yakin.


Tak berselang lama pintu ruang operasi terbuka, menampakkan Ella yang masih pucat disana, ia saat ini akan dipindahkan di ruang ICU.


Para sahabat mengikuti dari belakang brankar Ella, mereka terdiam sambil melihat wajah pucat Ella dan mata tertutup rapat yang enggan membuka mata.


Setelah memeriksa kondisi Ella, Dokter keluar dari ruangan itu menghampiri para sahabat Ella yang sedang menunggu didepan.


"Dengan keluarga pasien?" tanya Dokter.


"Saya Dok" ucap Putra menghampiri Dokter.


"Kondisi pasien saat ini sedang koma, kita semua sama sama berdoa untuk pasien supaya lekas sadar dari koma" ucap Dokter.


"Apakah kami boleh melihat kedalam Dok?" kini yang bertanya bukan Putra melainkan Azil yang tiba tiba ikut menghampiri Dokter.


"Boleh, tapi harus bergantian, dan pesan saya selalu ajak komunikasi pasien supaya pasien cepat sadar. Pasien belum membuka mata tapi pasien bisa mendengar apa yang kita ucapkan" ucap Dokter.


"Baik Dok, terima kasih banyak" ucap Putra.


"Sama sama, kalau begitu saya pamit dulu" ucap Dokter meninggalkan ruangan ICU itu diikuti Suster yang ada dibelakangnya.


Setelah kepergian Dokter mereka terdiam sebentar dengan pikiran mereka masing-masing yang gak tau sedang memikirkan apa.


"Siapa yang duluan masuk?" tanya Azil.


"Lo dulu aja deh" ucap Putra.


"Yaudah kalau gitu, gw duluan ya" pamit Azil diangguki semua orang yang ada disana. Setelah Azil memasuki ruangan dingin itu mereka kembali terdiam.


"Semoga aja Azil bisa menjaga Ella dan menjadi sosok pelindung Ella" ucap Syafa.


"Aku juga berharap gitu" ucap Putri lalu bersender dibahu Putra.


"Kalau sampai dia macam macam aku yang bakalan turun tangan untuk memberikan pelajaran yang setimpal" ucap Putra.


"Tapi aku yakin Azil itu bener bener anak yang baik" ucap Arya.


"Ya semoga begitu" ucap Putra.


Sedangkan di dalam ruangan tempat Ella berbaring, Azil duduk di kursi dekat brankar, ia melihat wajah Ella yang damai dengan tidurnya.


Azil memegang tangan Ella yang sangat dingin, lalu membelai rambut Ella dengan tulus.


"Haiii, masih ingat aku enggak? Yang dikantin sekolah. Gak tau kenapa pertama melihat kamu waktu di kantin itu aku kepikiran kamu terus, sebelumnya aku gak pernah kayak gini ke cewek, dan aku anti banget sama yang namanya cewek. Tapi, karenamu aku jadi tertarik, kamu gak capek tidur terus? Ayo dong bangun, kasian itu Putra, Putri, Syafa, Arya dan yang lain nungguin kamu sadar. Apalagi Putri, ia merasa bersalah banget sama kamu, aku harap kamu cepat bangun ya, aku bakal jagain kamu terus, dan aku janji bakal datang setiap hari kesini" ucap Azil lalu mencium tangan Ella lama lalu berdiri menuju pintu keluar ruangan itu.


"Gw pamit duluan ya, nanti gw kesini lagi, gw mau ambil baju baju gw buat nginep disini" ucap Azil.


"Iyaa, thanks ya bro, gw berharap banget lo bisa jagain dia terus, gw juga lihat kalau dia itu sedikit kesepian walaupun ada gw dan yang lain, kayaknya dia emang butuh seseorang" ucap Putra menepuk pundak Azil.


"Pasti itu, gw bakal jagain dia sebisa gw, yaudah kalau gitu gw pamit duluan, titip Ella" ucap Azil meninggalkan mereka.


"Kalian berdua masuk duluan gih" ucap Putra kepada Putri dan Syafa lalu diangguki keduanya.


"Yaudah kalau gitu aku kedalam dulu ya, aku mau nemenin Putri" pamit Syafa kepada Arya. Putri sudah masuk duluan didalam. Syafa tau Putri masih merasa sangat bersalah akibat kejadian kemarin, makanya Syafa menemani Putri untuk melihat keadaan Ella.