
Di kelas
"Berarti kan ini semua termasuk udah di rencanakan, buktinya orang itu bisa dengan cepatnya menutupi cctv supaya aksinya tidak ketahuan" ucap Syafa.
"Ya benar, tapi siapa ya?" tanya Ella.
"Kalau dilihat lihat, si Nizar dari tadi dia sangat santai seperti tidak terjadi sesuatu, tapi kalau lebih diperhatikan lagi dari gerak geriknya ia dari tadi memainkan ponselnya, dan tidak lepas dari ponsel itu" ucap Meme sambil memperhatikan Nizar.
"Good girl, pelaku utama yang perlu kita curigai adalah dia" ucap Arya.
"Tapi kita jangan mengacu pada dia saja, kita juga harus mencari tahu dulu mengenai pelaku utamanya, supaya nanti kalau bukan dia yang terbukti jadi pelakunya, kita punya informasi tentang pelaku yang sebenarnya" ucap Putra.
"Yaudah, untuk saat ini kita fokus dulu di pelajaran, dan jangan sampai kita terlihat panik atau apalah itu, takutnya nanti kita di curigai. Nanti sepulang sekolah kumpul dirumah aku aja, kita bahas tentang ini" ucap Syafa diangguki mereka semua.
...****************...
Nizar POV
📞** "Sekarang" ucap Nizar yang sebenarnya lagi menelfon seseorang, namun ia mengecilkan suaranya hingga tidak ada yang tahu kalau saat itu ia sedang menelfon.
📞 "......................."
📞 "Bagus, nanti gw nyusul" ucap Nizar lalu mematikan telfon.
Nizar sempat melihat kearah Arya dkk. 'Kok tidak ada raut wajah panik atau gelisah karena hilangnya Putri. Mungkin mereka belum menyadari kalau ada yang kurang' batin Nizar.
'Putra, tunggu aja apa yang gw lakuin sama lo, gw udah cukup berdiam tanpa melakukan apapun, sekarang gw akan balas lo dan Arya, karena kalian berdua udah buat gw dan adek gw jadi kayak gini' batin Nizar geram.
Tak lama dosen pun memasuki ruang kelas, untung saja saat itu tidak diabsen, jadi jika ada yang kurang dari anak kelas tidak ada yang tau.
Bel pulang pun sudah berbunyi, para mahasiswa dan mahasiswi bersiap siap untuk pulang kerumahnya, dan dosen pun keluar dari kelas.
...****************...
Di ruang tamu rumah Syafa dan Arya
"Jadi apa rencana kita selanjutnya?" tanya Ella.
"Sebentar, Me sudah menghubungi kak Bagus?" tanya Arya.
"Iya udah kok, katanya bentar lagi sampe" ucap Meme.
"Kita tunggu kak Bagus aja baru kita bahas" ucap Arya.
Tak lama bel rumah Syafa berbunyi, lalu Meme membukakan pintu, ternyata itu suaminya, lalu mereka berjalan menuju ruang tamu yang kini sudah ada Arya dkk.
"Nah udah lengkap, yaudah ayok mulai kita bahas" ucap Arya.
"Putri hilang di saat jam pelajaran dimulai, ia hilang di toilet pojok, di cctv tidak memperlihatkan apapun" ucap Bagus tiba tiba.
"Kak Bagus udah tau ini semua?" tanya Putra.
"Kan selain jadi dosen, aku juga ngawasin kalian semua" ucap Bagus.
"Terus orang itu pergi kemana?" tanya Syafa.
"Menurut data dari salah satu anak buahku, orang itu tidak memperlihatkan wajahnya, karena ia menggunakan topeng, terus ada salah satu dari mereka dengan sengaja menutupi cctv dengan kain hitam, seperti sudah direncanakan dari awal, dan data yang aku dapat mereka lokasinya sekarang berada di desa terpencil di kota ini, namun sangat sulit sekali jaringan disana" ucap Bagus.
"Jadi, apa kita harus langsung kesana?" tanya Meme.
"Kita jangan gegabah, untuk saat ini kita menyusun rencana yang matang sebelum bergerak lebih jauh" ucap Bagus.
"Lalu bagaimana dengan Putri? aku takut dia kenapa napa" ucap Putra khawatir.
"Tenang aja, aku sudah mengirimkan beberapa orang anak buahku untuk menjaga Putri, dan setiap saat ia memberikan informasi tentang Putri juga keadaan sekitar" ucap Bagus.
"Syukurlah kalau gitu" ucap Putra bernafas lega.
"Putri juga tau kalau itu anak buahku, dan Putri juga akan mengikuti rencana kita" ucap Bagus.
"Sebaiknya kita mencari bukti terlebih dahulu tentang penculikan Putri, dan supaya bukti bukti cepat terkumpul, kayaknya kita perlu ada seseorang untuk mendekati Nizar" ucap Arya sambil menoleh kearah Ella.
"APA, jangan bilang aku?" tanya Ella.
"Plissssss lah bantu aku" ucap Putra memohon dengan mengeluarkan wajah yang dibuat seimut mungkin.
"Hem, apa ada imbalannya?" tanya Ella.
"Bebas deh kamu mau minta apa aja" ucap Putra.
"Dil" ucap Ella sambil menjabat tangan Putra.
"Nanti Ella mendekati Nizar, karena disitu posisi kamu sebagai sepupu dari Putra, kamu intinya yakinin Nizar kalau kamu gak suka sama Putri, intinya kamu terpaksa nerima Putri supaya Nizar percaya, dan mungkin dia menganggap pasti kamu orang yang tepat untuk memisahkan Putri dan Putra" ucap Arya.
"Kalau gak demi Putri, ogah aku lakuin hal kayak gini" ucap Ella.
"Hahaha sabar yaaa, aku yakin kamu kuat" ucap Meme sambil tertawa.
"Kuat kuat semaput" ucap Syafa juga ikut tertawa.
"Aku lempar pake sofa nanti kalian berdua" ucap Ella.
"Tapi kak, sebaiknya Putri dikasih tau juga, takutnya nanti waktu Ella diajak ke tempat itu dan dia ada pukul atau apain Putri dia gak kaget atau gak benci juga" ucap Meme pada Bagus.
"Iya beres itu nanti, yaudah ayok pulang udah mau gelap" ucap Bagus.
"EHEM, biasa pengantin baru" ledek Ella, Syafa, Arya dan juga Putra.
"Halah, iri bilang bos" ucap Bagus dan Meme.
"Ndak blas" ucap Ella.
"Jomblo diam aja deck deck" ledek Meme.
"Udah udah, kami berdua pamit dulu" ucap Bagus
" Iyaa hati hati kak, Me" ucap Syafa. Lalu mereka berdua meninggalkan rumah Syafa dan Arya.
Rumah yang untuk mereka diskusi barusan itu adalah rumah yang di beli Arya untuk Syafa, jadi bukan rumahnya orang tua Syafa ataupun orang tua Arya.
"Yaudah, karena sudah mau gelap kami juga pamit" ucap Putra lalu melangkah keluar diikuti oleh Ella, Syafa juga Arya.
"Hati hati yaa" ucap Syafa sambil melambaikan tangan saat mobil Putra meleset dijalanan.
"Yaudah ayok masuk, udah mau magrib juga" ucap Arya menggandeng tangan Syafa.
"Ada apa gerangan ini kakak Arya, kok tumben sekali" ucap Syafa bercanda.
"Enggak ada apa apa kok" ucap Arya sambil terus menggandeng tangan Syafa menuju kamar.
...****************...
Di kamar
"Yaudah kamu mandi dulu aja kak, airnya udah tak siapin" ucap Syafa saat keluar dari kamar mandi.
"Terima kasih istriku" ucap Arya sambil masuk kedalam kamar mandi. Lalu Syafa menyiapkan baju ganti untuk Arya.
Setelah beberapa menit, Arya keluar menggunakan handuk sepinggang dengan rambut yang basah, Syafa yang tidak menyadari Arya sudah selesai mandi pun tersadar karena cipratan air dari rambut Arya.
"Ish kak Arya ini iseng banget sih" protes Syafa karena mukanya sedikit basah.
"Berhenti dulu bacanya, mandi dulu gih, udah mau adzan itu, nanti kita sholat bareng" ucap Arya.
"Iyaaa deh iyaa, babai" ucap Syafa lalu masuk kedalam kamar mandi, tak lupa ia membawa baju ganti.
Selesai mandi Syafa dan Arya melaksanakan sholat magrib berjamaah, tak lupa mereka mengaji sebentar lalu belajar materi besok.