ARFA

ARFA
Part 34 (Pertumpahan darah)



"Kita lihat, siapa yang akan menang" ucap Nizar sombong sambil mengejek kearah Putra.


"Oke" ucap Putra. "Karena lo udah cari masalah dengan menculik cewek gw, gw sendiri yang akan turun tangan ngabisin lo" ucap Putra lalu menembak kaki kiri Nizar dan peluru itu dengan santai menepati sasaran yang dituju.


"S****n lo" ucap Nizar.


**DOR**


Suara tembakan dari arah belakang, ternyata Haikal menembak satu lengan kiri Putra.


"Oke baguslah kalau lo muncul juga, adek sama kakak sama aja ternyata" ucap Arga yang tiba tiba datang.


"Cupu" ejek Haikal sambil menjulurkan lidahnya.


DOR DOR DOR


Arga menembak kaki kiri dan kanan Haikal, serta lengan kanan Haikal. "Sakit? utututu" ejek Arga balik.


Saat Nizar ingin menembak balik Arga, dengan cepat Arya menembak lengan kiri Nizar.


"Enak aja mau nyakitin adek gw, gw bunuh juga lo lama lama" ucap Arya murka.


...****************...


Tak jauh dari gedung, Syafa, Keyla juga Meme sedang menunggu, karena lama menunggu akhirnya mereka nekat masuk kedalam.


Nizar yang melihat ada kesempatan ia mengarahkan pistol itu kearah Putri, Ella yang melihat langsung saja mendorong Putri dan.


DOR


Peluru itu mengenai perut Ella, Putri yang melihat itu teriak histeris. "Dasar cowok macam apa kamu Zar, gak punya perasaan sama sekali" ucap Putri.


"Ya emang, baru tau lo? siapa suruh dia bohongin gw" ucap Nizar tertawa puas.


DOR DOR DOR


Suara tembakan dari arah belakang, ternyata Meme sedang membawa pistol dan menembak Nizar bertubi tubi.


"Enak? atau mau tambah?" tanya Meme.


"Arrggggghhhhhh s****n" ucap Nizar merintih kesakitan.


"Itu gak sebanding sama apa yang lo lakukan" ucap Syafa.


"Kak ini kak Ella gimana?" tanya Keyla menangis saat melihat d***h yang terus mengalih, dan Ella yang sudah tak sadarkan diri.


"Om Alex bawa Ella kerumah sakit" ucap Putra lalu diangguki Alex.


Sedangkan anak buah Nizar saat ini kalah menghadapi banyaknya anak buah Arya dan Putra, saat ini tinggal lah mereka.


"Karena lo udah bikin sepupu gw luka, gw gak akan segan segan nyiksa lo saat ini juga" ucap Putra dengan nada marah.


Putra menyuruh anak buahnya membawakan kursi dan tali, lalu mendudukkan Nizar dan juga Haikal di kursi itu.


Mereka tidak ada perlawanan, karena mereka sudah banyak mengeluarkan d***h.


"Plakkk, itu karena udah ganggu gw, Plakkk Plakkk Plakkk itu karena udah culik dan mau ngejual gw dan Srrttt " Putri men****k salah satu tangan Nizar.


"Arrggggghhhhhh, sakit woyyy s*****" ucap Nizar berteriak.


"Emang gw peduli? GAK SAMA SEKALI" ucap Putri berteriak di telinga Nizar.


"Eitssss, gak semudah itu" ucap Putra yang kini menghampiri mereka. "Enak banget permintaan lo mau menyudahi permainan ini" ucap Putra menampar pipi Nizar.


"Kalian urus mereka berdua, dan jangan sampai lolos" perintah Arya lalu mereka pergi meninggalkan ruangan kecil itu.


Sebenarnya ada beberapa warga yang sempat kaget karena mendengar suara tembakan, tapi karena sudah dijelaskan oleh salah satu anak buah mereka, jadi warga itu mengangguk paham.


...****************...


Di rumah sakit


"Ella, Ella bangun" ucap Syafa yang mencoba membanggakan Ella.


Saat ini mereka dalam perjalanan ke rumah sakit, untung saja mereka tadi sempat membawa helikopter pribadi, jadi mereka menuju rumah sakit dengan cepat.


"Sya, sampaikan ke Putri aku minta maaf tadi sempat nampar dia, dan kalau aku tidur lama tolong jagain Putri dan Putra ya, Putra sedikit keras kepala soalnya, aku yakin kamu bisa " ucap Ella lalu menutup mata.


"Iya Ella aku akan jagain mereka untuk kamu" beberapa detik kemudian "Ella bangun Ella, Ella" ucap Syafa menangis.


Tak lama mereka sampai di depan rumah sakit, rumah sakit itu salah satu milik keluarga Putra, itu sengaja dibangun untuk orang orang di pinggiran kota yang membutuhkan tenaga medis tanpa harus jauh jauh ke kota.


Para Dokter dan suster sudah berada didepan, sesampainya disana Ella langsung dibawa ke brankar, lalu membawanya ke ruang operasi karena banyak sekali Ella mengeluarkan d***h.


Tiba tiba pintu rumah sakit terbuka, menampakkan Dokter yang dengan lengkap menggunakan pakaian medisnya.


"Permisi, apakah disini ada yang golongan darahnya A-? karena stok darah golongan tersebut sedang kosong, pasien juga membutuhkan donor secepatnya" ucap Dokter.


"Bisa gak sih jadi Dokter, harusnya kalau tau habis ya cari lah, susah banget" ucap Putra sambil menarik kerah Dokter.


"Ini bukan waktu yang tepat buat kalian berdebat, sekarang ayok cari golongan darah itu" ucap Arya sambil menenangkan Putra.


Putra duduk lemas di kursi depan ruang operasi, ia tidak bisa berpikir jernih, bagaimana pun Ella adalah sepupu yang selalu ada untuknya, dan saat ini sedang terbaring di dalam sana.


"Put, a-aku m-minta m-maaf" ucap Putri duduk disamping Putra. Putra hanya melihat sekilas lalu melihat kearah ruangan Ella. "Sekali lagi aku minta maaf" ucap Putri ingin berdiri, namun tangannya dicekal oleh Putra.


"Jangan pergi, aku gak mau sendirian" ucap Putra sambil memeluk erat Putri.


"A-aku m-minta m-maaf" ucap Putri dengan suara bergetar.


"Heyyy gak apa apa, bukan salah kamu ini" ucap Putra sambil menghapus air mata Putri dan memeluknya supaya lebih tenang.


Beberapa menit kemudian Syafa, Arya, Arga, Keyla kembali didepan ruang operasi itu, mereka tadi mencari pendonor darah yang cocok dengan Ella. Namun, hasilnya nihil karena untuk mendonorkan darah yang sama dengan Ella saat ini sedang langka.


Tiba tiba Azil yang mereka tau teman dekat dengan Nizar pun dengan santai menghampiri mereka yang sedang bingung memikirkan pendonor yang cocok.


"Gw bisa bantu kalian, semoga dengan ini kalian gak ikut benci gw karena gw temannya Nizar" ucap Azil tiba tiba.


"Gw gak butuh bantuan dari Lo" ucap Putra cepat.


"Yaudah gw pergi kalau gamau sih, padahal gw udah berbaik hati" ucap Azil ingin pergi.


"Tunggu" cegah Putri langsung berdiri menghampiri Azil. "Tolong bantuin donorin darah lo ke Ella, gw percaya kalau lo beda dengan Nizar" ucap Putri.


"Nah gitu kan enak, terima kasih Put udah percaya sama gw, gak kayak mereka yang hanya bisa melihat seseorang dari satu arah aja" ucap Azil sambil berjalan menuju ruangan pendonor.


"Kenapa kamu terima?" tanya Putra.


"Gak ada jalan lain, aku yakin dia gak seperti Nizar" ucap Putri meyakinkan.


"Dari mana kamu tau?" tanya Putra menyelidik, sedangkan yang lain hanya mendengarkan tanpa berani ikut berbicara.