ARFA

ARFA
Part 27 (Meme dan Bagus)



Part ini lebih menceritakan tentang Meme dan Bagus.


POV Meme


Hari ini adalah hari terindah bagi Meme, karena hari ini ada hari yang akan datang seumur hidup dalam hidupnya.


"Coba sekarang mba Meme buka matanya" ucap MUA yang merias Meme. Meme pun menurut membuka matanya, dan seketika ia terkejut melihat dirinya sendiri di cermin.


"Wah, bagus banget mba hasilnya, saya sampai pangling sendiri" ucap Meme.


"Mba Meme juga aslinya sudah cantik, saya hanya memoleskan sedikit" ucap MUA.


Tok tok tok


"Masuk aja, pintunya tidak dikunci kok" teriak Meme.


"Halo Meme, wah kamu cantik banget sih" ucap Syafa memuji make up Meme.


"Iya nih aku sampai pangling tau, sumpah lo cantik banget" ucap Putri.


"Haduh, kalian berdua ini bisa saja hehe" ucap Meme malu malu.


"Pasti kalau kak Bagus lihat pasti gak kedip" goda Syafa.


"Bener bener, pasti bakal sampai pingsan" tambah Putri.


"Husttt kalian ini ada ada saja" ucap Meme yang kini sudah seperti kepiting rebus.


"Cieee cieee salting" goda mereka berdua lagi.


Hus sudah, kalian ini dari tadi goda Nak Meme, sekarang ayok turun, pemberkatan akan segera dimulai" ucap Mama Syafa yang ternyata sudah ada didalam kamar.


Mereka semua sepakat memanggil Pak Bagus dengan sebutan kak Bagus, lagian umur Pak Bagus gak tua tua banget, jadi mereka memutuskan untuk memanggil Kak Bagus.


Kini Syafa dan Putri menggandeng tangan Meme, Syafa berada ditangan sebelah kanan dan Putri berada ditangan sebelah kiri. Perlahan mereka menuruni anak tangga itu satu persatu.


Tamu undangan pun melihat kearah mereka bertiga, jangan ditanya Kak Bagus bagaimana reaksinya, pasti kalian sudah tau.


"Kak lihatnya biasa aja kalik, lihat itu air liur nya sampai menetes" ledek Arya.


"Tau tu, sampai netes kemana mana lagi" ucap Putra, lalu seketika Kak Bagus sadar dari lamunannya.


Kak Bagus mengelap mulutnya dengan tisu, "gak ada tuh" ucapnya lalu diiringi tawa Putra, Arya juga Arga yang baru saja datang.


Kini Kak Bagus menggandeng tangan Meme menuju Altar, Kak Bagus tersenyum menatap Meme yang sudah berada dihadapannya.


"Silahkan untuk tangan kedua mempelai bertumpu pada kitab suci. Apakah Bagus dan Meme bersedia meresmikan perkawinan ini dengan sungguh dan ikhlas hati?" tanya Imam.


"Ya, saya sungguh" ucap keduanya secara bersamaan.


"Ya, saya bersedia."


"Bisakah Bagus dan Meme saling melengkapi dan tidak meninggalkan satu sama lain?."


"Ya, saya bisa."


"Bagus dan Meme, sebelum pernikahan dilaksanakan, silahkan kepada pasangan masing-masing mengucapkan janji pernikahan hadapan Tuhan" ucap Imam atau biasa yang disebut Romo.


Imam lalu mengarahkan mic nya kearah Bagus terlebih dahulu, untuk mengucapkan janji suci dihadapan Tuhan.


Bagus menarik nafasnya dalam sambil menatap Meme dalam. "Dihadapan Tuhan, Imam, para orang tua, para saksi. Saya Bagus Zeus Devara dengan niat yang suci dan ikhlas hati memilihmu Meme Pradita menjadi istri saya. Saya berjanji untuk setia kepadamu dalam untung dan malang, dalam suka dan duka, diwaktu sehat dan sakit, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Saya akan selalu mencintai dan menghormatimu sepanjang hidupku. Saya bersedia menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada saya, dan mendidik mereka secara Katolik. Demikian janji saya demi Allah dan injil suci ini, semoga Tuhan menolong saya."


Meme tersenyum tulus sambil menatap Bagus yang juga menatapnya dalam. "Dihadapan Tuhan, Imam, para orang tua, para saksi. Saya Meme Pradita dengan niat suci dan ikhlas hati memilihmu Bagus Zeus Devara menjadi suami saya. Saya berjanji untuk setia kepadamu dalam untung dan malang, dalam suka dan duka, diwaktu sehat dan sakit, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Saya akan selalu mencintai dan menghormatimu sepanjang hidupku. Saya bersedia menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada saya, dan mendidik mereka secara Katolik. Demikian janji saya demi Allah dan injil suci ini, semoga Tuhan menolong saya."


Imam itu menatap pasangan yang berdiri dihadapannya. "Saudara Bagus Zeus Devara dan Meme Pradita, berdasarkan kasih dan setia Tuhan yang menyebut diri-Nya mempelai jemaat-Nya, kami meneguhkan engkau dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Atas apa yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia. Kenakanlah kasih sebagai pengikat yang menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena itulah kamu dipanggil menjadi satu. Untuk melakukan tujuan hidup penuhi bumi dengan kemuliaan Allah."


Pasangan yang sudah sah menjadi suami dan istri itupun saling memandang dan tersenyum manis. Meme tak lagi dapat menahan air mata haru, Meme langsung menghapus air mata yang sudah membasahi pipinya itu.


Q


"Selamat untuk Bagus dan Meme, kalian berdua sudah sah menjadi pasangan suami dan istri, silahkan kalian memasang cincin kalian di pasangan masing-masing" perintah Romo seraya menyodorkan kotak yang berisi cincin tersebut.


Bagus dan Meme pun mengangguk. Bagus menerima kotak itu dan mengambil cincin pernikahan. Ia menarik tangan Meme dan memasangkan cincin tersebut pada jari manis Meme, begitu juga sebaliknya.


Para tamu undangan yang melihat itupun tersenyum lalu bertepuk tangan meriah.


"Sekarang Bagus sudah boleh mencium istrinya" ucap Imam itu seraya menatap mereka.


Bagus mengangguk pelan dan menatap Meme yang mulai hari ini sudah resmi menjadi istrinya, ia tersenyum. Lalu memajukan wajahnya agar dekat dengan Meme.


"Boleh?" tanya Bagus pelan, lalu diangguki Meme.


Bagus lantas menarik dan memegang pinggang Meme, lalu mendekatkan dan menempel bibirnya di kening Meme. Suara tepuk tangan pun terdengar memenuhi gereja, mereka bersorak kala melihat sepasang pengantin itu baru saja sah menikah.


Bagus yang mendengar itu pun menulikan telinganya. Ia merasa dirinya terbang dan tenggelam dalam ciuman pertama itu. Hingga sudah lima menit Bagus tidak melepaskan tautan bibirnya dari kening Meme. Sang Imam yang melihat itu dari dekat pun hanya geleng-geleng kepala dan terkekeh geli.


Meme yang kepalanya sudah pegal lantas mencubit pelan bahu Bagus, seolah memberi isyarat pada Bagus untuk menyudahi mencium keningnya. Bagus yang paham pun mengangguk dan menyudahinya.


"Makasih, makasih banyak Me udah mau nerima aku" ucap Bagus.


"Harusnya aku yang berterima kasih, sudah mau menerima aku yang kayak gini" ucap Meme menunduk.


"Heyyy, ngomong apa sih, sudah sudah jangan mengingat yang dulu, intinya aku bahagia banget bisa bersama kamu selamanya" ucap Bagus dengan tulus.


Bagus mencium kening Meme sekilas, lalu memeluk tubuh mungil Meme dengan erat. Meme merasa malu ketika mengetahui ada banyak sepasang mata yang memperlihatkan mereka berdua diatas altar. Setelah hampir satu menit, Bagus pun melepaskan pelukannya itu, lalu menatap tamu undangan termasuk orang tua dan sahabatnya itu, ia tersenyum manis.