Alsya

Alsya
:Kak Bagas



...___________________...


...Apakah hitam dan abu-abu akan terus menjadi warna ku?, apakah kesepian akan selalu menjadi teman setia ku?, Tuhan lalu kapan aku bisa bahagia?......


...___________________...


...×××...


Alsya memandang langit-langit kamarnya dengan tatapan sendu.


Langit diluar sudah menampakkan kegelapan nya, sekaligus menunjukkan kilauan emasnya. Tapi Alsya masih mengenakan seragam sekolahnya. Alsya ketiduran saat ia pulang sekolah tadi dan tidak sempat untuk mengganti pakaiannya.


Alsya menatap kesepenjuru ruangan yang dominan abu-abu tersebut. Hening. Itulah satu kata yang cocok untuk menggambarkan keadaan kamarnya malam ini. Alsya menghela napasnya dan kembali menatap kearah langit-langit kamarnya .


"Apakah hidup ku akan selalu begini?. Sepi, hening, gelap, sunyi", lirih Alsya dengan tersenyum miris.


"Apakah kebahagiaan akan menyapa disaat aku tak lagi berpijak?, apakah benar ya Tuhan. Lalu kapan kah ini semua akan berakhir?, aku sungguh letih", Alsya memejamkan matanya. Tak lagi menghiraukan badannya yang sudah lengket, dan baju seragam yang masih ia kenakan. Yang terpenting saat ini batin dan fisiknya sangat membutuhkan istirahat.


Tok tok tok


Alsya refleks membuka matanya disaat mendengar suara pintu kamarnya diketuk dari luar. Alsya menyibakkan selimut yang membalut tubuhnya sedari tadi dan segera berjalan kearah pintu.


Alsya membuka pintu berwarna hitam tersebut, "Ada apa bik?", tanyanya ketika melihat bik Imah yang berada diluar kamar.


"Loh?. Non belum ganti seragam?. Udah jam setengah delapan loh Non", ujar bik Imah tampak terkejut.


"Ketiduran Bik."


"Ya udah. Kalau gitu cepet mandi gih. Habis itu turun, Bibi udah nyiapin makan malam".


"Iya bik."


"Non mau bibik panasin air hangat untuk mandi?", tanya Bi Imah.


"Hm, Alsya aja Bi."


"Yaudah. Bibi tunggu dibawah ya", ujar Bi Imah yang dibalas anggukan oleh Alsya.


Setelah Bi Imah berlalu dari kamarnya. Alsya segera menutup pintu dan berjalan kearah lemari.


Ter-urung sudah niatnya untuk beristirahat yang kedua kalinya.


Alsya melangkah masuk ke kamar mandi setelah mengambil piyama tidurnya dari lemari.


Setelah dua puluh menit kemudian Alsya keluar dari kamarnya dan berjalan kearah Bi Imah yang sedang duduk diruang keluarga sambil menonton televisi.


"Bi", panggil Alsya membuat Bi Imah menoleh kearahnya.


"Eh Non udah mandi. Ayo makan", Bi Imah menuntun Alsya untuk duduk di kursi meja makan dan mengambilkan makanan untuk nona mudanya tersebut.


"Nih. Di habisin ya non", ujar Bi Imah seraya meletakkan satu piring yang berisi lauk pauk kehadapan Alsya.


Lalu Alsya segera melahap makanannya dalam diam.


"Nyonya dua hari lagi katanya udah pulang dari Bandung non", ujar bik Imah dan mengambil duduk tepat di depan Alsya yang hanya dibatasi satu meja panjang.


Alsya mendongakkan kepalanya, "Bandung?", tanya nya dengan kernyitan didahi.


"Iya. Katanya Nyonya sedang mengurus perusahaan yang ada di Bandung."


Alsya menganggukkan kepalanya dan kembali fokus ke makanannya.


"Bi", panggil Alsya setelah menghabiskan  makanannya.


"Iya", sahut Bi Imah setelah keluar dari dapur dengan satu keranjang buah ditangan.


"Mang Joko dimana?."


"Diluar", jawab Bi Imah seraya mengupas satu buah apel.


"Sama siapa?."


Bik Imah meletakkan buah apel yang dikupasnya ke dalam piring dan memberikannya kepada Alsya.


"Sama Bagas."


Alsya mengambil satu potongan apel, "Bagas?" tanya nya seraya mengunyah apel tersebut.


"Iya, anaknya mang Joko."


Alsya menganggukkan kepalanya,


"Kapan datang?."


"Pas non baru turun. Bagas juga baru datang."


"Oh, baru nyampe. Ngapa enggak disuruh masuk. Pasti belum makan. Panggilin Bi, suruh makan sama mang Joko juga."


"Eh. Iya non Bibi panggilin."


Bik Imah segera beranjak dari duduknya dan berjalan kearah pintu utama.


Sementara Alsya memakan buah apel yang telah dipotongkan bik Imah untuknya seraya memainkan ponsel yang berlogo apel digigit miliknya.


"Non", panggil bik Imah membuat Alsya mendongakkan kepalanya kearah wanita paruh baya tersebut.


Alsya melihat satu laki-laki paruh baya dan satu laki-laki yang terlihat berusia dua tahun diatasnya yang tampak berdiri di belakang bik Imah.


Alsya segera bangkit dari duduknya,


"Mang Joko belum makan kan?, sana makan!, Bi Imah buat semur jengkol loh mang", ujar Alsya.


"Lah. Sejak kapan Neng Alsya suka makan jengkol?", tanya mang Joko.


"Bukan untuk non Alsya tapi untuk mang Joko. Non Alsya yang nyuruh masak. Khusus untuk mang Joko. Iya kan non?", sahut Bi Imah memberitahu.


Alsya mengangguk,"Iya khusus untuk mang Joko yang baik", ujar Alsya seraya menyerahkan dua jempol tangannya kearah mang Joko. Dengan senyuman tipis di bibirnya.


Mang Joko yang mendengarnya pun langsung tertawa, "Ah, neng Alsya bisa aja."


"Oh iya non. Ini kenalkan Bagas. Anak mamang dari kampung", ujar mang Joko sambil menunjukkan laki-laki yang berdiri dibelakangnya.


Kemudian Bagas berdiri tepat disamping Ayah nya berada dan seraya mengulurkan tangannya kearah Alsya,"Bagas", ujarnya memperkenalkan.


"Alsya", balas Alsya dengan menerima uluran tangan Bagas.


Alsya menarik tangannya, "Makan gih mang. sama...", Alsya melirik kearah Bagas. Ia bingung memanggil Bagas dengan sebutan apa. Melihat Bagas yang lebih tua darinya. Ia ragu untuk memanggil sebutan 'Kak'. Kalau ternyata mereka seumuran bagaimana?, malu Alsya yang ada.


"Kakak aja", ucap Bagas seolah tau dengan pemikiran Alsya saat ini.


Alsya menganggukkan kepalanya,"Iya. kak Bagas makan gih. Pasti capek. Anggap aja rumah sendiri ya kak. Jangan sungkan", ucap Alsya dengan senyum formalitas.


"Iya non m-", ucap Bagas terpotong dengan suara Alsya.


"Jangan non. Alsya aja."


"Tapi kan-"


"Eggak apa-apa. Anggap aja Alsya seperti adiknya Kak Bagas."


"Ah i-iya Alsya. Makasih", balas Bagas dengan canggung.


Alsya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, "Kalau gitu Alsya keatas dulu ya. Anggap rumah sendiri aja ya kak", ujar Alsya sebelum menaiki tangga menuju lantai dua dimana grey room nya berada.


Bagas masih setia memandang punggung Alsya yang sudah mulai meninggi.


"Mari nak Bagas. Makan dulu, seperti yang non Alsya bilang jangan pernah sungkan", ujar Bi Imah memecahkan lamunan Bagas.


"Ah. Iya Bi."


"Bapak masukkin mobil dulu ya. Kamu makan aja duluan. Bi, saya titip anak saya ya. Jangan digondol, masih terlalu muda", canda mang Joko dan segera berjalan ke pintu utama.


Bik Imah hanya menggelengkan kepalanya sementara Bagas hanya terkekeh geli. Ia jadi rindu ibu nya yang sudah tenang diatas sana. Bagas jadi punya pemikiran untuk menjodohkan bapaknya dengan Bi imah. Setahunya Bi Imah juga sudah tidak lagi memiliki suami. Jadi sah-sah saja bukan?, tidak akan mungkin ada yang namanya plakor dan pebinor didalam kisah ini.


Ah, itu adalah sebuah ide yang cemerlang. Ia harus membuat strategi untuk pdkt antara Bi Imah dan bapaknya mulai sekarang.


"Sini nak duduk", ujar Bi Imah memecahkan pemikiran Bagas tentang perjodohan bapaknya dengan wanita paruh baya yang ada dihadapannya kini.


Bagas mengangguk dan segera mengambil duduk dikursi meja makan.


"Alsya baik ya Bi", celetuk Bagas sambil mengamati pergerakan Bi Imah yang mengambilkan makanan untuknya.


"Iya. Udah baik, cantik, ramah, sopan, pintar lagi", sahut bik Imah dan meletakkan sepiring penuh yang berisi makanan kehadapan Bagas.


"Makasih Bi", ujar Bagas sambil mengambil piring yang disodorkan bik imah.


"Udah punya pacar belum bik?", tanya Bagas tiba-tiba sambil melahap makanannya.


Bik Imah yang hendak duduk langsung tersentak, "Ah. pacar?, kalau itu Bibi enggak tau. Soalnya non Alsya itu orangnya tertutup", beritahu Bi Imah dan kembali mengambil tempat duduk tepat dihadapan Bagas yang kini sedang melahap makanannya.


"Iya. Orangnya dingin gitu."


"Tapi dia tampak hangat saat nyambut Bagas tadi."


"Non Alsya sebenarnya baik sama orang terdekat nya. Non Alsya cuma dingin sama orang yang tidak dikenalnya dan tidak ingin dikenalnya. Mungkin kamu karena anaknya mang Joko. Makanya non Alsya ramah sama kamu. Lagi pula, dari dulu non Alsya kepingin banget punya saudara laki-laki. Tapi enggak pernah kesampean. Maka nya kamu jadi kakak laki-laki yang baik untuk non Alsya ya", cerocos bik Imah panjang lebar.


"Siap calma", sahut Bagas dengan semangat.


"Calma?", beo Bi Imah.


"Iya. Calma. Calon mama", ujar Bagas sambil menaik-naikkan kedua alisnya.


"Ishh. Kamu mah."


Bagas sontak tertawa terbahak-bahak ketika melihat gelagat bik Imah seperti abg yang sedang salah tingkah.


"Bik Imah. Will you be my mom?", ujar Bagas dengan tampang yang sok serius.


"Udah-udah, habisin makanan kamu cepet", tukas Bi Imah sambil beranjak dari tempat duduknya. Ia tau persis apa yang diucapkan oleh Bagas barusan. Ia pernah mendengar kalimat tersebut di sinetron yang sering ia tonton. Yang membedakan, di sinetron yang ia tonton biasanya seorang kekasih yang ingin melamar kekasih nya.


Bagas terkekeh geli melihat Bi Imah yang tampak salah tingkah. Pubertas yang belum kelar.


...×××...


Alsya menuruni tangga dengan seragam sekolah yang sudah lengkap. Menghampiri Bi Imah yang sedang menyiapkan sarapan.


"Pagi non", sapa Bi Imah.


"Pagi Bik", Alsya langsung mengambil duduk dan segera memakan serapannya.


Setelah menghabiskan makanannya Alsya meminum air putih sebagai penutup sarapannya pagi ini.


"Mang Joko sama kak Bagas mana Bik?" tanya Alsya.


"Ada didepan non."


"Udah pada sarapan?."


"Udah non."


"Ya udah Alsya berangkat dulu ya Bi", pamit Alsya dengan mencium telapak tangan wanita paruh baya tersebut.


Alsya keluar dari rumahnya. Melihat mang Joko dengan Bagas yang sedang duduk di kursi teras depan rumah.


"Mang hari ini Alsya berangkat sendiri aja ya", celetuk Alsya membuat Ayah dan anak yang sedang bercengkrama itu menoleh kearahnya.


"Eh neng Alsya. Hari ini mau berangkat sendiri?", tanya mang Joko sambil beranjak dari duduknya dan berdiri dihadapan Alsya.


Alsya mengangguk singkat.


"Pak. Bagas pergi dulu ya", celetuk Bagas mengalihkan perhatian Alsya ke padanya.


"Kak Bagas mau sekolah?", tanya Alsya melihat seragam yang Bagas kenakan. Seragamnya mirip...


"Iya neng. Bagas satu sekolah dengan neng Alsya mulai hari ini", mang Joko yang menjawab.


"Oh. Ngapa enggak bareng aja kak."


"Enggak usah Sya. Kakak naik angkot aja", balas Bagas.


"Bareng sama Alsya aja. Uangnya kan bisa disimpen", kekeuh Alsya.


"Enggak us-"


"Eggak terima penolakan!", tukas Alsya sambil berjalan kearah mobil yang sudah terparkir rapi di pekarangan rumah.


"Udah pergi aja", ujar mang Joko sambil menepuk pundak putranya.


"Tapi pak, Bagas segan."


"Enggak apa-apa neng Alsya baik kok. Udah sana cepat pergi!, neng Alsya orangnya enggak suka dibantah."


"Iya pak. Bagas berangkat sekolah dulu. Jangan godain calma Bagas", Bagas mengerlingkan matanya kearah Bapak nya itu sambil mencium telapak tangan pria paruh baya tersebut.


Mang Joko terkekeh geli. Melihat Bagas yang bersikukuh ingin menjodohkannya dengan Bi Imah. Ya, Bagas menceritakan rencananya tentang perjodohan tersebut dengan bapaknya tadi malam.


Ada-ada saja.


...×××...


Di dalam mobil kini diselimuti oleh atmosfer kecanggungan. Alsya yang notabene memiliki sifat dingin, tidak masalah dengan atmosfer tersebut. Tapi beda halnya dengan Bagas yang tampak gelisah di kursi penumpang disebelah Alsya yang sedang mengemudi.


"Kak Bagas ke Jakarta untuk sekolah?",tanya Alsya memulai pembicaraan. Ia menyadari kecanggungan yang dirasakan oleh Bagas sedari tadi.


Alsya baru mengetahui tujuan Bagas ke Jakarta adalah untuk melanjutkan sekolah dari Bi Imah. Mengingat Alsya bukan tipe orang yang penasaran terhadap masalah orang lain, jadi tadi malam dia tidak menanyakan perihal kedatangan Bagas ke Jakarta.


Bagas menoleh kearah Alsya yang tengah fokus mengemudi, "Iya. Lagi pula dikampung udah enggak ada siapa-siapa. Mending disini, bantuin Bapak", jawab Bagas dan kembali menoleh kearah jendela mobil.


Alsya menganggukkan kepalanya, "Kak Bagas udah kelas berapa?."


"Kelas dua belas."


Alsya menganggukkan kepalanya lagi.


Setelah itu suasana kembali hening seperti sedia kala. Alsya kehabisan topik untuk berbicara.


Lalu Alsya mengehentikan mobil nya setelah sampai diparkiran Galaksi. Sekolah tercintanya. Maybe


"Yuk kak", Alsya mengambil tasnya di jok belakang dan membuka pintu mobil yang ada disampingnya.


Bagas menganggukkan kepala sambil membuka pintu mobil. Dan mengikuti Alsya dari belakang.


"Kak Bagas ngapain jalan dibelakang?, sini", ujar Alsya dengan tangan kanan yang terulur kedepan. Memanggil Bagas untuk berjalan disampingnya.


"I-iya", jawab Bagas canggung. Sebab cowok itu risih dengan tatapan siswi-siswi yang menurutnya seperti kucing kampungnya yang sedang kelaparan.


"Enggak usah diladenin", bisik Alsya dan kembali berjalan dengan Bagas disampingnya.


Bagas menganggukkan kepalanya.


Alsya tau persis mengapa siswi-siswi terus menatap kearah Bagas. Itu karena daya tarik yang dimiliki oleh seorang Bagas Tio Adyanta. Bagi Alsya Bagas tak kalah tampan dengan Arkan. Bagas memiliki kulit yang eksotis, hidung yang mancung dan tubuhnya yang cukup proporsional. Menurut Alsya itu adalah alasan yang tepat atas tatapan-tatapan lapar siswi-siswi tersebut.


Seorang gadis yang sedari tadi mengamati gerak-gerik Alsya langsung menghela napas panjang. Ia mengambil ponselnya didalam saku dan menelpon seseorang.


"Kenapa banyak banget sih" gerutunya lelah.


"........"


"Itu. Semalam sama dokter tampan sekarang sama cogan sekolah."


"......."


"Enggak tau. Kayaknya anak baru."


"......."


"Aku jadi kasihan sama 'dia'. Si dokter aja belum selesai. Sekarang udah nambah aja satu human lagi."


"........"


"Dia kapan sih kesini?, lama banget."


"........"


"Ya udah deh. Aku tutup dulu ya, bel udah mau bunyi."


"........"


"Bye."


Klik


Sambungan terputus.


Gadis tersebut menghela napasnya lagi, "Sya, jangan bikin dia jauh dari lo. Karena gue yakin suatu saat lo enggak akan bisa hidup tanpa dia", gumam gadis tersebut dan segera berjalan menjauh dari tempat persembunyian nya.


...×××...


..."Langit. Mengapa hidup ku tak bisa secerah warna mu. Mengapa abu-abuku tak bisa menjadi biru mu. Padahal aku bernaung dibawah biru mu. Tapi mengapa abu-abu ku tak pernah berganti. Selain abu-abu, kenapa harus hitam yang mendominasi?. Aku iri padamu langit. Aku iri pada kau yang cerah, kau yang ditemani beribu kicauan burung, dan kau yang bisa berganti warna. Aku marah pada diriku yang diam membisu di dalam kegelapan, aku kecewa pada diriku yang menikmati kesunyian, dan aku pilu pada hidupku yang begitu menyedihkan. Sungguh langit, i very jealous for you and i very ashamed for me."...


...~Rilansun🖤....


Bagas Tio Adyanta