Alsya

Alsya
:Miris



..._________________...


...Air mata lolos dengan sombongnya....


...Jatuh tanpa beban, membiarkan hati menangis dan menjerit......


...________________...


...×××...


Matahari telah begitu tinggi menyingsing. Masuk kecelah-celah yang ada tanpa malu. Cahayanya menerpa wajah seorang gadis yang masih setia bergelung dibawah selimut abu-abu tebalnya yang memberikan kesan cantik di wajah manisnya karena terpaan sang mentari.


Mata hitam legam itu terbuka secara perlahan dan menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam netra. Melirik kearah jam yang melekat di dinding kamarnya dengan mata yang sayu. Alsya mencoba untuk mengumpulkan kesadaran nya yang masih setengah-setengah. Sampai matanya membulat sempurna kearah jam yang menunjukkan pukul 06:00 pagi.


"Astaga...", kagetnya sambil meletakkan pigura sang Ayah yang ia peluk selama menyusuri alam mimpi.


Lalu Alsya segera beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan melangkah menuju kamar mandi yang ada didalam kamar, sembari membawa seragam batik sekolahnya.


Setelah menghabiskan waktu kurang lebih lima belas menit. Alsya kemudian keluar dengan seragam sekolah yang rapi dan lengkap. Ia segera merapikan tempat tidurnya dan membersihkan kamarnya.


Itu sudah menjadi rutinitas untuknya setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah. Setelah kehilangan seluruh kebahagiaannya, Alsya bertekad untuk menjadi pribadi yang mandiri. Alsya tidak ingin lagi membebani orang lain dengan dirinya. Walaupun semua fasilitasnya masih ditanggung oleh Mama nya.


Gadis bersurai hitam yang dibiarkan tergerai tersebut melihat kearah jam berwarna hitam bergradasi abu-abu yang melingkar dipergelangan tangan putih mulusnya. Alsya mempercepat gerakan nya membersihkan kamar setelah melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 06:25.


Setelah merasa puas dengan menata kembali kamarnya. Alsya segera turun ke lantai bawah rumahnya dengan tas abu-abu polos yang telah tersampir rapi dibahu kanan.


...×××...


Sesampainya diruang makan keluarga rumahnya. Alsya tidak menemukan siapa-siapa, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan dirumahnya. Hanya suara angin dan cahaya matahari yang menemani paginya. Lalu Alsya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan nya secara perlahan, guna menghilangkan kabut yang tanpa disadari telah menutupi mata.


Mamanya tidak ada dirumah. Satu fakta yang sangat Alsya benci.


Kemudian netranya menangkap sesosok wanita paruh baya yang baru keluar dari arah dapur.


"Eh non Alsya belum berangkat?, udah jam setengah tujuh lewat loh non", ucap wanita paruh baya tersebut setelah berdiri di depan majikan kecilnya itu.


"Hmm, iya Bi. Ini mau berangkat, Mama mana Bik?", tanya Alsya sambil melirik kearah kamar Aruna yang terletak dibawah tangga.


Dengan ragu wanita paruh baya tersebut menjawab. Sebab ia takut merusak suasana hati gadis kecil itu pagi ini.


"Emm, nyonya enggak pulang non dari tadi malam setelah kejadian itu", dengan kepala yang tertunduk ia menjawab pertanyaan nona muda nya yang malang ini. Sungguh, Bi Imah sangat kasihan dengan anak majikannya tersebut.


Umurnya terlalu muda untuk merasakan perihnya hidup. Dulu ia sempat berfikir Kalau kehidupan orang yang berada itu selalu sempurna, karena dengan duit kita bisa membeli segalanya. Tetapi setelah melihat kondisi keluarga majikan nya. Bi Imah baru mengetahui bahwa materi tidak akan ada nilainya jika keluarga tidak menjadi hal yang utama.


Lagi-lagi Alsya menghela nafasnya, "Eum, ya udah Alsya berangkat dulu Bi. Nanti bilangin ke Mama kalau Alsya udah berangkat", itu pun kalau mama peduli, lanjutnya dalam hati seraya tersenyum miris.


"Iya non nanti Bibi sampein."


"Alsya berangkat dulu Bi", ujarnya sambil mencium telapak tangan wanita paruh baya tersebut. Meski pun Bi Imah adalah pembantu di rumahnya. Alsya tidak pernah sekali pun memandang remeh kepada nya. Sebab hanya Bi Imah yang selalu ada untuk nya semenjak kejadian tersebut.


...×××...


Alsya keluar dari rumahnya dan menghampiri mobil nya yang telah terparkir indah di depan halaman rumah.


"Eh non Alsya, mau berangkat ya?. Mau mamang anterin?", tawar mang Joko, supir pribadi yang telah ditunjuk Mama nya beberapa bulan yang lalu.


"Enggak usah Mang. Hari ini Alsya berangkat sendiri aja. Mamang masuk aja, Bi Imah buat pisang goreng tadi", balas Alsya dengan ekspresi yang minim.


"Aduh pisang goreng di pagi hari ditambah kopi anget. Perpaduan yang indah atuh neng. Tapi neng Alsya serius mau berangkat sendiri?", tanya mang Joko sekali lagi memastikan.


Alsya mengangguk yakin, "Iya. Mamang masuk gih. Keburu dingin pisang gorengnya."


"Eh, iya neng. Kalau gitu neng Alsya hati-hati ya dijalan. Jangan ngebut-ngebut. Biar lambat tapi selamat", pesan Mang Joko membuat Alsya merasa tersentuh. Tidak ada yang pernah mempedulikan nya seperti itu selama ini.


"Iya mang. Alsya berangkat dulu", pamitnya sambil mencium telapak tangan pria paruh baya tersebut dan segera memasuki mobilnya.


"Karunya pisan", gumam pria paruh baya tersebut dengan memandang miris mobil yang telah jauh dimakan jalanan.


Kasihan banget.


"Udah cantik, baik hati, pintar, ramah, kaya lagi. Emang bidadari yang nyata ini mah. Seandainya neng Alsya mau sama Bagas. Aduh enggak kebayang punya mantu kayak neng Alsya", monolog Mang Joko sambil melangkah masuk kerumah megah milik majikannya.


...×××...


Tidak pulang dari tadi malam?, kemana pergi wanitanya tersebut, pikirnya.


"Mama kemana?", lirih Alsya khawatir dengan menatap gusar jalanan yang ada di depannya.


"Pulang Maa..., Alsya butuh Mama."


Tepat dengan mobilnya yang sudah terparkir diparkiran sekolahnya dan disaat itu pula cairan berwarna merah mengalir dari hidungnya. Alsya yang menyadari itu pun segera mengambil tissue yang ada diatas dashboard mobilnya dan membersihkan cairan berwarna merah yang terus keluar dari hidungnya secara perlahan.


Setelah memberikan sedikit polesan bedak pada wajahnya. Alsya segera turun dari mobilnya dan melangkah menuju kelasnya yang terletak dilantai dua.


Seperti biasa selalu ini yang Alsya dapatkan saat dirinya menginjakkan kaki di SMA Galaksi. Tatapan memuja, iri dan menggoda yang ditujukan kepadanya. Jujur, ia sungguh risih dengan semuanya. Tapi Alsya tetaplah Alsya. Seberapa banyak tatapan dan omongan yang ditujukan kepadanya ia tidak akan PERNAH PEDULI itu. Biarlah anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Itu salah satu prinsip hidup yang dipegang teguh oleh seorang Alsya Davinka Pranata.


Alsya segera memasuki kelasnya setelah ia sampai didepan pintu coklat yang bertuliskan XI Mipa 1. Jika Alsya adalah kepala sekolahnya maka ia ingin pindah dari kelasnya tersebut.


Jangan tanyakan kenapa, sungguh Alsya sebenarnya tidak ingin masuk kedalam kelas yang berisi para most wanted Galaksi tersebut. Jika kelasnya tersebut berisikan anak-anak kutu buku sekali pun Alsya tidak akan masalah, tetapi kenapa harus anak-anak yang penuh sensasi yang mendiami kelasnya.


Dimana-mana XI Mipa 1 itu terkenal dengan kepintaran nya. Justru lokalnya kebalikan dari itu. Tapi apalah daya jika dirinya hanya komponen kecil dari Galaksi. Memberontak pun tidak ada gunanya.


Lalu Alsya menghembuskan nafasnya sebelum ia melangkah masuk kedalam, "Sebentar lagi Sya, habis itu lo say goodbye deh dengan GALAKSI", setiap sebelum memasuki kelasnya Alsya selalu merapalkan doa dan kalimat semangat untuknya. Jika tidak ingin terkena gangguan jin-jin yang mendiami XI Mipa 1. Alsya harus melakukan itu, pikirnya.


Alsya memasuki kelasnya dengan kepala yang tertunduk. Cewek itu tidak ingin melihat wajah-wajah makhluk astral yang sudah dipastikan sedang berselfie ria disudut kelasnya. Tapi tunggu sebentar, kenapa Alsya merasa kelasnya sangat hening sekali pagi ini.


Hidayah apa yang telah mereka dapatkan tadi malam. Penasaran dengan kondisi kelasnya yang mendadak hening tersebut, Alsya mendongakkan kepalanya. Menghembuskan nafas kasar, pantas saja hening. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam kelasnya. Kemana perginya makhluk-makhluk astral XI Mipa 1.


Alsya tak ingin memusingkan itu. Hidupnya saja sudah banyak beban dan ia tak ingin menambah beban hidupnya lagi. Alsya segera beranjak duduk ke bangkunya yang terletak dipojok ruangan dekat jendela. Alsya sangat bersyukur disaat ia terpilih untuk duduk ditempat tersebut.


Rasanya seperti baru mendapatkan piala Oscar. Karena dengan duduk ditempat tersebut Alsya tidak harus mengotori matanya ketika makhluk-makhluk astral itu sedang membuat kegaduhan. Alsya bisa menatap jendela yang langsung terhubung dengan lapangan GALAKSI.


Waktu sudah menunjukkan pukul 07:00. Itu tandanya 15 menit lagi bel masuk akan berbunyi. Namun tidak ada satu pun dari makhluk-makhluk astral tersebut yang menunjukkan batang hidungnya. Kemana mereka?. Tapi sudahlah, itu bukan urusan nya.


Lalu Alsya mengeluarkan novel yang ada di dalam tas miliknya. Masih ada waktu lima belas menit untuk menghabiskan satu chapter, pikirnya. Belum sampai tujuh menit Alsya membaca. Ia refleks langsung menutup bukunya ketika indra pendengaran nya mendengar suara panggilan maut. Alsya menghela nafas dan memasukkan bukunya kedalam laci bawah meja.


Kemudian Alsya melirik jam yang ada didinding belakang kelasnya. Pukul 07:05. Tidak heran makhluk-makhluk astral tersebut telah kembali dari alamnya.


"ALSYAAAAA", teriak seorang gadis yang baru saja memasuki kelas.


"Apasih Dip. Berisik tau enggak", balas Alsya yang dibalas cengiran oleh Diva Putri Raikan. Salah satu makhluk astral yang menjadi teman sebangkunya. Dosa apa yang Alsya punya sampai ia harus memiliki teman yang sebelas dua belas dengan terompet sangkakala tersebut.


"Hehehe, maaf", Diva menunjukkan jari nya yang berbentuk huruf V kepada gadis berwajah datar dihadapan nya,"Syaa....... gue rindu", lanjutnya sambil memeluk tubuh mungil Alsya.


"Isshh Dip, lepas. Baru juga semalam ketemu" Alsya mencoba melepaskan pelukan dari teman gesreknya tersebut.


"Yeee lo. Seharusnya lo bersyukur karna masih ada gue yang mau rinduin lo. Sementara kan lo jomblo. Mana ada yang rindu sama lo", cerocos Diva sambil melepaskan pelukannya membuat Alsya menghela nafas lega.


"Iya lo benar", ujar Alsya.


Diva benar, enggak mungkin ada orang yang rindu sama lo Sya. Jangan kan rindu, mungkin yang sayang pun enggak ada. Mama? peduli aja enggak. Miris banget hidup lo Sya. Batin Alsya seraya tersenyum miris.


"Eh ni anak, malah ngelamun. Sya, oi Sya", panggil Diva sambil mengguncang-guncangkan lengan Alsya.


Alsya langsung tersentak ketika merasakan sebuah guncang-guncangan kecil dilengannya. "Hmmm", gumam Alsya menyahuti ucapan Diva.


"Sya lo tau enggak? ta-"


"Enggak", sela Alsya.


"Ee somplak, dengerin gue dulu."


"Hmm."


"Tadi itu si-", belum sempat Diva menyelesaikan kalimatnya, bel sekolah sudah lebih dulu berbunyi.


Alsya yang melihat Diva yang mendengus kesal karena ucapannya terpotong oleh bel sekolah. Lantas tanpa sadar menyunggingkan senyum tipis dibibirnya. Catat tipis. TIPIS.


Diva tidak jadi menyelesaikan ucapan nya karena bel telah berbunyi dan makhluk-makhluk astral yang masih berada diluar kelas segera masuk. Karena guru yang mengajar pada jam pertama dikelas XI Mipa 1 adalah guru Galaksi yang harus dihindari jika bertemu.


...×××...


..."Angin benarkah tidak ada yang merindukan diriku?, benarkah tidak ada yang menyayangi gadis kecil ini?. Kenapa angin? kenapa bebanku tidak kau bawa saja dengan udara yang menyelimuti dirimu. Sungguh beban ini terlalu berat. Oh my god. Why should me?, this is really difficult to me."...


...~Rilansun🖤....