
..._____________________...
...Entah waktu yang berjalan sangat cepat, atau dirinya yang tak pernah menghargai kesempatan......
..._____________________...
...×××...
Aruna menatap Bik Imah yang berlari tergopoh-gopoh keluar dari dalam dapur dengan sebaskom air ditangan.
"Untuk siapa Bik?", tanya Aruna dengan penasaran.
Bik Imah sontak berhenti dan menoleh kearah majikannya yang baru pulang dari kantor.
"U-untuk non Alsya, Buk", jawabnya terbata-bata.
Mendengar itu jantung Aruna terasa berhenti berdetak seketika. Kapan terakhir kali ia merawat Alsya ketika sakit?, waktu SD. Ya, ketika Suaminya masih hidup bersama mereka. Setelah itu jangankan merawat, melihat putrinya saja bisa dihitung dengan jari.
Aruna benar-benar ibu yang buruk, bukan.
"A-alsya sakit?", tanyanya lagi.
Bik Imah mengangguk dengan pandangan yang tertunduk. Tak sanggup melihat mata majikannya yang sudah berkaca-kaca itu.
Aruna lantas memejamkan matanya, membuat buliran air mata itu jatuh, "Maafin Mama sayang", gumamnya. Ia sudah berjanji untuk lebih perhatian kepada anaknya, tapi sebagi orang tua tunggal ia harus bekerja mengurus perusahaan peninggalan suaminya. Membuat Aruna sibuk bekerja. Kali ini ia sudah bertekad untuk berubah demi putrinya, Aruna tak akan lagi melakukan hal-hal bejat seperti dulu.
Ia memiliki seorang putri, dan Aruna tidak ingin Alsya menjadi sepertinya. Piala bergilir.
"Biar saya aja", Aruna lalu mengambil alih baskom tersebut dengan tiba-tiba. Membuat Bik Imah mendongak dan menatap kaget wanita itu.
"E-enggak usah Buk, biar saya aja. Ibuk lebih baik mandi dulu, pasti capek kerja", sahut Bik Imah mencoba mengambil kembali baskom berisi air dan handuk tersebut. Namun Aruna dengan kekeuh nya tetap memegang baskom.
"Saya aja, kamu tolong buatin bubur sana", titahnya seraya menyerahkan tas miliknya kepada asisten rumah tangganya itu.
"Tapi Buk-", ucapan Bik Imah terpotong karena Aruna yang langsung berlenggang pergi ke arah kamarnya Alsya. Sebenarnya ia takut jika Alsya marah kepadanya. Sebab Alsya menyuruhnya untuk tutup mulut perihal cewek itu yang tengah sakit.
Tapi tak urung senyum Bik Imah terbit saat melihat perubahan pada majikannya itu. Aruna tampak lebih perhatian dan kembali seperti dulu. Seperti Aruna beberapa waktu silam. Penyayang, lembut dan welas asih.
Lalu wanita paruh baya itu kembali berjalan menuju dapur. Membuatkan bubur seperti yang diminta oleh majikannya tadi. Ia tidak ingin menggangu waktu berdua antara Ibu dan putrinya itu. Mengingat jika waktu itu adalah momen yang sangat berharga.
Dilain sisi, Aruna yang sudah sampai di depan pintu kamar Alsya. Lantas mondar-mandir tak jelas. Ia takut jika putrinya itu menolak kehadirannya. Mengingat perlakuannya selama ini terhadap Alsya.
Namun beberapa detik kemudian Aruna berhenti dan menatap mantap pintu berwarna hitam itu. Saat ini Alsya pasti sangat membutuhkannya. Aruna harus membayar waktu yang telah terbuang sia-sia diantara mereka.
Ceklek
Aruna mengintip saat pintu sudah terbuka sedikit. Hal pertama yang ditangkap oleh penglihatannya adalah kegelapan. Kamar anaknya itu sangat gelap, hanya ada sedikit cahaya dari bintang-bintang yang ada di langit-langit kamar.
Lalu Alsya membuka pintu dengan lebih lebar. Berjalan pelan kearah saklar lampu yang untungnya masih diingat oleh otaknya.
Setelah lampu menyala semua, Aruna lantas membalikkan badannya. Matanya dibuat terkejut saat melihat dua boneka besar yang ada di sudut kamar. Bukan ukuran boneka itu yang menjadi objeknya. Tapi wajah boneka tersebut yang sudah ditempeli oleh fotonya dan Davin.
Apakah segitu kesepiannya Alsya, sampai-sampai terpikirkan ide seperti itu. Tanpa sadar, air mata itu turun lagi dengan mulus.
"Eungh, Bik."
Aruna buru-buru menghapus air matanya saat melihat Alsya yang terbaring di atas ranjang menggeliat pelan. Sepertinya cewek itu terganggu dengan lampu yang sangat terang.
Kemudian Aruna berjalan mendekat dan meletakkan baskom yang sedari tadi dipegangnya keatas nakas. Setelah memeras sebuah handuk kecil.
"Bik, mata Al-"
"Mama?", mata Alsya melotot saat melihat sosok Ibu nya berada tepat dihadapannya. Apakah ia masih berada di dalam mimpi. Atau apakah matanya sudah rabun. Tolong jelaskan ini gimana.
"Kenapa sayang?, kamu haus?", Aruna meletakkan handuk tersebut dengan telaten keatas dahi Alsya. Lalu menatap wajah putrinya yang terlihat mematung dengan penuh tanya. Apakah Alsya benar-benar benci akan kehadirannya.
"Mama ngapain kesini?", tanya Alsya datar.
"Kata Bik Imah kamu sakit, makanya Mama kesini", jawab Aruna dengan pelan.
"Cuma demam, enggak perlu repot", ujar Alsya sungkan. Membuat Aruna merasa canggung. Kenapa mereka seperti orang asing saja, tidak terlihat seperti ibu dan anak.
Lalu mereka terdiam sejenak. Hening tanpa suara, sebelum Aruna berujar dengan lirih, "Maafin Mama."
Alsya hanya melihat sekilas Mama nya itu lalu segera memalingkan wajahnya kearah jendela. Tak ingin melihat wajah yang sedang tertunduk sedih itu.
"Ma-maafin Mama karena udah gak becus jadi orang tua. Maafin Mama karena udah gak perhatian. Mama tau, seharusnya Mama ngelakuin ini dari dulu. Disaat-saat kamu sangat membutuhkan Mama. Tapi Mama gak ada buat kamu. Mama cuma pikirin rasa sakit yang Mama rasain. Mama egois. Hiks, maafin Mama, Sya."
"Udah berapa banyak kesulitan yang kamu hadapi. Berapa banyak luka yang sudah membekas di hati kamu. Dan berapa banyak air mata yang menemani kamu. Mama enggak pernah tau semua itu. Bukan, bukan kamu yang salah karena gak mau cerita. Tapi Mama yang salah, Mama gak ada waktu kamu mau cerita. Mama pergi disaat kamu butuh seseorang yang ngelapin air mata. Mama sama sekali bukan ibu yang baik. Mama salah, mohon maafin Mama, Sya. Hiks", Aruna terjatuh berlutut di samping ranjang Alsya. Menangis dengan air mata yang berderai. Menyesali perbuatannya. Ibu seperti apa dirinya ini. Bahkan seekor binatang saja rela mati untuk anaknya. Tapi ia, yang bahkan memiliki derajat lebih tinggi dari binatang tak pantas untuk disamakan dengan binatang. Betapa buruknya Aruna.
"Hiks, walaupun waktu gak bisa diulang. Tapi Mama ingin sekali melihat putri kecil Mama yang berceloteh dalam pangkuan Mama, bercerita tentang bagaimana hari-harinya. Mencium dan memeluk Mama dengan penuh kasih. Terlelap damai dalam pelukan Mama. Sungguh, Mama sangat merindukan kamu, juga waktu disaat-saat kita berdua. Waktu berlalu sangat cepat, bahkan Mama gak tau kapan putri kecil Mama bisa tumbuh secantik ini", ujarnya panjang lebar sambil menerawang ke masa lalu yang sangat indah itu. Aruna sangat menyayangi putrinya, tapi rasa sayang itu dikalahkan oleh rasa tak ikhlas nya dengan kepergian suaminya.
"Tolong maafin Mama, Sya. Jika aja umur Mama pendek, izinkan Mama untuk mengulangi waktu-waktu saat kita bersama."
Alsya menghapus air matanya yang selalu turun setelah dihapus berulang kali. Mungkin tidak bersuara, tapi Tuhan sangat tau jika di dalam sana hatinya tengah menjerit. Ia juga merindukan Mama nya, bidadarinya. Bukannya Alsya tak ingin mengabulkan permintaan Aruna, hanya saja Alsya tidak tau apakah ia masih memiliki waktu untuk mengulangi semua waktu yang telah terlewati itu.
"Jangan benci Mama sayang, cuma kamu yang Mama punya. Cuma kamu yang bakal ngerawat Mama disaat tua nanti, cuma kamu yang mengantar Mama ke peristirahatan terakhir. Mama-"
"Mama Alsya rindu", sela Alsya membuat kepala Aruna yang sedari tadi tertunduk seketika terangkat. Menatap wajah putrinya yang sudah bersimbah air mata.
"Alsya gak pernah benci Mama, dan Mama bakal hidup lebih lama", dari Alsya, lanjutnya dalam hati.
Aruna sontak berdiri dan menarik tubuh Alsya kedalam pelukannya. Mengelus punggung putrinya yang bergetar hebat. Cewek itu nangis sekeras-kerasnya di dalam pelukan sang Mama yang sudah lama tak dirasakannya.
"Kita berdua bakal hidup bersama-sama sampai Mama tua, sampai kamu sudah memiliki anak sendiri", ujar Aruna tanpa melepaskan pelukannya.
Alsya menggeleng pelan, "Alsya gak mau nikah."
"Kenapa?", tanya Aruna seraya menangkup wajah Alsya. Dan menghapus air mata putrinya.
"Alsya gak mau jadi kayak Mama. Alsya gak mau jatuh cinta dan buat Alsya lupa akan Mama. Alsya gak mau ninggalin Mama. Alsya sayang Mama", sahutnya membuat Aruna tertegun dan kembali terisak.
"Maafin Mama sayang", Aruna menciumi seluruh permukaan wajah Alsya yang sedikit basah karena air mata. Ia merasa bersalah karena sudah membuat Alsya begitu trauma akan suatu hubungan.
"Jangan tinggalin Alsya lagi Ma. Alsya takut tidur sendirian", curahan hati sang putri yang membuat tangis Aruna semakin pecah. Ia merasa tak berguna menjadi seorang Ibu.
"Mama gak akan ninggalin kamu", Aruna mengeratkan pelukannya pada tubuh Alsya yang terasa hangat. Kalau bisa, biarlah tubuhnya yang panas. Biarlah ia yang sakit. Jangan lagi putrinya, sebab Alsya sudah banyak terluka selama ini. Dan itu karena dirinya. Tuhan, ampunilah ia.
Di kegelapan malam yang kentara, ibu dan anak itu saling berpelukan dengan tangis yang bergema. Menyalurkan rasa rindu yang sudah lama tertahan. Air mata menjadi saksi bagaimana kejamnya keegoisan. Merenggut seorang ibu dari putrinya.
...×××...
..."Waktu. Bisakah kamu berbelas kasih pada ku. Bisakah kamu membiarkan aku memeluknya walau sebentar. Setidaknya sampai kamu mengambil ku untuk selamanya."...
...~Rilansun🖤....