Alsya

Alsya
:Rindu



...__________________...


...Di dalam kesunyian ada kebahagiaan, tapi belum tentu di dalam kebahagiaan ada kesunyian.......


...__________________...


...×××...


Seorang gadis yang hidupnya tidak pernah mendapat kebahagiaan dan bahkan mungkin sudah lupa dengan kata Bahagia. Seorang gadis yang mengabdikan hidupnya dalam kegelapan dan keheningan, seolah itulah sumber kebahagiaan nya.


Alsya Davinka Pranata. Seorang gadis yang selalu menghabiskan harinya dengan menuliskan keluh kesahnya di dalam sebuah buku yang berwarna abu-abu dan sudah terlihat usang, bahkan sama persis dengan kehidupannya. Abu-abu.


Seperti saat ini Alsya kembali menuliskan keluh kesahnya di bawah temaram cahaya bintang di balkon kamarnya. Alsya hanya seorang diri dengan ditemani buku kesayangannya dan secangkir cokelat panas kesukaannya. Menulis dan menyendiri itulah dunianya.


01 April 20**


...Aku kalut...


...Mengapa harus aku...


...Aku letih...


...Aku juga ingin bahagia...


...Jika aku tak berhak bahagia...


...Mengapa aku masih tetap disini...


...Ambil lah......


...Sungguh aku penat, aku tak sanggup...


...Bumi belum puaskah kau mempermainkan ku?...


...Aku hanya sendiri, aku tak sanggup menahannya...


...When i can happy?......


...Aku bosan dengan duniaku...


...Apakah dosaku terlalu banyak ya Tuhan...


...Sampai aku tak berhak bahagia...


...Biarlah aku tidak merasakan dunia...


...Yang penting aku tak lagi merasakan sakit...


...Ini terlalu perih ya tuhan...


...Cabutlah.......


...Aku ikhlas jika itu yang kau lakukan...


...Aku rindu ingin tersenyum...


...Bumi izinkan aku tuk bahagia............. ...


^^^Grey^^^


Dengan memegang secangkir cokelat panas dikedua tangannya. Alsya memandang langit malam yang indah ditemani beribu bintang dan disinari satu bulan. Terkadang dirinya merasa iri dengan malam. Langit malam memiliki bintang dan bulan yang selalu menemaninya, bahkan tidak satu ataupun dua, tetapi beribu-ribu bintang sekaligus. Sedangkan dirinya, seorang pun tidak ada disisinya.


Miris


"Gue letih ya Tuhan", lirihnya dengan mata yang menerawang jauh ke langit malam.


Detik berikutnya Alsya memejamkan matanya. Mencoba kembali mengingat-ingat dimana dirinya pernah merasakan sebuah kebahagiaan. Dimana ia selalu mendapatkan kehangatan keluarga, pelukan dan kasih sayang. Tetapi itu dulu. Sebuah buku lama yang Alsya simpan di dalam memori dan hatinya. Takkan pernah bisa ia lupakan.


Rindu. Itulah yang dirinya alami saat ini. Tetapi Alsya bingung bagaimana caranya ia bisa melampiaskannya. Sementara hal yang di rindukan hatinya saat ini tidak mungkin bisa kembali seperti dulu. Sungguh sangat impossible.


Kemudian lamunan nya tentang masa-masa indah yang pernah Alsya alami buyar ketika indra pendengaran nya menangkap kegaduhan yang berasal dari lantai bawah rumahnya.


Alsya langsung membuka matanya dan menghela nafas panjang, "Bisakah gue menikmati hidup walau sebentar aja", gumam nya sambil meletakkan secangkir cokelat panas yang sedari tadi di genggamnya ke atas meja dan meraup wajahnya dengan kasar.


Lalu Alsya bangkit dari duduknya dengan membawa buku dan secangkir cokelat panas tersebut. Dan segera masuk kedalam kamarnya.


Alsya meletakkan buku dan cokelat panas tersebut diatas meja belajar nya. Lalu bergegas turun setelah menutup pintu balkon kamarnya terlebih dahulu. 


...×××...


Sesampai dilantai bawah rumahnya. Alsya kembali menghembuskan nafas kasar. Lagi-lagi pemandangan ini yang selalu dilihatnya setiap malam. Jujur, Alsya bosan.


Pemandangan ini seolah-olah sudah menjadi makanan nya sehari-hari. Pemandangan dimana Mama nya pulang dalam keadaan mabuk dan selalu di dampingi dengan pria yang berbeda setiap malamnya.


Dulu Mama nya adalah sosok wanita penyayang dan lemah lembut. Wanita yang begitu baik dan pengertian kepadanya. Seorang Ibu yang selalu menyayangi dan memanjakannya. Istri yang sangat perhatian dan mencintai suaminya.


Tapi itu dulu, sebelum tragedi naas tersebut merenggut nyawa seseorang yang begitu berarti dalam kehidupan Alsya dan Mama nya.


Aruna, Mama nya berubah semenjak peristiwa itu terjadi, peristiwa dimana Alsya harus kehilangan sosok pria dan cinta pertamanya. Papa nya.


Aruna seolah tidak merelakan kepergian suami tercinta dan melampiaskan semuanya pada minum-minuman haram dan para pria hidung belang yang hanya ingin memenuhi kebutuhan biologis nya melalui Mama nya. Sungguh Alsya membenci pria-pria berengsek tersebut.


Semenjak itu pula gadis tersebut kehilangan Mama nya, teman nya, dan wanita nya. Disini Aruna beranggapan bahwa dirinya lah yang paling terpukul. Tapi taukah wanita itu jika ada gadis kecil yang sangat-sangat menderita di kisah ini.


Gadis kecil tersebut sudah kehilangan Papa nya, cinta pertamanya dan lagi-lagi bumi merenggut kasih sayang dari wanitanya. Seolah bumi tidak pernah berhenti mempermainkan nya, seolah air matanya tidak pernah habis dan lukanya seolah tidak pernah bisa sembuh.


Disaat Alsya butuh kasih sayang dan pelukan hangat Ibunya, tetapi justru air mata yang selalu turun menemaninya. Jujur, Alsya rindu Papa nya, Alsya rindu wanitanya, dan Alsya rindu kebahagiaan yang sudah lama tak pernah dirasakan nya.


Kehangatan keluarga?.


Sudah hilang bersama terkuburnya Davin, Papa nya pada hari itu. Semua kebahagiaan dan senyuman nya ikut pergi bersama Papa nya.


Pergi jauh, sangat jauh meninggalkan Alsya sendirian di dunia yang kejam ini.


"Papa, Alsya rindu", gumam Alsya dengan sebulir air mata yang turun dari pelupuk matanya.


Malam yang dingin dengan air mata yang luruh. Alsya harus menghabiskan malam sendirian lagi dengan beribu kesakitan yang ada padanya.


...×××...


..."Tuhan aku rindu malaikat ku, aku rindu pelukan hangat wanita ku, aku rindu tawa sahabat ku, dan aku rindu senyuman Ibu ku. Ma... Alsya rindu Mama. Come back Mom. Pleasee, i'm very miss you."...


...~Rilansun🖤....


Alsya Davinka Pranata