Alsya

Alsya
:Sebuah lamaran tak terduga



...____________________...


...Seorang perempuan tidak akan mau membuang sia-sia air matanya jika orang itu tidak benar-benar berarti untuknya......


...____________________...


...×××...


Bik Imah meletakkan gelas berukuran besar yang berisi air dingin di hadapan Alsya. Kepala wanita itu menggeleng pelan dengan mata yang menatap takjub anak majikannya tersebut.


"Bik."


"Apa non?", sahut Bik Imah dengan pandangan penuh tanya.


"Cabe nya masih ada enggak?."


Pertanyaan Alsya yang membuat Bik Imah refleks melebarkan matanya.


"Ya ampun non, kok enggak cukup-cukup, itu kuah nya udah hijau banget loh. Sampai Bibik kirain rawa tadi", Bik Imah sekali lagi menggelengkan kepalanya. Padahal sudah banyak cabai yang di tuang Rea ke dalam mangkuk mie nya. Sampai membuat kuah itu berwarna hijau pekat seperti tak layak untuk dimakan. Bik Imah yang melihatnya saja sudah bergidik ngeri. Apalagi Alsya yang merasakannya. Namun tak sedetikpun Alsya menyerah untuk memakannya. Malahan meminta tambahan cabai.


Gadis itu benar-benar sangat nekad.


"Ini bukan rawa, tapi ingus", sahut Alsya asal seraya menyeruput kuah mie nya. Membuat keringat bercucuran di wajahnya, air matanya yang sedikit keluar dari sudut mata. Serta hidungnya yang sudah meler. Benar-benar sebuah penyiksaan yang sangat nikmat.


"Ingat perut sama kepalanya, non. Mau nginap lagi di gedung putih?", seru Bik Imah seraya berjalan masuk ke dalam dapur. Membuatkan sesuatu yang manis untuk dimakan oleh Alsya nanti.


Mendengar itu Alsya lantas mendengus pelan, "Percuma aja gue hidup, kalau enggak ada yang menghargai kehadiran gue", monolog Alsya pada dirinya sendiri.


Malam ini, Alsya benar-benar merasakan arti kesepian yang sesungguhnya. Tidak ada yang menemaninya. Kebahagiaan seakan enggan untuk mampir ke dalam hidupnya barang sejenak. Menemaninya menghabiskan sisa umurnya.


Selepas malam ini, Alsya akan kehilangan Aska nya untuk yang kedua kalinya. Tapi mungkin, kali ini Aska nya tidak akan pernah kembali lagi. Cowok itu akan menjadi milik orang lain. Tidak ada lagi istilah Aska hanya untuk Syasya. Sekarang hanya ada Syasya yang tinggal sendirian di dalam gelapnya kesepian.


Aruna pun sedang tidak berada di rumah. Entah kemana Mama nya itu pergi. Sebab disaat Alsya pulang sekolah, Aruna sudah pergi. Bik Imah sendiri pun tidak tau kemana perginya Aruna.


Tapi satu hal yang Alsya tau, Mama nya pasti pergi ke rumah Alaska untuk membantu acara pertunangan cowok itu.


Huh, mengingat itu membuat Alsya kesal bukan main.


Tapi jika ini adalah kebahagiaan untuk Alaska, maka Alsya akan mendoakan yang terbaik untuk teman masa kecilnya itu.


Sekarang rasanya Alsya ingin menangis sekuat-kuatnya.


Drrt drrt


Alsya mengalihkan pandangannya dari mie yang ada di dalam mangkuk itu ke arah ponsel yang berada di sampingnya.


Setelah melihat siapa gerangan yang menelponnya. Alsya lantas mengangkat dan mendekatkan benda pipih tersebut ke arah telinganya.


"Hm?", Alsya memulai percakapan dengan malas seraya kembali menyantap mie nya.


Sebenarnya Alsya masih kesal saat mengetahui kalau Diva adalah mata-mata yang ditunjuk oleh Alaska untuk mengawasinya. Dan siapa yang menduga kalau Diva adalah pacar dari Rafael, sepupunya Alaska yang tak pernah Alsya kenal.


"Lo di rumah?, gue mau ke sana. Mana tau lo gila dan nekad ngelakuin hal yang enggak-enggak karena ditinggal nikah."


Mendengar itu Alsya sontak memutar bola matanya malas. Sebenarnya maksud Diva itu mengejeknya bukan.


Hell, walaupun ditinggal nikah sekalipun Alsya tidak akan melakukan hal nekad hanya karena seorang cowok.


Sebab Alsya tak mau dipandang sebagai perempuan lemah yang hanya bisa bergantung di bawah kaki laki-laki.


"Gue bukan lo Diva", sarkas Alsya membuat Diva menggerutu di seberang sana. Ya, Alsya baru tau kalau Diva dan Rafael sudah putus. Saat cewek itu datang ke rumahnya dengan bersimbah air mata dan menceritakan segalanya.


Bahkan tangisan Diva awet hingga subuh. Tapi dari sana lah Alsya tau kalau Diva benar-benar tulus mencintai Rafael.


Seorang perempuan tidak akan mau membuang sia-sia air matanya jika orang itu tidak benar-benar berarti untuknya.


"Iya deh, yang strong girl. Gue mah apa atuh yang cuma serbuk marimas rentengan."


Alsya mendengus pelan, "Kalau gak mau kemari, gue mau tidur."


Klik


Alsya langsung mematikan sepihak panggilan tersebut saat Diva ingin memulai lagi membahas dunia percoganan-nya.


Pantas saja Rafael memutuskannya, genit sih.


Lalu Alsya memandang mie nya dengan lesu. ***** makannya tiba-tiba saja hilang. Belum sempat Alsya merebahkan kepalanya di atas meja. Bel rumahnya sudah lebih dulu berbunyi.


Membuat Bik Imah keluar dari dalam dapur dengan tergopoh-gopoh.


Alsya tak peduli, cewek itu lantas menjatuhkan kepalanya pada lipatan tangan di atas meja. Mengistirahatkan sejenak letih nya yang sudah akut.


"Non, ganti bajunya gih sana."


Alsya mendongak menatap Bik Imah yang berdiri di sampingnya.


Keningnya yang mulus lantas mengernyit heran melihat Bik Imah yang tersenyum-senyum. Ada apa dengan Bibik nya itu.


Alsya berdiri dan memandang penuh tanya ke arah Bik Imah, "Kenapa?."


"Gak usah banyak tanya, sekarang cepat gih ganti baju. Dandan yang cantik-cantik ya, non", Bik Imah mendorong Alsya untuk cepat beranjak ke kamarnya. Cewek itu pun menurut dengan kebingungan yang melanda. Saat berada di undakan anak tangga paling atas, Alsya mencoba untuk mengintip siapa saja orang yang tengah bercengkrama di ruang tamu rumahnya.


Namun teriakan Bik Imah membuat Alsya mengurungkan niatnya. Tanpa berpikir banyak lagi Alsya segera berjalan memasuki kamarnya. Cewek itu mengangkat bahunya acuh, mungkin saja itu adalah salah satu kolega bisnis Mama nya. Karena Alsya sempat mendengar suara Aruna yang tengah tertawa tadi.


"Pakai baju apa ya?, lagian ngapain sih gue harus ganti baju?, perasaan yang gue pakai layak kok untuk dipandang", Alsya menatap baju yang dikenakannya. Dari atas hingga bawah.


Tak ingin bersusah payah, Alsya pun tak jadi mengganti pakaiannya. Bukankah itu kolega bisnis Mama nya, berarti ia tidak dibutuhkan bukan disana.


Palingan nanti dirinya akan duduk diam seraya mendengarkan mereka yang berbicara tentang bisnis yang sama sekali tidak Alsya mengerti.


"Loh, non?", Bik Imah mengernyit menatap Alsya yang masih memakai piyama tidur berwarna hitam yang gadis itu kenakan tadi.


"Males Bik, hemat baju", jawabnya dan berlalu pergi menuju ruang tamu.


Membuat wanita paruh baya itu tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Alsya dan segala ketidak-peduliannya.


Langkah Alsya yang sudah memasuki ruang tamu seketika berhenti saat mendapati cowok yang sudah membuatnya berniat untuk melupakannya. Cowok yang sudah mematahkan hatinya untuk kesekian kalinya. Yang tak pernah menepati janjinya kepada Alsya.


Cowok itu....Alaska. Laki-laki kedua yang Alsya sayangi setelah Papa nya. Namun laki-laki itu pula yang pergi meninggalkannya setelah kepergian Papa nya.


Sepertinya Tuhan memang tak mengizinkannya untuk memiliki sandaran yang kokoh dan kuat.


"Davin is a very lucky father to have such a beautiful daughter", ucapan Kelvin yang membuat semua pasang mata langsung menatap ke arah Alsya yang berdiri di depan mereka.


"Kamu udah datang sayang?, sini-sini duduk dekat Mama", Aruna memanggil Alsya untuk duduk disampingnya. Namun putrinya itu tak bergeming sama sekali.


Satu yang ada dipikiran Alsya saat ini, untuk apa Alaska datang kemari?, apakah ingin memamerkan pertunangannya?, atau mengumumkan tanggal pernikahannya.


Kalau iya, Alsya benar-benar tak berniat untuk duduk diantara mereka. Ia juga manusia, hatinya tidak diciptakan dari batu.


"Kenapa, Sya?", tanya Aruna menghampiri Alsya yang berdiri dengan wajah datarnya.


"Ngapain lo kesini?", Alsya tak menjawab, cewek itu malah melontarkan pertanyaan pada Alaska yang duduk menatapnya.


"Sya", bisik Aruna seraya memegang pundak putrinya. Mengapa Alsya tiba-tiba bersikap ketus seperti itu. Terakhir kali bukankah hubungan Alaska dan putrinya masih baik-baik saja.


"Kalau bahas hal yang gak penting, gue enggak punya waktu", Alsya tak menghiraukan teguran Mama nya.


Alaska berdiri dengan senyuman tipis andalannya, "Kalau aku bahas tentang pernikahan kita gimana?, kamu punya waktu enggak?", ujarnya dengan kedua tangan yang berada di dalam saku celana.


Mendengar itu Alsya lantas melebarkan matanya dengan mulut yang sedikit terbuka.


What the hell, apa yang dibilang oleh cowok itu tadi. Pernikahan kita?. Kita?, maksudnya Alsya dan Alaska gitu.


Apa-apaan ini, mengapa semesta suka sekali bercanda dengannya.


...~Rilansun🖤....