
...__________________...
...Aku tak pernah ingin bermain dengan alunan yang dibawa oleh cinta. Cukup alunan takdir yang telah memberiku luka......
...__________________...
...×××...
"Sya, kalau pulang, langsung pulang. Ingat!"
Alsya yang mendengar itu pun langsung memutar bola matanya jengah, sudah berapa kali Bintang mengucapkan itu. Jika dihitung mungkin sudah lebih dari sepuluh kali.
"Gue curiga selain dokter lo tu juga admin lambe turah ya!, habis nyinyir nya gak ketulungan. Heran", kata Alsya sambil memandang jalanan lewat kaca jendela mobil.
Kini Alsya berada di dalam mobil Bintang. Entah angin apa yang membawa dokter tampan tersebut datang pagi-pagi ke rumahnya dan bersikeras untuk mengantarkan dirinya kesekolah. Dengan ancaman Alsya harus mau kerumah sakit sepuluh kali dalam sebulan, jika cewek itu menolak ajakannya. Mendengar itu tentu saja Alsya tak mau. Sedangkan satu malam saja ia sudah tidak betah didalam gedung yang dominan berwarna putih itu. Apalagi sepuluh hari. Bukannya sehat malah Alsya semakin sakit dibuatnya.
"Gue itu kan khawatir sama lo anoa!", balas Bintang tak terima jika dirinya dibilang admin lambe turah. Bisa-bisa turun kefamousan nya sebagai dokter tampan plus dingin.
Alsya tak lagi menggubris omelan Bintang yang sudah menyerupai ibu-ibu komplek disaat mendapatkan bahan ghibahan baru. Tidak ada hentinya menyerocos.
"Bin, gue turun disitu aja", Alsya menunjuk toko buku yang terletak tidak jauh dari sekolahnya.
"Kenapa sih?, cewek lain aja mohon-mohon mau tusuk mobil gue. Lah lo, mohon-mohon minta turun. Aneh lo tuh", gerutu Bintang dan tak mengindahkan perintah Alsya untuk turun di depan toko buku tersebut.
Alsya yang menyadari jika toko buku itu telah lewat. Langsung memandang kearah Bintang dengan tajam, "Dokter kok budeg!, turunin gue disini!."
"Enggak."
"Bin cepet turunin gue disini", ujar Alsya mencoba sesabar mungkin.
"Kenapa sih Sya?, di antarkan sampe depan sekolah kok enggakk mau. Lagi pula badan lo tu masih belum bisa jalan jauh-jauh", Alsya mengembuskan napas pasrah. Jika soal berdebat Bintang tidak ada duanya. Lebih baik Alsya diam dari pada dibilang terus-terusan tentang dirinya yang lemah. Alsya benci fakta itu.
Mobil bintang sudah terparkir didepan gerbang sekolah SMA Galaksi. Alsya yang baru saja hendak turun langsung dicekal oleh Bintang. Lantas Alsya menolehkan kepalanya kearah Bintang dengan kernyitan didahinya.
"Gue anterin lo sampe depan gerbang aja ya. Soalnya gue ada pasien pagi ini. Enggak apa-apa kan?", tanya Bintang dengan raut wajah bersalah.
"Enggak apa-apa", untung cuma sampe sini, kalau sampe dalam bisa berabe, lanjut Alsya dalam hati dengan lega.
"Ya udah. Belajar yang pinter ya. Pulang sekolah langsung pulang. Jangan makan sembarangan. Jangan deket-deket sama cowok. Ja-", belum sempat Bintang melanjutkan ucapannya. Alsya sudah menyelanya terlebih dahulu.
"Apa hak lo?, nyuruh gue enggak usah deket-deket sama cowok", tanya Alsya curiga dengan mata yang memicing atas sikap posessive yang Bintang tunjukkan.
"Gue calon suami lo", jawab Bintang santai.
"What?!, pacaran aja enggak. Langsung klaim calon suami. Lo gila apa gimana?", Alsya menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir.
"Oh, jadi lo kodein nih minta ditembak ceritanya. Okey", Bintang tersenyum menyeringai.
"Hah?", Alsya merasa tak paham dengan apa yang dibilang Bintang.
"Alsya Davinka Pranata, will you be my girlfriend?", Bintang mengunci mata Alsya, seolah menunjukkan betapa seriusnya ia saat ini.
"Lo gi-"
"Hahahah, komuk lo mirip anoa yang mau pup, hahaha", Bintang tertawa terbahak-bahak. Menghentikan ucapan Alsya yang diyakini ingin menghujatnya dengan kosa kata tajam yang dimiliki gadis penyuka abu-abu tersebut.
"Lo emang enggak waras. Mending lo resign deh dari pekerjaan lo. Takut membahayakan pasien nantinya", sarkas Alsya dan keluar dari mobil Bintang dengan menutup mobil pintu dengan keras sampai menimbulkan suara.
Bintang tersenyum tipis melihat punggung rapuh gadis yang menjadi pasiennya tersebut , "Gue enggak pernah main-main dengan ucapan gue Sya. Janji dokter aja gue jalanin. Apa lagi janji untuk menjadi partner hidup lo", gumam Bintang sambil menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan GALAKSI.
Tanpa Alsya sadari ada sepasang mata yang tak luput memandanginya, dari Alsya didalam mobil bersama pria tersebut sampai ia keluar dari mobil. Orang itu merogoh ponselnya dan langsung menghubungi seseorang ketika matanya tak lagi melihat mobil pria yang bersama Alsya tadi.
"Hallo."
"......."
"Tadi aku nampak dia sama cowok didalam mobil."
"......."
"Aku enggak tau, tapi perkiraan aku umurnya dua puluhan dan kayaknya dia seorang dokter."
"......"
"Dua puluh menit."
"......."
"Hmmm."
Klik. Sambungan telepon terputus. Seseorang tersebut kembali melangkahkan kakinya ketujuan awalnya.
...×××...
Alsya memasuki pekarangan sekolah dengan wajah datarnya. Alsya sangat kesal ketika mengingat Bintang yang mempermainkan ucapan nya. Alsya tidak berharap akan ucapan tersebut. Tetapi tahu kah Bintang jika jantungnya sudah berdetak abnormal hanya karena bualan receh dokter pedofil tersebut. Dasar cowok, sukanya mainin hati cewek. Dikira ini hati transformers apa?, bisa berubah setelah dihancurin.
Lalu Alsya menutup telinganya setelah mendengar sebuah panggilan maut.
"Alsyaa", teriak Diva menggelegar. Membuat Alsya menoleh kebelakang dan menghentikan langkahnya.
"Sya..., gue tadi ngelihat lo keluar dari dalam mobil cowok. Siapa?, kelihatannya lo akrab banget", tanya Diva mulai kepo.
Tuh kan, diluar gerbang aja masih kelihatan. Apalagi masuk coba?, sudah pasti heboh.
Itulah alasan Alsya tidak mengizinkan Bintang untuk mengantarnya sampai gerbang sekolah. Alsya tidak ingin menjadi bahan gunjingan orang-orang. Walau dirinya selalu menjadi topik utama dalam obrolan Galaksi.
"Akrab?, enggak ah. Biasa aja", Alsya melanjutkan langkahnya dengan Diva disampingnya.
"Iya loh. Lo itu akrab banget. Gue kira itu cowok lo, mana ganteng lagi", mata Diva berbinar ketika mengingat wajah tampan Bintang. Walaupun hanya sekilas, "Tapi serius itu cowok lo Sya?, kok gue enggak tau", cerocos Diva dengan memiringkan kepalanya kearah Alsya.
"Serius?!", mata Diva menatap penuh minat kearah Alsya.
"Hm."
"Gue enggak percaya", Diva mencebik kan bibir bawahnya tak percaya.
"Enggak ada yang nyuruh lo untuk percaya", Alsya memasuki kelas dengan membaca doa sebelumnya.
"Sya. Gue harap lo bisa bahagia. Gue akan selalu ada di barisan paling depan untuk melindungi lo dari orang yang udah ngebuat air mata lo harus jatuh", monolog Diva sebelum melangkahkan kakinya masuk kedalam kelas menyusul Alsya yang sudah duduk cantik di kursinya.
...×××...
Pergerakan Alsya yang ingin mengambil novel di bawah laci. Langsung terhenti ketika merasakan sebuah tepukan dipundak nya. Alsya mendongakkan kepalanya dan melihat seseorang yang telah menepuk pundaknya itu.
Lalu Alsya memutar bola matanya jengah ketika tau siapa orang tersebut.
Sedangkan orang itu, langsung duduk di kursi yang ada didepan Alsya tanpa menghiraukan tatapan tajam cewek tersebut.
"Sya lo enggak apa-apa kan?, gue takut lo sakit. Semalem kan lo pulang hujan nya masih deras banget. Mana lo-", ucap Arkan terpotong dengan suara maut dari belakangnya.
"Eh pawang monyet. Sejak kapan lo perhatian sama Alsya. Mendingan lo urus tuh monyet lo yang lagi buat kegaduhan di kantin. Buat malu aja", sarkas Diva sambil mencoba mengusir Arkan.
"Apaan sih lo kutu kuda. Ganggu aja, gue lagi ngapelin calon pacar nih. Mendingan lo tuh yang nyari cowok. Jadinya kan enggak ganggu orang lagi pdkt", balas Arkan dengan melepas cekalan Diva pada tangannya.
"Gue nggak pernah mau jadi calon pacar lo Playboy cap kadal", sahut Alsya greget. Sudah dua kali dirinya pagi ini diklaim milik seseorang. Dikira Alsya barang apa, yang bisa diklaim kapan aja.
Alsya punya harga diri mas bro.
"Nah lo dengarkan Arkan Drilly P. Cepat gih, urus monyet lo yang satu itu. Sebelum dia ngehancurin kantin Galaksi. Bisa berabe entar perut gue kalau destinasinya hilang", celetuk Diva sambil melangkah kearah kursinya yang berada di samping Alsya.
Arkan mendengus kesal dan berjalan keluar dari kelas.
"Jangan lupa dikasih bius monyetnya. Biar mati sekalian", teriak Diva sebelum Arkan benar-benar keluar dari dalam kelas.
Arkan tidak menghiraukan ucapan si cempreng Diva. cowok itu melanjutkan langkahnya kearah kantin. Untuk melihat kegaduhan yang dibuat oleh Astrid, pacarnya. Arkan tidak mengira jika dirinya bisa berpacaran dengan gadis bar-bar seperti Astrid Latira Kusuma. Queen bullying nya Galaksi. Gadis bar-bar XII IPS 3.
Sementara Alsya yang melihat interaksi antara dua makhluk astral tersebut hanya menggelengkan kepalanya. Alsya tak habis pikir, bagaimana bisa kepala sekolah menempatkan makhluk-makhluk astral itu didalam kelas MIPA 1. Apa jangan-jangan kepala sekolah pada saat itu sedang buta warna apa?, sampai tidak lagi bisa melihat mana yang manusia dan mana yang jadi-jadian.
"Sya, lo enggak diganggu kan sama pawang monyet?", tanya Diva yang dibalas sebuah gelengan kepala oleh Alsya.
"Bagus deh. Lo jangan dekat-dekat sama dia ya. bisa digrayang sama monyetnya lo entar", tambah Diva.
"Enggak minat", sahut Alsya datar.
"Terus minatnya sama siapa?. Sama pak dokter?", goda Diva.
"Apa sih lo Dip. Dia itu bukan siapa-siapa. Lagi pula dari mana lo tau kalau dia dokter?", tanya Alsya dengan memicingkan matanya.
"Bukan siapa-siapa. Tapi kok betah banget di dalam mobilnya", cibir Diva.
"Tadi gue lihat sekilas dia kayak pakai snelli putih gitu. Apalagi kalau bukan dokter", lanjut Diva menjawab pertanyaan Alsya.
"Gue enggak ngapa-ngapain, gue cuma bilang makasih karena udah mau nebengin."
"Tapi kalau lo enggak mau. Gue mau sih", Diva cengengesan membuat Alsya merotasikan bola matanya.
"Kalau naksir enggak usah mojokin gue dulu. Langsung aja to the point", sinis Alsya.
"Hehe..., ya namanya gue pastiin. Kalau lo sama dokter tampan enggak ada apa-apa", balas Diva dengan cengiran khasnya.
"Lagi pula gue enggak minat dengan yang namanya CINTA", ucap Alsya dengan penekanan diakhir kalimat.
"Ih kok lo jadi ngegas sih. Alsya baperan nih", Diva mencoba untuk memancing amarah sahabatnya. Biarlah Alsya mengeluarkan uneg-unegnya jika ia bisa bahagia walau pun harus Diva yang menjadi pelampiasan nya.
"Gue enggak baperan. Gue cuma enggak suka aja sama sikapnya yang mengklaim sesuatu dengan mudahnya", Alsya kembali mengingat ucapan Bintang dan Arkan yang mengklaim dirinya seenak jidat mereka.
Diva tersenyum puas melihat Alsya yang mengeluarkan uneg-unegnya, "Lo PMS?, emosian banget. Siapa tadi yang lo maksud?, pawang monyet apa pak dokter?."
"Jangan sebut nama dua makhluk astral itu. Kesel gue dengernya. Enggak tau apa, kalau cewek yang lagi PMS itu bisa mengalahkan ular yang ada di amazon?."
Alsya tidak sadar entah sudah berapa kalimat yang dirinya ucapkan pagi ini. Tapi ia tidak perduli. Moodnya dalam keadaan tidak baik saat ini.
"Pokoknya gue enggak mau jatuh dalam alunan yang dibawa hati. Gue nggak mau", ujar Alsya dengan tegas sambil menjatuhkan kepalanya pada lipatan tangan diatas meja.
Diva yang mendengar Alsya sudah berani untuk berbicara banyak padanya pun tersenyum dengan lebarnya. Menurutnya tidak ada yang lebih bahagia disaat melihat sahabat nya bahagia.
Sahabat adalah prioritas kedua setelah keluarga. Melukai sahabat sama saja dengan mengkhianati alam semesta. Orang yang berani mengkhianati sahabatnya lebih rendah dari sampah.
Tanpa Alsya sadari Diva sedari tadi merekam semua yang Alsya ucapkan. Entah untuk apa rekaman itu nantinya. Hanya Diva dan Tuhan lah yang tau.
Pelajaran pun dimulai dengan bunyinya bel masuk dan diiringi dengan datangnya Buk Wati selaku guru matematika nya GALAKSI yang memasuki kelas MIPA 1.
Semua makhluk astral itu langsung ngacir kebangku masing-masing. Menurut warga MIPA 1, mencari masalah dengan guru matematika tersebut sama saja dengan tandanya kalau kita siap di tendang ke pluto.
Sesangar-sangarnya pak Ucok, mengalahkan kegalak-galakkan buk Wati. Jika saja mereka belum mempunyai keluarga masing-masing. Maka bisa dipastikan bahwa mereka bisa menjadi couple goals. Atau mungkin mereka memang memiliki hubungan gelap?, mengingat sikap bar-bar yang dimiliki kedua guru tersebut.
...×××...
..."Matahari, tolong umumkan kepada seluruh alam. Bahwa diriku tidak ingin mengenal yang namanya jatuh cinta. Aku tidak ingin merasakan sakit yang sama. Sudah cukup matahari. Sudah cukup aku mengenal rasanya. Aku tidak ingin lagi mengenalnya. Matahari, jika pun rasa itu ada. Maka cairkan lah es yang ada di kutub dan kirimkan kepada ku. Untuk kujadikan benteng pertahanan dalam hatiku. Enough sun. This is enough for me. I don't want to meet with love."...
...~Rilansun🖤....
Arkan Drilly P.