
...__________________...
...Jika lelah tinggal mengaku, Tuhan tidak akan pernah menertawakan......
...__________________...
...×××...
Alsya melangkahkan kakinya ke kantin. Meninggalkan dua anak cucu adam yang masih setia berdebat ria didalam uks sana.
Bel telah berbunyi lima belas menit yang lalu, berarti ia dan Arkan telah meninggalkan tiga jam mata pelajaran guru berdarah batak tersebut. Entah apa yang akan diperbuat oleh pak Ucok nantinya.
Lalu Alsya meringis ketika merasakan perih di kulit kepalanya. Ini bukan pusing seperti biasanya. Bukan, rasa sakit ini seperti dijambak. Lantas Alsya memutar tubuhnya ke belakang dan mengurungkan niatnya untuk melangkah masuk ke kantin.
Nah, kan benar. Lihatlah bagaimana monyet nya si Arkan dengan santainya menggenggam rambut Alsya dan menariknya dengan kasar. Apa dia kekurangan pisang?, atau atraksi topeng monyet nya tadi tidak dapat saweran?.
Alsya menatap rambutnya yang berada dalam genggaman Astrid, lalu menatap gadis berambut blonde itu dengan tajam, seolah mengisyaratkan 'lepasin rambut gue'. Tapi ternyata seorang Astrid Latira Kusuma tidak peka akan kode yang Alsya berikan.
Merasa terintimidasi dengan tatapan gadis di hadapannya itu, Astrid beranikan diri untuk memulai pembicaraan yang mungkin berujung perkelahian.
"Apa?!", dengan menaikkan dagunya Astrid memandang Alsya remeh.
"Lepasin rambut gue", desis Alsya dingin.
Astrid merasakan bulu kuduknya berdiri ketika mendengar kalimat yang bernada datar tapi sarat dengan ketegasan itu. Tak ingin merasa terintimidasi walau hati sedang gelisah. Astrid menambah tarikannya pada rambut hitam legam Alsya.
Kemudian Alsya melirik sekitar. Ini yang paling Alsya benci, menjadi pusat perhatian. Siswa-siswi Galaksi membuat sebuah lingkaran yang dimana dirinya dan Astrid yang berada ditengah-tengah. Ingin rasanya menjahit mulut-mulut nyinyir yang tengah menggibah dirinya. Bukannya meleraikan malah mereka menambah bumbu perkelahian dengan berteriak-teriak tak jelas.
..."Tarik yang kenceng."...
..."Balas dong kak Alsya."...
..."Tarik sampai botak."...
..."Tarik kancing seragamnya."...
..."Lorotkan roknya."...
..."Ayok, ayok."...
Apakah cuma ada di Indonesia saja orang-orang seperti itu?, dasar Indonesian people.
Alsya mencoba sekali lagi untuk tenang dan meminta dengan baik-baik. Tak ingin guru-guru berdatangan kesini. Kasihan mereka yang telah lelah mengajar dan seharusnya mereka menikmati jam istirahat kini. Bukannya mengurusi perdebatan yang sangat tidak bermutu ini.
Perdebatan seperti ini hanya untuk anak-anak yang masih berseragam merah putih, bukan?. Oh ayolah ia sudah naik tingkat dan jika ingin berdebat bukan begini caranya. Memegang pisau masing-masing, atau samurai?, mungkin. Banyak yang bisa kita gunakan bukan?. Bukan menarik rambut seperti ini lalu berteriak-teriak dan berakhir diruang BK. Sungguh bocah.
"Lepasin rambut gue", desis Alsya lagi seraya menahan amarahnya yang bergejolak di dalam dada.
"Enggak. Seharusnya lo itu dapat yang lebih dari ini. Karena lo tuh sampah masyarakat. Gara-gara lo gue putus sama Arkan tadi malam. Apa lo gak laku?, sampai harus ngerebut pacar orang?", sarkas Astrid menggebu-gebu.
..."Kak Alsya rebut kak Arkan?."...
..."Apa nggak ada laki-laki lain?."...
..."Kalau murahan yah gitu."...
..."Dasar penggoda."...
..."Pelakor, jala*g, apapun untuk cewek murahan."...
Alsya baru paham sekarang, mengapa monyet betina satu ini menarik rambutnya. Pertama Alsya mengira jika Astrid ingin mencari kutunya, makanya ia minta dilepas karena ia tidak memiliki sampah rambut sama sekali.
Ternyata karena Arkan toh. Bukankah mereka berdua sudah putus?, dan siapa yang membuat onar yang sangat tidak bermutu itu?, merebut pacar orang?, bahkan dirinya bisa mendapatkan yang lebih dari Arkan, jika mau.
"Sekali lagi gue bilangin lepasin rambut gue."
Astrid tertawa sumbang, "Apa sih yang lo kasih sama Arkan sampai dia tergila-gila sama lo?, Tubuh lo, iya?. Dasar jala*g", ujar Astrid yang tidak menghiraukan ucapan Alsya.
PLAK
Sudah cukup kesabarannya. Amarah yang tadi masih bersemayam didalam dada kini telah keluar seluruhnya. Jika dirinya dibilang perebut, masih bisa diterima. Tapi untuk jalang, tidak ada toleransi. Apa yang Astrid ketahui?, dimana dia pernah melihat Alsya menjual diri?.
Jika tadi rambutnya yang teraniaya maka kini rambut Astrid yang berada di genggamannya. Alsya menarik rambut warna warni itu sama seperti rambut hitam legamnya yang tertarik dengan kuat tadi.
"Jala*g?. Lo bilang gue jala*g?. Enggak salah?, jadi semalam yang dihotel sama om-om itu siapa?, Astrid Latira Kusuma", Alsya menarik satu sudut bibirnya ketika melihat mata gadis di hadapannya itu melebar ketakutan.
"Ma-mana gue tau", elak Astrid dengan gugup membuat Alsya menyeringai. Lalu Alsya menambah tarikan pada rambut Astrid dengan kuat.
"Selain jalang, lo juga seorang aktris ternyata. Habis itu apa?, perebut suami orang?", Alsya melirik ke sekitar. Melihat anak-anak Galaksi yang memasang muka cengo. Apa mereka baru mengetahuinya. Jika benar, maka maafkan Alsya Tuhan. Karena sungguh bukan niatnya untuk menebar aib seseorang. Itu bukan keahliannya, apalagi hobinya.
..."WHAT?."...
..."Astrid jala*g?."...
..."Emang bener -bener bad girl."...
..."Udah jebol dong?."...
..."Booking dong kalau gitu."...
Alsya memutar bola matanya malas. Apa warga Indonesia memang seperti itu. Lihatlah tadi dirinya yang di ghibah. Sekarang Astrid, sebenarnya mereka ada dikubu siapa?.
Sejujurnya Alsya tak ingin adanya perkelahian seperti ini. Karena ini sungguh bocah. Tetapi jika Astrid yang ingin memulai, maka mari Alsya yang akan mengakhiri sekaligus memulai ulang dengan versinya sendiri.
...×××...
"Gue nggak jones ya, pawang monyet."
"Lo jones monyet", jawab Arkan santai sambil menghidupkan ponselnya.
"Enggak pa-", ucapan Diva terhenti ketika mendengar knop pintu uks dibuka dan menampilkan siswa laki-laki bermata empat. Adik kelas sepertinya, karena terlihat dari bajunya yang masih berwarna cerah dan sedikit longgar.
"Kenapa lo?, habis lari marathon?, atau dikejar sama penunggunya pak Ucok?", tanya Arkan asal kepada adik kelas yang ber- name tage Fajar itu.
"B-bukan itu kak."
"Lo anaknya Aziz gagap ya?, gue mau dong minta tanda tangan nya. Gue pens sama bokap lo."
Arkan menabok kepala belakang Diva karena ucapan gadis itu yang sangat konyol. Arkan heran, jika gadis lain mengidolakan k-pop dan cowok ganteng lainnya. Tapi kenapa monyet satu itu menyukai artis lokal, komedian lagi. Tidak seperti remaja lainnya, malah terlihat seperti neneknya.
"Nanya itu yang bermutu maemunah."
"Dengerin yah. Adek manis tadi pup nya jam berapa?."
Balas kini Diva yang menabok kepala Arkan dengan sangat kuat.
"Sama aja ogeb."
"Beda lah gobl*k."
Fajar yang melihat perdebatan alot tersebut hanya bisa mendengus kan nafasnya kasar. Ini beneran kakak kelasnya?.
"Nih ya denger-", belum sempat Diva melanjutkannya, Fajar lebih dulu menyela.
"KAK!. Kak Alsya berantem sama pacar kak Arkan", Fajar memberitahu dengan sedikit berteriak.
"Enggak usah ngegas, santai bro. Apa tadi lo bilang. Pacar gue?, yang mana nih?", tanya Arkan santai.
Diva merotasikan bola matanya, "Emang playboy cap kadal", ketusnya lalu Diva mengalihkan atensinya kepada Fajar yang berdiri diambang pintu, "Dimana mereka?."
"Itu kak di kantin", jawab Fajar cepat. Diva menganggukkan kepalanya dan menarik tangan Fajar berlari kearah kantin. Meninggalkan Arkan dengan wajah cengonya.
...×××...
Alsya mendekatkan wajahnya ke telinga Astrid yang wajahnya sudah merah padam. Malu atau menahan amarah, Alsya tidak peduli.
"Tubuh lo itu terlalu murah kalau 10 juta. Lain kali kalau dapat klien, gue saranin 100 juta. Tapi kalau lo udah gak ada niatan buat masuk surga sih ya santai aja", bisik Alsya tepat ditelinga kanan Astrid yang memerah.
Lalu Alsya melirik kearah kerumunan orang-orang yang masih setia berbisik dengan persepsi mereka masing-masing. Netra hitamnya tak sengaja menangkap sosok gadis yang berjalan kearahnya dan satu sosok lagi yang baru saja tiba dengan berlari.
Alsya Lalu menegakkan kembali badannya, "Pawang lo udah dateng", ujar Alsya dengan dagu menunjuk kearah Arkan yang berada dalam kerumunan.
"Gue klarifikasi hubungan gue dengan pacar lo itu. Ups, maksudnya mantan", Alsya menyeringai, "Pasang telinga lo itu baik-baik ya. Gue sama dia enggak ada apa-apa dan kalau kami berdua itu kelihatan deket banget. Itu lo tanya sendiri sama mantan. Gue gak pernah mau disentuh sama laki-laki. Jangan kan sama laki-laki, sama cewek kayak lo aja gue jijik", tukas Alsya dingin.
Kemudian Alsya tersenyum puas ketika melihat raut wajah Astrid yang sudah merah padam. Kemana dagu yang tadi terangkat dengan angkuhnya?, kemana perginya keberanian yang menggebu-gebu tadi?. Hilang, jawabannya hilang. Astrid yang tadinya berani dan angkuh kini hilang menjadi Astrid yang tertunduk malu.
"Makanya kalau cari masalah itu, lihat dulu lawannya, dan bahan yang lo gunain untuk ngelabrak gue itu gak cukup akurat. Terlalu sampah", ketusnya.
"Sampai jumpa kakak manis", ujar Alsya santai sambil menepuk puncak kepala Astrid yang tertunduk. Bukannya Alsya ingin melawan kakak kelasnya itu. Bukannya ia tidak menghormati yang lebih tua. Tapi jika yang lebih tua salah, kita harus luruskan bukan?.
Nah yang tadi itu Alsya meluruskan kalimat Astrid yang mengatainya jalang dan perebut pacar orang.
Setelah itu Alsya menepuk kedua tangannya, seolah-olah baru saja memegang kotoran. Lalu ia berjalan meninggalkan Astrid. Dan berjalan melewati Diva yang baru saja hendak masuk ke dalam kantin.
"Jangan buat keributan", peringat Alsya menoleh sekilas kearah Diva dan kembali berjalan membelah lingkaran orang-orang.
Lalu Alsya berhenti tepat di depan Arkan dengan pandangan yang lurus tanpa menoleh kepada cowok tersebut, "Pembohong!" ujarnya lalu kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan orang-orang yang masih setia menggibahkan dirinya. Tak apa, pahala mengalir untuknya dan dosa mengalir dengan sangat deras untuk mereka yang suka menggibahi dirinya.
Alsya tak suka dibohongi. Apa salahnya untuk jujur. Apa rugi jika melakukan itu?.
Baru saja Alsya ingin membuka hati. Buka hati?, entahlah ia hanya merasakan sebuah kenyamanan jika berdekatan dengan Arkan. Inilah yang Alsya takutkan. Alsya takut hatinya kembali terluka karena sebuah harapan. Takut dirinya kembali kacau hanya karena sebuah ucapan. Untung Alsya belum terlalu jauh masuk kedalam pusaran rasa yang bernama cinta itu. Ini yang kedua tidak untuk yang ketiga kalinya.
...×××...
Alsya duduk dibawah pohon rindang yang berada di taman kota. Sudah lebih empat jam ia duduk disitu dengan beralaskan rumput hijau dan beratapkan langit biru. Alsya sangat bersyukur karena matahari yang tidak terlalu membara siang ini.
Alsya memutuskan bolos sekolah hari ini. Moodnya sangat-sangat hancur sekarang. Alsya rasa tak ingin melakukan apa pun. Hanya ingin duduk disini ditemani oleh angin sepoi-sepoi. Berharap angin tersebut juga dapat membawa tubuhnya yang ringkih. Biarlah Alsya tidak peduli jika gelar murid terdisiplin tak lagi ia pegang.
Alsya yakin jika namanya tengah jadi pembicaraan hangat diruang guru sekarang. Atau sudah merambat keruang BK?. Entahlah, Alsya tak ingin ambil pusing dengan semua itu.
Alsya juga tidak perduli jika dirinya dibilang pengecut, pecundang, penakut. Apalah itu, yang penting sekarang telinganya tak perlu susah payah mendengarkan ocehan-ocehan yang tak bermutu dari orang-orang yang juga tidak bermutu.
"Menatap langit biru dengan hamparan padang rumput itu lebih indah, daripada harus mendengarkan bisik-bisik mereka yang buat telinga gue congekan seketika", lirih Alsya pelan sambil menggoyang-goyangkan kedua kakinya ke kanan dan ke kiri.
Kemudian Alsya mengubah duduknya menjadi bersila. Lalu ia menundukkan kepalanya, dengan menopang dagu ditangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menulis abstrak dirumput hijau, "Hidup itu kenapa harus rumit kayak puzzle. Kalau puzzle aja dapat dipecahkan lalu kenapa hidup gue gak bisa dipecahkan. Hidup gue itu udah kayak naik roller coaster aja, kadang buat gue seneng, kadang juga buat gue sedih. Gue lelah kalau kayak gitu", ujar Alsya frustasi sambil mengacak rambutnya lalu menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Jika lelah tinggal mengaku, Tuhan tidak akan pernah menertawakan."
Alsya menurunkan tangannya, menyelipkan rambutnya sebelum menoleh kebelakang. Lalu Alsya menghela nafas kasar ketika melihat cengiran bodoh yang diberikan cowok tersebut.
"Ngapain lo kesini?", tanya Alsya dan kembali melihat kearah depan, dimana matahari telah sangat membara.
"Mau lihat keadaan calon pacar lah", jawabnya santai lalu ikut duduk disampingnya Alsya yang sedang selonjoran.
Alsya menatap cowok tersebut dengan tajam, "Gue gak mau nyari masalah ya Arkan", peringatnya.
"Siapa yang cari masalah sih, orang gue kesini nyariin Alsya kok, bukan si masalah", balas Arkan enteng. Sebenarnya Arkan telah sampai sejak tadi, tapi cowok itu ingin melihat apa yang akan dilakukan jika cewek dingin sedang galau. Sayat-sayat tangan kayak cewek alay kebanyakan atau bunuh diri. Rupanya galau cewek dingin itu lebih serem, mainnya dibawah pohon beringin udah itu sepi lagi. Enggak takut kesurupan apa.
Arkan menyodorkan es krim kearah Alsya. "Nih", ujarnya, "Tenang gak gue kasih obat tidur kok, cuma obat perangsang aja", lanjutnya dengan terkekeh geli melihat mata Alsya yang melotot.
Lantas Alsya melirik es krim tersebut lalu melihat kearah Arkan yang mengangguk, "Playboy mesum", ketus Alsya sambil mengambil es krim tersebut dan menjilatnya dengan canggung.
Arkan tertawa mendengar panggilan yang baru Alsya ucapkan. Dari playboy cap kadal ia naik pangkat menjadi playboy mesum. Tak apa asal itu keluar dari mulut manis Alsya, ia masih bisa terima. Bahkan dengan senang hati.
"Hanya seorang pengecut yang gak mampu menyelesaikan masalahnya dan pergi gitu aja tanpa ada jejak", Alsya menoleh kearah Arkan ketika mendengar cowok tersebut berkata bijak. Apa bener itu Arkan?, atau Arkan kesambet sama penunggu pohon beringin?.
"Seorang pengecut itu terlahir dari seseorang yang pemberani lalu pergi karena lelah. Bukannya tak meninggalkan jejak, tapi orang-orang aja yang tak pernah melihat kearahnya", balas Alsya sambil menerawang kearah langit biru yang sangat cerah. Biru itu sangat indah, tapi sayang hatinya telah terpaut dengan abu-abu.
Arkan memandang wajah Alsya dari samping, wajah gadis tersebut sangat cantik dan manis. Bulu matanya yang lentik, matanya yang belo, bibirnya yang merah alami, wajahnya yang putih, hidungnya yang mancung ditambah proposisi alisnya yang sangat pas. Membuat siapa pun yang melihatnya tak akan pernah bosan.
Arkan mengerjapkan matanya ketika manik hitam tersebut menoleh kearahnya, "Udah ah, kalau soal puitis-puitisan lo yang menang, gue kalah. Lagipula kalimat tadi gue juga dapat", ujar Arkan sambil nyengir.
Kemudian Arkan memandang kearah matahari yang sudah sangat membara yang membuat cuaca semakin panas. Walau dibawah pohon beringin yang besar, tidak menutup kemungkinan jika mereka tidak terkena panas matahari. Lantas Arkan melepas jaket bomber berwarna army miliknya lalu menutupi kepalanya dan kepala Alsya.
Alsya mengerjapkan matanya ketika merasakan bahu keras yang berdekatan dengan bahunya, ia sontak menoleh kearah Arkan yang sedang menatapnya juga.
"Es krim", ujar Arkan membuat Alsya tersentak, lalu melihat kearah eskrimnya yang sudah hampir mencair. Sial.
Alsya menjilat kembali es krimnya lalu menatap kedepan, "Enggak hujan", katanya tanpa menoleh.
"Tapi panas", sahut Arkan.
Jantung gue kenapa jedag-jedug gini gila. Enggak, ini gak boleh.
...×××...
..."Biru, kamu itu indah. Kamu itu cerah dan sangat mempesona. Tapi apakah bisa jika perasaanku juga secerah warna mu. Aku rasa tidak, karena hatiku telah terpaut jauh dalam pesona abu-abu. Biru, kamu tau. Cinta tak hanya menyakitiku sekali tapi sudah dua kali. Dan jika terjadi yang ketiga kali, maka aku akan menjadi orang yang sangat bodoh, bukan?. Biru, kamu mungkin tidak akan bisa menjadi prioritas. Namun kamu akan selalu ada didalam hati yang gelap ini."...
...~Rilansun🖤....