
..._____________________...
...Perasaan manusia adalah misteri yang tak akan pernah bisa dipecahkan oleh siapapun......
..._____________________...
...×××...
"Jangan tinggalin Syasya lagi, Ska."
Alaska menunduk menatap ke arah perempuan yang tengah tertidur dalam pelukannya itu. Mendekap erat tubuhnya dan membenamkan wajah sedalam-dalamnya ke dada bidang Alaska. Seolah takut jika cowok itu pergi meninggalkan dirinya lagi.
Entah apa yang membuat Alsya tak nyaman dalam tidurnya. Mimpi buruk apa yang berani menghampiri alam bawah sadar gadisnya. Membuat Syasya nya berkeringat dingin dengan mulut yang terus meracau tak ingin ditinggalkan.
"Jangan, jangan pergi, Syasya takut."
"Ssst, enggak akan ada yang bakal ninggalin Syasya. Aska akan terus meluk Syasya kayak gini. Jangan takut Sya, Aska ada disini", Alaska mengelap keringat yang memenuhi kening cewek tersebut. Memberikan kecupan-kecupan kecilnya disana. Mengucapkan kata-kata yang berhasil membuat Alsya tenang dan terlena dalam tidurnya.
Beban seperti apa yang ada di pundak gadisnya itu. Membuat Alsya berubah seratus delapan puluh derajat. Apakah mimpi buruk itu hadir setiap malamnya?. Maka nya tubuh cewek tersebut terlihat sangat rapuh dan kurus.
Sebenarnya Alaska membuntuti Alsya setelah pulang sekolah tadi. Ia sudah sempat menyerah karena melihat kedekatan antara Arkan dan Alsya beberapa hari belakangan ini. Sehingga membuatnya menerima perjodohan yang diatur oleh Bunda nya. Tapi Alaska tak akan pernah lupa dengan janji yang sudah ia buat dengan Papa cewek tersebut. Janjinya untuk selalu menjaga Alsya seumur hidupnya.
Tapi lagi-lagi Alaska gagal, ia gagal untuk membuat air mata itu tak pernah turun. Hari ini Alsya rapuh, serapuh-rapuhnya. Bahkan lebih parah daripada kehilangan Davin delapan tahun yang lalu. Membuat hatinya ikut tersayat saat melihat Alsya yang keluar dari rumah Arkan dengan berlinang air mata. Menangis bersama di bawah derasnya hujan.
Entah apa yang sudah dilakukan oleh Arkan sampai membuat gadisnya itu terluka.
Melihat itu Alaska semakin tak rela melepaskan Alsya untuk cowok lain. Setelah ini tidak akan ada lagi kesempatan bagi cowok-cowok di luaran sana untuk mendekati Sya sya nya.
Alsya Davinka Pranata hanya lah milik seorang Alaska Delvin Altezza.
"Tidur yang nyenyak Syayang nya Aska", Alaska terkekeh geli ketika mendengar ucapan nya sendiri. Cinta itu memang luar biasa. Dapat mengubah seseorang secara keseluruhan. Tak terkecuali Alaska, cowok dingin dengan segala pesonanya.
Tok tok tok
"Alsya", terdengar suara Aruna yang memanggil putri nya dari luar kamar.
Mendengar itu lantas Alaska melepaskan pelukannya dengan pelan-pelan dari tubuh Alsya. Takut jika gadis itu terusik dalam tidurnya.
Lalu Alaska berjalan mengendap-endap ke arah pintu kamar. Membuka pintu tersebut tanpa membuat suara sama sekali.
"Loh?, Alaska?", Aruna kaget saat mendapati cowok itu yang keluar dari dalam kamar putrinya.
Bukannya menjawab, Alaska malah mengambil telapak tangan Aruna dan mencium punggung tangannya dengan sopan, "Assalamualaikum, Tan."
Aruna terkesiap dan tersenyum canggung.
"Waallaikumussalam."
"Alsya sama kamu, kalian-"
"Tadi Alsya badannya agak anget", sela Alaska berbohong. Jika saja Aruna tau kalau putrinya dibuat menangis oleh seorang cowok. Mungkin Arkan sudah dilaporkan ke pihak yang berwajib. Sebagai wanita karier dengan segala kuasanya, apa yang tidak bisa dilakukan oleh wanita itu jika ia mau.
"Hah?, terus sekarang gimana?", tanya Aruna khawatir dan ingin masuk ke dalam kamar Alsya. Namun Alaska lebih dulu mencegahnya, ia tak ingin jika Aruna mengetahui kebohongannya setelah melihat mata Alsya yang membengkak.
"Alsya lagi tidur, Tan", Alaska mencoba untuk meyakinkan Aruna.
Dengan wajahnya yang masih penuh ke-khawatiran Aruna lantas menghela nafas dan mengalah. Wanita itu mengangguk dan mengajak Alaska untuk mengobrol di bawah.
Lalu mereka berdua pergi meninggalkan kamar yang bernuansa monokrom tersebut. Membiarkan gadis yang rapuh itu meng-istirahatkan tubuhnya sejenak dari segala kemelut duniawi.
...×××...
"Ugh", Alsya mengerjakan matanya pelan dan terbangun dari tidurnya saat merasakan ada sesuatu yang hilang dari dirinya.
Kemudian Alsya beranjak dari ranjangnya dan keluar dari dalam kamar dengan tergesa-gesa. Entah apa yang membuat Alsya yakin kalau Alaska masih ada di dalam rumahnya.
Cewek itu berlari menuruni anak tangga, bahkan tanpa melihat setiap anak tangga yang dipijaknya. Alsya benar-benar dibuat gila oleh rasa takutnya akan kehilangan Alaska.
"Keluar kota, Tan?."
Alsya menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir saat mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Dan suara itu berasal dari ruang makan rumahnya.
Tanpa sadar bibir merah pucat itu melengkung ke atas. Membentuk sebuah senyum yang jarang sekali di lihat oleh banyak orang-orang. Alsya tau itu, Aska nya tak mungkin kembali mengkhianati dirinya.
"Iya, tadi Tante mau ngabari Alsya, tapi ponselnya gak aktif. Makanya Tante berusaha untuk pulang malam ini juga, sebenarnya Tante juga was-was ninggalin Alsya sendirian, apalagi dia masih belum sehat betul. Untung ada kamu."
Alsya yang juga mendengar suara Mama nya pun sontak sedikit berlari menuju ruang makan. Aruna sudah pulang, dan itu demi dirinya. Ya Tuhan betapa bahagianya Alsya hari ini. Apakah semua ini adalah balasan dari air matanya selama ini.
"Tante dengar kamu tunangan tiga hari lagi?."
Deg
Langkah yang awalnya mantap perlahan-lahan berhenti. Jantungnya terasa berhenti berdetak. Seperti ada petir yang barusan menyambar tubuhnya. Membuat semua saraf nya terasa putus dan mati rasa. Warna-warna yang mulai bermunculan di hidupnya seketika hilang. Dan meninggalkan satu warna, hitam. Sangat gelap dan kesepian.
Dulu Alsya pernah menyukai banyak warna, sebelum ia memakai baju berwarna hitam ketika mengantarkan Papa nya untuk pergi selamanya.
Dan kini, ia harus kembali mengenakan pakaian berwarna hitam. Bukan untuk mengantar siapa-siapa. Justru Alsya mengantar hati nya sendiri untuk dikubur selamanya.
Lalu Alsya terkekeh pelan saat mendengar jawaban Alaska yang mengiyakan pertanyaan Mama nya.
"Seharusnya lo sadar diri, Sya. Lo bukan lagi Syasya nya Aska. Lo bukan lagi ratu untuk Alaska", gumam Alsya seraya menatap lantai ubin yang dipijaknya.
Seharusnya Alsya paham jika tidak akan ada yang bisa bertahan bila sudah kehilangan selama delapan tahun . Berjarak beribu-ribu kilometer. Dan berada di belah dunia yang berbeda. Siapa yang akan bisa setia bila dihadapkan dengan kondisi seperti itu.
"Mungkin Aska cuma buat Syasya, tapi Alaska enggak pernah benar-benar menjadi milik Alsya", ujar Alsya pelan sebelum membalikkan badannya. Dan berjalan kembali menuju kamarnya dengan gontai. Semesta benar-benar pandai dalam memainkan perasaannya. Salahkah?, salahkah bila Alsya menginginkan sebuah kebahagiaan?, walau hanya sedikit.
Sedangkan Alaska yang merasa ada orang yang sedang melihatnya pun sontak menolehkan kepalanya kebelakang. Namun tidak ada siapa-siapa disana. Lantas cowok itu mengangkat kedua alisnya dan kembali menoleh ke depan.
"Jangan lupa undang Tante sama Alsya ya."
Alaska menatap Aruna dan tersenyum tipis, "Tante enggak perlu undangan kalau yang Tante hadiri adalah acara anak Tante sendiri", sahutnya yang membuat Aruna menatap bingung kearah Alaska.
Untung saja perjodohan itu belum benar-benar terjadi. Jika tidak, Alaska akan merasa berdosa karena sudah melukai dua hati perempuan.
"Maksud kamu?."
"Tiga hari kemudian saya akan membatalkan pertunangan itu dan melamar Alsya", ujar Alaska memperjelas dengan mantap.
Aruna yang mendengar itu pun refleks menutup mulutnya tak percaya.
"Ka-kamu beneran?."
Alaska mengangguk tanpa ragu.
"Saya akan menepati janji saya dengan almarhum."
Aruna tersenyum penuh haru dan mengelus pelan pundak Alaska, "Tante mempercayakan Alsya dengan kamu."
...×××...
..."Tuhan, kini ku titipkan hati ku padamu. Menyerahkan seluruhnya pada sang pemilik aslinya. Hingga aku menemukan dermaga yang tepat untuk kapal ku berlabuh."...
...~Rilansun🖤....
Sorry banget buat yg udh nungguin up nya Alsya dan makasih banget buat yg udah nge-favin. Krna ngira gk ada yg suka, jd up nya ya sesuai mood😭. Maaf banget kalau udh lupa alurnya, wajar sih udh sebulan lebih bund:v.