Alsya

Alsya
:He is come back



..._____________________...


...Mencintaimu bukan lah beban bagiku, tapi suatu rintangan yang teramat besar menurutku. Namun enggan membuat ku untuk menyerah......


...____________________...


...×××...


Laki-laki bernetra abu-abu tersebut memandang orang tuanya secara bergantian. Kini keluarga kecil itu sedang bercengkrama di ruang keluarga rumah bergaya mediteran tersebut.


"Dad, Mom. Al udah mutuskan kalau dua hari lagi Al akan pulang ke Indonesia", ujarnya dengan menatap pasti kearah kedua orang tuanya. Ya, laki-laki tersebut sudah memutuskan akan kembali ketanah kelahirannya itu untuk kembali mengambil dan menjaga apa yang sudah dirinya jaga selama ini.


"Kami serahkan semuanya sama kamu. Apa pun yang kamu putuskan kami selalu mendukung kamu. Selagi itu positif sayang", balas sang Mommy dengan mengelus surai hitam legam putranya.


"Tenang Mom. Kalau anak tengil ini berani keluar dari zona positif. Maka ironman ini yang berada di barisan utama", celetuk sang Daddy sambil menepuk dada nya bangga.


"Cause are my ironman and love you 3000", sahut Alina dengan menyanyikan salah satu lirik lagu.


"Hulk kali ah", celetuk laki-laki tersebut dengan memutar bola matanya jengah.


"Kamu iri bilang aja sama Daddy", pria paruh baya itu menyugar rambutnya ke belakang dengan gaya yang angkuh tidak pernah lepas dari dirinya.


Udah tua juga.


"Untuk apa Al iri sama Daddy. Udah tua juga, enggak ada bandingnya sama Al. Syukur-syukur aja Mommy mau sama Daddy dulu", sarkas laki-laki itu. Lalu ia beranjak dari duduknya dan berjalan kearah kamar yang akan ia tempati selama dua hari lagi ini.


Sang Ayah yang mendengar ucapan sarkastik yang diberikan putranya itu, hanya bisa mengelus dada sabar. Untung anak, kalau enggak udah di gadaikan dari pertama lahir.


Lalu ia menoleh kearah sang istri yang sedang menatapnya juga, "kamu ngidam apa sih?, Sampai anak kita ketus nya enggak ketulungan. Aku rasa aku enggak punya gen kayak gitu deh."


"Jadi kamu nge-raguin kalau itu enggak anak kamu?, iya?. Jahat kamu Vin, hiks...hiks", Alina meninggalkan suaminya yang melongo ditempat.


Kelvin Altezza, pria paruh baya itu kini memandang punggung istrinya yang bergetar. Oh tidak, bidadarinya menangis. Sekarang ia baru tau dari siapa sikap ketus dan sensitif putranya itu berasal. Tentu saja dari istri cantiknya tersebut.


Sementara itu di dalam kamar yang dominan berwarna hitam. Seorang laki-laki sedang memegang sebuah pigura yang berisi foto gadis kecil yang sangat ia rindukan.


"Tunggu aku sebentar lagi my sweet girl. Kali ini aku janji. Aku enggak akan nyerah sebelum kamu yang memintanya. Kamu aja bisa ngelawan dunia dengan sendirian. Terus kenapa aku enggak bisa kalau cuma harus meluluhkan hati kamu lagi", monolog laki-laki tersebut dengan menyemangati dirinya sendiri.


"Aku berharap kamu enggak akan pernah menoleh kearah laki-laki lain."


...×××...


Kring kring kring


Bel istirahat pertama telah berbunyi di seantero GALAKSI. Itulah yang ditunggu-tunggu oleh semua murid. Terutama anak MIPA 1 tentunya.


Mereka terlihat sangat excited sekali ketika mendengar suara bel. Karena dengan itu mereka bisa terbebas dari guru berkepala plontos dan soal-soalnya yang bisa membuat kepala plontos seketika. Siapa lagi kalau bukan Pak Ucok guru Kimia nya GALAKSI. Yang bar-bar nya enggak ketulungan.


Alsya mendengus ketika Diva lagi-lagi menanyakan perihal dirinya dengan Bagas tadi pagi.


"Sya..., dia siapa?. Lo mulai secret-secretan sama gue?, enggak asik ah", rajuk Diva yang membuat Alsya jengah. Sebenarnya teman nya ini anak manusia bukan sih?. Kelakuannya yang tidak bisa ditebak membuat Alsya ragu jika Diva adalah anak jin yang diasuh oleh Bunda Rita.


"Bukan siapa-siapa Diva", greget Alsya dan segera beranjak dari duduknya buat pergi ke kantin. Untuk menghadapi Diva membutuhkan ekstra tenaga yang besar.


"Sya..., kok ditinggalin sih", teriak Diva dan berlalu menyusul Alsya.


Diva berhasil menyamakan langkah kakinya dengan Alsya. Dan berjalan di samping temannya itu.


"Sya gue cuma mau nanya. Lo ada hubungan apa sama anak baru itu."


"Anak mang Joko", jawab Alsya datar tanpa menoleh kearah Diva. Menurutnya jawaban itu sudah cukup untuk membuat Diva si pita suara besar tersebut mengerti.


"Tapi lo enggak suka sama dia kan?", Alsya memutar bola matanya jengah dengan pertanyaan yang dilontarkan Diva.


Alsya tidak menjawab. Cewek itu lebih memilih mendudukkan dirinya di kursi kantin, "Pergi pesen makanan dulu, baru gue jawab!", titahnya sambil memainkan ponselnya.


Diva menghentakkan kakinya sebelum berlalu pergi ke stand siomay mbok Sum. Itu lho yang kuah kacangnya terbuat dari almond. Canda almond.


Tak butuh waktu lama Diva kembali dengan membawa nampan yang berisi makanan dan meletakkannya di meja kemudian.


"Nih!, cepet ceritain ke gue", ujar Diva tak sabaran.


Alsya melirik Diva sekilas lalu mengambil satu porsi siomay dan satu cangkir cokelat panas kesukaannya.


"Laper. Makan dulu!", seru Alsya lagi-lagi yang membuat Diva harus menekuk wajahnya.


Alsya yang melihat perubahan pada wajah Diva hanya menggedikkan bahunya acuh dan kembali melanjutkan makanannya.


Diva memakan makanannya dengan gerakan yang cepat. Sangat penasaran dengan cerita yang akan Alsya ucapkan. Jangan salah kan dirinya jika terlalu kepo. Salah kan si kepo yang sudah lama hidup di dalam dirinya.


Dengan mulut yang penuh makanan, Diva berusaha untuk mengajak Alsya berbicara, "Sywa, cwepwet cweritain!", ujarnya.


Alsya mendongakkan kepalanya melihat Diva. Menaikkan sebelah alisnya dan kembali melanjutkan makanannya dengan cuek. Respon yang Alsya berikan sungguh membuat jiwa bar-bar dalam diri Diva muncul seketika.


"Sya!. Lo dengar gue enggak sih!", teriak Diva kesal setelah menghabiskan makanan yang ada di dalam mulutnya.


Alsya menyesap cokelat panasnya secara perlahan lalu melirik kearah Diva yang tampak menahan amarah.


"Enggak usah ngegas!", desis Alsya dengan tajam.


"Apanya?."


Diva mengelus dadanya sabar. Dari tadi ia menunggu sahabatnya itu untuk bercerita. Bahkan rela memakan makanannya dengan cepat. Sampai-sampai membuat ia merasa jika siomay tersebut masih tersangkut di tenggorokan nya. Dan dengan mudahnya sahabatnya itu menanyakan dengan tampang yang....Oh astaga, Alsya itu manusia bukan sih?!.


"Tentang lo dengan anak baru tadi pagi lah", tanya Diva dengan kesabaran yang menguap.


Alsya tidak menjawab dan ia lebih memilih memainkan ponselnya.


"Sya!", panggil Diva dan tidak direspon apapun dari gadis bernetra hitam legam tersebut.


"Alsya!", panggil Diva dengan keras dan kali ini berhasil membuat Alsya mendongakkan kepalanya.


"Apa sih Div, berisik tau enggak!", ketus Alsya.


Diva menghela nafasnya. Jika berbicara dengan Alsya harus dengan ekstra kesabaran yang penuh. Karena sahabatnya itu jika dikeraskan maka ia akan lebih keras dari kita. Diva salah. Padahal ia tau jika sahabatnya itu tidak suka dipaksa apalagi dibentak. Seorang Alsya Davinka Pranata itu menginginkan hidupnya damai, tentram dan tanpa ada masalah tentunya.


"Ya, gue nanya lo ada hubungan apa dengan anak baru itu?", tanya Diva lagi dengan lembut, berharap supaya gadis berkepala batu itu dapat mencerna ucapannya dengan sangat baik.


"Enggak ada apa-apa", jawab Alsya datar.


"Seriusan?."


"Hm."


"Tapi-"


"Dia cuma anak mang Joko yang pindah ke Jakarta buat sekolah dan gue sama dia enggak ada hubungan spesial apa pun. Okey", jelas Alsya. Karena jika tidak dijelaskan sedetail-detailnya maka si pita suara besar itu tidak akan pernah berhenti untuk bertanya.


"Gue ketoilet dulu", Lalu Alsya mengeluarkan selembar uang kertas berwarna biru dan meletakkannya di atas meja. Dan segera berlalu dari hadapan Diva.


Diva memandang punggung Alsya dengan pandangan yang sulit diartikan. Diva menjatuhkan kepalanya dilipatan tangan diatas meja. Tapi sebelum itu terjadi, ponselnya berdering dan membuat Diva mengurungkan niatnya.


Diva lantas mengangkat ponselnya dengan malas.


"......."


"Hm."


"......."


"Enggak ada."


"......."


"Enggak. ada apa sih!"


"......."


"Apa?, yang bener kamu", ucap Diva kaget sehingga membuatnya menjadi pusat perhatian. Raut wajah yang tadinya suram kini berubah menjadi raut wajah yang berseri-seri, seperti baru saja menerima gajian diawal bulan.


"......."


"Awas kalau kamu bohongin aku!"


"......."


"Ya udah. Bye honey. Muach!."


Klik. Sambungan terputus.


"Aaa..., Alsya, bentar lagi, entar lagi. Akhirnyaaaa ya Tuhan!", pekik Diva dengan senang sambil mendekap ponselnya dan mencium sesekali benda pipih yang berlogo apel digigit tersebut.


Suara Diva yang menggelegar membuatnya tak lepas menjadi pusat perhatian. Namun Diva tidak perduli itu. Toh ia sudah sering jadi pusat perhatian. Dan Diva suka itu.


"Alsya bentar lagi, habis itu kebahagiaan akan datang menyapa lo. Ah, gue e ggak sabar nunggu itu. Thank you so much God. This is a miracle", gumam Diva dengan raut wajah yang sulit diartikan.


"Cepet dateng!, kami semua nunggu lo!."


...×××...


Alsya memandang dirinya dipantulan cermin yang ada dihadapannya.


"Aku benci darah ini. Aku juga benci rasa sakit ini!", gumam Alsya dan mendongakkan kepalanya sembari memejamkan mata.


Alsya pergi ketoilet bukan untuk membuang air kecil atau memperbaiki dandanan nya. Bukan, justru ia ketoilet untuk membersihkan hidungnya yang tidak dapat diajak untuk berkompromi.


"Aku benci kehidupanku. Kapan Tuhan?, kapan ada kata akhir dalam kehidupan ku ini", lirihnya dan kembali melihat dirinya dipantulan cermin toilet.


"Alsya capek Pa..."


...×××...


..."CINTA. Satu kata yang berhasil membuat ku menderita. Satu kata yang berhasil membuat ku kehilangan, dan satu kata yang juga berhasil menjungkir balikkan seratus delapan puluh derajat kehidupan ku. Sungguh aku sangat membenci satu kata beribu makna tersebut. Aku tidak akan pernah lagi mengizinkannya untuk masuk kedalam hidupku dan kembali meluluh lantahkan hatiku. Sudah cukup dia membuat hatiku merindu sekaligus terluka. Tidak untuk kesekian kalinya. Love?, that's more bullshit to me. I hate with love."...


...~Rilansun🖤....