Alsya

Alsya
:Terlambat



...____________________...


...Jika kau datang ingin menetap, maka menetap lah tanpa harus melangkah pergi. Sebab aku tak tau apa masih bisa bertahan dengan tubuh yang lemah ini......


..._____________________...


...×××...


Alsya menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Pagi ini Alsya bangun kesiangan. Kali ini keterlambatan nya tidak bisa ditolerir. Menurut Alsya, ini adalah yang paling parah selama ia bersekolah.


"Kenapa harus telat sih?, mana upacara lagi hari ini. Duh, hidup gue kok miris banget sih Tuhan", gerutu Alsya sambil berjalan kearah rak sepatu. Lalu ia duduk di sofa minimalis yang ada disamping rak sepatu tersebut.


"Eh non Alsya belum berangkat?!, kata Bibi udah. Ya udah Bibi siapin bekal dulu ya", ujar Bi Imah dan hendak kembali ke dapur tapi sudah dicegah lebih dulu oleh Alsya.


"Enggak usah Bi, Alsya sarapan di kantin aja", balas Alsya sambil menyimpulkan tali sepatunya.


"Ya udah. Tapi beneran sarapan ya non", peringat Bi Imah.


"Hm, Kak Bagas mana Bi?", tanya Alsya dan berdiri di hadapan Bi Imah, setelah selesai memakai sepatunya.


"Udah berangkat atuh non dari tadi mah."


"Oh. Ya udah Alsya juga berangkat ya bik", Alsya mencium tangan bik Imah dan segera berlalu dari hadapan wanita paruh baya tersebut


...×××...


Alsya mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak lagi mempedulikan aturan lalu lintas dan umpatan-umpatan yang dilayangkan pengendara lain untuk dirinya. Toh ia sudah biasa menjadi bahan pembicaraan. Jadi bisa dikata bahwa dirinya sudah tahan banting. Walau Arinta sadar jika tindakannya ini tidak patut untuk ditiru.


Alsya melirik sekilas jam abu-abu yang melingkar dipergelangan tangannya. Matanya langsung membelalak ketika jam sudah menunjukkan pukul 7:13. Alsya menambah kecepatan mobilnya. Bayangkan, waktunya tinggal 2 menit supaya tidak terlambat. Sementara jarak tempuh sekolahnya masih 6 km lagi.


Alsya memukul setir nya ketika melihat gerbang hitam yang menjulang tinggi itu sudah tertutup rapat, "Sial!", umpatnya


Alsya memarkirkan mobilnya di depan warung yang berada di samping sekolahnya. Lalu ia segera berlari ke arah pintu gerbang.


"Pak bukain gerbangnya dong", pekik Alsya kepada satpam yang sedang duduk santai di pos jaga yang berada tak jauh dari gerbang.


"Eh. Neng Alsya. Tumben telat, kesiangan ya?", cerocos satpam sekolah tersebut yang diketahui bernama pak Didit.


Alsya memutar bola matanya, "Pak bukain dong", serunya dan mengabaikan ucapan pak Didit. Menurutnya waktu yang ia miliki itu lebih berharga dari pada bualan receh satpam tersebut.


"Enggak bisa neng Alsya yang cantik", balas pak Didit dengan nada manisnya.


"Please Pak, cuma terlambat dua menit doang. Pak, ya...ya...ya. Bukain ya pak, saya mohon", mohon Alsya dengan muka yang dibuat semelas-melas mungkin, yang justru membuat pak Didit tertawa karena raut datar Alsya yang masih kontras walau ia membuat tampang semelas mungkin.


"Tetep gak bisa neng. Ini udah peraturannya, kan neng Alsya tau sendiri."


"Iya Pak saya tau. Tapi-", ucapan Alsya terpotong oleh suara bariton yang berasal dari arah belakangnya.


"Udah!, kalau lo masih mau nge-debat terus, yang ada lo telatnya sepuluh menit bukan dua menit", Alsya menolehkan kepalanya, lalu menghembuskan nafas berat. Mengapa Tuhan selalu mengirimkan makhluk astral itu disaat dirinya berada dalam keadaan yang sangat genting.


Alsya memandang tajam kearah Arkan yang menatapnya dengan cengiran lebar, sehingga menampilkan giginya yang putih berkilau, membuat Alsya silau seketika. Oke itu berlebihan.


Alsya berusaha menutupi keterkejutannya sebisa mungkin. Sejak kapan cowok itu berdiri dibelakangnya. Apakah dari tadi atau barusan, tapi jika dari tadi berarti?.


Oh ****. Umpat Alsya dalam hati.


Arkan terkekeh geli melihat ekspresi Alsya yang tak sedap untuk dipandang oleh mata, "Gue barusan datang", ujar Arkan seolah mengetahui apa yang sedang dipikirkan gadis yang memiliki manik hitam pekat tersebut.


Alsya mematung sejenak, mengapa cowok tengil itu mengetahui apa yang ia pikirkan, "Lo..., cenayang ya!", tunjuk Alsya dengan mata menyelidik kearah Arkan yang lagi-lagi membuat cowok itu tertawa. Sebab tingkah Alsya yang sangat jarang ditunjukkan gadis tersebut. Mengingat betapa dinginnya seorang Alsya.


"Emang ada cenayang yang ganteng kayak gue", pede Arkan dengan menyugarkan rambutnya ke belakang.


"Ganteng dari mana coba?", cibir Alsya. Sebenarnya Alsya mengakui jika Arkan memang tampan, sangat tampan malah. Namun sayangnya itu semua tertutupi oleh sifat urak-urakan dan keterkenalnya ia dalam memainkan seorang cewek. Sungguh sampah!.


"Ihh Alsya udah pandai bohong sekarang", celetuk Arkan dengan jari telunjuk yang mengarah ke depan wajah Alsya.


Lantas Alsya menepis jari telunjuk cowok tersebut,"Apa sih gak-"


"Eh kalian!, mau masuk atau berdiri disitu aja!", sentak pak Didit yang langsung membuat kedua anak manusia yang berbeda jenis kelamin itu terdiam seribu bahasa.


"Kok di izinin pak?, bukannya tadi enggak boleh?", tanya Alsya bingung, sebab sedari tadi dirinya memohon-mohon bahkan dengan ekspresi yang menjijikan sekali pun tak bisa membuat satpam buncit tersebut luluh.


"Ck, ribet lo", decak Arkan dan segera masuk ke dalam sekolah meninggalkan Alsya yang memasang wajah cengonya.


"Arkan kampret!, gue doain semoga lo enggak lulus dan gak nikah-nikah."


Alsya menoleh kearah pak Didit dengan senyuman tipis andalannya.


"Makasih ya pak Didit, tambah buncit deh", ujar Alsya seraya melangkah masuk kedalam gedung sekolahnya.


"Dasar anak-anak", gumam pak Didit sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir.


...×××...


"HAI!, KALIAN BERDUA!, BERHENTI!", panggil seseorang dari arah belakang dengan suara yang menggelegar. Alsya yang sedari tadi berjalan di belakang Arkan dengan radius dua meter dari laki-laki tersebut membatu seketika ditempat. Ia sangat mengenali suara itu. Suara yang lebih menyeramkan dari pada terompetnya malaikat israfil.


Alsya memejamkan matanya sebelum memutar tubuhnya kebelakang secara perlahan-lahan. Sungguh pagi ini adalah pagi yang sangat sial selama sejarah ia bernafas di muka bumi ini.


Lalu Alsya memandang takut-takut kearah wanita paruh baya yang tangan kanannya memegang sebuah penggaris kayu panjang dan tangan kirinya yang berkacak dipinggang. Sudah seperti ibu kos yang menagih sewa bulanan.


Gadis yang membiarkan rambutnya tergerai tersebut melirik kearah Arkan yang entah sejak kapan berdiri disampingnya. Alsya bisa melihat bagaimana santainya laki-laki berambut cokelat tersebut dalam berekspresi. Oh ayolah Alsya juga manusia, sedingin-dinginnya ia juga masih memiliki ketakutan dalam dirinya. Apalagi yang berdiri di hadapannya sekarang adalah singa betinanya GALAKSI.


Arkan mendekatkan wajahnya ke telinga Alsya, "Enggak usah takut, ada pangeran berkuda putih disini yang berdiri digarda paling depan jika sewaktu-waktu singbe tersebut beraksi", bisik Arkan dan berjalan terlebih dahulu kearah Buk Norma yang sudah siap dengan penggaris legend dan buku keramatnya.


Alsya mengumpat dalam hati. Masih bisa-bisanya si playboy cap kadal tersebut menggodanya, sementara dihadapannya ada 'singbe', panggilan khusus yang Arkan berikan untuk guru killer


tersebu. Yang kapan saja siap menerkam mereka berdua.


Dengan langkah gemetarnya Alsya berjalan dibelakang Arkan dengan keringat dingin yang sudah bercucuran. Alsya pun bingung dengan dirinya, entah kemana pergi sikap acuh tak acuh nya itu dalam situasi yang seperti ini. Padahal ia sangat membutuhkan itu. Apa karena ini yang pertama kali jadi Alsya merasakan kegugupan?, Atau mungkin sikap dinginnya itu mudik ke Antartika?.


Ya Tuhan kenapa Galaksi harus memiliki guru yang kebar-barannya sudah melewati rata-rata.


Lalu Alsya berdiri disamping Arkan dengan kepala yang tertunduk. Tak mampu untuk melihat singa betina yang sudah siap mengeluarkan auman kerasnya. Alsya harap telinganya tidak tuli setelah itu.


"Mau kemana kalian?!", tanya wanita paruh baya tersebut dengan nyaring, membuat Alsya yang mendengarnya refleks langsung memejamkan mata.


"Ya Allah Buk, enggak usah teriak-teriak, kita lagi ada disekolah bukan di hutan", balas Arkan santai sambil mengusap kedua telinganya yang terasa berdengung.


"KAMU INI! SUDAH TAHU SALAH MALAH NGEJAWAB! KUALAT BARU TAHU RASA KAMU!!!."


"Duh Buk dibilangin nggak usah teriak-teriak. Ibu itu udah melanggar norma", Arkan menutup mulutnya yang menguap, "Namanya aja yang Norma tapi sama norma aja enggak tahu. Salah kasih nama orang tuanya nih", lanjut Arkan pelan tapi sialnya dapat di dengar oleh Alsya dan guru di depannya itu.


Buk Norma mendelik tak suka kearah Arkan, "Heh, kamu ngomongin saya. Kalau ngomongin itu ya dibelakang jangan didepan orangnya", ketus guru tersebut.


Arkan ikut berkacak pinggang, "Heh, tapi Bunda saya bilang ngomongin orang dibelakang itu dosa, saya enggak mau lah dapat dosa gimana sih Norma", balas Arkan dengan nada bicara yang dibuat-buat seperti cewek.


Alsya yang mendengar Arkan melawan Bu Norma hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya takjub. Tidak salah jika gelar playboy dan badboy disandang oleh cowok tengil tersebut.


Tapi perilakunya sama sekali tidak patuh di contoh.


"Kamu..."


"Iyah, saya ganteng. Saya tau Buk. Manu Rios aja sama Jungkook insecure setelah lihat saya."


"Ibuk mau enggak jadi pacar ke 109 saya. Eh, tapi sayangnya saya gak suka tipe kay-"


"ARKAN! LARI 15 KELILING LAPANGAN! SE.KA.RANG!!", perintah Buk Norma dengan nafas yang memburu. Habis sudah kesabarannya menghadapi anak didik modelan Arkan.


Arkan merotasikan bola matanya, "Ngeyel banget sih jadi guru, udah dibilang gak usah teriak-teriak. Ngidam apasih emaknya dulu sampe suara anaknya bisa ngalahin terompet sangkakala. Bahkan lebih jelek dari suara artis yang ngaku-ngaku punya berlian 500 juta itu", dumel Arkan sambil berjalan santai kearah lapangan dengan atap matahari yang membara diatas sana.


Buk Norma yang mendengar gerutuan muridnya yang membawa-bawa dirinya, lantas langsung berjalan kearah Arkan dan menjewer telinga cowok tengil tersebut.


"Aaauh Buk. Sakit Buk. Ibuk udah melanggar norma asusila, berarti ibuk harus kena sanksi dan hu-", ringis Arkan sambil memegang telinganya yang terkena sasaran oleh tangan maut wanita paruh baya tersebut.


"Kamu yang saya hukum, sekarang lari 20 keliling lapangan", Arkan meringis dalam hati mendengar hukumannya yang bertambah.


Duh mulut sialan.


"Buk saya juga?", Alsya akhirnya membuka suara setelah sedari tadi diam menyaksikan drama antara guru dan murid itu.


Buk Norma melepaskan tangannya ditelinga Arkan dan memandang kearah Alsya, "Iya kamu juga tapi 5 putaran aja", jawab buk Norma dengan nada yang lebih sedikit halus dari yang tadi.


Arkan mencebikkan bibirnya ketika mendengar perubahan dalam nada bicara wanita paruh baya tersebut ketika berhadapan dengan Alsya. Lalu Arkan mendengus kasar melihat sikap pilih kasih yang dianut oleh Bu Norma.


Sebenarnya guru itu tidak ada yang pilih kasih. Sikap guru tergantung dengan bagaimana sikap kita terhadapnya. Bagaimana kita menghormatinya begitu pula guru akan menyayangi kita. Guru juga manusia yang bisa merasakan sakit, melukai hati guru sama saja merusak masa depan.


Karena guru adalah bagaikan sebuah lilin yang rela membakar dirinya sendiri demi menerangi jalan untuk kita muridnya. Jangan salahkan guru jika dia pilih kasih, karena murid seperti Arkan harus diperlakukan seperti itu bukan?.


"Ih ibuk pilih kasih, sama saya aja ngomongnya kayak ngajak tempur, coba kalau sama Alsya halus banget kayak kulitnya Mpok Alpa", protes Arkan tak terima diperlakukan tak adil seperti itu.


Buk Norma memandang Arkan tajam, "Bacot!", balas buk Norma yang membuat Alsya maupun Arkan tercengang.


Apa?, Bacot?, benarkah buk Norma yang mengatakannya?.


Arkan mengusap-usap telinganya, ia berfikir jika ia salah dengar, tapi tidak ia tak salah dengar.


"Wow amazing Norma", ujar Arkan dengan mendramatisir.


"Arkan!, Enggak sopan kamu ya, lari lapangan ti-"


"Iya-iya buk ini saya mau lari", Arkan berjalan kearah lapangan dengan kesal.


"Lebih baik gue pergi, kalau disitu bisa-bisa sampai lima puluh nanti gue disuruh lari, enggak mikir apa tuh si Norma?, coba aja dia yang lari biar turun tuh lemak-lemaknya", dumel Arkan.


Alsya memandang takjub kearah laki-laki yang sudah mulai berlari dilapangan dengan panas matahari yang sangat ekstrim. Bisa-bisanya ia dengan santai nya menjawab setiap ucapan guru yang bisa dibilang jauh dari kata baik itu. Tapi itulah Arkan, dengan segala tingkah abnormal nya.


"Ya udah Buk saya juga kelapangan dulu ya buk", pamit Alsya dengan sopan.


"Iya, jangan telat lagi ya", ujar buk Norma sambil mengelus surai hitam Alsya.


Alsya menganggukkan kepalanya,


"Iya buk", jawabnya dan undur diri dengan menundukkan kepalanya.


...×××...


..."Embun. Kenapa kehidupan itu bisa kejam?. Kenapa hukum alam itu sangat menyakitkan?. Kenapa dunia yang fana ini tidak bisa sesejuk dirimu embun?. Alam semesta atau kita yang salah?. Entahlah, sekarang alam semesta dan manusia tidak bisa sejalan dengan satu pemikiran. Aku terlalu letih menyalahkan takdir. Terlalu banyak keluhan yang aku lontarkan. Kini aku pasrah, aku pasrah dengan takdir Tuhan. Meski berdamai dengan satu alunan tersebut sangatlah sulit. Namun aku akan mencoba demi takdir Tuhan yang telah bermain dihidupku."...


...~Rilansun🖤....