Alsya

Alsya
:Ini Aska, Sya



...___________________...


...Kebahagiaan ini terasa seperti semu......


...___________________...


...×××...


Kain gorden bertiup pelan karena hembusan angin yang menerpanya. Membuat dingin menyelinap masuk ke dalam raga yang kosong. Mengisi setiap relungnya. Membiarkan kesejukan mengikis tulang-tulangnya.


Sayangnya Alsya sendirian di tengah kedinginan itu. Duduk di lantai kamarnya dengan bersandar di tepi ranjang. Memeluk tubuhnya yang ringkih. Memejamkan mata. Menahan rasa sakit di hati serta tubuhnya. Tapi rasa sakit di hati lah yang paling besar lukanya. Seperti mengoyak lebar dengan darah yang berceceran dimana-mana.


Dan luka itu belum diberi obat sama sekali.


Alsya membuka matanya dan menatap kosong kamarnya yang sangat gelap. Tidak ada pencahayaan apapun yang menerangi kamarnya. Dari langit masih berwarna jingga hingga berubah menjadi gelap. Alsya tidak beranjak barang sedetikpun dari duduknya. Kakinya seolah lumpuh tak berdaya.


Niat hati yang ingin mencurahkan segala kesakitan yang ia rasakan pada Aruna. Langsung ter-urung saat mendapati rumah dalam keadaan kosong. Dari Mama nya, Bik Imah, Mang Joko, serta Bagas. Tidak seorang pun ada untuknya.


Seolah semesta ingin menunjukkan padanya kalau di dunia yang kejam ini Alsya tidak memiliki siapapun.


"Anak haram gak berhak punya seorang pun dalam hidupnya", gumam Alsya seraya tertawa mengejek. Mengejek nasibnya yang sangat malang. Dan mentertawai dirinya yang sangat lemah.


Lo itu anak haram Alsya.


Kata-kata Arkan yang selalu terngiang di dalam kepalanya. Menghantuinya. Seolah menyadarkan Alsya kalau ia adalah anak haram.


"Gue anak haram. Lo itu anak haram, Sya!. Anak haram!", Alsya berteriak lalu menjambak rambutnya dengan frustasi. Memukul-mukul kepalanya dengan tangannya yang mengepal erat. Berharap suara Arkan yang masih terdengar di telinganya itu lenyap seketika.


Namun bukannya hilang, suara itu seperti semakin membesar. Berteriak nyaring di telinganya dengan kata-kata yang sama. Anak haram. Membuat Alsya semakin keras memukuli kepalanya.


"Anak haram!", teriak Alsya seraya menjatuhkan kepalanya pada lipatan kakinya. Menenggelamkan wajahnya di sana. Mencoba meredam suara tangisnya yang membahana.


Ini kedua kalinya Alsya menangis seperti itu. Pertama, pada hari kepergian Papa nya. Melepas pahlawannya itu untuk selamanya. Merelakan Davin yang tak lagi berada di sisinya. Menemaninya tumbuh besar.


"Papa", lirih Alsya dengan menumpukan wajahnya pada kedua lututnya yang di tekuk. Menatap langit malam yang diterangi beribu bintang.


"Kenapa kalian berdua ngelahirin Alsya, kalau hanya untuk di panggil sebagai anak haram", cicitnya dengan air mata yang terus meleleh keluar mengaliri pipinya.


"Alsya bukan anak haram, iya kan Pa?. Alsya punya Papa sama Mama. Alsya bukan anak haram", racau Alsya lalu menegakkan tubuhnya sembari menghapus air matanya. Mencoba meyakinkan dirinya sendiri kalau ia bukan lah anak haram. Tapi lagi-lagi suara Arkan seolah menampar dirinya. Membuat air mata itu kembali meluncur keluar begitu saja.


"Sakit. Kepala Alsya sakit Pa", ujarnya pelan dengan memegangi kepalanya. Biasanya jika Alsya sakit kepala. Ada Aruna yang memijat pelan kepalanya. Lalu Davin yang bercerita untuknya.


Namun sekarang, tidak ada satupun tangan yang memeluknya. Membiarkan ia sendirian dengan ditemani sakit yang luar biasa hebatnya.


"Papa, jemput Alsya Pa. Alsya rindu Papa. Kenapa?, kenapa kalian semua ninggalin Alsya?, Alsya salah apa ya Tuhan?. Hiks."


Di tengah gelapnya malam. Di antara angin yang bergemuruh. Suara tangisnya menggema ke seantero kamar. Memenuhi ruangan hampa tanpa penerangan tersebut.


Kemudian Alsya berdiri dengan susah payah. Memakukan kakinya agar tidak tumbang. Berteriak marah sambil menunjuk bulan yang terang di atas sana. Melampiaskan amarahnya pada semesta yang tak tau apa-apa.


"Kenapa lo biarin gue ngerasain ini semua?!. Lo renggut semuanya dari gue. Terus lo ninggalin gue sendirian!. Gue ini manusia, gue punya perasaan. Kadang gue juga butuh sebuah pelukan. Gue rindu kehangatan. Gue butuh Papa dan Mama. Tapi kalian gak ada. Kalian pergi ninggalin gue. Gue benci kalian semua!."


"Berengsek", Alsya mengumpat dengan tubuhnya yang meluruh jatuh ke lantai. Menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Malu terhadap dirinya yang lemah. Untuk berdiri saja ia tidak memiliki tenaga.


"Papa, Alsya capek", lirihnya tak berdaya.


"Kalau capek istirahat."


Deg


Alsya menegang saat mendengar suara itu. Setahunya tidak ada seorangpun dirumah. Lalu siapa orang yang berbicara tadi.


"Siapa lo?", Alsya mendongak menatap wajah orang itu yang ditelan kegelapan. Tapi Alsya yakin jika itu adalah seorang cowok, dari suara beratnya dan perawakannya yang tinggi sudah cukup menjelaskan.


"Lo tanya gue siapa?", Alsya merasa cowok itu berjongkok di sampingnya. Menatap intens Alsya yang masih bergelimang air mata.


"Gue Aska, temannya Syasya."


Alsya mematung setelah mendengar ucapan tersebut. Oksigen seperti keluar dari tubuhnya. Membuat dadanya sesak tak tertahan. Ditambah pusing yang mendera kepalanya.


"A-aska?", tanya Alsya terbata-bata. Tidak mungkin. Tidak mungkin cowok itu Aska. Pria kecil yang dulu pernah berjanji padanya dihadapan makam Papa nya. Tapi sampai kini, Alsya merasa janji itu tidak pernah di tepati. Membuat Alsya memilih untuk mengubur janji dan harapan itu bersama Davin di dalam tanah sana.


"Iya. Ini Aska, Sya", ujar cowok yang mengaku Aska itu dengan sendu. Lalu tangannya terulur menyentuh wajah Alsya. Menghapus jejak air mata yang tertinggal. Walau gelap, tapi bagi Aska Syasya nya tetap bersinar di manapun dan kapanpun.


"Jangan nangis Sya, nanti turun hujan. Kasian, Aska gak punya payung."


"Lo masih ingat", Alsya tertawa kecil mendengar ucapan Aska. Ternyata cowok itu tidak melupakan segalanya. Lalu memori indah itu kembali terputar di benaknya.


..."Jangan nangis Sya, nanti hujan turun. Kalau hujannya turun lebat, gimana?. Kasian Aska dong, Aska gak punya payung", ujar Aska kecil sambil mencoba menenangkan Alsya yang menangis karena ditinggal oleh Papa nya yang pergi bekerja ke luar kota....


..."Maka nya Aska beli payung dong. Jadi Syasya nangisnya gak harus berhenti-henti gini", ujar gadis kecil itu seraya menghapus air matanya. Kasian kalau Aska pulang dalam keadaan basah kuyup karena hujan....


..."Enggak ah, malas. Kalau Aska beli payung nanti Syasya nangis terus", sahut Aska santai yang membuat Alsya cemberut tak suka....


"Aska gak suka lihat Syasya nangis."


Alsya refleks membuka matanya saat mendengar penuturan Aska. Lalu cewek itu langsung menubruk tubuh Aska. Memeluknya dengan sangat erat. Tak membiarkan Aska nya pergi jauh lagi darinya.


"Jangan khawatir, Aska bakal selalu ada buat Syasya. Aska enggak akan pernah ninggalin Syasya", ujar Aska sambil melayangkan kecupan-kecupan ringan di puncak kepala Alsya.


"Tapi lo udah ninggalin gue. Lo jahat Ska. Lo jahat!", Alsya memukul dada bidang Aska. Lalu kembali membenamkan wajahnya di sana. Takut jika saja pelukannya longgar sedikit maka Aska akan pergi lagi darinya.


"Aska gak pernah ninggalin Syasya. Syasya aja yang gak pernah sadar dengan keberadaan Aska", sahut Aska mengelus punggung gadisnya yang bergetar.


"Kalau lo emang ada. Kemana lo selama ini?. Kemana lo pas gue butuh pelukan?. Kemana lo pas gue butuh seseorang untuk dengerin curhatan gue. Kemana lo, Ska?", lirih Alsya di akhir kalimatnya.


"Aska ada di hati Syasya", bisiknya di telinga Alsya.


"Mati aja sana", ketus Alsya yang membuat Aska tertawa pelan.


"Yakin?."


Alsya menggeleng kecil dalam pelukan Aska, "Enggak", cicitnya sambil mengeratkan pelukannya.


Aska tersenyum dan kembali menyerbu kepala Alsya dengan melayangkan kecupan-kecupan nya.


Seolah teringat sesuatu, Alsya melepaskan sejenak pelukannya. Lalu berlari kearah sudut kamar. Menghidupkan lampu dengan pandangan yang tak luput dari Aska. Takut jika cowok itu hilang.


Setelah lampu hidup dan kamarnya menjadi terang. Mata Alsya langsung melotot lebar saat melihat seorang cowok yang mengaku Aska nya tadi. Lalu berjalan pelan menghampiri tubuh yang beranjak berdiri itu.


"A-alaska?", Alsya tak percaya jika Aska nya adalah Alaska. Murid baru yang sukses membuatnya jengkel setiap saat.


"Bukan. Ini Aska", bantah Alaska membuat Alsya berdecak. Menjengkelkan.


"Lo Alaska kan?", tanya Alsya lagi sambil menunjuk tubuh cowok itu.


"Bukan i-"


"Jawab!", bentak Alsya gemas melihat Alaska yang terus saja mengelak.


Alaska menghela nafas, "Mungkin untuk banyak orang Alaska. Tapi untuk Syasya, ini cuma Aska", jawabnya.


Alsya terpaku dengan pandangan yang tak lepas dari Alaska. Jika benar itu Aska, mengapa Alsya bodoh sekali sampai tak mengenali Aska nya. Padahal berada sangat dekat dengannya. Justru Alsya lah yang membuat Aska nya semakin menjauh.


Sial. Drama apa lagi yang diciptakan oleh semesta.


"Kenapa?, katanya capek, sini peluk", tanpa berkata-kata lagi Alaska langsung menarik tubuh Alsya ke dalam dekapannya. Membuat Alsya yang masih mematung pun tidak bisa mengelak.


"K-kok bisa?", tanya Alsya kemudian yang masih tak percaya.


Alaska tersenyum, "Ya bisalah."


"Enggak mungkin Alaska jadi Aska. Enggak mungkin", Alsya menggelengkan kepalanya.


"Alaska enggak pernah jadi siapa-siapa. Alaska ya Alaska. Aska ya tetap Aska."


"Tapi badan lo-"


"Kurus?", sela Alaska dengan terkekeh geli, "Semua orang pasti bisa berubah. Syasya aja udah banyak berubah. Dari Syasya yang ceria menjadi Alsya yang cengeng", tambahnya membuat Alsya mencubit pelan perut cowok itu. Sebelum membenamkan dirinya pada kehangatan yang diberikan Alaska padanya. Kehangatan yang sudah lama tak ia rasakan.


Jika saja ini benar halusinasinya semata. Maka tolong jangan renggut itu cepat-cepat dari nya. Biarkanlah Alsya merasakan sejenak kehangatan ini barang sebentar.


...×××...


..."Tuhan, jangan terlalu cepat mengambil kebahagiaan yang sedang ku genggam saat ini. Biarkanlah, setidaknya sampai tangan ku lelah untuk menggenggamnya."...


...~Rilansun🖤....