
...___________________...
...Kamu yang berubah, lantas mengapa hati ini yang terasa patah......
...___________________...
...×××...
Mengapa mencintai itu butuh sebuah perjuangan?, mengapa cinta itu sangat menguras hati dan pikiran?. Mengapa?, jika ada mesin penghitung batin, mungkin saat ini sudah lebih dari seratus mengapa yang telah ia ucapkan. Tapi sayang, mesin itu tidak lah ada.
"Sial!", umpat laki-laki tersebut sambil memukul kuat setir mobilnya. Ia frustasi, sangat frustasi. Entah dirinya yang terlambat atau memang gadisnya yang sudah lama berubah.
Terlalu banyak penyesalan yang menghantui kini. Sangat menyesal, mengapa tidak dari dulu saja ia kembali ke Indonesia. Dan mengungkapkan perasaan yang telah lama mendiami hatinya itu. Sehingga tidak akan ada hari dimana hatinya lemah karena perasaan tersebut.
"Kamu yang berubah, lantas mengapa hati ini yang terasa patah?", gumamnya seraya mengacak-ngacak rambutnya frustasi.
Lalu ia memukul kepalanya berkali-kali sambil mengumpat, "Bodoh, bodoh, bodoh!."
Laki-laki itu berhenti memukuli kepalanya saat ponselnya yang ada diatas dashboard berdering menandakan ada panggilan masuk. Lantas ia mengambil ponselnya dan mendekatkan ke telinga.
"Assalamuallaikum, sayang kamu ada dimana?."
Suara lembut seseorang dari seberang membuatnya menarik nafas dalam dan menghembuskan nya secara perlahan.
"Waallaikumussallam. Al ada dijalan", jawabnya datar.
"Udah sholat belum?, udah makan?", terdengar nada khawatir yang terselip dalam ucapan Mommy nya diseberang telepon.
"Udah", sahutnya sambil menyalakan kembali mesin mobil, "Mom, udah dulu ya, Al lagi nyetir nih", lanjutnya dan mulai menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah wanita paruh baya yang baru saja ditolongnya itu.
"Ya udah, kamu hati-hati ya. Cepat pulang, assalamuallaikum."
"Waallaikumussallam."
Sambungan terputus. Cowok itu memasukkan ponsel hitam miliknya kedalam saku jaket bomber hitam yang ia kenakan. Suasana malam ini sangat sepi, seperti hatinya yang baru saja kehilangan setengah bagiannya.
Dua puluh menit kemudian audi berwarna hitam itu telah masuk kedalam pekarangan rumah bergaya mediteran yang dominan berwarna putih. Cowok yang dipanggil Al itu lalu membuka pintu mobil dan segera bergegas masuk kedalam rumah.
Langkahnya terhenti ketika mendapatkan sesosok wanita paruh baya yang tengah duduk santai disofa ruang tamu. Kemudian ia menghampiri wanita paruh baya tersebut yang masih kelihatan cantik walau umurnya telah dimakan usia. Lalu ia tiba-tiba tiduran diatas paha wanita yang kelihatan kaget akan kehadirannya.
"Astagfirullah Al, kamu ngagetin Mommy tau enggak", kaget Alina dengan memukul pelan kepala anaknya.
"Sorry, Mom."
"Kebiasaan, masuk enggak ngucap salam. Dikira maling baru tau", tambah Alina sambil mengelus pelan rambut cowok itu.
Menikmati tangan lentik Mommy nya yang mengelus kepalanya dengan lembut membuatnya ingin langsung terbang ke alam mimpi. Tapi ia harus tetap terjaga, karna saat ini dirinya ingin mengungkapkan semua perasaannya kepada wanita yang telah melahirkannya itu.
Hanya Alina lah yang paling memahaminya. Karena sifatnya yang cenderung dingin dan pendiam, membuatnya tak banyak memiliki teman. Jadi cuma dengan Mommy nya lah ia dapat sedikit lebih terbuka. Beruntungnya ia, karena Mommy nya mau ikut kembali bersamanya pulang ke Jakarta.
"Alaska kenapa, hm?", lihatlah betapa peka Mommy nya itu. Belum sempat dirinya berbicara tapi Alina sudah lebih dulu bertanya.
Memang wanita idaman bukan?.
Alaska lantas mendongak kearah Alina sekilas lalu kembali melihat kearah meja ruang tamu, "Al mau cerita?", tanya Alina lagi yang dibalas sebuah anggukan singkat.
"Mom, salah emang kalau Al mau ngambil balik yang seharusnya punya Al?."
Alina mengulas senyum tipis, "Enggak salah, tapi tinggal gimana cara kamu mengambil apa yang udah menjadi milik kamy itu. Bisa aja cara yang kamu gunakan itu salah", jawabnya.
"Memangnya siapa yang berani mengambil gadis kecilnya Alaska?", tanya Alina kemudian.
Oh ya ampun, Mommy nya itu memang wanita yang sangat peka.
"Dia udah besar Mom, bukan anak kecil lagi. Bahkan sekarang dia udah punya pacar, maybe", ujar Alaska dengan nada yang sedikit terdengar kesal.
"Kalau gitu kamu juga harus nyari pacar dong", goda Alina.
"Tapi Al cuma sayang dia, Mom", sahutnya lesu.
Alina tersenyum, "Ya udah, perjuangkan kalau gitu", ujarnya sambil terus mengelus rambut putranya.
"Itu masalahnya, Al enggak tau gimana cara ngelakuinnya. Gak mungkin kan pakai pisau sama paku."
Alina yang mendengar ucapan asal putranya itu, kontan kembali menepuk kepala anak bungsunya dengan pelan.
"Kamu ini, memangnya kamu mau nyantet dia?", tanya Alina dengan terkekeh geli.
"Kalau bisa", lagi-lagi tepukan kembali mendarat dikepalanya.
Alaska terkekeh pelan, lalu memejamkan matanya sambil berucap lirih, "Al ngantuk", gumamnya.
"Tidur lah, ada kecewa yang perlu kamu istirahatkan", ini yang ia suka dari Alina. Mommy nya yang selalu mengerti dirinya dan selalu mendukung apapun yang ia lakukan.
Mendapat perlakuan lembut dari ibunya, membuatnya tak butuh waktu lama untuk terbang ke alam mimpi. Mencari cara untuk mendapatkan kembali apa yang telah menjadi miliknya di dalam alam mimpi yang apapun bisa terjadi.
...×××...
Alsya memandang malas kearah wanita yang baru saja memasuki ruang makan dan langsung duduk di kursi tanpa menyapa siapa pun, seperti disitu tidak ada orang sama sekali. Tapi bukan itu yang Alsya permasalahkan, tapi pakaian yang dikenakan wanita itu yang membuat matanya malas untuk memandang.
Lidya menaikkan alisnya melihat Alsya yang memandangnya dengan datar, "Kenapa?!", tanyanya dengan ketus.
Alsya mengalihkan pandangannya tanpa menjawab. Meneguk habis susunya lalu mengelap bibirnya dengan serbet yang ada diatas meja. Alsya berdiri dari duduknya lalu menghampiri bik Imah yang berdiri tak jauh dari posisi Lidya.
Lantas Alsya meraih tangan wanita paruh baya tersebut lalu menciumnya dengan sopan,"Bik, Alsya berangkat dulu", pamitnya yang dibalas anggukan dan elusan dikepalanya dari bik Imah.
Kemudian Alsya berhenti ketika melewati kursi Mama nya. Alsya melihat kearah Lidya yang juga menatapnya dengan bingung. Lalu ia sedikit menundukkan kepalanya, mencium kening wanita yang telah melahirkannya itu dengan lembut, "Alsya", ia menarik nafasnya ketika merasa suaranya sedikit bergetar, "Alsya, berangkat dulu. Ma-mama baik-baik dirumah. Alsya sayang Mama", ucapnya dan kembali mencium lembut kening Lidya.
Kemudian Alsya berjalan cepat keluar dari rumahnya, meninggalkan kedua wanita paruh baya itu yang mematung ditempatnya. Sesekali Alsya menyeka air mata yang telah jatuh dengan tidak tau malunya. Alsya lemah, ia sangat lemah jika itu menyangkut soal Mama nya.
Lidya terpaku ditempat ketika mendapatkan ciuman lembut dari putrinya itu. Putrinya yang selama ini ia abaikan. Putri yang tak pernah ia anggap keberadaanya semenjak suaminya telah pergi dari kehidupan mereka berdua. Bahkan umur putrinya pun ia sudah lupa jika ditanya.
Lidya lalu mengusap keningnya yang habis dicium oleh Alsya tadi. Mengapa keningnya terasa basah, apa itu tandanya putri kecilnya tadi menangis. Menangis?, kapan terakhir kali Lidya melihat putrinya itu menangis. Ia telah merasa gagal menjadi seorang ibu.
Lidya mengeluarkan air matanya sambil mencium jarinya yang terkena air mata putrinya itu, "Maafkan Mama sayang, maafkan Mama. Mama, adalah ibu terburuk di dunia. Maafkan, Mama", ia membenturkan kepalanya berkali-kali diatas meja sambil terus menangis.
Sungguh, ia merasa gagal menjadi seorang ibu untuk putri kecilnya. Bahkan sekarang putri kecilnya itu telah tumbuh menjadi gadis yang sebentar lagi beranjak dewasa. Telah berapa banyak waktu yang dilewatkannya. Lidya yang tak nampak atau memang putrinya yang tertutup.
Bik Imah yang melihat keadaan nyonya besarnya yang sangat hancur, langsung berjalan menghampiri dan memegang pundaknya dengan lembut, "Buk udah, nanti non Alsya marah sama saya kalau ibuk sakit", ujar bik Imah juga turut menangis. Ia sedih melihat keluarga yang dulunya sangat harmonis kini hancur tak bersisa.
Lidya mendongakkan kepalanya, "Segitu sayang kah Alsya dengan Mama nya ini?", tanyanya lirih kepada asisten rumahnya itu.
Bik Imah menganggukan kepalanya dengan air mata yang semakin deras, "Iya. Non Alsya bahkan lebih sayang sama nyonya daripada sama nyawanya sendiri", wanita paruh baya tersebut mengigit bibirnya tak kuasa menahan tangis melihat keadaan nyonya besarnya.
"Aku Ibu yang terburuk!, Ibu yang buruk, putri ku ya Tuhan...", erangnya sambil terisak.
Dengan kepala yang tertunduk Lidya semakin mengeraskan tangisnya. Seolah perasaan yang telah lama dirinya pendam, dikeluarkan semuanya bersama air mata yang mengucur dengan deras, "Mama juga sayang Alsya. Mama sayang sama putri kecil mama. Maafkan Mama sayang", lirihnya dengan napas yang tersengal-sengal.
...×××...
Alsya masuk kedalam mobilnya sambil terus menghapus air mata yang entah kenapa turun semakin deras. Ia berangkat sekolah sendiri pagi ini. Sebab mang Joko dan Bagas yang pulang kampung tadi subuh ,karena kerabatnya ada yang meninggal dunia.
Lalu Alsya membuka galeri ponselnya. Menatap foto Mama nya yang tersenyum. Foto itu diambil sembilan tahun yang lalu. Sembilan tahun, dimana keluarganya yang masih utuh tak terpecahkan. Tapi kini lihatlah keadaan keluarganya, telah hancur antah-berantah.
Keluarganya itu ibarat sepeda. Jika satu saja roda yang hilang maka sepeda itu akan sulit untuk berjalan. Berjalan mungkin, tapi tentu saja tidak semulus sebelumnya. Begitulah keluarganya kini. Untuk sementara ataukah selamanya, Alsya pun tidak tau.
Cewek itu mengusap foto Mama nya dengan lembut, "Mama, andaikan Mama tau kalau Alsya itu sayang banget sama Mama", ujarnya seraya menghapus kasar air mata yang turun, "Mama jangan pergi-pergi lagi, Alsya takut tidur sendirian. mama jangan marah terus, Alsya gak sanggup. Mama tau?, saat mama nampar Alsya, hati Alsya rasanya remuk Ma, sakit. Alsya mau Mama kayak dulu, Mama yang perhatian yang sayang sama Alsya. Kalau Mama kayak gini terus Alsya takut, Ma. Alsya takut dekat dengan Mama", ia mendekatkan layar ponselnya ke bibirnya dan menciumnya dengan lembut, seperti ia mencium kening Mama nya tadi.
"Berubah demi Alsya, Ma. Alsya mohon...", lirihnya sambil terus mengecup foto Lidya.
Ia tersentak ketika mendengar ketukan dikaca mobilnya membuat Alsya menurunkan sedikit kaca mobilnya, "Arkan?", kagetnya. Buru-buru Alsya menghapus air matanya dan kembali meletakkan ponselnya di dalam saku seragam.
Arkan mengerutkan keningnya, "Nangis?", tanyanya melihat bulu mata cewek itu yang sedikit basah.
Alsya menggeleng dengan cepat, "Enggak."
"Pembohong", Alsya melototkan matanya mendengar Arkan yang seolah membalikkan kalimat yang pernah ia lontarkan kepada cowok tersebut.
"Balas dendam?", tanya Alsya ketus yang dibalas cengiran bodoh khas Arkan.
Arkan menggeleng polos, "Enggak."
"Muka lo pengen gue tabok", Alsya mendorong kepala Arkan untuk menjauh darinya, "Sana, sana pergi!. Gue mau sekolah", usirnya.
"Bolos aja yuk", ajak Arkan pelan yang dibalas pelototan tajam dari Alsya.
"Bolos sendiri", ketus Alsya.
Arkan menyengir, "Lebih enak gak sekolah tau Sya. Mending ikut gue yuk!."
Alsya menggelengkan kepalanya, "Enggak. semalam udah bolos", jawabnya sambil menghidupkan kembali mesin mobilnya.
Lalu Alsya menghidupkan klakson mobilnya ketika melihat Arkan yang menghadang jalannya, "Kalau mau mati nggak usah ngotorin rumah gue. Tuh, pohon mangga ada", tunjuknya kearah pohon mangga besar yang ada diseberang rumahnya.
"Udah sana awas!", usir Alsya sambil mengibaskan tangannya menyuruh Arkan untuk menyingkir.
Namun tidak Arkan namanya kalau tidak suka mencari keributan. Cowok itu tak mengindahkan semua ucapan yang Alsya lontarkan barusan. Ia seolah menulikan telinganya.
Alsya yang melihat Arkan tak beranjak dari depan mobilnya pun merasa geram. Cewek itu menginjak pedal gas nya dan langsung menjalankan mobilnya. Untung Arkan cepat mengelak. Jika tidak, sudah dipastikan playboy mesum tersebut telah musnah pagi ini.
Arkan meringis sakit pada bokongnya sambil melihat kearah mobil Alsya yang telah jauh dari pandangannya dengan seringaian di wajahnya.
Sementara itu Alsya melajukan mobilnya dengan pelan. Tanpa sadar ia selalu tersenyum karena ulah dari ketua makhluk halus tersebut. Sekarang Alsya yakin jika Tuhan itu benar adil. Karena setiap Alsya bersedih, Arkan selalu hadir dengan segudang tingkah konyolnya yang sialnya mampu menampilkan lengkungan sabit di bibirnya.
Alsya segera menggelengkan kepalanya ketika menyadari tingkah konyolnya yang membayangkan wajah si Arkan. Sepertinya karena sering bergaul dengan Arkan membuatnya hampir sama dengan makhluk astral tersebut.
Alsya hanya berharap semoga ia selalu bisa tersenyum seperti ini, biarlah jika air mata yang harus turun terlebih dahulu. Tak apa asal jika lengkungan sabit tersebut tetap ada.
Semoga kali ini alam semesta selalu adil terhadap gadis bersurai hitam tersebut.
...×××...
..."Mama. Wanita terhebat yang aku punya. Malaikat tak bersayap yang selalu ada. Dan lentera yang selalu terang didalam kegelapan. Mama, aku menyayanginya melebihi apa pun. Mencintainya dengan segenap jiwa dan raga ku. Aku tak mungkin ada, bila dirinya tak ada. Mama, terima kasih. Aku selalu sayang Mama. Berubah demi kita..."...
...~Rilansun🖤....